Bukan Mauku

Bukan Mauku
Perjalanan


__ADS_3

Naya mencoba menghela napas panjang, lalu ia hembuskan perlahan. Menghela napas lagi dan lagi, kemudian ia hembuskan perlahan kembali, "Huuh ... ketika amarah memuncak? bersabar adalah pilihan terbaik. Marah tidak akan menyelesaikan masalah dan mengalah bukan berarti kalah," gumamnya berusaha tenang.


Dimas menemui kawan-kawan nya di ruang tengah berkumpul. "Sudah makan belum nih," sambil menjatuhkan tubuhnya di sofa.


"Baru selesai ! kenapa kalian belum makan?" tanya bu Hesa menatap putra sulung nya.


"Oh iya, bentar lagi Mak! tadi kau mau menyampaikan apa?" Dimas mengalihkan pandangan pada Endro.


"Oh, itu ..." Endro menatap kedua orang tua Dimas, ragu-ragu mau bicara.


Dimas menatap Endro dan kedua orang tuanya. "Bicara saja gak usah sungkan," ucap Dimas dengan nada datar.


"Itu soal Bu Dewan."


"Ada apa dengan Bu dewan?" tanya Bu Hesa keheranan.


Endro menoleh nya sekilas. "Hasil laboratorium membuktikan kalau air minum itu tercampur dengan racun, dan kami sudah melaporkan dengan tuduhan percobaan pembunuhan kan?"


"Iya." Dimas begitu serius mendengarkannya.


"Ternyata banyak lagi kasus yang tengah dia hadapi, dan dia di tangkap dengan tuduhan telah melenyapkan nyawa kekasih putrinya."


"Jadi ... dia di tangkap bukan cuma satu sebab, tapi akibat beberapa kasus. Gitu maksudnya?" Dimas sangat antusias.


"Yaps, benar, pembunuhan. Korupsi, mencoba melenyapkan nyawa istri mu, dan banyak juga kasus lainnya." Dery memperkuat perkataan Endro.


"Ya Tuhan ..." Dimas menggeleng seakan tidak percaya.


"Itulah, siapa yang menanam dia juga yang akan menuai hasilnya," jelas Aldo.


"Apa bu dewan Magda di laporkan?" Bu Hesa terkejut.


"Benar, bukan cuma di laporkan. Tapi sudah jelas di penjara," sambung Endro.


"Kasian."


"Apa yang kasian Mak? dia yang salah," timpal Bapak nya Dimas.


"Apa yang harus dikasihani? dia itu hampir saja melenyapkan nya mantu Tante. Kalau takdir menentukan mungkin saat ini mantu Tante tinggal nama," suara Dery agak tinggi.


"Apa?" Bu Hesa tambah dibuat terkejut.


"Iya Tante, om, Bu Mahdalena memasukan racun yang amat berbahaya pada minuman Naya, di rumah ini. Racun yang amat berbahaya bagi tubuh," jelas Aldo kembali.


Bu Hesa bengong dengan mulut menganga seakan tidak percaya,


Suara derap langkah kaki, yang membuat semua orang menoleh. Naya tengah turun dari tangga menuju mereka.


Raut wajah Dimas merona bahagia lalu menghampiri Naya istrinya. "Bun, ada kabar baru Bun tentang Mahdalena," Dimas menuntun angan Naya agar duduk di sofa dekatnya.


Naya mengerutkan keningnya bingung, "Maksudnya apa?"


"Magdalena, sudah di tangkap polisi. Dengan tuduhan pembunuhan," sahut Dimas.


"Pembunuhan siapa? kan aku baik-baik saja, siapa yang melaporkan nya." Naya semakin bingung.


"Kami yang melaporkan," jelas Dery, "Dia terbukti mencoba meracuni kamu, dan yang paling berat lagi tuduhannya, dia adalah dalang dari melenyapkan nyawa kekasih putrinya sendiri."


"Satu saat kau pasti di butuhkan sebagai saksi," tambah dokter Aldo menatap Naya melengkapi ucapan Dery.


"Apa semua itu benar?" tanya Naya kembali menatap kawan-kawan dari suaminya seakan kurang percaya.


"Benar Bun, kalau tidak percaya, lihat berita saja." Dimas meyakinkan sang istri.

__ADS_1


Naya menghela napas dalam-dalam. "Jadi, sekarang Bu dewan itu masuk penjara?"


