
Senyum merekah menghiasi bibir Kanaya menandakan rasa ikhlas dari hatinya, Aldo pun melukis senyuman di bibirnya.
"Ya udah kalian makan dulu sana, dan kau Lisa sudah waktunya pulang, oya besok pagi tolong barang yang sudah di kemas di kirim ke alamat segera ya,?" Naya melirik Lisa yang sedang merapikan bekas kerjanya.
"Baik Bu," Lisa mengambil tas soren nya, gadis cantik itu bersiap untuk pulang, "Saya duluan ya Bu permisi..?"
"Ok," Naya juga melangkah menuju pintu, di ikuti oleh Aldo si dokter yang memiliki wajah orang timur tengah itu.
Mereka bertiga berjalan beriringan, "Oya Lisa jangan langsung pulang, makan dulu ya," peringatan dari Naya.
"Iya Bu"
"Lagian kan kalian satu arah ya,?" Naya menoleh ke belakang di mana Aldo berjalan di belakangnya.
"Emang Lisa pulang nya ke mana,?" tanya Aldo dari belakang.
"Jalan xx," sahut Lisa singkat.
"Oh itu sih ke lewat," sambung dokter aldo.
"Kebetulan tuh, kamu ikut dokter Aldo saja ya Lis," ujar Naya pada Lisa.
Lisa tersipu malu, "Em.., Lisa takut merepotkan om dokter Bu."
"Dokter Aldo sendiri gimana,?" tanya Naya.
"Boleh aja, kalau Lisa nya mau gak pa-pa, awas hati-hati Naya," Aldo cemas ketika Naya hampir terpeleset, sontak tangan nya meraih pinggang Kanaya.
Naya berdiri memegangi dadanya yang berdebar begitu kencang, kaget hampir saja terjatuh untung tidak jadi dan tangan Aldo ikut menopang.
Aldo segera melepaskan tangannya, "Maaf,?" wajahnya jadi kikuk merasa gak enak jantung berpacu dengan waktu.
Lisa berbalik, "Kenapa Bu.?"
Naya masih menetralisir detak jantungnya, "Eh.., nggak, hanya hampir terpeleset aja," ucap Naya.
"Oh hati-hati Bu,?" sembari kembali membalikkan tubuhnya menapaki lantai.
Naya menghadap Aldo, "Makasih dok,?" sangat lirih sembari menunduk.
"Sama-sama," masih dengan wajah yang tegang, entah kenapa perasaannya sulit di kendalikan.
Naya duduk di kursi yang biasa ia duduki melihat kursi tempat Dimas duduk kosong, "Rindu, seharian ini kamu jauh, aku rindu," batin Naya bukannya mengambil piring malah anteng dengan lamunannya.
Semua orang pada makan malam, namun Naya bengong aja sambil memainkan ponselnya, Aldo ingin sekali menegurnya namun gak enak, maka membiarkan saja.
"Kenapa kau gak makan,?" sapa Bapak mertua memecah lamunan Kanaya.
"Iya malah bengong aja," sambung bu Hesa.
Semua orang melirik Naya kearah Naya, Naya pun menoleh, "Eh.., iya, Bi bikin kan susu hangat aja ya,?" pinta Naya pada Bibi.
Tidak lama bi Meri membawakan nya untuk Naya, "Ini Bu susu hangatnya," lalu balik lagi.
"Makasih Bi, oya kalian teruskan aja makannya," sembari memberikan senyumnya.
Lisa melirik jam di tangannya, "Lisa pamit dulu ya Bu, nyonya dan semuanya," Lisa beranjak dari duduknya, "Om dokter jadi mau ngantar Lisa pulang,?" Lisa ternyata lebih berani dari yang orang kira, bahkan Naya pikir Lisa pendiam dan malu-malu anaknya, ternyata tidak, Aldo terdiam sesaat dan dengan santainya meneguk air mineral di gelas yang dia pegang.
Naya menatap Aldo seolah menunggu jawaban dari darinya.
"Bukan mau ngantar, tapi.., sekalian pulang, karena jalan kita satu arah," jawab Aldo dengan santainya.
__ADS_1
"Oh kirain tante mau ngantar," ucap bu Hesa mesem.
