Bukan Mauku

Bukan Mauku
Ngantuk terus


__ADS_3

Naya sudah berada di dalam kamar, usai sholat duha, terus mengaji, Naya merasa capek ngantuk, kemudian ia membereskan bekas sholat di simpan semua ke atas meja, Naya naik merangkak di atas tempat tidur lalu masuk ke dalam selimut untuk tidur, "Tumben banget jam segini ngantuk banget ya Allah."


Naya memejamkan matanya, yang langsung tertidur nyenyak, bi Taty beberapa kali mengetuk pintu, untuk pamit tak ada sekalipun ada yang menyahut, lama bi Taty berdiri depan pintu, tak ada juga tanda-tanda majikannya keluar, "Masa tidur,? gak biasanya si Ibu tidur jam segini,?" akhirnya bi Taty meninggalkan tempat tersebut.


Setelah menutup pintu keluar, bi Taty tak langsung pergi namun terdiam sesaat depan pintu, "Sepertinya saya harus cepat balik lagi, kasian Ibu, takut ke napa-napa, sendirian di rumah," gumam bi Taty, lalu mengayunkan kakinya berjalan menjauhi rumah Dimas.


Dua jam kemudian bi Taty sudah kembali, ke rumah Dimas, suasana rumah begitu sepi, bi Taty mendongak ke atas tangga, "Apa Ibu belum keluar juga ya,?" Bi Taty melanjutkan aktifitasnya yang tadi ia tinggalkan karena pulang, mau bersih-bersih di lantai atas.


Bi Taty membawa alat pembersih ke atas, setelah di atas menatap pintu kamar majikannya yang tertutup rapat, bi Taty mencoba mendekati, dan mendorongnya, ingin memastikan keberadaan majikannya, ternyata pintu tidak terkunci, bi Taty masuk dengan hati-hati, setelah di dalam, nampak Naya tengah tertidur sangat pulas sekali.


"Bu..,?" panggil bi Taty pelan, tak ada respon, untuk memastikan sekali lagi bi Taty mendekati dan mendekatkan jarinya depan hidung Naya, "Bernapas kok,?" gumam batin bi Taty sembari tersenyum tipis, lalu dia menjauhi Naya dan keluar dari kamar Naya, meneruskan tugasnya.


Pukul 11 siang Naya baru bangun, menggeliat mengibaskan selimut hingga tubuhnya tanpa selimut, namun beberapa menit kemudian selimut di tarik lagi, menutupi tubuhnya sampai dada.


"Udah siang, mau bangun malasnya.., tapi aku gak sakit kok,?" gumam Naya sambil menyentuh pelipisnya sendiri, "Gak panas, normal kok,?" semakin membungkus tubuhnya dengan selimut.


"Ih, haus," akhirnya bangun menyibakkan selimut menurunkan kakinya ke lantai, mengambil air putih, yang tidak jauh dari tempat tidurnya.


"Uuh.., sudah dua gelas masih juga haus," Naya keluar kamar, menuruni tangga setelah menutup pintu kamar.


Di dapur bi Taty tengah memasak, "Bi sudah pulang lagi,?" tanya Naya, berdiri dekat kursi.


Bi Taty menoleh, "Sudah dari tadi Bu, Bibi mah sebentar aja, di rumah juga, tadi Bibi mau pamit tapi Ibu tidur kali, sampai Bibi balik lagi Ibu masih juga tidur nyenyak."


"I-iya Bi, habis ngantuk banget," sahut Naya, Bi bisa minta tolong.?"


"Apa Bu,?" bi Taty menatap majikannya.


"Tong bikinkan jus buah,? haus, tapi nanti aja kalau sudah tidak sibuk," Naya merasa tidak enak hati, namun mau membuat sendiri juga rasanya malas.


"Oh, boleh Bibi buatkan sekarang juga," bi Taty mengambil buah mangga yang matang lalu di buatkan jus.


Naya beranjak menuju ke depan, "Bi aku ke depan ya,?" namun bi Taty hanya melirik dan mengangguk.


Naya duduk di kursi teras depan, menikmati udara luar sembari melihat bunga yang bermekaran, namun kepanasan, karena cuaca saat ini sangatlah panas.

__ADS_1


Bi Taty datang membawakan segelas jus buah dia simpannya di meja samping Naya.


"Makasih Bi,?" ucap Naya mengambil gelas tersebut dan meneguknya.


"Sama-sama Bu, Bibi ke dapur lagi ya Bu,? nanti kalau butuh sesuatu panggil saja,?" ujar bi Taty sambil berlalu kembali ke dapur.


"Iya Bi," Naya tak mengalihkan pandangan dari bunga-bunga di depannya.


Naya mengambil gelas ia teguk lagi sampai tandas, "Aduh, habis kok haus banget ya,? padahal cuaca gini-gini aja."


