Bukan Mauku

Bukan Mauku
Mencuricuri pandang


__ADS_3

Dimas berdiri lalu masuk kamar mandi, tak lama Dimas kembali dan menggelar sejadah, Naya tersenyum bahagia melihat sang suami mau melaksanakan sholat lima waktu, meski masih dalam tahap belajar.


"Yang,?" panggil Dimas melihat sang istri yang tengah sibuk dengan ponselnya, sementara Dimas masih terduduk di atas sejadah nya.


"Hem..,?" Naya melirik kearah suaminya.


"Tuntun doa,?" menatap lekat.


Naya tersenyum, lantas menuntun doa dan di ikuti oleh Dimas, doa selesai, mengusap mukanya dengan kedua tangan, Dimas merapikan bekas sholatnya, kemudian Naik keatas tempat tidur.


"Makan dulu sana,?" dengan tatapan sayu.


"Nggak ah, capek,ngantuk, bobo yuk,?" sambil mendekati wajah sang istri, dan merangkul dengan mesra, "Bulan madu yuk.?"


"Ih, katanya capek,?" sambil menenggelamkan kepalanya di dada sang suami.


"Tapi.., bunda juga, ingin bermanja-manja kan sama ayah,?" menciumi kepala Naya, sangat mesra.


"Gak juga," sambil mengulum senyumnya, dan tak ingin di ketahui oleh Dimas, rasa kantuk pun mulai menyerang dan tak bisa di tahan lagi, akhirnya mereka tidur dengan nyenyak, sambil saling berpelukan.


Sinar sang surya sudah menampakkan diri dan menyinari bumi, hingga kehangatannya terasa di kulit Naya yang kini berdiri dekat jendela, sementara Dimas masih tertidur pulas dengan bertelanjang dada, karena hari Minggu Dimas bermalas-malasan habis subuh ia mengajak Naya tidur kembali, yang sebelumnya melancarkan keinginannya yang semalam gak jadi karena di akibatkan ngantuk berat.


"Yang, bangun dah siang,?" Lirih Naya menepuk pipi Dimas lembut.


"Hem..,?" Dimas melek, memandangi sang istri yang masih mengenakan setelan tidur, "Belum mandi kah,?" membelai rambut sang istri.


Naya menggeleng, Dimas beranjak dan duduk bersandar di bahu tempat tidur, beringsut meraih sang istri kedalam pelukannya.


"Kenapa belum mandi,?" masih mau kah,?" lirih, dan mengecup kening istrinya.


"Enggak, belum ingin aja, bentar lagi,?" sahut Naya, Dimas memeluk sang istri membuat gairahnya naik lagi, perlahan tapi pasti Dimas mencumbu Naya kembali, sampai gairah mereka berdua pun terbakar, seiring sinar matahari yang semakin menekik.


Di dapur, bi Taty tengah sibuk memasak, kebutan sudah ada pekerja yang akan mengerjakan lift, sesuai permintaan yang empunya rumah.


Sekitar pukul sepuluh, Dimas baru keluar dari kamar, terlihat penampilannya sudah sangat segar, "Loh, ada Dery, kok gak kasih tau saya,?" menghampiri Dery dengan kawannya, yang tengah memasang sesuatu.


"Takut ganggu pak, maklum hari libur kerja, dan hari sibuk sama istri, ha..,ha..," sahut Dery sekenanya.


"Bisa aja,?" Dimas tersenyum tipis, dan menghampiri bi Taty di dapur, "Bi sudah masak buat yang kerja.?


"Sarapan mah udah Tuan, tinggal buat makan siang, baru mau masak,? jawab bi Taty.


"Kok gak bilang saya kalau ada yang kerja," Dimas mengambil air minum dan meneguknya.


"Sengaja Bibi gak bilang, karena sudah tau kalau akan ada yang kerja, kan sudah di bilangin sama Ibu," Bi Taty mengambil sayuran dari lemari pendingin.


Dimas mengamati yang Dery kerjakan, ia berencana kalau sudah ada lift, akan pindah kamar lagi, apa lagi sekarang sudah ada asisten rumah tangga jadi Naya gak harus bolak-balik dapur lagi.


"Tuan, Ibu sehat kan,? tumben belum keluar kamar,? belum sarapan juga, Bibi jadi khawatir," ujar bi Taty.


Dimas menoleh bi Taty dengan tatapan datar, "Ibu sehat, cuma kelelahan saja, sebentar lagi pasti keluar, barusan lagi mengerjakan duha."


