
"Bu-bukan, dia teman kerja saya, kalau istri saya, ini orangnya," Dimas menunjukkan sebuah poto dari ponselnya, dimana dia serta istrinya.
Citra turun dari mobil menenteng sebuah kantung, berjalan menghampiri mereka, Dimas dengan cepat berbisik pada seseorang, "Tolong jauhkan motor saya dari mobil itu."
"Met malam semua..,? nih aku bawakan makanan semoga kalian suka," Citra memberikan kantong makanan tersebut pada anak buah Dimas, SK,SD, sok kenal sok dekat.
"Kenapa kau ke sini,? tau dari mana tempat ini,?" Dimas dengan nada datar.
Citra menyunggingkan senyum, dan duduk dekat Dimas, "Eh, aku.., kebetulan lewat aja, Met malam dok.?"
Dimas mengernyitkan keningnya, "Hanya sebuah kebetulan," Mengangkat bahunya.
"Iya, dokter sering ke perkebunan ini ya,?" melihat-lihat tempat sekitar.
Dimas terdiam, berpikir sejenak bagai mana caranya bisa segera pulang, tanpa sepengatahuan Citra, bisa bahaya kalau sampai dia tau rumahnya.
"Aku mau kebelakang sebentar," Dimas berdiri, namun Citra memegangi tangan Dimas, membuat Dimas menatap tajam tangannya yang di pegangngi oleh Citra.
Citra melepaskan pegangannya, "Aku takut sendiri di sini tak ada orang," pura-pura mencari-cari keberadaan mereka, padahal dia merasa senang dapat berduaan dengan Dimas, Citra duduk semakin mepet ke Dimas membuat Dimas merasa risih dengan tingkah Citra yang semakin menggoda.
Wanita itu memeluk tangan Dimas bergelayut mesra di sana, membuat Dimas semakin risih, apa lagi Citra merasa tak ada penolakan dari Dimas, membuatnya merasa senang, lalu Citra menyandarkan kepalanya di bahu Dimas, Dimas mengingat istri di rumah pasti cemas tengah menunggu kepulangannya.
Perlahan Dimas melepaskan pelukan tangan Citra dari tangannya, "Saya harus segera pulang, istri saya pasti sudah menunggu,"
Citra menatap Dimas, "Ingat istri,?" gumam dalam batinnya, "Aku antar ya dok,? motor dokter mana,?" Citra mencari keberadaan motor Dimas yang dari tadi tidak terlihat.
"Hah, aku kebelet, mau kebelakang sebentar, nanti kembali," Dimas berdiri dan melangkah, Citra pun berdiri ingin menguntit Dimas.
"Ikut..," Citra dengan manjanya, Dimas menghentikan langkah dan berbalik badan.
"Kau mau ikut,? ke toilet,?" dengan tatapan tajam, membuat Citra berdiri tertegun, tak bisa membayangkan yang akan terjadi di toilet, dia menutup wajahnya dengan telapak tangan, sambil menggeleng.
Dimas menyeringai puas, melanjutkan langkahnya, bergegas mencari orang yang tadi memindahkan motornya, Dimas meminta kunci, tak menunggu waktu lama Dimas secepatnya membawa kabur motor untuk pulang.
Ia melajukan motor dengan kecepatan sedang, kini sudah merasa lega Citra sudah jauh dari dirinya, tidak menguntit dirinya lagi, Dimas terus menancap gas, menyusuri jalan raya dalam kegelapan, hanya sinar lampu yang menghiasi di pinggir-pinggir jalan.
Waktu sudah hampir pukul sembilan malam Dimas baru sampai di rumah, setelah menyimpan motor, ia berjalan menuju pintu, tidak ada siapa-siapa, di dapur oun kosong, Dimas bergegas ke kamar miliknya dengan mengucap salam, "Assalamu'alaikum..,?" sembari membuka pintu, namun sang istri tak ada di sana, ia menyimpan barangnya, kemudian berjalan mendekati kamar mandi mungkin Naya sedang berada di sana, lalu membuka pintu kamar mandi, ternyata kosong juga.
Hati Dimas jadi cemas, "Sayang..,? kau di mana,?" Dimas keluar kamar mencari keberadaan Naya, ia cari ke setiap ruangan namun hasilnya nihil.
"Kemana kau sayang,? Bibi juga gak ada,?" tambah khawatir, di teleponan gak juga di angkat.
