
Dengan tatapan mendamba Dimas mendekatkan wajahnya, mengecup kening, pipi kanan dan kiri istrinya, terakhir mengecup lembut dan penuh kehangatan bibir sang istri sudah menantang dari tadi, tangan Dimas mulai aktif menjelajah daerah-daerah yang asyik untuk bermain..!
Semakin lama mereka semakin larut dalam aksinya yang panas, jantung yang berpacu kencang, darah yang mendidih dan mengalir deras, peluh mereka bercucuran saking panas dan melelahkan nya aktifitas keduanya kali ini.
Dimana olahraga malam yang selalu di rindukan oleh setiap insan terutama yang sudah memiliki pasangan, apalagi Dimas alasannya sekalian menengok sang calon baby di dalam sana.
Hingga akhirnya lelah pun menyerang, rasa kantuk pun datang, keduanya mengakhiri aktifitasnya, lalu tertidur di bawah selimut yang tebal dan sinar lampu yang temaram.
Setelah keduanya bangun dan bersih-bersih, kemudian menunaikan ibadah subuh, usai itu mengaji dan berzikir sebentar, Naya langsung turun mau menyiapkan sarapan dan Dimas pun turun untuk lari pagi sebelum berangkat kerja.
"Hati-hati masaknya, awas kena minyak atau apa gitu, jangan sampai kecapean juga," pesan Dimas cemas.
"Iya.., inikan cuma buat sarapan sayang, gak bakalan capek kok, malam aku kecapean kamu gak perduli juga," sahut Naya.
"Beda dong sayang, kalau soal itu kan gak ada gantinya, sementara kalau masak kan ada asisten, ada Bibi, emangnya mau masalah yang satu itu di gantikan orang lain,?" Dimas menyeringai menggoda istrinya.
"Iih.., apaan sih,? Naya mencubit perut Dimas membuat Dimas meringis kesakitan.
"Aw.., sakit, aku adukan ke komnas ham loh, KDRT nih."
"Bodoh amat lagian gak nyambung deh, hi..,hi..,hi..," Ketus Naya.
Setelah sampai menapaki lantai Dimas melepas tangan Naya yang sedari tadi ia pegang, "Ya udah ayah mau lari di sekitar sini sebentar."
"Ok, hati-hati," cup mengecup pipi Dimas, lalu Dimas berlari kecil melewati pintu depan.
Naya melenggang ke dapur dan di sana sudah ada Bibi yang tengah menyiapkan sarapan, "Masak apa Bi.?"
"Oh ibu, ini Bibi mau bikin sayur asam, dan gulai ikan," sahut bi Taty menoleh kearah Naya.
"Oh, enak tuh, tapi sayang aku masih bau sama nasi, oya aku mau bikin nasi goreng buat suami 'ku," jelas Naya sambil menyiapkan bahan-bahannya.
"Kan bisa makan sayur juga ikannya Bu."
"Oya bi Meri kemana,? bersih-bersih kah,?" tanya Naya celingukan.
"Iya Bu, bersih-bersih dia."
"Eeh kau mau apa,? pagi-pagi buta sudah di dapur," tiba-tiba suara bu Hesa dari belakang.
Naya membalikan badan menoleh bu Hesa yang menghampirinya, "Em.., ini mau bikin nasi goreng buat abang Mak."
"Gak boleh, kau duduk-duduk manis aja di sofa jangan capek-capek, Bibi, Kanaya itu lagi hamil muda jangan biarkan dia turun ke dapur aduh gimana sih, kok di biarkan," menoleh Naya dan Bibi bergantian.
"Ta-tapi Nyonya ibu yang mau."
"Mak.., aku yang mau, lagian cuman bikin sarapan buat abang kok," Naya menatap ibu mertuanya.
"Sudah, kau duduk saja biar Mama yang bikin nasi gorengnya buat Dimas," Bu Hesa menuntun Naya agar duduk di kursi meja makan.
"Tapi Mak..,?" Naya menuruti perintah ibu mertuanya.
"Jangan banyak membantah duduk saja, biar saya yang kerjakan."
Bu Hesa mengenakan celemek lanjut memotong bawang dan sayur yang sudah di sediakan Naya.
Bi Taty tersenyum melihat perubahan bu Hesa, yang biasanya cuek gak perduli, sekarang jadi perhatian, "Semoga hinga kapan pun nyonya bersikap ramah dan baik sama Ibu ya Allah senang lihatnya," batin bi Taty.
