
Byurrr..., air bathtub keluar menyembur karena tubuh dua orang tersebut terhempas ke dalamnya, membuat baju Dimas dan handuk yang di kenakan Naya basah semua.
Keduanya merasa kaget, mereka tak menyangka kalau akhirnya mereka berdua akan basah-basahan, Dimas langsung bangkit sambil memeluk Naya, berdiri, "Kok bisa seperti ini sih,? basah semua jadinya,?" Dimas mengamati baju yang ia kenakan tak luput dari air dalam bathtub.
Tanpa bicara Naya membuka kemeja Dimas yang basah dengan muka masih di tekuk dan jantungnya terasa berdebar, setelah mengenakan handuk, Dimas keluar mengambil handuk baru, karena tidak mungkin membiarkan Naya masuk kamar dengan handuk yang basah.
"Tunggu sayang, aku akan mengambil handuk yang kering buat dirimu," ujar Dimas sembari melangkah keluar.
Sementara Naya menyimpan pakaian kotor ke tempatnya, kemudian Naya duduk dan memijit kakinya sendiri yang tadi terpeleset, sakit dan membiru, ia cemas, khawatir, takut bagai mana kalau tidak bisa berjalan, dari pipinya mengalir butiran air bening, ia menggigit bibirnya menahan sakit.
Dimas mencari handuk di dalam lemari, setelah mendapatkan, Dimas kembali ke kamar mandi, di dalam ia mendapati istrinya tengah duduk meringis, memegangi kakinya sendiri, Dimas bergegas mendekati berjongkok depan Naya, "Sayang kenapa,? jatuh lagi bukan.?"
Naya menggeleng, "Tidak," dengan sangat lirih.
"Terus kenapa, seperti ini hem,?" Dimas terus mengamati dan menyentuh kaki Naya yang membiru di dekat mata kakinya.
"Mungkin kerena terpeleset tadi," dengan suara parau.
"Ganti dulu handuknya," dengan wajah cemas Dimas membawa Naya ke kamar, sebelumnya Naya mengganti handuk basah dengan jubah mandi.
Dimas memboyong sang istri dan mendudukkannya di tepi tempat tidur, ia memijit kaki Naya dengan pelan.
"AW sakit," pekik Naya sambil berurai air mata.
Dengan muka cemas Dimas terus mengurut kaki sang istri, "Tahan sayang,? ngeyel sih, mau di bantuin gak mau, gini jadinya."
Mata Naya berkaca-kaca, tanpa sedikit pun menjawab perkataan dari Dimas, Dimas terus mengurut kaki sang istri dengan lembut, Kemudian Dimas beranjak dari jongkoknya, berjalan mendekati sebuah laci berisi kotak obat.
Dimas mengambil anti biotik, dan segelas air putih dari freezer ia berikan pada Naya, "Minum obat anti biotik ini yang, penahan rasa sakit."
Sementara Naya terus saja menatap obat di tangan Dimas, Dimas baru ingat kalau Naya paling susah minum obat, sebelum di telan suka muntah kembali.
"Paksakan sayang, minum obat ini, emangnya sayang mau sakitnya lama hem,?" dengan lembut dan mengusap buliran air mata di pipi Naya.
Perlahan Naya memasukan obat tersebut ke mulutnya dengan segelas air putih, walau susah payah dan hampir di muntah kan, namun akhirnya tertelan juga, Dimas mengambil setelan tidur untuk Naya, serta pakaian dalamnya, usai mengenakan pakaian yang di bantu sang suami, Naya memberikan handuk pada Dimas.
Ia mencoba turun dari tempat tidur, mencoba menginjakkan kakinya ke lantai, Naya mendongak ke langit-langit, "AW sakit," dengan wajah terus meringis kesakitan, Dimas memegangi bahu Naya.
"Jangan dulu turun yang,? obatnya belum bereaksi, sayang istirahat dulu ya,?" Dimas membaringkan Naya di atas tempat tidur, "Sayang pasti cepat sembuh kok," bisik Dimas.
Dimas masuk kamar mandi untuk bersih-bersih, tak selang lama Dimas kembali dengan masih mengenakan handuk, ia mengambil baju kaos dan celana pendek, melirik Naya tengah duduk bersandar ke bahu tempat tidur, tangannya sibuk mengetik di ponsel.
"Gimana yang,? masih sakit,?" menghampiri Naya yang menunduk
Naya mengangkat kepalanya, "Kalau istirahat sih gak sakit, menginjak lantai ya sakit."
