
"Mari, saya tunjukkan," Dimas berdiri di ikuti oleh Dery, Dimas menunjukkan tangga yang ingin ia pasang kursi lift tersebut yang khusus buat sang istri.
Setelah meneliti semuanya terjadilah sebuah kesepakatan, pembangunan akan di mulai lusa, Deri dan beberapa pegawai akan mengerjakan dengan cepat, Dimas merasa senang akan kesepakatan tersebut, mereka berjabat tangan dan akhirnya Dery berpamitan untuk pulang yang sebelumnya meneguk habis segelas kopi yang di suguhkan bi Taty.
Demas memandangi kepergian Seorang Dery sampai hilang dari pandangan, dirinya menutup pintu dan melangkahkan kakinya, tuk menemui Naya.
Ceklek.., pintu di buka, Naya tengah bersandar di bahu tempat tidur, melihat Dimas masuk seketika memberikan senyumnya, "Siapa yang,? sekarang orangnya mana.?
"Orang yang akan mengerjakan lift yang, dan mulai lusa di kerjakan nya,?" ucap Dimas sembari duduk di sofa mengambil laptop yang berada di atas meja.
"Oh," Naya membulatkan mulutnya dan kembali menulis, biasanya kalau sore dirinya berkutat dengan masakan, kali ini tidak, karena sudah ada PRT di rumah.
"Huhu.., tak bisa konsen nih," Naya mengusap wajahnya.
Dimas melirik kearah Naya yang sedang menghela napas panjang, "Kenapa yang.?
Naya melirik kearah suara, menatap lekat, omongan Dimas tadi membuat mengganggu pikirannya, "Siapa wanita cantik yang menggoda dirimu.?"
"Citra," Dimas singkat dan fokus dengan laptopnya.
"Dokter kah,? apa kau menyukainya,?" semakin lekat seakan ingin tau isi hati suaminya.
Dimas dengan pandangan begitu memuja sang istri, menutup laptop dan beranjak dari duduknya mendekati sang istri, "Sayang kenapa sih, masih cemburu kah,?" menangkupkan kedua pipi Naya dengan lembut, menatap manik-manik matanya.
Naya melepaskan tangan Dimas, "Cuma penasaran aja, gak lebih."
"Hem..,emang kenapa kalau aku suka,? wajar dong? aku kan normal, kau tau itu kan hem,?" mengedipkan mata.
"Ih..,dasar laki-laki, gak gak bisa melihat wanita cantik, bening, langsung aja naik ke ubun-ubun, heran aku," memukul Dimas dengan bantal dan Dimas langsung mengambil dari tangan Naya.
"Wajar dong sayang aku kan normal, kecuali aku gak normal, he..,he..,he..," Dimas terkekeh, "Lagian istri aku sederhana aja membuat aku ingin selalu menerkam, apa lagi kalau--!
Naya melotot, "Apa lagi kalau apa,? kalau aku cantik, seksi gak akan aku perlihatkan sama orang."
"Iya lah sayang, karena sayang hanya buat aku saja," kata Dimas sambil memeluk dan menempelkan dagunya di bahu Naya.
"Yang, besok-besok perawatan ya,? biar lebih sehat, cantik, menarik, tapi.., semua itu hanya buat aku seorang, gak boleh di pandang orang sedikitpun," masih dengan posisi yang sama.
"Siapa juga yang akan lihat aku yang,? keluar pun tidak kan,?" Naya membelai rambut Dimas, tapi.., perawatan di mana,? ke salon kecantikan gitu,?" tanya Naya.
"Nanti aku suruh mereka datang ke rumah, biar merawat dirimu di rumah saja," sahut Dimas masih memeluk Naya dari belakang.
"Ok," sahut Naya membentuk o dengan jarinya.
Ketika Naya seperti biasa belajar mengaji bersama Dimas, pintu kamar ada yang mengetuk dari Luar.
Tok..
Tok..
Tok..
"Maaf Tuan dan Nyonya, makan malam sudah siap,?" kata bi Taty dari luar kamar.
"Iya Bi, duluan saja,?" sahut Dimas menoleh pintu.
Bi Taty berdiri depan pintu, "Baik Tuan."
Mereka mengakhiri belajarnya dengan membaca alfatihah, Dimas menyimpan semua peralatan di atas meja.
