
Dimas balik badan menghampiri Naya kembali, sambil membelai pipi Naya, "Jangan cemberut sayang,? nanti aku gak tenang meninggalkan dirimu dalam keadaan marah seperti itu, aku kan sudah minta maaf sama Bibi."
Bola mata Naya berputar melihat wajah Dimas, yang duduk di dekatnya, "Yang, bagai manapun Bibi itu orang tua, kita tidak boleh bicara seenaknya, harus menjaga perasaan beliau juga," lirih Naya.
"Iya sayang, aku minta maaf," ucap Dimas memohon.
Lalu Dimas melirik Bibi yang sedang memasukan pakaian kotor ke dalam mesin cuci, Dimas kembali menatap lekat wajah sang istri, Dimas meraih tengkuk leher Naya dan mengelusnya, kemudian ia memajukan wajah, memiringkan kepala, dan merasakan hangatnya napas Naya di sekitar wajahnya, akhirnya Bibir Dimas mendarat di bibirnya Naya.
Naya kaget dan melirik kearah Bibi, yang asik dengan tugasnya, ia takut Bibi melihat adegan itu yang akan membuatnya sangat malu, Naya memberontak namun Dimas tak perduli, malah semakin dalam dan memanas. ia mencubit paha Dimas sampai ia meringis kesakitan, hingga ia melepaskan ciumannya, "Apaan sih yang,? malu nanti kelihatan Bibi," bisik Naya.
Dimas mengedarkan pandangan pada bi Taty yang tengah memunggungi, Dimas mengusap bibirnya dengan jari-jemari, begitupun dengan Naya, bibirnya yang basah ia seka dengan punggung lengannya.
Dengan helaan napas Dimas tersenyum puas, "Makanya jangan cemberut, terimakasih sayang,?" berbisik di telinganya Naya, Dimas kembali mengusap kepala Naya sambil melangkah pergi, Dimas mempercepat langkahnya, menuju garasi.
Naya memandangi, punggung suaminya yang duduk di atas motor, sembari menunggu mesinnya panas, Naya mengalihkan pandangan pada bi Taty.
"Bi maaf ya,? kalau ucapan suami aku menyinggung hati Bibi,? Naya menatap dengan lekat dan rendah.
Bibi yang menghampiri tersenyum ramah, "Aduh Bu.., jangan minta maaf, Tuan gak salah sama sekali, lagian Tuan sudah meminta maaf sama Bibi, Bibi malah bahagia bisa kerja di sini, Bibi senang berada di antara Tuan dan Ibu, Bibi tidak merasa di kecilkan di sini, kalian seolah menganggap Bibi keluarga sendiri," ujar Bibi dengan pandangan mata yang nanar.
"Bi, aku di tempat ini tidak punya siapa-siapa selain suami, keluarga suami pun, aku merasa bahwa mereka belum sepenuhnya bisa menerima aku dalam keluarganya," dengan nada sedih, mata berkaca-kaca, di sini aku bersama Bibi setiap hari, aku gak tau harus menitipkan diri pada siapa,? keluarga aku jauh berbeda pulau," Naya mengusap setetes air bening dari sudut matanya.
Bibi merasa terharu pada majikannya, "Ibu jangan sedih, di sini ada Bibi yang akan menemani Ibu, makanya ibu jangan sungkan-sungkan sama Bibi."
Naya menyentuh tangan Bibi Taty, "Makasih ya Bi.?"
"Sama-sama Bu, jangan sungkan-sungkan sama Bibi ya Bu,?" sahut bi Taty.
"Ya sudah, aku ke atas dulu ya Bi..,?" Naya mendekati tangga.
"Hati-hati ya Bu,? kalau ada apa-apa panggil Bibi, oh iya nanti Bibi juga ke atas untuk beres," kata Bibi menatap langkah Naya.
Naya duduk di kursi lift, dan menekan tombol agar naik ke lantai atas, kemudian Naya masuk kamar duduk sebentar, lalu ke kamar mandi untuk mengambil air wudu.
Sementara Bibi di bawah mulai sibuk beberes di kamar lama Naya dan Dimas, seperti yang di katakan Dimas, untuk menyuruh orang tuk membantu bi Taty memindahkan barang-barang ke ke kamar atas.
