
Dimas tak lepas dari senyumnya, " ya udah ashar dulu yuk, baru nanti kita jalan," ajak Dimas, Naya mengangguk dan bergegas ke kamar mandi untuk mengambil air wudu, di ikuti oleh Dimas, biar bareng-bareng katanya, setelah itu mereka berdua melaksanakan sholat ashar, kemudian Dimas mengambil mobil, yuk jalan-jalan sore, tanpa mengajak siapa pun, Dimas hanya bilang pada pak Mad, bahwa dia akan keluar sebentar.
Dimas mengajak sang istri jalan-jalan sore, setiap ada jajanan Dimas pasti bertanya mau beli gak,? khawatir istrinya mau atau bawaan baby. Namun Naya setiap di tanya pasti menggeleng.
"Terus mau apa sayang,?"
Dimas melirik sebentar lalu fokus lagi ke jalanan.
"Nggak, gak pengen apa-apa yang, belum, nanti juga kalau aku mau sesuatu pasti bilang, kenapa sih maksa banget,?" Naya lirih dan mengulas senyumnya.
"Kan aku gak mau baby aku nanti ngiler, gara-gara ada keinginan yang tak terlaksana," sahut Dimas tanpa menoleh.
"Kalau seandainya aku pengen sesuatu, harus di laksanakan, kalau gak pengen apa-apa mah biar aja, orang gak pengen apa-apa gimana,?" dengan lirikan matanya.
"Hem.."
"Yang, tuh di depan ada yang jualan apa tuh,?" Naya memandangi yang jualan di depan, "Eh, buah apa tuh yang.?"
Dimas celingukan, "Oh.., itu buah lhau, atau buah mata kucing dikarenakan isi buahnya seperi mata kucing, atau lebih banyak di sebut itu..,duku Kalimantan," Dimas menepikan mobilnya.
"Pengen rasain, manis gak,?" Naya melirik kearah Dimas.
Dimas yang sudah tidak menyetir merangkul bahu Naya, "Manis sayang, aku balikan ya,? tunggu jangan turun ok,?" Dimas turun daro mobil, tidak lupa mengenakan kaca mata hitam menambah keren penampilannya, Dimas mendekati yang jualan buah lhau atau buah mata kucing.
Setelah transaksi, Dimas membawa kantong berisi buah lhau, "Ini sayang," menyimpan di samping jok, mengambil satu lalu dai kupas baru di kasihkan pada sang istri.
Naya memakannya, "Manis yang."
"Makan lah, nanti kita beli lagi," Dimas tersenyum.
"Hem.., udah sore banget yang, pulang yuk,?" ajak Naya melihat ke luar suasana sudah mulai gelap.
"Ok," Dimas memutar kemudi, putar balik.
Tak selang lama mereka sampai kembali di rumah, suasana gelap tandanya siang berganti malam.
Naya masuk di gandeng Dimas, Rita menyambut kedatangan Naya dengan riang, "Tante bawa apa,?" dengan tatapan tajam.
Naya melirik Dimas, yang di lirik tersenyum dan menggaruk tengkuknya, tadi di jalan Naya minta di belikan buah tangan buat Rita di rumah namun dia tak menurutinya. "Em.., ada buah mata kucing di mobil mau,?" tanya Dimas.
"Buah apa itu, om dokter,?" penasaran.
Dimas melirik bi Meri, "Bi tolong ambilkan di mobil, di jok belakang ya sayang,? saya mau magriban dulu," Dimas menoleh istrinya yang hanya mengangguk.
"Baik dok, maaf anak saya sudah merepotkan,?" ucap bi Meri.
"Tak apa, saya lupa belikan makanan untuk Rita, ambil aja buah duku nya kali aja dia suka," Dimas dan Naya meneruskan langkahnya menuju kamar.
Bi Meri melengos ke luar untuk mengambil buah duku Kalimantan, di ikuti oleh Rita.
"Enak gak Bu buahnya.?" Rita menatap Ibunya.
__ADS_1
Bi Meri mengupas satu untuk Rita yang sudah tidak sabar ingin menyicipinya, "Ini coba rasain dulu enak gak,? kalau enak Ibu kasih lagi."
Kemudian bi Meri masukan ke wadah dan menyajikannya di meja, mungkin Dimas membeli untuk yang tangah ngidam.
Di kamar Dimas dan Naya baru saja selesai mengaji, "Sayang,?"