"Yuk yang,?" Dimas meraih tubuh sang istri dan di boyong ke tempat makan.
Setelah duduk mereka melahap masakan bi Taty dengan lahap, "Ayuk Bi makan bareng,?" ajak Naya pada bi Taty yang tengah mencuci perabotan.
"Bibi nanti saja Bu, tanggung masih ada tugas,!" mengangguk hormat
"Baik lah, tapi jangan lupa makan Bi, jagan sampai telat nanti sakit, akhirnya majikan yang kena getahnya,?" sambung Dimas.
"Tidak Tuan, Bibi pasti makan, tong sien atuh, dan Bibi mah kalau lapar pasti akan makan, biarpun tidak di suruh juga, kecuali di dapurnya tidak ada apa-apa buat di makan hi..,hi..,hi..," ucap bi Taty.
"Tega sekali kalau saya membiarkan rumah ini tidak ada makanan,?" emangnya istri saya gak saya kasih makan,?" Dimas menata bi Taty dengan datar.
"Maaf Tuan, kan ini seumpamanya," sambung bi Taty.
"Hem..," Dimas meneruskan makannya, sampai tandas, begitupun Naya, tinggallah piring bekasnya, Naya berdiri mendekati wastafel, begitupun Dimas membawa piring yang kotor k e wastafel lantas di cuci oleh Naya.
__ADS_1
Bi Taty mau mencegah tapi tadi siang juga, majikannya tetap kekeh.
Seusai mengelap tangan Naya mau balik ke kamar namun di cegat sama sang suami, dan Dimas membungkuk meraih badan sang istri hingga dalam seketika tubuh Naya sudah ada di bahu Dimas, Naya sedikit memukul punggung Dimas.
"Kok kaya gini sih yang,?" gumam Naya lirih, Dimas tak menghiraukan, hingga sampailah di dalam kamar, dan menidurkan Naya di atas tempat tidur yang empuk tersebut.
Tiba-tiba ponsel Dimas berdering, "Telpon yang.?
"Biar aja, malam-malam ganggu orang aja," Dimas kesal.
"Hi..,hi.., yang.., ini masih sore loh, masih isya juga," sambung Naya.
"Ah, sama aja."
"Udah angkat dulu sana,? Naya mendorong pelan bahu Dimas.
"Gak mau," dengan manja, namun ia beranjak meraih ponsel miliknya.
Dimas nampak serius bicara di telepon entah dengan siapa, Naya masuk kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
Sekembalinya dari kamar mandi Dimas tidak ada di dalam kamar, Naya mencari keberadaan Dimas di ruangan lain dari balik pintu kamar namun tidak ada.
"Kemana dia,?" gumam Naya pelan, "Yang.., di mana,? panggil Naya membuka pintu kamar lebar-lebar, namun yang menghampiri bukannya Dimas melainkan bi Taty.
"Ada apa Bu,? mencari Tuan bukan,?" bi Taty berdiri depan pintu.
"Iya Bi, lihat dia kah,?" tanya Naya.
"Tuan tadi.., naik ke atas membawa laptop," sahut bi Taty menunjukkan dengan dagu kearah tangga, "Apa perlu Bibi panggilkan Bu.?"
"Oh, tidak Bi makasih, biar saja," lalu Naya menutup pintu dan mengerjakan sholat isya.
Dimas di lantai dua berkutat dengan laptopnya, sampay pukul 21.15 menit, ia merenggangkan tubuhnya yang terasa kaku, lantas menutup laptopnya dan tak lupa membawanya, dirinya menuruni tangga hendak ke dalam kamar, di mana Naya mungkin tengah menunggu dirinya.
Clik.., knop pintu di buka oleh Dimas, ia masuk berjalan dengan gontai, ternyata Naya sudah terbaring di bungkus selimut, "Yang..,?" panggil Dimas sambil menyimpan laptop di atas meja.
Namun Naya tak manyahut, Dimas mengernyitkan dahinya, "Hem..,apa mungkin sudah tidur,? tumben.?"
Dimas mendekati dan naik ke atas tempat tidur, benar saja Naya sudah terlelap tidur, tangan Dimas menyibak helaian rambut yang menutupi wajah Naya, cup.., Dimas mengecup kening sang istri.
Dengan memicingkan mata Naya melirik jam, "Sayang dari mana sih,? dari tadi gak bilang-bilang lagi.?"