Naya tengah duduk di sofa yang baru di pindahkan dari bawah, ia sibuk dengan ponsel di tangan, Bibi bolak balik membawakan barang-barang yang ringan ke tempat tersebut, dan dua orang pria membawakan lemari besar yang isinya sudah di keluarkan.
Sesekali Naya memberi instruksi di mana saja barang yang harus di letakkan, agar terlihat rapi dan mudah terjangkau olehnya.
Tengah hari barulah selesai acara pemindahan barang, tinggallah membereskan pakaian ke tempatnya, Naya memberikan beberapa lembar uang pada Bibi untuk kedua pria tersebut.
"Bi, ini buat mereka, sampaikan terimakasih aku pada mereka, dan suruh mereka makan dulu," ucap Naya lirih.
"Baik Bu, Bibi tinggal sebentar ya,? nanti Bibi kembali tuk beres-beres lagi," Bibi keluar tak lupa menutup pintu.
Naya ikut merapikan pakaian yang akan di masukan ke dalam lemari, tak sengaja ia menemukan selembar foto wanita berjilbab bersama Dimas yang tengah merangkul bahu wanita tersebut.
Ia temukan dari tumpukkan pakaian Dimas, dan ada nama berinisial D&S di balik foto tersebut, Naya menghela napas dan menggigit bibirnya, dadanya terasa sesak, dan sulit tuk menelan saliva nya sendiri, "Pasti dia mantan Dimas, pasti yang bernama Silvi,?" pikiran Naya menerawang, ingin rasanya mencabik foto tersebut, namun ia urungkan, foto itu gak salah, yang salah adalah orang yang menyimpannya.
"Kenapa masih menyimpan gambar mantan sih,? sangat berarti kah orang itu,?" tanpa meminta ijin air mata menetes di pipi, Naya segera menepis kasar air mata dengan jarinya, sebelum Bibi mendekatinya, atau melihatnya, Naya menarik napas dalam.., lalu ia hembuskan dengan panjang, tuk menepis semua yang ia rasakan, dadanya begitu sesak, bagai berada di tempat yang sempit tanpa ventilasi udara sama sekali.
"Kenapa Bu,? menarik napas berat begitu,? soal kerjaan mah, tenang kan ada Bibi, Ibu cukup duduk manis dan memerintah saja Bu," ucap Bibi dengan senyum tulusnya.
Naya senyum samar, "Sesak Bi, pengap dan panas."
__ADS_1
Bi Taty seketika memandangi Naya lalu melihat ace yang nyala, jendela terbuka, pintu balkon terbuka juga, ventilasi udara banyak, "Apa yang membuat Ibu merasa sesak,? sejuk kok Bu.?"
Naya baru sadar yang barusan ia katakan, "Eh.., tidak Bi, iya sejuk kok, cuma.., mungkin di luar cuaca begitu panas jadi aku kepanasan," gelagapan.
"Iya kali ya,? tapi di luar juga adem kok, gak terlalu panas ah,?" sambung Bibi sambil meneruskan tugasnya.
"Aku kepanasan karena melihat poto itu Bi," gumam Naya dalam hati, namun tak ia ungkapkan, Naya beranjak melangkah ke dalam kamar mandi.
"Aku mau mandi dulu Bi, oya Bibi sholat dulu lah, nanti aja kerjaan di lanjut laginya," ucap Naya sambil menutup pintu kamar mandi.
Naya masuk bathtub merendam diri di sana sebentar, lalu memakai baju handuk, dan keluar kamar, bi Taty sudah tidak ada, Naya mendekati lemari mengambil pakaiannya.
Setelah rapi Naya bersimpuh, pada yang maha kuasa, tak lupa memanjatkan doa.
Sementara Dimas
Di RS, dari pagi dia sangat sibuk melayani pasien, kebetulan ada beberapa dokter yang tidak masuk membuat kewalahan dokter yang ada.
Sampai siang menjelang Dimas di ruangan pasien, hingga pukul dua belas siang barulah dia keluar, berjalan dengan gontai melintasi koridor.
"Dok tunggu,?" Endro setengah berlari mengejar Dimas, Dimas pun menoleh dan menghentikan langkahnya.
"Hi.., bro,? apa kabar kau,?" Sapa Dimas mengulurkan tangannya.
"Baik dok, gimana kabar sebaliknya,? oya mana si gadis seksi kau,? tidak aku lihat hari ini.?" sahut Endro sembari menanyakan Citra yang dia panggil gadis seksi tersebut.