"Sayang..,kau di mana,?" teriak Dimas, "Bi.., Bi Taty, di mana,?"
Bi Taty keluar dari kamar dengan mengenakan mukena, "Ada apa Tuan,?" berdiri depan pintu, "Tu-tuan baru pulang.?"
"Istri saya mana,? kok di kamar tidak ada,?" dengan nada khawatir.
"Ibu--!" bi Taty mengingat-ingat sejenak.
"Iya Ibu di mana,?" hardik Dimas dengan tatapan tajam.
"Oh, iya Tuan tadi Ibu di lantai atas nyobain lift, dan Dia tadi di balkon, waktu Bibi tinggal," jawab bi Taty jelas.
"Hah," Dimas segera berlari menaiki anak tangga, menuju tempat yang bi Taty katakan, ya itu kamar miliknya di atas, di dalam kamar kosong.
"Sayang,?" panggil Dimas, berlari ke balkon tak terlihat ada orang, hati Dimas semakin cemas di mana istrinya berada.? mata Dimas tertuju tempat duduk, ada yang tengah duduk santai dan bersandar terlihat rambut yang panjang terurai ke belakang kursi.
Dimas perlahan mendekati, ternyata Naya yang duduk di sana, setelah Dimas perhatikan Naya tertidur sambil mendengarkan musik di telinganya, Dimas berjongkok membelai rambut panjang Naya dan menciumnya.
"Kau sudah membuat aku cemas sayang,?" cup..,kecupan mesra mendarat di kening sang istri, namun tak membuat Naya terbangun.
"Maafkan aku sayang, aku terlambat pulang,?" menggenggam tangan Naya dengan lembut.
Setelah puas menatap wajah sang istri yamg semakin bening akibat perawatan, karena memang dasarnya kulit Naya kuning langsat, jadi sekali perawatan saja sudah terlihat hasilnya.
__ADS_1
Dimas berdiri menarik tangan bajunya ke atas siku, lalu kemudian Dimas meraih tubuh Naya, menggendong perlahan agar sang istri tidurnya tidak terganggu, ia pindahkan ke tempat tidur, dengan sengaja Dimas tak membawa Naya ke bawah, karena besok juga akan pindah kamar ke atas.
Dimas merebahkan Naya di atas tempat tidur dengan perlahan, jari-jari Dimas menyibak rambut yang menghalangi keningnya Naya, cup.., sebuah kecupan hangat lagi-lagi mendarat di kening Naya.
Dimas segera turun dari tempat tidur, berjalan keluar kamar, ia menuruni tangga menuju kamar yang di bawah tuk mengambil barangnya.
"Lapar, tidak sempat makan siang," gumam Dimas sambil melangkah mendekati meja makan, mengambil piring di isi nasi dan menu kesukaannya, langsung aja Dimas makan dengan lahapnya.
"Ibu ketiduran ya Tuan,? kasian dia menunggu bapak pulang sampai ketiduran, belum sempat makan juga dari siang, karena perawatan, tidak makan siang, malam menunggu Tuan pulang, sampai tidak makan malam," ujar bi Taty menatap Dimas yang tengah makan dengan lahap.
Mendengar bi Taty bicara barusan, Dimas sedikit menghentikan makannya, "Istriku belum makan,?" gumamnya,
Dimas menyelesaikan makannya, dengan segelas air mineral, "Bi tadi Dery ketemu Naya kah.?"
"Ti-tidak pak," bi Taty menggeleng, "Sempat sih Dery minta ketemu sama Ibu, tapi.., tidak Bibi ijinkan, akhirnya dia pulang."
"Belum ada yang mengantar mobil ke sini,?" tanya Dimas, sambil mencuci tangan.
"Mobil, belum Tuan," sahut bi Taty.
"Ok, besok tolong pindahkan barang-barang saya dan istri saya ke kamar atas, tapi kalau yang berat-berat sih jangan dulu,"
"Tuan, mau pindah kamar ya,?" tanya bi Taty penasaran.
"Iya Bi, tolong ya,?" Dimas berjalan menaiki anak tangga, sambil membawa barang-barang yang akan dia pake malam ini.
"Baik Tuan," memandangi punggung Dimas dari belakang.