"Hem..,?" Naya menoleh Dimas.
"Nggak, cuman manggil aja, he..,he..,he.."
"Ih..,kirain apa, lusa kita pulang, berarti sehari lagi kita di sini, aku sih maunya pak Mad bisa kerja terus sama kita yang, tapi.., gak tau, katanya kalau aja ada yang mau jagain rumah ini, mereka mau ikut kita," ujar Naya.
"Ya, gimana baiknya aja," Dimas merebahkan tubuhnya di sofa.
"Berarti besok Ayah mau kerja,?" tanya Naya menatap sendu suaminya.
"Iya, tapi paling setengah hari juga pulang, di rumah siap-siap aja," ujar Dimas bangun dan mengambil air mineral dari meja dan meneguknya.
Naya mengambil ponselnya melihat jadwal sholat, "Sudah isya, sholat dulu yuk,? setelah itu kita makan."
"Yuk sayang," Dimas mengiyakan ajakan Naya tuk sholat isya bareng, kebetulan Naya masih mengenakan mukena.
Sehabis itu mereka bersiap untuk makan, Naya mau berjalan namun tiba-tiba Dimas membungkuk dan menggendong tubuh Naya di bawanya ke dapur, Naya melingkarkan tangan di leher Dimas, kemudian mendudukkan nya di kursi meja makan.
"Kok masih banyak buah dukunya yang, gak di makan kali ya,?" Naya melirik suaminya setelah melihat buah duku di meja masih banyak.
Dimas menoleh buah tersebut, "Mungkin," lalu celingukan gak ada orang, beberapa detik kemudian pak Mad nyamperin.
"Iya sudah Bu," mengangguk.
"Kok gak di makan buahnya,? gak suka kali ya Rita nya," Naya lirih.
"Em.., katanya Rita gak suka."
"Oh, ya sudah nanti saya belikan buah buah yang Rita suka," sambung Dimas, "Makan Pak.?"
"Sudah pak dokter," pak Mad mengangguk.
Seperti biasa Naya menyuapi Dimas makan, sedangkan pak Mad beres-beres karena sebentar lagi dia mau pulang, "Pak, besok tolong kemas kan barang-barang saya, agar lusa pagi semuanya sudah siap berangkat,?" pinta Dimas.
"Baik dok," sahut pak Mad mengangguk.
"Satu lagi, bila perlu langsung masukan mobil aja, kecuali barang yang sekiranya masih kami pake." tambah Dimas sembari mengunyah.
"Baik."
"Nambah lagi gak makannya,?" Naya menatap wajah Dimas.
Dimas meneguk minumnya, "Cukup,! sayang aja yang banyak makannya, biar baby kita gak kelaparan, sehat juga," Dimas mengusap perut Naya.
"Sudah kenyang juga," sembari mengambil potongan buah manis," lalu merapikan piring kotor untuk di cuci pak Mad.
__ADS_1
"Diminum yang susu ibu hamilnya, baby kita harus sehat dan kuat," Dimas menyodorkan segelas susu ibu hamil yang sudah di sediakan pak Mad.
"Males yang, gak enak," Naya menggeleng pelan.
Dimas menatap tajam, "Sayang.., demi anak kita hem.,?" Dimas mendekatkan bibir gelas susu di bibir Naya, dangan terpaksa Naya membuka mulutnya meneguk susu tersebut.
"Gitu dong pinter, lain kali Ayah yang awasi Bunda untuk minum susu, tidak boleh tidak titik..,! Ayah paksa biarpun gak enak, karena yang enak itu cuma.., bercinta dengan Ayah," Dimas menarik bibirnya tersenyum.
"Apaan sih,?" Naya menoleh pak Mad yang sudah bersiap pulang, lalu Naya menunduk.
"Pak dokter saya pulang dulu, permisi.?"
"Iya, kunci aja pintunya Pak, hati-hati,?" pesan Dimas.
"Baik dok," pak Mad membalikkan badan dan bergegas pergi dari tempat tersebut.
Dimas dan Naya memandangi punggung pak Mad sampai hilang di balik pintu, Setelah pak Mad menghilang, Naya mencuci gelas bekas susu kemudian mengelap tangannya, Dimas mendekati dan membalikkan badan Naya agar berhadapan dengannya, jari Dimas menyentuh dan mengangkat dagu Naya supaya mendongak, akhirnya netra mereka saling berpandangan.