Dimas mengangguk sembari mengembangkan senyum nya, tak ada lagi yang akan mengganggu rumah tangga mereka.


Naya merasa lega, sedikit kerikil dalam rumah tangga nya menghilang juga. "Ya Allah ... jaga dan lindungi keluarga ku."


Sementara pikiran Bu Hesa berkecamuk, seandainya saat ini Naya tinggal nama pasti cucunya ... tak punya Ibu, putranya tak beristri, terutama cucunya yang masih balita yang sangat membutuhkan belai kasih sang Ibu, jantungnya jadi berdebar. "Ya Tuhan, jahat juga kah aku selama ini terhadap mantu ku?" hatinya meleleh, merasa bersalah.


Bu Hesa menggeser duduknya mendekati Naya dan langung memeluknya. "Naya.., Mama minta maaf. Mama merasa sangat bersalah, saya juga merasa jahat sama kau, Mama selalu memusuhi kau Naya. Seolah tak pernah menganggap kau ada, selalu bersikap buruk. Mama minta maaf." Bu Hesa menangis di bahu sang menantu.


Naya malah bingung, kok tiba-tiba bersikap demikian. Naya jadi bengong menatap suaminya, hatinya di penuhi kebingungan kenapa Mama mertua, meminta maaf pada dirinya.


Bu Hesa mengakui bahwa pernah terbesit ingin membawa baby twins dan memisahkan dengan Ibunya, tangis Bu Hesa semakin menjadi. Pernah ingin memisahkan putra nya dari Naya, sehingga ingin mencarikan pengganti. Sempat sangat tidak suka dan tidak menerima pernikahan mereka.


Perlahan melepas pelukan dan menatap wajah Naya yang nampak jelas kebingungan. "Naya, mau kan kau memaafkan Mama?" sambil mengusap air mata dari pipinya yang sudah mengerut.


Lagi-lagi Naya menoleh kearah suaminya yang juga bengong, melirik yang lain juga memandangi Naya dan sang mertua.


Akhirnya Naya membuka suaranya. "Mama ngapain minta maaf sama aku? aku gak merasa Mama ada salah sama aku kok! bila ada pun aku sudah memaafkan Mama jauh sebelum Mama meminta maaf. Jadi Mama buat apa meminta maaf." Naya menatap sang Mama mertua dan menyeka air matanya Bu Hesa dengan lembut.


"Benar kau memaafkan Mama? tidak dendam sama Mama yang selalu jahat sama kamu," suara Bu Hesa dengan sangat lirih.


"Iya, Mama gak jahat kok, siapa bilang sih Mama jahat? jadi buat apa aku dendam sama Mama. Sudah lah Mak, jangan meminta maaf lagi. Aku jadi sedih nih." Naya tersenyum getir dan mengusap air yang menggenang di sudut matanya. Tidak menyangka Ibu mertua akan memohon maaf seperti ini.


Semua merasa terharu melihat Bu Hesa yang begitu tulus meminta maaf, begitupun Naya memiliki hati yang tulus, juga berlapang hati. Tak merasa marah pada sang mertua yang jelas-jelas sering bersikap buruk terhadapnya.


Tak di sadari mereka, semua sama-sama mengusap sudut matanya masing-masing, yang mengeluarkan cairan bening. Sungguh terharu melihatnya.


Bu Hesa dan Naya berpelukan, Bu Hesa merasa lega. Sudah mengutarakan isi hatinya, yang selama ini di isi rasa kemarahan dan kebencian. Kini semuanya akan dia singkirkan jauh-jauh, demi sebuah kedamaian serta akan dihiasi dengan penuh kasih sayang, yang selayaknya dia berikan sebagai orang tua.


Bu Hesa melepas pelukannya pada Naya, kemudian menghadap kearah Dimas si putra sulungnya. "Abang, Mama merasa berdosa. Selama ini Mama sangat jahat pada Naya juga kau. Abang juga mau, kan memaafkan Mama?" menatap putranya lekat-lekat.


Dimas tersenyum. "Mama ... seperti yang tadi Naya ucapkan tanpa Mama pinta pun kami memaafkan Mama, jauh dari sebelum Mama menyadarinya," jelas Dimas sembari melirik sang istri yang di balas dengan anggukan.


"Satu lagi, saya punya kabar bagus nih." Endro sangat antusias dengan yang akan di ucapkannya.


Semua menoleh seraya bertanya. "Apa tuh?" serempak.