"Ya sudah istirahat aja, kalau mau apa-apa, kan ada aku," ucap Dimas sembari memberi senyumnya.
Naya merapikan rambut Dimas dengan jari-jarinya karena rambut Dimas acak-acak kan, "Belum menyisir ya yang,?" menatap lekat wajah sang suami.
Dimas mendaratkan kecupannya di kening Naya, "I love you sayang," dengan lirih, sambil membelai pipinya dengan lembut.
Tok..,
Tok..,
Tok.., "Abang.., sedang apa sih di dalam,?" pekik Maria dari balik pintu.
Dimas dan Naya melirik kearah suara, bergegas turun dari tempat tidur berjalan lalu membuka pintu, "Ada apa,?" bersandar pada pintu sambil menyilang kan kedua tangan di dada.
"Dasar pengantin baru, betah amat dalam kamar berdua,?"sahut Maria.
"Emang kenapa,? dia istriku, apa yang salah,?" dengan pandangan yang datar.
"Nggak ke napa-napa sih," Maria menyeringai, "Kak Naya mana,?" sambung Maria.
"Ada lagi istirahat," Dimas singkat.
"Kami mau pulang, mau pamit," Maria menengok ke dalam kamar.
"Masuk aja sana,?" Dimas menunjuk ke dalam, Maria melangkah ke dalam kamar menghampiri Naya yang tengah duduk bersandar.
__ADS_1
"Kak, kami mau pulang,?" ucap Maria berdiri di tepi tempat tidur.
Naya tersenyum samar, "Kenapa gak nginep aja.?"
"Nginep,? takut ganggu, secara kan kalian bermesraan terus," Maria mendelik kan matanya pada Dimas yang duduk di samping Naya.
Mereka berdua hanya mesem, kemudian Dimas keluar kamar, menuju ruang tengah di mana orang tuanya bersantai, Dimas duduk di sofa, melihat piring bekas kue tak tersisa, "Gimana kue nya enak Mak,?" tanya Dimas menatap sang Ibu.
Dengan nada datar Bu Hesa berkata, "Biasa aja."
"Mamak mu itu gengsi gede-gedean, Bapak lihat dia paling banyak makan kuenya, sampai nambah beberapa kali malah," ucap suami Bu Hesa, Dimas menjadi tertawa kecil mendengarnya.
"Mana istrimu,? kami mau pulang, sudah sore," Bapak Dimas menanyakan keberadaan Naya.
Dimas menghela napas panjang, "Naya terpeleset di kamar mandi, membuat kakinya sakit dan membiru."
Bapak Dimas menatap tajam, "Kapan.?"
"Tadi," Dimas singkat.
"Sekarang di mana,?" tanya orang tua Dimas beranjak dari duduknya.
"Di Kamar, Arga ayuk ikut om,?" Dimas pun berdiri berjalan menuju ke kamarnya, di ikuti oleh orang tuanya dan Arga dan juga Azay.
Dimas membuka pintu, di dalam Naya tengah berbincang dengan Maria, Dimas pun masuk, "Yang, gimana,? masih sakit.?"
Naya mengangguk pelan, sambil mengedarkan pandangan pada semua yang datang.
"Kau kenapa tidak hati-hati,?" Bapak mertua melihat kaki Naya yang benar saja biru, "Sudah minum anti biotik belum,?" tanya Bapak mertua, dan Naya mengangguk, "Sudah Pak,?"
"Hah, emang Kak Naya kenapa,?" tanya Maria, "Loh dek, kata Abang Kakak ipar terjatuh di kamar mandi," sahut suaminya yang baru masuk.
"Kok bisa,? aku gak tau, pantesan Kakak dari tadi meringis terus,? aku kira baik-baik aja," ujar Maria sambil bengong.
Sementara Bu Hesa sambil menatap tajam kearah Naya, "Merepotkan,"
"Mak kok bilang begitu,?" bisik suaminya, sedangkan Naya menunduk mendengar perkataan Ibu mertuanya.
Dimas merasa kesal mendengar sang Ibu bicara seperti itu, "Mak kok bicara seperti itu,? seharusnya Mamak tidak bicara seperti itu sama istriku.?"
Mertua Naya bersiap pulang, Maria, suami dan anaknya keluar kamar, si bungsu mengekor di belakang.
"Naya jaga dirimu baik-baik, bagai mana kamu bisa menjaga suami, kalau gak bisa jaga diri sendiri,?" ketus Bu Hesa.