Dimas senyum samar melihat sang istri mencebikkan bibirnya membuat dirinya gemas, "Dari atas sayang ada yang mesti di kerjakan di laptop."
"Emang gak bisa di sini ya,? dikerjakannya,? gak akan aku ganggu kok,?" Naya mengubah posisi menjadi berhadapan dengan Dimas.
"Sayang tidak akan menggangu, tapi aku yang merasa terganggu,!" dengan lembut membelai rambut sang istri.
"Terganggu gimana,? aneh," Naya merasa heran dengan jawaban suaminya.
"Sayang tau gak--?"
"Nggak,?" Naya menggeleng pelan memotong perkataan suaminya.
"Belum ngomong, yang belum ngomong,?" Dimas menyeringai dan mencubit hidung mungil Naya.
"Oh, belum ya aku kira udah,? hi..,hi..,hi..," Naya ketawa kecil dan mengusap hidungnya.
Dimas terlentang dengan kedua tangan menopang kepala di atas bantal, "Sayang itu harus tau, bunda memang tidak akan menggangu ayah, tapi ayah yang gak bisa fokus, kalau lihat sayang, pengennya bermanja terus dan--!"
Naya tengkurep melihat wajah Dimas, "Dan-- apa,?"
Dimas memiringkan lagi tubuhnya kearah Naya, "Dan.., pengen memakan sayang terus, bawaannya.., pengen bercinta terus dan terus, setiap waktu setiap hari,"
Naya melotot dan bergidik ngeri, "Ih.., takut,? kapan mau kerjanya,? gitu terus, emangnya robot.?"
"Kan itu juga kerja sayang, ngerjain bunda agar menghasilkan benih.., dari cinta kita," bisik Dimas di telinga Naya.
"Au ah, belum sholat kan,? sholat dulu sana, nanti bobo," Naya berusaha mengalihkan percakapan.
Dimas turun dari tempat tidur, "Ok sayang."
Ia berjalan ke kamar mandi, dan Naya semakin memakin membalutkan selimutnya, tak lama Dimas kembali dari kamar mandi lalu menggelar sejadah tuk sholat isya, lima menit kemudian selesai dan merapikan bekasnya seperti semula.
"Kita bobo yuk,? sudah ngantuk nih," mereka saling berpelukan, namun entah kenapa mata Dimas belum bisa terpejam juga, sedangkan Naya merasa matanya bagaikan di lem sulit di buka akibat ngantuk, Dimas baralih posisi mering agar mudah menyentuh sang istri, "Yang, adik kecil aku bangun gimana nih,?" lirih.
__ADS_1
Dengan malas Naya berkata, "Em.., suruh tidur, ngantuk."
Dimas merasa kecewa tapi apa boleh buat, ia tengkurep menyembunyikan sesuatu yang mulai meronta, dalam dirinya, sesat kemudian beralih posisi lagi, sudah miring, telentang, miring lagi, tengkurep lagi, begitu gelisah, meski mata sulit di buka namun telinga Naya masih bisa mendengar dan merasakan kegelisahan sang suami.
"Bobo yang, kanapa sih,? dah malam juga,?" ucap Naya dengan mata masih tertutup.
Dimas menoleh Naya dalam remang terihat tengah memejamkan mata, "Nggak kuat yang," dengan suara yang berat, dan napas tak beraturan, membuat Naya tak tega.
"Terserah kamu sajalah, aku ngantuk banget," kata Naya masih juga mata pejam.
Dimas mendengar itu tersenyum penuh kemenangan akhirnya ia bisa menyalurkan juga, Dimas bangun bersiap mencumbu pasangannya, awalnya lembut, dalam, dan menjadi panas bagai api yang membara hingga darah pun mendidih dalam diri Dimas.
Pagi-pagi sang surya sudah menampakkan diri dari upuk timur, di sambut dengan suka cita oleh penghuni dunia.
Dimas dan Naya di kamar sudah rapi, lalu Naya keluar kamar ingin menyiapkan sarapan suaminya, bi Taty tengah menyapu, "Em.., Bu, Bibi belum membuat sarapan, habis Bibi bingung mau bikin apa,? mau bertanya takut Ibu sama Bapak terganggu."
