
"Huus..," pak Mad menyikut lengan istrinya yang bicara di akhiri terkekeh, pak Mad menunjuk Rita tertidur di sofa, dengan mulutnya komat-kamit mungkin mengigau sedang makan, obrolan pun berakhir, Naya masuk kamarnya kebetulan sudah adzan dzuhur di ponselnya Naya.
Setelah sholat dzuhur Naya baringan di tempat tidur, sambil memikirkan rencananya, memutar otak mencari ide untuk mendesain pakaian wanita dewasa dan anak-anak, dan berarti harus punya mesin jahit dulu, tak berhenti memikirkan itu, hingga tertidur siang dengan lelap.
Dimas juga selain bekerja dia pun sibuk dengan segudang rencana, kebetulan dia punya kaki tangan yang siap membantu Dimas, "Tolong belikan mesin jahit yang bagus dan simpan di lantai atas, tidak jauh dari kamar saya," ucap Dimas lewat telepon, dialah Endro yang siap membantu Dimas.
"Ok, siap laksanakan, pak bos hahaha," sahut yang di sebrang.
"Ok, terimakasih, beberapa hari lagi saya pulang,"
"Loh.., bukankah lusa pulangnya,?" tanya orang di sebrang.
"Aku akan membawa istriku berlibur, ya anggaplah honeymoon gitu," sahut Dimas.
"Wahh, hebat, ikutan dong,?"
"Nikah dulu, baru honeymoon, punya istri juga enggak, ngadi-ngadi, udah yah saya masih di jalan mau pulang ke kontrakan," Dimas menutup teleponnya.
Dimas mengenakan helm, dan langsung tancap gas, meninggalkan depan rumah sakit, tempatnya bekerja selama ini.
Sesampainya di rumah, Dimas menyimpan motor dan helm, Dimas berjalan gontai melintasi pintu yang sudah terbuka, Rita lari-lari bermain di dalam rumah bersama bi Meri.
"Siang pak dokter,?" mengangguk hormat.
"Iya, Ibu mana,?" tanya Dimas. sambil mencolek Rita yang bengong dia agak segan kalau melihat Dimas, mungkin disebabkan karena jarang ketemu jadi kurang kenal.
"Di dalam kamarnya dok."
"Ok, saya masuk dulu, oya apa dia sudah makan,? kalau belum tolong siapkan makan siang kami dan bawa ke kamar," pinta Dimas.
"Baik, sebentar saya siapkan," bi Meri membalikan badan berjalan ke dapur, dan Dimas ke kamarnya.
Klik, handel pintu di putar dan pintu terbuka, tampak Naya tengah tidur nyenyak, keringat di keningnya bercucuran mungkin dia kepanasan, Dimas menyalakan ace agar suasana menjadi sejuk.
Dimas mendekat cup ciuman hangat mendarat di kening Naya, kemudian Dimas memasuki kamar mandi untuk bersih-bersih, cuaca terlalu panas hari ini, setelah mengisi air di bathub, Dimas masuk dan berendam beberapa saat di sana.
Naya terbangun mendengar suara air mengalir dari kamar mandi, Naya bangun dengan mata merem melek, "Dimas sudah pulang rupanya, hem.., pukul berapa nih,?" Naya melihat jam di ponselnya, sudah menunjukan pukul tiga sore.
__ADS_1
Tok...
Tok...
Tok.., bi Meri mengetuk pintu "Permisi dok,? saya bawakan makan siang nih,"dia berdiri sebelum di persilahkan masuk.
"Oh masuk aja," sahut Naya menoleh kearah pintu.
Bi Meri perlahan membuka pintu dan masuk dengan hati-hati, menyimpan makanan di meja, Naya hanya bengong melihat bi Meri menyajikan makan siang, dia baru ingat kalau dia juga belum makan.
"Bibi keluar dulu, apa ada yang di perlukan lagi,?" tanya bi Meri menatap kearah Naya.
"Em.., tidak Bi, makasih," sembari mengulas senyumnya.
Bi Meri mengangguk dan membalikan badan, berjalan melintasi pintu tak lupa menutup kembali.
Dimas nongol dari balik pintu, menggosok rambutnya yang basah, menatap makanan yang udah siap dan mengalihkan pandangan pada Naya yang masih bengong di tempat tidur, "Sudah bangun sayang.?"
"Hem..," sahut Naya termenung.
Usai mengenakan pakaiannya, Dimas naik ke atas tempat tidur, "Kenapa yang, bengong aja hem.., apa yang di pikirkan,?" Dimas merangkul bahu Naya.
Naya menoleh sembari melukiskan senyum samar nya, "Tidak, tidak memikirkan apa pun."
"Sungguh,?" tanya Dimas sembari menggoda.
"Sungguh."
"Ya udah, makan yuk lapar nih, cacing-cacing di perut sudah pada demo, sayang juga belum makan kan,?" Dimas turun untuk mengambil makanan di meja, kemudian di bawa ke tempat tidur biar makan di sana.
Naya mengambil piring yang sudah berisi nasi dan tinggal menambahkan sayur serta lauknya, kemudian tidak lupa berdoa, lalu menyuapi Dimas dengan tulus, "Emang kalau lapar kebetulan sedang di luar, kamu suka makan apa,?" tanya Naya sembari menatap Dimas yang tengah mengunyah.