"Ma, jangan bicara seperti itu,?" bisik suaminya.
"Memang benar kan Pak,? coba kalau Naya tidak--!" perkataan Bu Hesa terpotong.
"Sudah Mak, biar mereka yang jalani, kita cukup mendoakan saja," suaminya menarik Bu Hesa keluar, tinggallah Dimas dan Naya berdua di kamar, Dimas mengusap lembut pucuk kepala Naya.
Naya sempat menitiskan air mata, "Mamak benar."
"Hah, aku gak suka sayang bicara seperti itu," Dimas kesal, lantas turun meninggalkan Naya sendiri di kamar, Naya menatap kepergian Dimas sampai menutup pintu.
Dimas mengantar orang tuanya sampai halaman, "Besok suruh orang untuk mengantarkan mobil ke sini Pak,?"
"Baik lah, Bapak akan kirim mobilnya," sahut sang ayah, "Jaga istrimu, semoga terapinya berjalan lancar.?"
"Aamiin Pak, doakan yang terbaik saja, buat kami," ucap Dimas dengan seutas senyum.
Bu Hesa sudah duduk tengok kanan dan kiri, "Maria kuenya mana di bawa gak.?"
"Ih Mama, katanya tadi gak mau, sekarang di tanyain gimana sih,? bilangnya mau beli aja dari toko, biar lebih enak,?" cerocos Maria di belakang.
Ck, ck, ck, "Kau ini,? apa-apa nyerocos aja, kan yang ini gratis,?" sambung Bu Hesa.
"Ah bilang aja suka, sok-sok gak suka segala," sahut Maria kekeh.
"Maria ambil sana,?" Bu Hesa mengeratkan giginya merasa gemas.
"Ambil aja sama Mamak sendiri," Maria menyeringai.
__ADS_1
Bu Hesa turun dari mobil, mau mengambil kue.
"Mamak mau ke mana,?" pekik Maria, "Kuenya sudah aku bawa Mak, kuenya buat maria, kan Mamak gak mau,?" Maria mengerjai Mamaknya.
Bu Hesa cemberut, dan naik lagi ke mobil, Maria tertawa, Bapaknya dan Dimas menggeleng, "Kualat kau Maria, ngerjain orang tua," ujar Dimas.
"Salah siapa,?" sahut Maria.
"Ya sudah Dim, kami pulang dulu," Bapak Dimas menjalankan mobilnya.
"Ya Pak, hati-hati" Dimas melambaikan tangan.
Kemudian masuk ke dalam rumah, mengecek tangga yang baru 70%, Dimas menaiki anak tangga menemui Dery yang tengah istirahat di kamar atas.
"Pak, ada yang bisa saya bantu,?" sapa Dery pada Dimas yang menghampirinya.
"Tidak, saya hanya mengecek hasil kerja kalian saja, oya kalian sudah makan,? jangan sungkan, bilang aja pada Bibi, dia akan menyediakan nya," dengan tatapan datar.
"Sudah Pak, terimakasih,? atas jamuan nya,? oya Pak, gimana hasil kerja saya,?" Dery memandangi Dimas dengan sekilas.
Dengan melipat tangan di dada, Dimas mengamati kearah tangga, "Lumayan, tapi karena belum 100% jadi saya belum bisa mengatakan bagus," ucap Dimas sambil melenggang menuruni tangga yang tadi ia lewati, Dery masuk ke kamar tempat dia beristirahat.
Dimas menghampiri Bibi, "Bi masak apa buat makan malam,? yang banyak masaknya, kan ada orang di atas,"
"Bibi masak kesukaan Bapak, iya Bibi masak banyak kok, oya apa Ibu baik-baik saja,?" tanya Bi Taty.
Dimas mengernyitkan keningnya, "Ibu, ibu baik-baik aja, cuma bengkak sedikit." ujar Dimas, "Ya sudah Bi, saya masuk dulu ya,?" sambung Dimas.
"Iya Tuan semiga Ibu cepat sembuh," kata bi Taty sambil kembali fokus dengan tugasnya.
Dimas bergegas meninggalkan dapur, dan berjalan ke kamar miliknya, ceklek kenop pintu di putar, membuka pintu perlahan, di atas kasur Naya tengah berbaring, Dimas naik ke tempat tidur, melihat Naya begitu pulas, ia membaringkan tubuhnya sedikit miring, ia menopang kepalanya dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya membelai pipi sang istri, Dimas memberikan kecupan mesra di keningnya.