"Oh, syukur lah kalau tidak ke napa-napa, kemarin kan kehujanan, semalam gak ada yang makan, tadi pagi gak ada yang sarapan juga," tutur bi Taty.


"Iya Bi, Naya kelelahan akibat bercinta dengan saya," Gumam Dimas dalam hati sambil mesem-mesem sendiri, "Sebentar kami pasti sarapan kok."


Naya keluar dari kamarnya, berjalan pelan menuju tempat makan, "Aku kira gak jadi datang yang kerjanya yang.?"


"Hem, aku juga baru tau barusan, kamar kita kan kedap suara jadi gak begitu kedengaran yang dari luar, apa lagi suara kita dari dalam," Sahut Dimas, kemudian mereka berdua makan saling menyuapi.


Dari tempat dekat tangga ada sepasang mata memperhatikan Naya dari mulai keluar kamar, sampai sekarang matanya terus mencuri-curi pandang, "Oh, mungkin karena wanita itu pak Dimas ingin membuatkan lift."


Naya sambil mengunyah mengedarkan pandangan pada tangga, dengan kebetulan Dery tengah menatap kearah Naya, mereka berdua sama-sama mengangguk, lantas Naya mengalihkan pandangan pada piring makannya.

__ADS_1


Sementara Dery ketika bertemu muka dengan Naya deg.., jantungnya berpacu dengan cepat, "Dia tidak begitu cantik, wanita sederhana, namun auranya begitu terpancar dari dalam dirinya," gumam Dery dan menundukkan pandangannya.


Dimas sedari tadi menangkap sesuatu dari sudut matanya, ia tau bahwa Dery mencuri-curi pandang pada istrinya sedari tadi Naya keluar kamar, membuat duduk Dimas tidak nyaman, sementara Naya tak merasakan apa-apa hingga dia biasa-bias aja.


Setelah makan selesai Dimas meneguk segelas air putih, "Yang, duduknya di sofa yuk,? ajak Dimas agar Naya tidak terlalu terlihat oleh Dery.


Sambil membereskan piring Naya berdiri, "Boleh, tapi mau cuci piring dulu sebentar," Naya mencuci bekas makan, setelah selesai Dimas langsung membopong Naya ke sofa.


Dery melihat Dimas membopong istrinya dari dapur, menuju ruang tengah membuat dia tidak bisa mencuri pandang lagi.


Dimas tiduran di sofa dengan kepala di pangkuan sang istri, tiba-tiba ada yang menekan bel dari luar, bi Taty secepatnya membukakan pintu.


Ternyata yang datang adalah Bu Hesa dan suaminya, tak selang lama di susul oleh Maria, suaminya dan juga putranya.


Bi Taty bengong dia belum mengenal siapa yang bertamu, namun dia tak banyak bertanya langsung aja balik ke dapur tuk menyiapkan minuman.


"Yang Mama sama Bapak,?" ucap Naya menepuk bahu sang suami, Dimas pun bangun dari tidurannya.


"Pak, Mak,? kok kalian gak bilang-bilang kalau mau ke sini,? gimana kabar kalian semua,?" Dimas berjabat tangan dengan orang tuanya.


Bapaknya Dimas mendekati dan duduk di sofa yang sama dengan Dimas dan Naya, "Kami baik, gimana kabar kalian,?"


Naya pun bersalaman dengan mertua laki-laki, tapi tidak dengan Bu Hesa, karena beliau jauh duduknya, Naya hanya menyatukan tangan di dada dan mengangguk hormat.


"Baik Pak, kapan pulang dari luar kota,?" tanya Dimas menatap sang Ayah.


"Kemarin lusa, kau tidak apa-apa,? katanya ada penjahat masuk rumah ini,?" dengan tatapan lekat pada Naya.


"Aku, alhamdulillah, baik-baik aja Pak," sahut Naya melirik suami dan mertuanya bergantian.


"Hem puji Tuhan, kau selamat," sambung Bapak mertua, bi Taty datang membawa nampan berisi minuman dan makanan.


"Kau PRT baru ya,?" tanya bu Hesa dengan tatapan tajam pada bi Taty.


Bu Hesa memonyongkan bibir dan berkomat kamit, sementara Maria yang dari lihat-lihat tempat tangga, "Abang lagi merenovasi tangga ya.?"


Dimas melirik Maria, "Iya, mau pasang lift, kenapa.?"


