Bukan Mauku

Bukan Mauku
Mabuk Nasi


__ADS_3

Dimas pun ikutan bangun karena merasa pelukannya kosong, setelah minum Naya berbaring lagi, di sambut oleh Dimas dengan pelukan hangatnya, "Bobo lagi sayang," bisik Dimas dengan suara berat khas bangun tidur, sebelum mata terpejam Dimas mencumbu istrinya sampai menggeliat-geliat merasa geli, hingga akhirnya kantuk pun kembali menyerang keduanya.


Sebuah pagi yang cerah, langit yang begitu indah, sinar matahari yang yang menghangatkan sehangat dekapan suami, seperti Dimas dan Naya masih betah di atas tempat tidur, rebahan, pelukan dan bermalas-malsan.


Naya begitu nyaman dalam pelukan sang suami, "Yang


"Hem..," sahut Dimas sambil pejamkan mata.


"Lapar..."


"Pesan dong yang..," masih pejamkan mata dan mengelus rambutnya Naya.


"Baiklah," Naya bangun mengibaskan selimut mengambil ponsel miliknya, untuk memesan makanan.


Kemudian Naya turun dari tempat tidur, berjalan menuju kamar mandi, "Aku mandi dulu ah."


Dimas hanya memicingkan matanya ke arah sang istri, kemudian ia bangun dan membereskan selimut agar rapi kembali, berjalan menuju balkon melihat pemandangan dari sana.


Di depan cermin Naya tengah sedikit bersolek setelah memakai pakaian dan kerudung, walau penampilan sederhana namun cantik serta rapi, setelah merasa cukup Naya menoleh Dimas masih berdiri dekat pagar balkon.


Pandangan Dimas anteng ke laut deburan ombak yang beriringan, burung-burung beterbangan di atasnya, tiba-tiba ada tangan melingkar di perutnya, Dimas dan ia mendekapnya siapa lagi kalau bukan tangan istrinya.


"Sudah mandinya hem.?"


"Belum, masih berendam"


"Hah.., ngaco."


Naya menempelkan pipi di punggung Dimas, "Yang."


"Hem," Dimas membalikan badan, menempelkan telapak tangan di pipi Naya, "Kenapa.?


Naya menggeleng, "Mandi sana sudah siang juga, siap-siap kan mau pulang."


"Nggak mau"


Naya mengerutkan keningnya, "Kok gak mau, kenapa.?"


Dimas bersandar dan membawa tubuh Naya dalam dekapannya, "Kalau pulang, tentunya kita akan sibuk dengan kerjaan, jadi kita akan punya waktu sedikit untuk berduaan."


Naya tersenyum merekah, "Tapi.., masa kita akan di sini selamanya."


"Ok, aku mau mandi dulu lah," Dimas meninggalkan Naya di balkon sendiri.


Kebetulan pesanan Naya untuk makan datang, Dimas memberikan insentif pada pelayan tersebut, lalu dia keluar, dan Dimas melanjutkan niatnya untuk mandi.


Naya masuk kamar dari balkon, melihat makanan sudah siap di santap, Naya merasa mual, apa lagi mencium bau nasi yang masih berasap.


"Aduh.., kok jadi mual gini mencium bau nasi ya," menggosok-gosok hidungnya.


Kemudian Naya menyiapkan pakaian untuk Dimas, lalu Naya duduk di sofa menatap beberapa menu masakan, bau nasi jadi menyengat di hidung Naya.


Dimas keluar dari kamar mandi, menggosok rambutnya yang basah, melirik Naya yang menutup hidungnya, "Kenapa yang,?" sembari memakai pakaiannya.

__ADS_1


"Bau, bau Nasi."


Lalu Dimas melirik nasi di meja masih hangat berasap, sembari menaikan alisnya, "Dari kapan bunda bau sama nasi.?"


"Baru kali ini," masih menutup mulut dan hidung.


Dimas bengong menatap makanan, "Terus gimana, kalau mabuk sama nasi,?" kembali menoleh kearah Naya. yang meringis.


Sambil menggeleng, "Nggak tau."


Dimas menghela napas panjang, dan menghembuskan kasar, selesai berpakaian Dimas duduk di samping Naya yang tidak mood untuk makan.


"Sayang, minum susu gak mau, masa makan juga gak mau, gimana dengan kesehatan kamu dan juga baby kita,?" dengan tatapan lembut.


Naya meringis, "Baunya gak kuat yang."


Lagi-lagi Dimas menarik napas panjang, "Bau nasi doang kan,?" Dimas menyembunyikan nasi di kolong meja.


"Kenapa di sembunyikan,?" Naya heran, "Kan kamu mau makan."


"Bunda kan gak suka dengan baunya, jadi aku sembunyikan saja, kita makan sayur dan lauknya aja ok,? kita makan."


Barulah Naya mendekat dan mulai melahap makanan yang di depannya, "Yang, nasinya makan aja, sayang mubazir loh, aku gak apa-apa kok," menatap sang suami namun Dimas menggeleng, dan melahap sayur capcay.


Naya merasa gak enak dan dia tidak suka membuat mubazir makanan, dengan memaksakan diri menahan rasa mual, Naya menyuapkan Nasi ke mulut Dimas.


"Aa sayang nasinya di makan, aku gak suka membuat mubazir makanan."


"Tapi.., bunda bau kan.?"


Akhirnya makan pun selesai, di akhiri dengan makan buah sebagai cuci mulutnya, dan kali ini Dimas yang menyuapi Naya buah.