"Lagian masih sore, ngobrol lah dulu sama om, bentar lagi juga Dimas pulang, terus di luar masib gerimis," sambung Bapak nya Dimas.
Aldo masih duduk seakan masih betah di tempat itu, "Hem.., gadis ini manis, kayanya lebih agresif, berani," batin Aldo menaikan alisnya.
"Om dokter mau pulang sekarang nggak,?" lagi-lagi Lisa bertanya sambil menyoren tasnya.
"Ck..ck," bawel, nyesel tadi saya iya kan," gumam Aldo dalam hati lalu ia berdiri, "Ok, Kanaya saya pulang dulu salam buat Dimas, om dan tante saya pulang dulu, kebetulan masih ada urusan," Aldo melihat waktu di tangan kirinya.
"Iya.., hati-hati kalian, terutama kau dok hati bawa mobilnya licin pasti," ucap Naya tak lepas dari senyumnya.
"Iya makasih,?" Aldo menatap sekilas, menyatukan tangan di depan dada begitupun dengan Naya, lalu menjinjing tas nya, berjalan mengikuti Lisa yang sudah duluan.
"Iya hati-hati juga Aldo," ucap bu Hesa dan suaminya.
Aldo mengangguk, kemudian bergegas keluar rumah menuju mobilnya, dia duduk di belakang kemudi dan Lisa sudah duduk di sebelahnya.
Tanpa bicara Aldo menancap gas melajukan mobilnya, memecah kegelapan malam.
Naya menghabiskan susu hangatnya, lalu berdiri, "Hi.., jangan lari-lari Rita, udah makan belum hem..,? em..., gemeeees pipinya pingin nyubit," Naya mencubit pipi gembul Rita.
"Sudah tante, oya om dokter kemana tante kok tante sendirian,?" bola mata beningnya menatap Naya.
"Om dokter masih kerja sayang, tante tidak sendiri kok, ada mamanya Rita ada bu Taty, ada ibu besar dan bapak om juga, dan yang lain lagi, sudah jangan main terus bobo sana, besok tante belikan boneka mau gak.?"
"Mau tante mau, Rita mau boneka panda hello kity juga," Rita bersorak kegirangan.
"Iya besok ya,? tapi.., sekarang bobo dulu ok anak manis."
"Ok, hore..,hore besok mau di kasih boneka," anak itu merasa sangat bahagia sekali.
"Ah, Ibu jangan terlalu di anuin Rita nya, nanti minta terus," ucap bi Meri.
Naya langsung ke kamar mandi, lalu menunaikan kewajibannya sebagai muslim, selepas itu Naya menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur, mengambil ponsel untuk menelpon Dimas namun hasilnya nihil.
Naya mencoba pejamkan mata namun tak ada lena, akhirnya pintu kamar terbuka masuk lah Dimas dengan langkah gontai, nampak kedinginan.
"Assalamu'alaikum.., belum tidur sayang,?" Dimas menyimpan ponsel, kunci dan tas di atas mejanya.
"Wa'alaikum salam..,baru pulang?" Naya bangun dan duduk, Dimas menghampiri duduk di sampingnya mencium kening Kanaya.
Naya pun meraih punggung lengan Dimas dan menciumnya, "Kehujanan kah.?"
"Nggak, hujan di luar sudah reda kok," mengelus rambutnya istrinya.
"Sudah makan.?"
"Sudah tadi sore."
Naya menyandarkan kepalanya di bahu Dimas, "Aku belum makan."
"Kenapa sayang,? jangan malas makan nanti sakit sakit kamu sakit juga baby kita," mengusap bahunya.
"Nggak lapar gimana,?" Naya mendongak.
"Di paksakan, gimana terapinya, di temani siapa,?" menatap penasaran.
"Hem.., ada Bibi, Bapak juga Mama, mereka pak Mad kan sudah datang."
"Tau barusan yang bukain pintu juga pak Mada."
__ADS_1
"Iya kah, sudah sana mandi pake air hangat ya, mau aku siapkan," Naya hendak turun dari tempat tidur, namun tangannya di pegang oleh Dimas, Mau kemana,?" tanya Dimas.
"Mau menyiapkan air hangat, untuk ayah mandi," sahut Naya.
