Bukan Mauku

Bukan Mauku
Uang suami uang istri


__ADS_3

Sebelum pria itu bicara lagi Dimas sudah pergi meninggalkan tempat tersebut, membuat pria tersebut menggeleng dan tersenyum, Dimas yang sebelumnya terlebih dahulu membayar semua pesanan, kemudian langsung pergi menuju mobil, yang dia khawatirkan Naya terbangun dan mencarinya.


Benar saja di mobil Naya sudah terbangun, "Dari mana sih yang,?" tanya Naya pada Dimas yang baru masuk dan duduk di belakang kemudi.


"Habis beli makan, lapar, sayang sudah lama terbangun,?" Dimas memasang sabuk pengaman.


"Nggak sih," sahut Naya meneguk air mineral yang sudah tersedia di depannya.


"Ya sudah kita makan dulu yuk,?" Sembari membuka makanannya, Mereka pun makan siang di mobil.


Usai makan, Naya melihat jam di ponselnya, "Pukul satu siang, cari mesjid yang,? sholat dulu, ini masih jauh kah ke tempat tujuan.?"


"Ok, kita mencari mesjid terdekat, masih jauh yang,? sekitar sore atau bahkan bisa malam baru nyampe," jelas Dimas sembari melajukan mobilnya.


"Jauh juga ya,? aku kira dekat gitu, Naya menengok kanan kiri.


"Jauh, lumayan sih,"


"Itu, tuh yang di depan ada mesjid,?" Naya menunjuk sebuah mesjid di depan.


"Mana,? aku gak lihat,"


"Itu, sebelah kanan yang, di depan," Naya menunjukkan lagi.


Dimas, mengangguk, "Ok, kita sholat dulu,?" Dimas menepikan mobilnya di dekap sebuah mesjid, Dimas turun duluan dan mengitari mobilnya untuk membukakan pintu buat sang istri.


Naya tersenyum merasa di sanjung di perhatikan, "Makasih sayang.?"


Dimas mengangkat tubuh Naya, setelah mengunci pintu mobil, dan membawanya ke tempat berwudhu, setelah berwudhu Dimas menggandeng Naya masuk masjid, sebelumnya meminta ijin pada penjaga terlebih dahulu.


Mereka melaksanakan sholat di mesjid tersebut, rasanya beda dengan di rumah, mungkin karena suasananya berbeda, dan ini kali pertama Naya masuk mesjid apa lagi sholat di dalamnya.


Sholat mereka lebih khusyu, usai sholat mereka di hampiri oleh penjaga dan duduk di antara mereka, "Assalamua'laikum..,? sepertinya kalian bukanlah orang sini.?"


"Wa'alaikum salam..,! iya Pak saya sedang dalam perjalanan, mau ke daerah x namun berhenti dulu di sini," sahut Dimas mengangguk hormat.

__ADS_1


"Oh, apa kalian suami istri,?" penjaga mesjid memandangi Naya dan Dimas dengan seksama.


"Iya Pak, kami suami istri, suami aku mau di tugaskan dari Rumah sakit tempatnya bekerja, ke suatu daerah," Naya menjelaskan membuat penjaga mesjid mengangguk tanda mengerti.


"Benar Pak yang bilang istri saya," sambung Dimas.


"Mampir dulu ke rumah saya,? tidak jauh kok dari sini,?" ajak penjaga mesjid tersebut dengan ramahnya.


Dimas dan Naya saling pandang, "Makasih Pak, tapi.., saat ini kami mau melanjutkan perjalanan, jadi lain kali saja kami mampir ke tempat Bapak," balas Dimas tak kalah ramah.


Naya memperhatikan keadaan mesjid yang ia duduki saat ini, ada bagian-bagian yang rusak dan tentunya mesti di renovasi, Naya berbisik pada Dimas, "Yang, lihat banyak bagian mesjid yang rusak,?" sembari menunjuk yang di maksud, Dimas pun menoleh dan mengerti arah yang di maksud oleh istrinya.


Dimas merogoh sakunya mengambil sebuah dompet kemudian di berikan pada Naya, Naya mengambil dompet tersebut, mengambil dua lembar uang warna merah, di tambah dari saku pribadi sepuluh lembar, dan di berikan pada penjaga mesjid.


Naya mengangguk dengan hormat, "Maaf Pak, ada rejeki sedikit, buat tambah-tambah, merenovasi mesjid ini.?"


Bapak tersebut termenung, tak segera mengambil uang tersebut, "Beneran i-ini buat mesjid ini.?"


"I-iya Pak cuma sedikit tapi,? semoga bermanfaat ya Pak,?" balas Naya.