"Kalau terlalu lapar sih, paling ngemil atau ngemie, tapi jarang sih, lebih banyak makan di rumah dari tangan istri tercinta ini," Dimas manarik bibirnya senyum.
Naya tersipu, kemudian melanjutkan makannya, setelah habis dan kenyang, Dimas menyimpan ke dapur, sebentar dia sudah kembali, "Sekarang waktunya bermanja-manja dengan istri," ucap Dimas sambil berbaring, tiduran di paha sang istri, Naya mengelus rambut Dimas.
"Yang.?"
__ADS_1
"Hem..,?" sahut Dimas tanpa bergerak dari posisi wenaknya, memeluk dadanya sendiri, dengan kepala masih di paha sang istri.
"Aku rasa.., kalau untuk modal pulsa kecil-kecilan sih sepertinya cukup dengan uang simpanan ku, karena untuk di awal-awal usaha, tak perlu modal besar, cukup sedikit dulu, nah.., kalau sudah di kenal dan berkembang baru, kita membutuhkan suntikan dana yang lebih," ujar Naya.
"Terserah sayang aja baiknya gimana, karena sayang yang lebih mengerti dengan usaha yang akan di geluti, aku cuma mendukung, dan berharap jangan terlalu capek, juga jangan jaga diri baik-baik, kesehatan baby kita juga, itu aja," Dimas menoleh sebentar.
"Insya Allah yang."
"Dan satu lagi, sekalipun merasa capek, ayah paling gak suka di tolak keinginan ayah," Dimas bangun dan duduk bersila.
"Kalau gitu ayah egois dong, gak ngertiin istrinya, kan tau juga istrinya capek."
"Tapi.., suruh siapa kerja,? jelas-jelas suaminya mampu ngasih nafkah yang cukup kok, lahir maupun batin aku cukupi, kurang apa lagi,?" dengan tatapan tajam.
"Iya.., memang gak kurang, malah lebih dari cukup, tapi apa salahnya wanita berusaha mandiri, karena tidak selamanya hidup ada di atas, adakalanya kehidupan menurun, dan wanita jangan terlalu tergantung dengan keuangan suami, kalau seandainya dia mampu kenapa tidak,? cuma.., ada cuma nya juga, setinggi apapun pangkat istri misalnya, tetap aja suami mesti di hormati, tapi.., ada tapinya lagi, suami yang gimana dulu yang mesti di hormati, tidak semuanya," ujar Naya bak seorang pembicara dalam seminar.
Dimas memandangi sang istri dengan seksama, "Sayang, kau bagaikan seorang pembicara dalam seminar," tak lepas dengan senyumnya.
"Masa, ah biasa aja, perasaanmu saja kali, yang jelas, aku ingin mengembangkan kemampuanku, dan ingin membuktikan pada semua, bahwa wanita bisa menjadi sosok manusia yang bertanggung jawab, dan sukses di bidangnya, dan aku tidak ingin apa-apa minta sama suami, mending suaminya sedang dekat dengan kita, gimana kalau dia tengah kerja ke luar misalnya, hidup tidak selancar yang di pikirkan, hidup bukan sebuah cerita yang lurus.., aja, bukan," Naya dengan panjang lebar.
Dimas tersenyum aja mendengar dan melihat istrinya berpendapat, "Hebat, sayang hebat, semoga sayang kelak menjadi orang sukses,? dapat membuka lapangan kerja pula, ok.., gimana kalau kita jalan-jalan sore, mau pake mobil apa motor terserah, maunya Bunda," ajak Dimas, menawarkan jalan sore yang di sambut dengan rasa senang oleh Naya.
"Terserah aja mau pake apa, yang jelas aku gak jalan kaki," Naya menggeleng.
"Kalau ayah gendong mau,?" Dimas menatap penuh kasih.
Naya mengangguk, "Mau, kan aku bilang yang jelas asal jangan suruh aku jalan kaki aja," jelas Naya.
Dimas tak lepas dari senyumnya, " ya udah ashar dulu yuk, baru nanti kita jalan," ajak Dimas, Naya mengangguk dan bergegas ke kamar mandi untuk mengambil air wudu, di ikuti oleh Dimas, biar bareng-bareng katanya, setelah itu mereka berdua melaksanakan sholat ashar, kemudian Dimas mengambil mobil, yuk jalan-jalan sore, tanpa mengajak siapa pun, Dimas hanya bilang pada pak Mad, bahwa dia akan keluar sebentar.
,,,,
Terimakasih reader ku, masih mengikuti cerita ini, dan semoga kabar kalian selalu berada dalam lindungan Allah yang maha kuasa, Aamiin.., ok, jangan lupa selalu lake, komen, rating dan vote nya dong๐๐
Nb..
Para reader yang aku hormati dan aku sayangi, kalau ada tulisan aku yang salah itu di komen dong,,๐ biar aku betulkan atau revisi ulang, agar membangun aku lebih baik lagi๐ dan tidak lupa aku ucapkan selamat menunaikan ibadah puasa, bagi yang menjalankannya.
__ADS_1