"Nggak kangen kah sama Ayah hem,?" lengannya memeluk pinggang Naya.
Naya yang menatap mata Dimas, "Nggak, kan tiap hari juga ketemu, ngapain kangen-kangen, berjauhan juga sewaktu kerja doang, setelah itu barengan lagi, malah bosan lihatnya," pura-pura jutek.
"Masa iya bosan, lihat muka Ayah yang ganteng ini sih, orang aja pada pengen lihat wajah tampan Ayah, masa istrinya bosan sih," Dimas mengusap kedua rahangnya.
"Ya bosan lah, tiap hari ketemu," elak Naya menggoda.
"Hah.., kalau bosan kenapa ingin bermanja-manja sama Ayah, kenapa juga ingin selalu disentuh, tiap pagi dan malam minta di elus itunya, hayo.., bosan apa bosan,?" Dimas memeluk Naya membawa kepala Naya ke dadanya, hingga Naya menenggelamkan wajahnya di situ, betapa nyamannya.
Setelah itu Dimas kembali memboyong Naya ke dalam kamar tak lupa untuk menguncinya, membaringkan tubuh Naya di atas tempat tidur, namun Naya bangun turun dari tempat tidur masuk kamar mandi untuk mengganti pakaian tidur.
Beberapa menit kemudian Naya keluar dari kamar mandi dengan setelan pakaian tidur yang agak seksi, entah kenapa setelah ngidam suka dengan pakaian tidur yang agak tipis dan seksi, lampu sudah temaram, Dimas yang sudah bersandar di bahu tempat tidur matanya terus memandangi sang istri yang menghampirinya dengan pakaian seksi.
"Kok sekarang sayang suka dengan pakaian ini sih,?" tanya Dimas sambil memegangi kain pakaian yang Naya kenakan.
"Nggak tau, semenjak ngidam suka aja, emang kamu gak suka,? bukan kah ini kamu yang belikan waktu itu," Naya menatap kearah Dimas.
"Suka, aku suka, tapi kan waktu itu Bunda gak mau pake, dengan alasan malu bila di lihat orang, padahal kan hanya untuk di dalam kamar aja sayang, bukan di luar, hanya untuk di depan aku aja, dan tau gak,? baju ini tampak tipis dan seksi membuat Ayah semakin nafsu," bisik Dimas di telinga Naya sambil merangkul bahunya dan Naya hanya tersipu malu.
Mereka tak bersuara lagi, hanya suara hembusan napas dari keduanya, tangan Dimas mulai aktif meraba-raba yang dia suka, sesekali tangan istrinya yang menuntun ke arah mana yang dia ingin di sentuh, Dimas semakin suka, bibirnya tersenyum penuh kemenangan, gimana tidak, semakin dapat banyak dari istrinya.
Makin lama semakin menggencarkan aksinya, mencium kening, pipi, leher, dan Bibir, lama mendarat di sana, serasa gak puas dengan hanya mengecupnya saja, tangan Dimas menarik tengkuk Naya agar wajahnya semakin mendekat dan langsung aja bibir sang istri di hisapnya dengan sangat lembut dan penuh kehangatan.
Kini Naya pun mulai agresif hingga mampu membalas sentuhan suaminya, Naya membuka kancing pakaian Dimas dan menyentuh lembut dada bidang itu, Dimas semakin ******* bibir sang istri hingga gairah birahinya memuncak naik ke ubun-ubun, Naya di buat gak tahan dengan foreplay yang Dimas berikan yang semakin lama semakin bergairah, area sensitif keduanya sudah siap untuk penyatuan.
Dimas tidak buang waktu langsung tancap gas, menyalurkan hasrat mereka yang begitu besar, di balik selimut yang tebal ada yang tengah bergulat dengan ulat bulu, hingga peluh mereka lengket di badan, bibi Dimas menjepit bibir bawah sang istri, lagi-lagi di hisapnya lembut, bergantian dengan bibir atasnya, tangan Naya tak lepas dari leher atau punggung suaminya selalu melingkar di sana.
,,,,
Terimakasih reader ku, masih mengikuti cerita ini, dan semoga kabar kalian selalu berada dalam lindungan Allah yang maha kuasa, Aamiin.., ok, jangan lupa selalu lake, komen, rating dan vote nya dong๐๐
Nb.., selamat hari raya aidul fitri mohon maaf lahir dan batin๐๐
__ADS_1