Dimas menggeleng, sambil melihat kanan dan kiri, "Nggak tau bro, baguslah kalau dia marasa bosan menguntit diriku, pusing saya melihatnya," Dimas dan Endro berjalan berdampingan.
Endro mengusap kasar tengkuknya, "Saya belum berhasil mendekatinya, sulit dok."
"Gak tau dok, dia sepertinya jijik aja gitu melihat saya, semakin di dekati eh semakin dia menjauh," gerutu Endro, sambil berjalan lagi menuju ruangan Dimas.
"Hem.., sabar dok, nanti juga akan dapat seperti yang kau mau, jangan cepat menyerah, kejar terus pantang mundur dong kawan,?" Dimas menepuk bahu Endro dan merangkulnya sembari berjalan.
Kini mereka sampai di ruangan Dimas, dan mereka duduk berhadapan, melanjutkan obrolan tadi ketika di jalan sambil meminum kopi.
"Permisi dok,? anda di tunggu oleh dokter xx, untuk menangani pasien, di ruangan IGD," ujar seorang suster, membuat Dimas dan Endro saling pandang, dan Dimas lekas berdiri dan segera menyusul ke IGD, di ikuti Endro dari belakang, suster tadi sudah duluan dan mungkin sudah sampai di IGD.
Waktu terus berputar begitu cepat, hingga pukul 13.30 waktu sekitar Dimas baru keluar dari IGD berjalan begitu gontai karena merasa lelah, "Ingin cepat pulang,"
Endro yang berjalan di sebrang menghampiri lagi, "Kelihatannya sangat capek sekali dok,? he..,he..,he.."
"Ya nih, belum sempat makan pula, pengen pulang bah, tapi.., malas bawa motor, coba saya bisa menghilang,? ting.., menghilang di sini muncul-muncul di rumah, di pelukan istri,?" ujar Dimas sambil melamun wajahnya melukis senyuman.
"Hah, jin kali ah, kau kan punya burung, buatkan sayap biar bisa terbang,? jadi kau tak perlu capek bawa motor," Endro tertawa lepas.
"Huus, yang itu sih sangat istimewa bro, gak bisa di salah gunakan, bisa-bisa yang di rumah kebingungan, ha..,ha..,ha..," Dimas pun melepas tawanya, membuat orang sekitar keheranan.
"Sudah ah, saya mau pulang, sudah tidak kuat menahan rindu pada orang rumah," Dimas bergegas berjalan menuju ruangannya tuk mengambil tas miliknya.
"Ok, lain kali aku mampir lah ke sana, pengen ketemu kakak ipar, seperti apa sih orangnya,? aku penasaran jadinya,? bikin iri jomblowan aja nih," celetuk Endro di belakang Dimas.
"Cepat nikah bro, kau akan merasakan nikmatnya beristri," sahut Dimas.
"Hem.., bukankah punya istri bikin pusing ya,?" Endro kebingungan dan menggaruk pelipisnya, dia berdiri dekat pintu ruangan Dimas, sementara Dimas masuk mengambil barang-barangnya.
__ADS_1
"Kata siapa bro,? justru kalau kita pusing ada yang ngobatin, kita lapar malas makan ada yang suapi, kau gak tau ya,?" Dimas menyeringai pada Endro membuat dia semakin bingung, yang dia tau wanita bikin bingung, dan hanya pemuas napsu saja.
Akhirnya mereka tiba di parkiran, Dimas menaiki motornya, begitu pun dengan Endro naik ke motornya, "Yuk bro, aku duluan ya,?" Dimas mengangguk, di balas dengan anggukan pula oleh Endro.
Dimas pun melajukan dengan kecepatan tinggi ingin sekali cepat sampai rumah sudah kangen sama orang rumah, hari ini ia sama sekali tidak melihat Citra entah kemana dia, atau mungkin dia marah akan kejadian semalam, Dimas pikir baguslah agar ia merasa tenang, tidak di bayang-bayang lagi oleh tingkahnya yang bikin risih.
Tak selang lama di jalan Dimas sampai di rumah langsung memasukan motor ke garasi, namun di sana sudah ada mobil kesayangannya, terparkir manis di sana, Dimas tersenyum dan mengamati mobil tersebut.