Naya duduk manis melihat mertuanya memasak, tak henti-hentinya bibir Naya mengulas senyuman, sesekali menggeleng, merasa lucu tiba-tiba ibu mertua bersikap seperti ini, Naya mengusap perutnya.
__ADS_1
"Kenapa kau mesem-mesem,? baru lihat saya masak," bu Hesa melirik mantunya yang mesem-mesem, dan sontak mengangguk.
"Kau juga Bi Taty baru lihat saya masak,? ini khusus buat anak mantu saya disini, yang lain urusan kalian masaknya," dengan nada datar.
bu Hesa dengan lihai membuat nasi goreng, lalu di simpan di meja makan, dan membuatkan susu coklat hangat buat mantunya ini.
"Wah..,wah..,wah.., dari kapan Mama suka masak di sini,? biasanya juga tunggu matang, tunggu waktu makan gak perduli orang sibuk kemarin waktu belum ada bi Meri juga," ucap Maria sambil duduk.
"Dasar kau ini Maria lemes banget tuh mulut, iya dong mulai sekarang Mama harus menjaga calon cucu Mama yang satu ini, apalagi hamil muda gak boleh capek," sembari menyimpan segelas susu depan Naya.
"Makasih Mak?"
"Tapi.., waktu aku hamil biasa aja tuh," sambung Maria.
"Kau ini, emangnya selama kau hamil melahirkan siapa yang urus kalau bukan saya, kau hidup sama saya, ya saya yang urus kau siapa lagi,? heran ini anak lupa apa,?" bu Hesa komat kamit.
Naya melihat bu Hesa lalu kembali melihat Maria, ibu dan anak ini suka gak mau kalah dalam setiap hal.
Maria nyengir, "Oh iya, lupa he..,he..,he..."
Bu Hesa berwajah datar pada Maria, "Diminum mumpung masih anget susunya, beli susu bumil buat kesehatan, jangan susu biasa tapi yang khusus," lirih bu Hesa pada Naya yang mengangguk.
"Malas ah, enek Mak, mending susu biasa aja."
"Nanti saya carikan susu bumil."
"Ja-jangan Mak, gak usah kemarin juga abang sediakan tapi gak 'ku minum, karena tambah enek pengen muntah rasanya kalau minum susu bumil."
"Ini anak susah di atur juga," menggeleng.
Dimas masuk dengan keringat bercucuran di tubuhnya dan langsung meneguk minuman Naya, "Yang, sudah bikin Nasi goreng nya.?"
"Udah dong," jawab bu Hesa dan Maria barengan.
"Sudah Mama yang bikinkan," Naya pelan.
"Emang sayang kenapa,? ada yang luka kah hah,? bilang sama ayah."
"Enggak, 'ku baik-baik aja, cuma.., Mama nyuruh duduk-duduk aja, katanya biar Mama yang bikinkan nasi gorengnya," Kanaya mesem pada suaminya.
"Hem.., tumben,?" gumam Dimas sambil menatap Mamanya.
"Saya tidak ingin mantu saya kecapean, lantas cucu saya ke napa-napa," elak bi Hesa sambil memalingkan pandangannya kelainan arah.
"Sepertinya kakak ipar mulai jadi menantu kesayangan nih," ucap Maria sambil tertawa kecil.
"Oh, ya udah aku mau mandi lagi, gerah nih," ucap Dimas pada istrinya.
Bu Hesa memandang curiga anak dan mantunya, "Kalian, kalian semalam..,?" menatap curiga.
Dimas langsung mengerti dengan yang di maksud Mama nya, "Em.., sebentar kok Mak, habis tidak bisa di-!"
Naya menoleh dan memotong perkataan Dimas, "Itu Mak, semalam Dimas kepanasan, ace kamar agak eror, iya agak eror Mak," ucap Naya mengelak dari pada jadi panjang, dan memberi isyarat agar Dimas segera naik ke kamar.
"Awas kalau sampai saya mendengar cucu saya kenapa-napa ya, susah di bilangin."
"Iya Mak," Naya menunduk dalam.
"Emang kenapa sih Mak, mereka mau ngapain kan hak mereka bukan urusan kita,? aneh ah, bukan kah itu kebutuhan meraka juga, maksud aku kebutuhan setiap pasangan," timpal Maria.
__ADS_1
Bu Hesa melotot, "Iya seperti kamu ngeyel gak bisa di bilangin."