"Bulan depan saya akan menikahi Citra," sahut Endro dengan sangat bangga dan tertawa bahagia.


"Serius kau?" tanya Aldo kurang percaya.


"Serius dong, ngapain bohongan. Gila loh, emang kau saja yang bisa menikah tapi sayang, cerai," ucap Endro di akhiri dengan cibiran.


Aldo merengut mendengar cibiran Endro.


"Iya kah? selamat ya." Naya menangkupkan kedua tangannya.


"Makasih, kau harus datang ya, jangan tidak datang! kalian tidak ingin mengucapkan selamat nih?" mengalihkan pandangan pada Dimas, Aldo juga Dery.


"Ogah," ketus Aldo sambil tersenyum memperlihatkan lesung pipinya.


"Akhirnya Citra yang suka mengejar suami mu akan menikah juga dengan ku Naya, dan tidak akan mengejar lagi suami mu," Endro menatap Kanaya dengan wajah yang sumringah.


Naya membalas dengan pandangan yang berbinar, ia ikut bahagia mendengar Endro akan menikah dengan Citra. Wanita yang memang katanya sering menggoda sang suami.


Dery mengulurkan tangan. "Selamat ya, semoga lancar sampai hari H nya."


"Makasih Dery," menyambut uluran tangan Dery, "Cepat nyusul ya?"


Dery melirik kearah Dimas dan Naya yang saling pandang dan melukiskan senyumnya. "Sudah malam saya pulang dulu."


"Oh, oke hati-hati," balas Dimas.

__ADS_1


Dery beranjak dari duduk nya di ikuti sama Endro dan Aldo. "Kita juga mau pulang, Tante dan om kami pamit dulu?" mereka pun berpamitan pada tuan rumah. Setelah itu mereka berjalan menuju pintu diantar olah Dimas.


Kini Naya dan Dimas sudah berada di dalam kamar tempat privasi mereka. Dimas tengah memeluk sang istri dengan dangat erat sambil berbaring di tempat tidur miliknya.


"Yang, Ayah sangat bahagia. Akhirnya satu/satu yang ingin mengganggu kebahagian kita menghilang," cup kecupan hangat mendarat di kening sang istri.


"Iya sayang, aku pun bahagia, semoga rumah tangga kita akan terus terlindungi. Bahagia selalu, di beri kesehatan, usia yang panjang, anak-anak yang saleh dan salehah. Selalu bersama sampai akhir usia." Naya menatap sang suami, tangan Naya menggenggam erat tangan Dimas.


"Iya sayang, aku juga berharap begitu. Aku tidak ingin terpisah dari Bunda, tidak mau," netra mata mereka saling menatap.


"Ayah mau. Ayah satu-satunya yang mendampingi hidup Bunda," ungkap Dimas dengan suara yang sangat lirih.


Suatu hari ketika masih Naya dan Dimas sudah bersiap untuk berangkat, menengok keluarga Naya di Sukabumi. Dimas berpesan pada kawan-kawannya agar dapat menjaga klinik dengan baik selama dia cuti dan berada di Sukabumi.


Butik dan konter akan terus berjalan dengan di pantau dari kejauhan oleh Naya, dan Naya sangat berharap anak buahnya dapat di percaya sepenuhnya. Selama Naya berada di kampung yang rencananya sekitar dua atau tiga minggu di sana.


"Pak Mad dan Bibi, jangan ke mana-mana ya? jaga rumah anggap saja di rumah sendiri. Bi Taty juga kalian harus jadi keluarga yang saling menyayangi, apalagi selama kami tidak di rumah, dan doakan ya semoga perjalanan kami lancad. Bisa kembali dengan selamat juga, kalian yang di sini juga baik-baik ya? kalau ada apa-apa hubungi kami," ujar Naya menatap para pekerjanya.


"Kalian yang di butik, kau juga Zidan teruskan buka konter dengan baik, kalian semua harus bertanggung jawab akan tugasnya masing-masing. Gambar akan saya kirimkan lewat internet, dan kalian juga akan saya pantau meski saya berada jauh. Pokoknya kalian saling menjaga kepercayaan lah," sambung Naya kembali. Semua mengangguk, hatinya merasa sedih akan di tinggalkan oleh bosnya.


"Oke, siang yang, berangkat sekarang saja?" ajak Dimas.