"Buat apa,? oh iya.., buat Kak Naya ya,? kan dia gak bisa naik, ke lantai dua," ketus Maria.


Naya dan Dimas saling pandang, dan Dimas mengusap tangan Naya.


"Emang bener kau mau pasang lift Dim,?" Bapak Dimas memandangi sang putra, sembari beranjak dari duduknya, mau melihat tangga.


"Bener Pak," Dimas pun mengekor di belakang, kini Ibu mertua dan si bungsu juga Maria bersama putranya, duduk di ruangan tersebut.


"Eeh, ada kue kering Gah, mau gak sayang.?" Maria mengambil kue dari piring, buat Argha, putranya, sementara dia sendiri memakan bolu cake keju, "Em.., enaknya..,!" kepalanya menggeleng ke kanan dan ke kiri serta mata terpejam seakan begitu menikmati kue yang dia makan.


"Maria, apaan sih kamu,? malu-maluin aja," bu Hesa melotot pada Maria.


"Tidak apa-apa kok Mak, yang penting di makan," Naya tersenyum samar.


"Beneran kok Mak, enak...,k buanget, rasanya seperti yang kemarin, malahan lebih enak yang ini loh," kata Maria sangat antusias.


Bu Hesa hanya menelan Saliva nya sendiri, melihat Maria memakan kue dengan reaksi yang sangat menggoda, mau ngambil malu, di piring tinggal satu potong lagi sisa Maria sama si bungsu, dan cucunya begitu menikmati kue keringnya.


Naya melihat Ibu mertuanya yang mengamati kue di piring, "Silahkan di cicipi Mak,?" kata Naya pada sang mertua, dan bu Hesa hanya melirik ke arahnya sesaat.


"Oya yang kemarin di makan tidak,? apa rasanya enak,?" Naya penasaran.


"Nggak enak," ketus bu Hesa.


"Apanya yang gak enak,? tau gak Kak,? kuenya habis, sampai-sampai Mamak sama aku rebutan, yang jualan sih banyak, enak-enak pula, tapi kok dari Kak Naya rasanya lebih nikmat gitu, apa karena gratis kali ya,?" Maria menaikan bahunya sambil meneguk air di gelas sampai tandas.

__ADS_1


Bu Hesa menjadi malu setelah Maria bilang seperti itu, melihat di piring sudah tidak ada lagi tuh kue, di makan sama si bungsu, "Enak Mak, banget," ucap si bungsu, dan bu Hesa sedikit melotot.


"Maria, di dapur kayanya masih ada kok, kue cake nya, tolong ambilkan kan buat Mamak, tanyain aja sama Bibi di sana.?" ujar Naya pada Maria.


"Kakak Suruh aku,?" tanya Maria sambil menunjuk dadanya, Naya hanya mengangguk pelan.


"Ok lah," Maria bangkit dari duduk berjalan ke dapur.


"Gak usah, Maria jangan, saya tak suka, di toko xx rasanya lebih enak," ketus bu Hesa, pada Maria yang sudah setengah jalan.


"Ya terserah kalau gak mau, lagian siapa tau sudah habis kuenya kan gak tau," pekik Maria sembari melangkah.


"Dasar ngeyel nih anak," gerutu bu Hesa.


Maria ke dapur mendekati Bibi yang tengah memasak, "Bi kue cake di mana menyimpannya,?" dengan datar, saya di suruh Kak Naya.


Bi Taty memandangi Maria, "Oh kue cake nya tuh dalam lemari," bi Taty menunjukkan lemari yang ada kuenya, dengan dagunya.


"Oh," Maria membulatkan bibirnya dan berjalan, membuka lemari yang di tunjukkan bi Taty barusan, "Segini lagi Bi,? cuma ada sekitar tiga potong lagi.?"


"Iya segitu lagi, tadi di buat sarapan sama yang kerja, kan tadi Bibi bawakan banyak ke dalam," dengan heran.


"Ya.., abis lah, di makan, bukan di lihatin," ucap Maria sambil mengeluarkan semuanya, lantas di bawa ke ruang tengah, bi Taty menggeleng sembari tersenyum sinis.


Di sofa ruang tengah, Naya sibuk dengan ponselnya, sementara bu Hesa dengan wajah datar pandangannya melihat TV.


Tak lama Maria datang membawa beberapa potong kue, "Kak cuma ini yang ada habis, katanya tadi di buat sarapan sama yang kerja," Maria sambil duduk dan menyimpan kue di meja.