"Amiin ya rob,?" sahut Dimas dan juga Naya, kemudian mereka berdua berpamitan pada Bapak tersebut, Dimas menggendong tubuh Naya ke mobil.


Setelah meraka berada dalam mobil, "Yang, Maaf ya,?" Naya menatap Wajah Dimas.


"Maaf buat apa,?" sembari memasang sabuk pengaman.


Naya nyengir kuda, Coba lihat isi dompetnya.?"


"Emang kenapa yang,?" tanya Dimas, memasang sabuk di tubuhnya.


"Eh..," Naya menggigit bibir bawahnya, "Uangnya cuman tersisa seratus ribu, dan aku gak nyakuin sama sekali."


Kedua tangan Dimas, memegangi kemudi, terdiam sejenak lalu menoleh kearah sang istrinya, "Nggak apa-apa sayang, kita kan bisa ngambil di ATM, kenapa harus meminta maaf,?" uangku uang istri kan,? ya sudah, kita jalan sekarang.?"


"Nggak marah kan,?" dengan tatapan ragu.

__ADS_1


Dimas tersenyum, "Buat apa marah sayang hem,? aku ikhlas kok, sekarang aku tanya sama bunda, bunda ikhlas gak,?" Dimas sedikit menghadap ke Naya.


"Aku, aku ikhlas lah,?"


"Ya sudah, buat apa di bahas lagi,? nanti jatuhnya gak ikhlas, bismillah kita jalan ok,?" Dimas mengelus punggung tangan Naya, Naya tersenyum bahagia dan mencium pipi Dimas.


"Hem.., gak adil nih,?"


Naya merasa heran dan menaikan alisnya, "Maksudnya.?"


"Masa cuma sebelah yang dapat ciuman,?" Dimas menyeringai.


Naya menarik bibirnya senyum dan mencium pipi Dimas yang sebelah lagi, yang sudah ada depan matanya, Dimas pun tertawa senang, "Makasih sayang.?"


"Ayok lah berangkat, biar cepat sampai,?" Naya meneguk air mineral, tak lupa menegukkan air mineral tersebut ke mulut suaminya.


Dimas bersiap menyalakan mesin mobil lantas tancap gas, mobil yang di tumpangi Dimas melesat menuju sebuah daerah x yang di tuju.


Naya mengalami mual lagi dan pusing malah rasanya lebih parah dari sebelumnya, namun tak ingin membuat suaminya cemas, Naya coba tahan dan tidak memperlihatkannya pafa Dimas, dia lebih memilih memejamkan matanya, tiduran seperti tadi, sesekali Dimas menoleh, "Sayang mau tidur lagi.?"


"Hem..,"sahut Naya sambil memejamkan mata, "Hati-hati ya bawa mobilnya jangan ngebut.?"


"Iya bawel, tidur lah, tapi.., nanti malam, hem..,awas aja kalau tidur,? tidak akan aku biarkan tidur dia."


"Hem.., paling ayah tidur juga nanti malam, sebab kecapean kok," ucap Naya dengan malas dan matanya tetap terpejam, "Boro-boro gaguin orang dia sendiri aja pasti capek, lelah, sok-sok'an mau gangguin orang, aneh."


Dimas melirik sembari tertawa mendengar istrinya ngoceh sambil tidur, kemudian fokus kembali pada jalanan yang akan di lalui, karena merasa lelah mata pun tak bisa di ajak kompromi lagi akhirnya Dimas menepikan mobil di tepian jalan, ingin istirahat sejenak.


Satu jam kemudian Dimas baru melanjutkan perjalanannya, hingga sore pun mulai gelap, baru masuk ke daerah yang di tuju, tinggal mencari lokasinya saja, rumah yang sudah di siapkan untuk mereka tinggal, yang katanya tidak jauh dari puskesmas tempat Dimas bertugas.


Akhirnya sampai di sebuah halaman rumah sederhana, kecil namun sangat asri, di kelilingi tanaman rempah dan bunga-bunga, "Alhamdulillah.., sampai juga," Dimas menarik napas sangat lega, karena sudah sampai tujuan, begitupun dengan Naya, pandangannya mengitari tempat tersebut, sementara waktu mereka memperhatikan rumah tersebut, dengan jendela mobil terbuka.


,,,,


Terimakasih reader ku, masih mengikuti cerita ini, dan semoga kabar kalian selalu berada dalam lindungan Allah yang maha kuasa, Aamiin.., ok, jangan lupa selalu lake, komen, rating dan vote nya dong๐Ÿ™๐Ÿ™

__ADS_1


__ADS_2