"Hem..," gumam Maria mengerucutkan bibirnya.
"Em.., Mak Naya ke kamar dulu mau siapkan pakaian buat abang," pamit Naya sambil beranjak dari duduk nya menaiki anak tangga, kebetulan sekarang Naya lebih kuat lagi berjalannya, gak terlalu gampang capek.
Naya masuk kamar dan menutupnya, ia dudu di sofa, kalau pakaian kerja Dimas memang sudah disiapkan dari subuh tadi, Dimas masih berada di kamar mandi, kemudian Dimas keluar dari pintu kamar mandi melihat Naya duduk di sofa, sambil mengeringkan rambutnya Dimas duduk di samping Naya seraya berkata, "Kenapa bengong.?"
"Tidak," melirik suaminya yang masih bertelanjang dada.
"Iya kah,?" menaikan bahunya.
"Keburu siang lah yang, belum sarapan juga," Naya melirik Dimas yang begitu santai, Naya berdiri namun tangan Naya Dimas cekal dan menariknya sehingga Naya duduk di pahanya Dimas.
Naya kaget, "Apa sih..?"
"Sebentar," bisik Dimas di telinga Naya, lalu mendekati benda kenyal yang berwarna merah jambu mendaratkan kecupannya di sana.
Naya mencoba mengelak namun jari lengan Dimas mengunci kepalanya hingga gak bisa menolak lagi.
Naya memutar otak, jangan sampai kecupan yang penuh gairah ini berbuntut hasrat yang sulit di kendalikan nantinya, Ia mencubit kecil dada Dimas agar dia melepaskannya, benar saja dia melepaskan Naya dengan napas terengah.
"Sudah siang, belum sarapan, gimana sih,?" mengusap kasar bibirnya yang lembab, begitupun Dimas, mengelap bibirnya juga.
"Iya bawel..," kemudian mengambil pakaiannya, Naya membantu mengancingkan kemeja Dimas, setelah rapi Dimas meraih tas dan jaketnya, berjalan beriringan dengan Naya menuruni anak tangga.
"Hari ini ayah malaz bawa motor, biar pak Mad aja antar ayah dengan mobil."
"Oh, gimana baiknya aja."
"Bunda ke konter gak,?" tanya Dimas meraih pergelangan Naya.
"Iya lah, kan belum ada orang untuk menjaganya," jelas Naya.
"Iya nanti kita cari ya,?" ucap Dimas sembari menggandeng Naya, di meja makan keluarga besar sudah menunggu untuk sarapan, Dimas menyiapkan kursi untuk Naya duduk dan berdampingan dengannya.
Dimas menoleh pak Mad yang tengah meneguk kofi di sofa, "Pak, antar saya ke berangkat kerja, kebetulan saya lagi malas bawa motor atau nyetir sendiri nih."
"Hem.., gayanya yang sudah kaya," goda Maria pada Dimas.
"Iya dong, kalian mau menginap lagi,?" pandangan Dimas tertuju pada adiknya Sandi dan istri juga suami Maria.
Sandi menjawab, "Tidak, cuman nanti sore saya jemput istri dan anak-anak, sepulang kerja."
"Oh"
"Ayok makan, Naya makan yang banyak biar janin di dalam perut mu sehat," ucap bu Hesa pada Naya.
"Iya Ma."
"Ingat harus makan yang bergizi jangan makan sembarangan, sedang hamil harua banyak pantangan," sambung bu Hesa.
"Iya kak, dulu juga aku sama Mama gak boleh ini gak boleh itu, serba salah jadinya," timpal Maria di sela mengunyahnya.
Naya santai aja sembari menyuapi sang suami sarapan, sesekali ia memakan ikan dan sayur, ia hanya mengangguk dengan setiap yang bu Hesa ucapkan, bi Meri datang membawa buket bunga yang cantik, dengan ucapan...!
Selamat ya sebentar lagi akan menjadi ibu untuk calon baby nya, sehat selalu dan bahagia, dari siapa kah bunga tersebut..,?
,,,,
__ADS_1
Terimakasih reader 'ku, sampai saat ini masih mengikuti cerita ini, dan semoga kabar kalian selalu berada dalam lindungan Allah yang maha kuasa, Aamiin..,
Mana dong komentar nya,? karena sesungguhnya komentar dari kalian menambah semangat 'ku untuk up, jangan lupa kasih rating n vote nya juga ya,ðŸ¤