"Oh, gak apa-apa abis kan aja, insya'allah nanti aku bikin lagi," dengan melukiskan senyuman di wajahnya.


"Bikin lagi kita ya Kak,? kalau bisa yang seperti ini rasanya, aku suka banget," dengan ekspresi wajah memelas.


Biarpun kadang bicaranya ketus membuat orang kesal rupanya Maria asik juga orangnya, ya mungkin omongannya ceplas-ceplos aja.


"Iya, nanti Kak Naya bikin, insya'allah aku kirim ke sana," sahut Naya, Maria mengambil lagi kue dari piring, dan Azay pun melahap kue tersebut, tinggallah satu potong lagi.


Bu Hesa lagi-lagi menelan Saliva nya sendiri, mau ngambil malu, gak di ambil mau, bisa-bisa kehabisan lagi, mana di dapur juga gak ada, terus aja menelan Saliva nya melihat Azay sangat menikmati suapan demi suapan, Bu Hesa melihat Naya tertunduk, langsung aja dia mengambil sepotong besar, kue lalu dia masukan ke mulutnya dengan satu kali buka mulut.


Maria kaget melihat tingkah Ibunya, karena tergesa-gesa memakannya membuat Bu Hesa batuk-batuk, seketika Naya mendongakkan kepalanya, "Mamak kenapa,? Maria kasih minum Mamak.?"


Maria panik, dan memberikan segelas air pada sang Ibu, Bu Hesa beberapa kali batuk, matanya melotot dan keluar air mata, rasanya kue yang enak itu, tersendat di tenggorokan akibat makannya seperti kereta expires, terlalu capat, Maria setelah melihat Mamaknya membaik setelah minum, tertawa terpingkal-pingkal, di ikuti oleh Azay dia pun tertawa lepas, Bu Hesa bengong, apa lagi Naya tak mengerti apa-apa.


Lama-lama Naya mengerti, kenapa Ibu mertua batuk, dia makan kue dengan tergesa-gesa, sebelum Naya menunduk Kue masih ada dalam piring, namun beberapa detik kemudian kue sudah raib, dan Ibu mertua batuk-batuk, sampai yang ada di mulutnya pun muncrat.


"Mamak sih lucu,? makan ya makan aja, gak usah tergesa-gesa begitu kali,? jadinya batuk-batuk sampai muncrat begitu,? ha..,ha..,ha.., jadinya tidak menikmati enaknya tuh kue, mamak-mamak, ada-ada saja kau Mak," ujar Maria, ternyata benar dugaan Naya sebelumnya, Naya tersenyum lucu, namun ia sembunyikan senyumnya takut menyinggung hati sang mertua.


Bu Hesa hanya diam dan matanya yang bicara, kembali meneguk air putih di tangannya, Maria membersihkan meja dari semburan kue dari mulut sang Ibu, dengan tisu, sesekali tertawa kecil.


Dimas bergegas mendekati mereka, setelah mendengar riuh atau ribut di ruang tengah tersebut, "Ada apa ribut,? siapa yang tadi batuk-batuk.?"


Bapak Dimas dan suami Maria pun datang menghampiri mereka, melihat Bu Hesa pucat pasih wajahnya sang suami khawatir dan duduk dekat sang istri, "Ada apa Ma,? kenapa kau pucat sekali,? kau sakit bukan.?"


Bu Hesa menggeleng.


"Iya Mamak kenapa,? yang Mamak kenapa,?" Dimas menatap lekat pada Naya, dan Naya menggeleng lalu menunjuk Maria, "Tanya aja Maria aku gak tau apa-apa yang."


Dimas dan yang lain memandangi Maria berharap mendapat jawaban atas pucat nya wajah Bu Hesa, Bu hesa menggeleng namun dasar Maria mulutnya lemes, langsung aja cerita apa yang dia dan Zai lihat pada semuanya.


Dan semua yang mendengar saling pandang, mereka menahan tawa, tak ingin menyinggung hati Bu hesa, namun cerita Maria membuat Bu Hesa malu, "Dasar kau Maria," Bu Hesa beranjak dan pergi entah kemana, semua menjadi bingung melihat Bu Hesa seperti itu.


,,,,


Ayok, siapa yang membaca tulisan novel ini jangan lupa meninggalkan jejak ya.?

__ADS_1


Dan Semoga kalian semua di beri kelancaran kesehatan oleh yang maha kuasa, Aamiin ya Allah.


__ADS_2