"Gak apa-apa Bi, bikin nasi goreng aja buat suamiku, dan biar aku yang buat," kata Naya, sambil memotong bawang putih, merah, tomat, dan cabe rawit.
"Oya, Bi kalau Bibi mau sarapan bikin aja ya buat sendiri, aku sarapan roti aja," sambung Naya.
Bi Taty mengangguk pelan, "Iya-iya Bu, gampang Bibi mah."
Naya tersenyum, dan mulai memasak nasi goreng buat Dimas, tak lama nasi goreng sudah jadi tinggal menyiapkan segelas susu cokelatnya.
"Oya Bi,?" ucap Naya sembari menyeduh susu cokelat.
Bi Taty mengahampiri majikannya, "Iya nyonya.?
"Nanti kalau udah sarapan belanja keperluan dapur ya,? sudah menipis kayanya, apalagi bosok katanya mau ada yang kerja memasang lift, jadi harus banyak stok bahan masakan, ini uang beserta catatan yang harus di beli," Naya merogoh sakunya mengambil beberapa lembar uang, Naya memang tidak terlalu bisa membelanjakan, tapi hampir semua uang, Dimas pasrahkan pada Naya.
"Oh, siap Bu, akan Bibi laksanakan," bi Taty memasang tangan di depan pelipis tanda hormat pada atasan.
Naya menggeleng sambil senyum samar, "Ih, apaan sih Bi.?"
"Ada apa nih,? sudah ramai bah,?" tiba-tiba Dimas datang membawa tas, ponsel, tak lupa kunci motor, di simpan di atas meja.
"Ini yang sarapannya,?" Naya memberikan piring dan segelas susu cokelat.
Dimas memandangi isi gelas tersebut, "Yang kan tadi udah,?" sambil mengulum senyumnya.
"Apaan,?" Naya tidak mengerti, bi Taty yang mengerti langsung tertawa lebar, Naya semakin tidak mengerti kenapa PRT nya tertawa apa yang lucu pikirnya.
"Mungkin maksud Tuan yang tadi sudah itu, benda kenyal, kalau yang ini mah cair Tuan," bi Taty menunjuk gelas tersebut, Naya baru mengerti dan tampak wajahnya merah, menunduk, sementara Dimas hanya menyeringai.
Naya mencubit paha Dimas, "Sayang apa sih,? mesum terus, gak malu apa."
"Aww.., sakit sayang..,?" pekik Dimas sambil membuka mulutnya minta di suapin oleh sang istri, Naya mengerti keinginan Dimas, langsung ia menyuapi Dimas, "Enak gak yang.?"
"Enak sayang, apa lagi makannya di suapin dengan penuh cinta, nikmat banget yang,?" dengan manja.
"Bilang aja manja,?" sahut Naya mendelik namun tetap menyuapi sendok demi sendok nasi goreng sampai ludes.
"Emangnya bunda mau,? aku bermanja pada wanita lain,? Dimas menaikkan alisnya.
"Coba saja kalau mau, eh jangan, enak saja," cemberut sambil memalingkan muka.
"Bi, sarapan dulu sbelum berbelanja,?" perintah Naya pada bi Taty.
"Iya Bu siap,? sahut bi Taty sambil melengos.
"Nggak lah yang, gak mungkin aku seperti itu," sembari meneguk air putih, kemudian susunya, "Ya sudah aku berangkat kerja dulu yang, nanti siang siap-siap ya,? kita akan ke spesialis tulang," ucap Dimas sambil beranjak dari duduk, Naya mencium punggung tangan sang suami.
Naya bertanya, "Siap-siap yang cantik bukan,? kan aku gak bisa dan-dan orangnya.?"
"Tidak sayang, biasa aja, lagian kalau bisa dan-dan cantik pun itu di rumah, buat aku saja," sambung Dimas.
Dimas pun tak lupa mengecup kening sang istri dan mengusap pucuk kepalanya, lalu mengucap salam.
"Assalamu'alaikum,?" ucap Dimas semabari meraih tas dan kunci, kalau ponsel sudah di masukan saku.
"Wa'alaikum salam..,? hati-hati ya,?" ucap Naya, sambil memandangi kepergian Dimas menuju garasi.
,,,,
Terimakasih reader ku yang baik hati yang masih setia mampir di sini, semoga sehat selalu, murah rezekinya, lancar urusannya, Aamiin 🤲🤲
__ADS_1