Naya duduk bersandar, dan memejamkan mata, begitu nyaman terkena angin sepoi-sepoi, bi Taty menghampiri, melihat Naya terlelap, melirik gelas sudah kosong, lalu bi Taty mengambil gelas kosong, tanpa mengganggu Naya tang tengah tidur.


Dari jauh terdengar sahutan suara adzan dzuhur, Naya terbangun menggerakkan kepalanya melihat tempat sekitar, menggeliatkan otot-ototnya, "Sudah dzuhur, kayanya harus berendam ini mah, ini mata ngantuk terus ya Allah,?" Naya beranjak dari duduknya.


Naya berjalan masuk, lalu menutup pintu, dan menaiki anak tangga untuk ke kamarnya, Naya berhenti di tengah-tengah, "Lapar,?" mau balik lagi nanggung, akhirnya melanjutkan langkahnya menuju kamar, terus masuk kamar mandi dan berendam di sana.


Tiga puluh menit kemudian Naya keluar dengan jubah mandinya, usai mengenakan pakaiannya Naya menunaikan sholat dzuhur, habis salam Naya melipat bekas sholatnya dan menyimpan rapi ke atas meja.


Di rumah sakit


Naya tengah minum jus di kantin, "Endro mendekati dan duduk di depan Dimas, "Gantikan saya bro,?" ucap Dimas.


"Hah mana bisa,? lain profesi gimana sih,?" sahut Endro sambil memesan minum.


"Hem..," Dimas menghela napas dalam-dalam.


"Lagian kenapa sih,? paling lama dua minggu kan,?" tanya Endro, "Sebentar, kecil bro gak nyampe satu bulan."


"Sebentar kepalamu, lama untuk sebuah perpisahan," Dimas menyandarkan punggungnya ke bahu kursi, dengan tangan bersilang di dada.


Endro menaikan alisnya sebelah, "Perpisahan,?" seakan tidak mengerti.


"Iya perpisahan, saya harus berjauhan dari istriku gitu,?" dengan nada datar dan.


"Tidak lama bro, lagian kan ada aku," menaik turun kan alisnya, "Aku siap mengunjungi kakak sesering mungkin, aku siap menjaga," ujar Endro menyeringai.

__ADS_1


"Tidak aku ijinkan," singkat Dimas.


"Bila perlu, aku yang menggantikan posisimu di rumah, ha..,ha..,ha..," ucap Endro sekenanya.


"Sialan, kau pikir,? kau maksud apa hah,? sudah gila kau,? cuci sana otakmu, pake sikat sekalian biar bersih,?" ketus Dimas.


"Ehem.., bercanda bro,? gak mungkin aku berani kurang ajar, tapi bener aku siap menjaganya selama kau tidak ada," Endro tampak serius.


"Nggak lah aku akan menolaknya dan menunjuk seseorang untuk menggantikan aku ke sana," Dimas meneguk jusnya.


"Tapi saya rasa gak mungkin bro, sebab semua sibuk, apa lagi posisi sepertimu," kata Endro namun Dimas seolah tak mendengar perkataan Endro sepertinya Dimas melamun.


"Bro..,?" Endro sedikit menggebrak meja hingga Dimas menoleh nya.


"Kenapa bro,? rusak nanti, Dimas memperhatikan meja yang barusan Endro gebrak.


"Habis kau melamun,? aku ngomong tak di respon," Endro meneguk minumnya.


"Yang mana,?" tanya Dimas sembari tersenyum.


"Saya rasa gak mungkin bro, sebab semua sibuk, apa lagi posisi sepertimu," kata Endro mengulang perkataannya tati membuat Dimas ngangguk-ngangguk.


"Iya sih, entah lah, gimana nanti aja," ucap Dimas, rasanya tak sanggup bila harus berjauhan dari sang istri, jangankan satu dua minggu, sehari aja beratnya bukan main, apa lagi ketika juniornya meronta, tak bisa di bujuk dengan apa pun.


"Nah, lagi-lagi melamun,? pasti memikirkan istri di rumah ya,?" Endro seolah tau yang Dimas pikirkan, dan Dimas hanya menarik sudut senyumnya.


Dimas melihat jam di tangannya, sudah waktunya pulang bro, "Saya harus pulang sekarang bro," Dimas berdiri, dan membayar minumnya.


"Oya bro, gimana tentang rencana kerja sama kita,?" tanya Endro menatap lekat.


Dimas diam sesaat, dan mengerutkan dahinya, "Nanti malam ke rumah, kebetulan, Aldo nanti ada juga, kita obrolkan nanti ok,? aku pulang duluan," Dimas beranjak bergegas meninggalkan tempat tersebut, sebelum pulang Dimas mengambil tas kerja di ruangan pribadinya.


,,,,


Terimakasih reader ku, masih mengikuti cerita ini, dan semoga kabar kalian selalu berada dalam lindungan Allah yang maha kuasa, Aamiin.., ok, jangan lupa selalu lake, komen, rating dan vote nya dong๐Ÿ™๐Ÿ™

__ADS_1


__ADS_2