"Nggak usah sayang tunggu aja di sini, aku bisa sendiri ok,?" Dimas mencolek dagu Naya dengan gemasnya.
"Baik lah, eh.., udah sholat belum yang," Naya duduk manis di atas tempat tidur.
"Sudah," Dimas membuka kemeja sambil berjalan masuk kamar mandi.
Selang lima belas menit Dimas keluar mengenakan handuk di pinggang, lalu mengambil celana buat santai, mengeringkan rambut dengan handuk, dan menyimpan handuk ke tempatnya.
Dimas duduk di tepi tempat tidur sembari mengecek ponselnya, Naya memeluk dari belakang, menempelkan pipinya di punggung Dimas yang tanpa pakaian.
"Yang..,?" panggil Naya lembut.
"Kenapa sayang,?" Dimas mengeratkan pelukan Naya di perutnya.
"Em.., pengen-pengen makan mie ayam gerobak, makan nya berdua di dekat gerobaknya, bukan di rumah."
"Emang kenapa kalau dari resto.?"
"Nggak mau, pengen yang jualnya di gerobak dorong, sudah beberapa hari ini ngidam itu, makannya berdua sama kamu," dengan manjanya.
"Kenapa baru ngomong sekarang hem..,?" lirih sambil mengelus tangan sang istri.
"Baru sempet ngomongnya"
Dimas menarik napas panjang lalu ia hembuskan kasar, "Apa kira-kira jam segini masih ada yang jualan mie ayam,? tanya Dimas.
"Di cari aja," Naya melpas pelukannya, Dimas membenarkan posisi duduknya jadi berhadapan dengan Naya.
Mereka saling bersitatap sebentar, Dimas sebenarnya capek, mana di luar hujan sekarang aja masih gerimis, waktu sudah menunjukkan hampir pukul 22.00. namun tidak tega namanya juga tengah ngidam, kadang minta yang aneh-aneh.
Lagi-lagi Dimas menarik napas dalam-dalam, "Ya udah kita cari sekarang yuk,?" menggenggam lengan istrinya.
"Benar..,cari mie ayam,?" Naya setengah bersorak.
"Iya sayang," Dimas mengambil kaos dan jaketnya tidak lupa mengambil kunci mobil serta dompet.
Naya turun dan memakai kerudungnya, "Yuk," menggandeng lengan suaminya lalu berjalan melintasi pintu, lantas menutupnya.
Setelah di teras ada pak Mad sedang ngopi sendiri di sana, pak Mad heran melihat majikannya mau keluar malam-malam, "Maaf kalian mau kemana malam-malam gini.?"
"Ini istri 'ku pengen makan mie ayam, jadi mau cari yang jualan dulu," ucap Dimas melirik istrinya.
"Oh, biar saya aja yang carikan," ucap pak Mad.
"Jangan pak Mad, anda kan baru di sini belum tentu hapal daerah sini, apa lagi malam seperti ini," cegah Dimas.
"Kata suami aku benar pak, lagian maunya makan berdua sama suami 'ku, gak mau di bawa ke rumah, dan satu lagi bukan dari resto mie ayam yang aku mau, melainkan mie ayam gerobak," ujar Naya menatap pak Mad lirih.
"Oh gitu ya Bu, ya sudah kalau begitu, sebentar saya ambilkan payung dulu sebab itu masih gerimis, pak Mad setengah berlari ke dalam katanya mau ambilkan payung.
Tidak lama pak Mad kembali membawa sebuah payung, "Ini payung nya dok, dan hati-hati nanti ke buru malam."
Dimas mengambil payung tersebut, "Makasih pak."
Dimas menggandeng pinggang Naya untuk masuk ke dalam mobil, duduk di samping kemudi, kemudian Dimas bergegas mengitari mobilnya dan duduk belakang kemudi, "Bismillah."
,,,,
__ADS_1
Terimakasih reader 'ku, sampai saat ini masih mengikuti cerita ini, dan semoga kabar kalian selalu berada dalam lindungan Allah yang maha kuasa, Aamiin..,
Mana dong komentar nya,? karena komen dari kalian menambah 'ku semangat, untuk menulis, terimakasih juga bagi yang sudah ngasih saran atau masukan makasih banyak ya.!!