Dimas masuk kamar mandi, dan tidak lama kembali dengan basah air wudu, lantas menunaikan sholat isya, usai itu Dimas naik ke tempat tidur, dimana sang istri masih tidur pulas, ia membaringkan diri dengan miring, di samping Naya masuk ke selimut yang sama, Dimas tak henti-hentinya menatap wajah Naya, betapa ia sangat mencintainya, "Buat apa Dery ingin bertemu istriku,? tak akan aku biarkan siapa pun mengganggu istriku," Dimas menerawang.
Tangan kanan yang menyangga kepalanya, sementara tangan kirinya membelai pipi sang istri dengan lembut, menyentuh bibir Naya dengan jarinya, lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Naya, tak ada reaksi apa pun dari Naya, Dimas memiringkan wajahnya, cup.., mengecup Bibir Naya dengan lembut, kemudian kecupan itu memanas, menuntut yang lebih.
Naya merasakan sentuhan Dimas, namun kepalanya begitu berat, membuat sangat ngantuk di matanya, lengan Naya merangkul leher Dimas dengan berbisik, "Yang kepalaku berat sekali, jadinya ngantuk banget tak bisa membuka mata,!"
"Tidak apa-apa sayang pejamkan saja, namun aku minta hak aku sekarang juga," bisik Dimas dengan suara berat, menatap wajah Naya di bawah sinar lampu temaram.
Sementara Naya masih terpejam, tak sanggup membuka mata, hanya desahan kecil yang keluar dari bibirnya membuat Dimas semaki liar, dan liukan-liukan tubuh Naya menambah semangat Dimas untuk terus dan terus sampai tengah malam.
Akhirnya Dimas terkulai lemas, mengecup kening sang istri, lalu membaringkan diri di sampingnya, kemudian tertidur saling berpelukan.
Paginya Naya sedang merapikan rambut Dimas yang basah, bajunya agar rapi, "Kenapa semalam telat pulang,? bukan kah bilangnya sore juga pulang,?" Naya membuka suara.
"Maaf sayang, semalam aku sibuk, dan kau harus tau juga, hari kemarin di RS pun sibuk, aku pulang hampir ashar dari RS, langsung ke perkebunan, sampai malam, sampai tidak sempat makan siang segala," Dimas berpikir dan sedikit berbohong, tidak mungkin ia ceritakan tentang Citra yang menguntitnya sampai perkebunan.
Helaan napas Naya begitu kasar, "Terus pulang jam berapa.?"
"Em.., aku pulang sekitar pukul sembilan sayang, kenapa,?" Dimas membelai tangan Naya, "Aku sangat cemas, akibat semalam kau tidak ada di kamar bawah, aku tak menyangka kau ketiduran di kursi balkon."
"Oh, iya yang, semalam aku ketiduran, entah kenapa kepalaku berat.., banget, bawaannya ngantuk banget," sahut Naya, membenamkan kepala di dada Dimas.
"Pantas, bercinta pun tidak mau membuka mata sama sekali, aneh,?" Dimas mengangkat bahunya.
Naya mendongak, sambil nyengir kuda, "Habis ngantuk."
"Ngantuk, tapi.., sangat menikmati ya,? ha..,ha..,ha..," goda Dimas terkekeh sendiri.
"Emangnya kalau aku tidak menikmati, diam saja, kamu mau gitu,? bukannya kalau diam saja bagai bercinta dengan boneka ya,?" ujar Naya tak mau kalah.
"Bawel," Dimas memeluk erat tubuh sang istri.
"Masih kangen yang,?" Naya mempererat pelukannya, hari ini apa akan terlambat lagi pulangnya,?"
Alis Dimas terangkat, "Insya Allah, tidak, pasti akan cepat pulang, meski terlambat, aku langsung pulang ke rumah, tidak mampir ke mana-mana dulu," ujar Dimas mengecup kening sang istri, lalu melepaskan pelukannya.
"Kita sarapan ya,? dari kemarin sayang gak makan kan,? jangan telat makan nanti sayang sakit," ucap Dimas.
__ADS_1
"Tidak apa, biar agak kurus, hi..,hi..,hi..," sekenanya.
"Hah, gak bisa, kalau diet lain lagi sayang," Dimas menggendong Naya ke lantai bawah, menuju meja makan, Naya menatap wajah sang suami sambil merangkul leher Dimas, "Padahal aku bisa sendiri turun, kan ada lift."
Dimas fokus ke tangga yang ia lewati, "Nggak apa-apa biar lebih cepat," Dimas mengulum senyumnya.