"Sayang, cepat sembuh, I love you,?" Dimas memandangi wajah sang istri, "Maaf sayang aku belum bisa membahagiakan dirimu."
Sebuah kecupan lagi-lagi mendarat di kening Naya, membuat Naya membuka matanya perlahan, "Yang pukul berapa nih,? sudah magrib belum,?" sembari mengucek matanya.
"Baru adzan sayang," Dimas dengan lirih, Naya bangun dari tidurnya dan menyibak selimut yang menutupi tubuh Naya.
"Aku mau ke kamar mandi yang,?" Naya mencoba turun mengecek kakinya masih sakit apa sudah mendingan, ia menapak ke lantai sambil berpegangan pada tangan Dimas.
"Hati-hati yang,?" Dimas memegangi bahu Naya, perlahan Naya menggerakkan kakinya di lantai, sudah agak mendingan, tidak terlalu sakit seperti tadi.
"Gimana yang,? masih sakit,?" Dimas menatap wajah Naya yang menunduk.
Naya mendongak, "Sudah agak mendingan yang, alhamdulillah," wajah Naya melukiskan senyuman bahagia.
"Alhamdulillah yang," Dimas pun merasa senang, "Lain kali lebih hati-hati, apa lagi tidak ada aku,? jangan sampai bunda kenapa-kenapa."
"Iya yang, terimakasih sudah perhatian sama aku,?" Naya menatap lekat wajah Dimas yang tengah duduk di tepi tempat tidur.
"Itukan sudah kewajiban aku sayang," Dimas menyentuh lengan Naya mengusapnya lembut, lantas menunjuk pipinya, entah apa yang dia inginkan.
Naya menggerakkan matanya seolah bertanya, Dimas masih menunjuk pipinya dengan ketukan jari, "Berikan ciuman sayang..,? hah gak ngerti.?"
Naya tersipu malu, lalu memberikan kecupan pada pipi Dimas, membuat Dimas senyum bahagia, "Jarang-jarang dapat kecupan mesra dari istriku ini," sambil memegangi pipinya sendiri.
Naya mencebikkan bibinya, perlahan berjalan menuju kamar mandi, "Yang aku antar,?" ucap Dimas menghentikan Naya, namun Naya mengibaskan tangan di atas angin.
Dimas menghela napas panjang melihat Naya berjalan, Naya terus melangkah sembari sesekali meringis kesakitan, namun ia tidak ingin memperlihatkan pada suaminya, karena Naya tak ingin terlalu membuat dia khawatir, makanya walau masih sakit Naya menguatkan diri untuk berjalan, sebenarnya kaki Naya ketika di bawa berjalan terasa sangat ngilu, namun ia harus menahan, toh cuma ke kamar mandi ini.
Setelah mereka mengambil air wudu, lantas mengerjakan sholat bersama, di lanjut seperti biasa belajar membaca iqro, sampai isya, usai melipat bekas solat Dimas berkata, "Yang malam ini jangan keluar dulu ya,? aku tau sebenarnya kaki sayang masih sakit, makan malam biar aku ambilkan, makan di sini aja ya,?" sekilas melirik Naya yang masih melipat mukena dan sejadah nya.
Naya sedikit berpikir, kok tau sih kalau kaki Naya masih sakit, padahal sudah di bilang sudah mendingan, Naya hanya ingin di pandang kuat oleh sang suami.
Dimas meraih tubuh sang istri, dan Naya merangkul leher Dimas dengan erat, ia membawanya duduk di sofa, sayang tunggu di sini, aku akan mengambil makan malam sebentar.?"
"Tapi yang--!" ucapan Naya Dimas potong, dengan menempelkan jarinya di bibir Naya.
"Jangan tapi-tapian, aku tau kaki sayang masih sakit, masih ngilu, kalau saja sudah tidak sakit,? tidak mungkin wajah cantik ini meringis kesakitan," Dimas menatap wajah Naya begitu lekat, namun Naya rasakan cukup menghujam dada, bagaikan anak panah yang menancap tepat sasaran.
Naya tertegun tak bisa menjawab apa-apa lagi, karena memang benar adanya, dirinya hanya berpura-pura kuat di mata sang suami.
__ADS_1
,,,,
Apa kabar semuanya, para reader ku,? semoga selalu ada dalam lindungan Allah yang maha kuasa, 🤲🤲 dan tak bosan aku mengucapkan banyak-banyak terimakasih🙏 juga jangan lupa selalu memberikan lake, komen, rating dan vote nya, terimakasih sudah mampir🙏