Dimas masuk rumah dari jalan belakang karena pintu tersebut lebih dekat dengan pintu garasi, di sana tampak sang istri dan PRT nya tengah duduk di sofa, "Assalamu'alaikum..,?" Dimas berjalan sangat gontai dan terlihat lelah.
"Wa'alaikum salam," Naya melihat jam di ponselnya, setelah Dimas mendekat, Naya mencium punggung tangan Dimas, dan seperti biasa Dimas mencium kening sang istri dengan sangat lembut.
"Sedang apa sayang,? maaf aku telat,?" Dimas menyimpan barangnya di meja.
"Biar Bibi yang menyimpan tas Tuan ke atas," Bibi meraih tas Dimas dan akan membawanya ke kamar atas.
"Em.., boleh kalau Bibi tidak merasa repot,? dan terimakasih,?" Dimas melirik bi Taty.
"Bibi tidak repot Tuan," bi Taty naik ke lantai atas tuk menyimpan tas Dimas ke kamarnya.
"Sayang kenapa dian saja hem,? sakit kah,?" Dimas duduk menghadap ke Naya, dengan tangan membuka beberapa kancing kemeja atasnya hingga terlihat dadanya yang bersih tanpa bulu.
Naya menghela napas, sembari senyum samar, "Nggak, oya mau mandi dulu apa mau makan dulu,?" tanya Naya, tak mau menatap Dimas.
"Aku lapar, mau makan dulu, di RS sangat sibuk, aku baru keluar dari IGD langsung pulang.
"Ya sudah makan dulu sana,? aku sudah masak kesukaan dirimu," menunjuk meja makan.
"Temani dong sayang, aku lelah banget hari ini," Dimas sudah membungkuk untuk meraih tubuh sang istri, namun Naya menolaknya, "Kau capek kan,? biar aku jalan sendiri aja, duluan aja sana.?"
Dimas tak perduli dengan ucapan Naya, dia tetap memaksa meraih tubuh Naya, Naya akhirnya pasrah dan menatap wajah lelahnya suaminya, lantas Dimas membawanya duduk di meja makan bersamanya, ia tidak ingin makan sendirian.
Sebenarnya Naya masih kesal, marah, merasa dongkol dengan foto yang dia temukan waktu itu, namun ia tidak tega melihat Dimas begitu kecapean, mungkin rasa marahnya harus di bungkus dulu dikemas dengan baik, dan di simpan dulu sampai menemukan waktu yang tepat, untuk mengutarakan segala isi hatinya.
Naya mengambilkan makan buat Dimas, ia menatap wajah lelah suaminya lalu menyuapinya makan, "Sayang pasti belum makan juga kan,? makan lah,?" Dimas di sela mengunyahnya.
"Aku sudah makan sayur, jadi jangan memikirkan aku,?" Naya terus menyuapi Dimas sampai minta nambah, dengan sabar Naya menyuapi suaminya, dan pandangan Dimas tak pernah lepas dari Naya, sambil tersenyum ia bahagia mempunyai istri yang berusaha membahagiakan dirinya.
"Habis, mau nambah lagi,?" tanya Naya menatap sendu Dimas.
Dimas meneguk air mineral yang sudah tersedia di depannya, "Tidak sayang, sudah cukup, aku kenyang banget nih, makasih sayang,? kau mau menyuapi aku,?" dengan senyuman yang melebar memperlihatkan barisan gigi putihnya, sedangkan kedua tangannya menyilang di atas meja.
"Sekarang, mandi.., lalu istirahat," titah Naya, sembari membereskan bekas makan.
"Iya sebentar lagi sayang,? oya siapa yang mengantar mobil kemari,?" Dimas menyandarkan bahunya ke belakang kursi.
"Em.., tadi suruhan Bapak katanya," jawab Naya, "Dan ini kuncinya," Naya memberikan sebuah kunci mobil yang sudah berada di garasi.
"Oh, di kasih ongkos kah yang,?" sambung Dimas.
"Iya.., aku kasih," sahut Naya, sambil beranjak mendekati wastafel untuk mencuci piring, sepertinya saat ini bi Taty sedang berada di kamarnya, biarlah dia istirahat.
,,,,
Hi..., reader ku masih suka tidak dengan kisah Naya dan Dimas,? kalau suka isi kolom komentar ya,? aku ingin tau, ok, aku ucapkan terimakasih atas dukungan kalian, yang selalu memberi lake, komen, rating dan vote nya🙏🙏
__ADS_1