Naya menoleh. "Ayok," mencari baby twins nya mereka ada dalam pelukan Bu Hesa alias oma nya.


Mereka memasuki mobil, yang ingin mengantar ke bandara adalah Bapak dan Ibu Mertua Naya. Maria. Dery yang merangkap sebagai supir. Pak Mad di rumah saja, Endro dan Aldo kebetulan sedang sibuk dengan pekerjaannya.


Bi Taty dan Bi Meri melambaikan tangan kearah mobil Dimas yang hendak melaju. "Cepat kembali kalian," ucap bi Taty sambil menangis.


Bagi Naya ini kali pertama ia mau mengunjungi orang tuanya di Jawa. Setelah sekian lama tinggal bersama sang suami, pandangan Naya tembus ke luar jendela melihat jalan yang sudah di lalui oleh mobil yang membawanya menuju bandara.


"Kenapa sayang?" tanya Dimas merangkul bahu sang istri.


Naya menggeleng, lalu menggendong baby Kayla dari Mama mertua, Selang beberapa jam perjalanan mereka pun sampai di bandara yang terletak di Pontianak. Sesampainya di bandara mereka langsung check-in, di ruang tunggu Bu Hesa wanti-wanti agar mereka hati-hati dan menjaga baby twins dengan baik.


Bu Hesa tak henti-hentinya memeluk dan mencium cucu nya. "Kalian capat kembali ya? saya akan merindukan kalian," tutur bu Hesa sambil menyeka air mata yang sulit di bendung.


"Iya Mak, doakan saja agar perjalanan kami lancar dan cepat kembali," ujar Naya, matanya pun berkaca-kaca.


"Jangan lama-lama."


"Iya Mak ... paling dua atau tiga minggu saja," timpal Dimas.


"Kak, cepat pulang ya? Abang jaga mereka loh, bawa pulang kembali." Maria pun tak tahan menahan tangisnya.


Setelah berjabat tangan dengan yang mengantar, Dimas menggiring sang istri menuju pesawat. Sesekali saling melambaikan tangan.


Dery menatap langkah mereka, seiring kepergian mereka ada rasa sesak di dadanya. Entah kenapa sakit, di dadanya begitu sesak seolah bernapas pun sulit.


Helaan napasnya begitu panjang. Seiring pesawat yang tekuff, semua memandangi keberangkatan pesawat seolah membawa hati mereka masing-masing.


Di dalam pesawat Naya memeluk Kayla, sementara Dimas memeluk baby Arif yang begitu tenang dalam pangkuan sang Ayah. Dalam diam Naya mengucap doa dan membaca ayat-ayat Allah agar di selamatkan perjalanannya sampai tujuan.


Sesampainya di Jakarta, mereka pun menginap satu malam di sebuah hotel. Sebab hari sudah larut malam, tidak mungkin bila harus teruskan perjalanan langsung ke Semi. Ke esokan paginya barulah melanjutkan perjalanan ke tempat tujuan yaitu Sukabumi.


Singkat cerita Naya sudah berkumpul dengan keluarga di Sukabumi, mereka disambut dengan hangat, mereka begitu bahagia dengan kedatangan Naya serta suami, bahkan baby twins yang di sambut bahagia. Dimas dan Naya saling tatap rona bahagia nampak jelas di wajah keduanya, inilah lembaran baru, dimana mereka menyiapkan diri menyambut kehidupan yang baru. Ialah rumah tangga yang bahagia di kala balik ke Kalimantan nanti.


Selama dua atau tiga minggu ini akan mereka nikmati bersama keluarga yang selama ini terpisah oleh jarak dan waktu. Di sini insyaAllah akan mengadakan syukuran, atas segala yang telah Naya dapatkan dan memohon agar kedepannya mereka mendapat kebahagiaan yang lebih-lebih lagi.


****


Terimakasih reader 'ku berkat kalian aku mampu menulis sampai bab terakhir ini,🙏 dan aku minta maaf atas segala kekurangan diriku yang baru belajar menulis ini. Aku pun tidak bisa membalas kebaikan kalian satu/satu.


Aku hanya bisa mendoakan kalian agar Allah senantiasa membalas semua kebaikan kalian, memberi kesehatan, rijqi yang berlimpah, usia yang panjang, di lancarkan segala urusannya 🤲🤲 Novel ini, aku akhiri di bab ini ya, Wassalamu'alaikum Warah matullahi Wabarakaatuh

__ADS_1


__ADS_2