"Kepala 'ku jadi pusing, rasanya pengen tiduran."


"Masih mual kah.?"


Naya mengangguk bersandar di bahu sofa.


"Huuh..," Dimas berdiri membopong istrinya agar rebahan nya di tempat tidur, ia sendiri ikut baringan juga di samping istrinya, cup Dimas mengecup kening sang istri.


"Kalau bunda merasa pusing, kita kencel aja kepulangan kita," mengelus kepala Naya yang berada di dadanya.


"Nggak mau, harus pulang hari ini juga."


Tapi.., bunda pusing-pusing kan,?" dengan lirihnya.


"Tidak apa, nanti juga hilang pusing dan mual-mualnya."


"Hem.., keras kepala," sangat lembut, tangan Dimas mendekap tubuh Naya.


Seperti yang sudah di janjikan, Dery sudah menunggu di parkiran untuk pulang bareng, Dimas baru selesai check-uot dan mengembalikan kartu akses kamar pada pihak resepsionis di lobi.


Setelah itu barulah mereka berdua nyamperin mobil yang sudah siap di parkiran, Naya duduk di depan bersama Dimas sementara Dery duduk di jok belakang.

__ADS_1


"Gimana kalau saya saja yang nyetir, baiknya kalian di belakang, sepertinya Kanaya kurang fit," Dery menatap kearah Dimas yang siap memegang kemudi.


Dimas pun menatap Dery sementara waktu mereka saling pandang, lalu Dimas menoleh istrinya yang memang agak kurang fit.


"Ok," Dimas turun begitupun dengan Naya beralih duduk di belakang, dan Dery yang akan memegang kemudi, setelah Naya dan Dimas duduk di belakang, Dery di depan siap menyetir melajukan mobil dengan kecepatan sedang.


****


Di kediaman Dimas,


Endro sudah menyiapkan segala sesuatu seperti yang Dimas pinta, sebuah mesin jahit besar di letakkan dekat jendela kaca, tepat depan kamar Dimas dan Naya, komplit dengan segala perlengkapannya, untuk Naya menjahit pakaian yang akan dia rancang.


Sebuah bangunan kecil sudah berdiri dengan kokoh di samping rumah, yang nantinya akan di gunakan sebagai konter khusus menjual pulsa, di buat senyaman mungkin, sofa yang panjang tersedia di sana, bisa di gunakan untuk rebahan dan bersantai.


Bu Hesa semakin saja dekat dengan Citra karena bila Endro ke tempat Dimas so pasti Citra ngikut, padahal kalau Endro ke mana-mana Gak pernah juga Citra mengintil, kecuali ke tempat Dimas doang.


"Bi bikinkan saya minuman dingin ya,?" pinta Endro pada bi Taty.


"Iya den Endro."


"Saya tunggu di dekat kolam," lalu Endro melengos pergi, yang asalnya cuman ada kolam renang sekarang di sulap menjadi ada taman bunga-bunga yang indah, ada kolam ikan mas yang besar-besar, ikan yang siap di masak kapan pun, kalau Naya pulang pasti akan merasa pangling.


Bu Hesa dan Citra tengah berbincang sambil nonton televisi, "Tante gak habis pikir, buat apa sih ini semua."


"Iya ya tante, kan Naya gak bisa capek ya, lagian apa bisa ya Naya menggunakan itu semua," Citra pesimis.


"Iya bener," bu Hesa menaikan pundaknya.


"Mama jangan terlalu meragukan kemampuan orang, siapa tau kakak ipar mampu, bahkan lebih yang kita bayangkan," tiba-tiba Maria nimbrung pembicaraan Mamanya.


"Ciee ielah, kamu tahu apa sih Maria," ucap bu Hesa mendelik putrinya.


"Iih.., Mama, jangan suka gitu sama mantu, gak baik," sambung Maria.


Bu Hesa tambah kesel sama putrinya itu, bibirnya wanita paruh baya tersebut manyun beberapa senti ke depan.


Maria melengos ke dapur melihat bi Taty memasak sekalian mau bantuin, "Bi, masak apa hari ini.?


Bi Taty menoleh ke belakang, "Eh non, bibi mau masak kesukaan Tuan Dimas dan Ibu, ada ayam goreng, sayur sup, capcay, dan lain-lainnya."


"Oh," Maria membantu bi Taty masak.


"Eh non, Bibi mau nganterin minuman dulu ke kolam, buat den Endro," sembari melengos membawa segelas minuman dingin untuk Endro.


"Ok"


Bi Taty sampai di kolam, Endro sendiri tengah memperhatikan ikan mas yang berjejer di kolamnya, "Ini minuman dinginnya, maaf Bu Bibi telat."


"Tak apa Bi, makasih," sekilas menoleh, kemudian Bibi kembali ke dapur, membawa nampan.


Bibi Taty kembali berkutat di dapur menyiapkan masakan untuk kepulangan majikannya, ya itu Dimas dan Naya yang rencananya sore ini pulang dari acara kerjaan dan juga Honeymoon nya.


,,,,

__ADS_1


Terimakasih reader ku, sampai saat ini masih mengikuti cerita ini, dan semoga kabar kalian selalu berada dalam lindungan Allah yang maha kuasa, Aamiin..,


Mana dong komentar nya,? bila suka dengan cerita Dimas&Naya ini🙏 agar author tambah semangat pliss bantu author dong..,!!


__ADS_2