"Wah.., pagi-pagi Bibi sudah di suguhi pemandangan yang UW nih, hi..,hi..hi..," celetuk bi Taty dari dekat tempat masak berdiri.
Dimas mendudukkan Naya di kursi dekat meja makan, Naya berubah merah wajahnya, lain lagi dengan Dimas yang tetap santai dan datar.
Naya menyodokkan nasi goreng pada piring Dimas, "Nih sarapannya, jangan lupa membaca doa."
Usai membaca doa Dimas menatap sang istri, "Sudah berapa hari nih rasanya tak merasakan makan dari tangan sang istri tercinta.?"
Naya yang mau memasukan sendok ke mulut terhenti, matanya tertuju pada Dimas yang tengah memandangi dirinya, "Baiklah," lantas menyuapi sang suami bergantian dengan dirinya.
Bi Taty mesem-mesem sendiri melihat ke romantisan majikannya, "Semoga kalian selalu bahagia ya, Tuan dan Ibu Naya,?" gumam bi Taty dalam hati,
"Bi, jangan lupa ya bereskan kamar saya, yang di bawah pindahkan barang-barangnya ke atas, oya minta tolong aja sama tetangga, minta bantuan, kalau untuk memindahkan lemari atau yang berat-berat," ujar Dimas.
Bi Taty mengangguk, "Baik Tuan."
"Soal uang saku, saya serahkan pada istri saya," Dimas melirik Naya.
"Tempat tidurnya gimana,?" tanya Naya sambil memasukan sendok terahir ke mulutnya.
"Nggak, eh kalau bunda sukanya yang mana,? yang di bawah apa yang di atas,?" menatap sang istri lekat-lekat.
"Apanya,?" Naya menaikan alisnya.
"Tempat tidurnya sayang,? kau pikir apanya,?" bisik Dimas menyeringai.
Naya tersipu malu, "Oh, aku suka yang di kamar bawah."
"Ok, pindahkan, tukar sama yang di atas, ya sudah, aku berangkat dulu ya,? takut kesiangan," Dimas beranjak dari duduknya.
"Ok," Naya meraih tangan Dimas dan menciumnya, lantas Dimas mencium kening Naya dengan penuh kehangatan.
"Yang, cepat pulang ya,?" dengan nada manja.
"Tentu sayang, aku akan cepat pulang, hari ini adalah hari pertama sayang terapi, gak mungkin aku membiarkan kau sendiri dengan pria lain," ujar Dimas mengusap pucuk kepala Naya.
"Ya udah, hati-hati yang,?" Naya melepas tangan Dimas.
"Assalamu'alaikum..,? sayang jaga diri baik-baik di rumah," ucap Dimas sembari melangkah kan kaki ke luar.
"Wa'alaikum salam..," Naya menatap kergian Dimas.
Ketika Dimas, melewati bi Taty, "Bi titip istri saya,?" melirik bi Taty sekilas.
"Iya tuan, Bibi akan menjaga Ibu," sahut Bibi.
"Jangan seperti semalam, sampai-sampai gak tau dia ketiduran di balkon sendirian," ujar Dimas lagi sambil mengenakan helm nya.
"Maaf Tuan, Bibi lupa," sahut Bibi merasa bersalah.
"Sayang,? aku kan bukan anak kecil, gak perlu bicara seperti itu,? Bi mamafin suami aku,?" Naya melirik Dimas dan bi Taty bergantian.
Dimas melihat Naya yang nampak kesal dengan ucapanya, dan Bibi yang menuduk, "Saya minta maaf Bi, saya hanya ingin setidaknya Bibi temani dia, itu aja, jangan sakit hati dengan ucapanku.?"
Bi Taty mengangkat kepalanya, "Ti-tidak apa-apa Tuan, bubi mengerti.
Dimas balik badan, manghampiri Naya kembali, sambil membelai pipi Naya, "Jangan cemberut sayang,? nanti aku gak tenang meninggalkan dirimu dalam keadaan marah seperti itu, aku kan sudah minta maaf sama Bibi."
,,,,
__ADS_1
Karena kamarin aku kurang enak badan, pagi ini aku baru up, terimakasih reader ku yang masih setia,? terus dukung aku ya🙏 jangan lupa selalu lake, komen, rating dan vote nya, karena itu semua, aku merasa di hargai dan lebih senangat.