
"Orang tuamu tak mungkin juga merestui aku jadi istrimu," tambah Naya tersedu.
"Orang tuaku tak seperti itu yang..," elak Dimas dengan suara seraknya.
"Mungkin hubungan hanya sampai disini saja, kita gak mungkin bisa melanjutkan hubungan ini, percuma.!" Naya memtuskan.
"Tidak mau yang, aku tidak mau kita putus, apa salahku yang?" Dimas menggelengkan kepala pelan dadanya terasa sesak.
"Yang.., keyakinan kita berbeda, gak mungkin bisa bersatu, aku bukan ABG yang akan menjalani hubungan dengan santai, aku dah wanita dewasa yang menginginkan hubungan yang lebih serius," Naya masih terisak.
"Yang..,aku tak mau putus sama kamu, jangan tinggalkan aku.? aku janji akan melakukan apa pun agar dapat memilikimu yang..," Dimas memohon, tak sanggup bila ia di putuskan.
"Tapi gak mungkin kan, selamanya seperti ini yang..,tolong mengerti.?" pinta Naya.
"Aku-aku tak ingin putus, tanpa suara kamu pun aku tak sanggup yang.!" Dimas menunduk dalam.
"Aku sudah putuskan hubungan kita selesai, jangan hubungi aku lagi." jelas Naya.
Dimas terperanjat, terkejut jika itu keputusan terakhir Naya, "Yang..,dengarkan aku dulu." tapi Naya langsung memutuskan sambungan telepon, tanpa mau mendengarkan penjelasan Dimas lagi.
Di dalam selimut Naya tak henti-hentinya menangis kecil, tak ingin orang tau, ia pun tak sanggup meninggalkan Dimas, namun dengan sebuah alasan, ia terpaksa harus mengambil keputusan ini biarpun cukup menyakitkan.
Ia terus saja meneteskan air mata, sampai merasa capek dan tertidur.
******
Sementara Dimas melempar ponsel ke atas kasur, ia duduk di tepi tempat tidur menjambak rambut dengan kedua tangannya, sangat frustasi dengan keputusan wanita yang di cintai nya.
Biarpun belum pernah bertemu, namun tak pernah ada terbesit di pikirannya akan ditinggal kan Naya.
Ia mengusap kasar air yang mengalir di sudut bibir. ia beranjak dari duduk melangkah ke kamar mandi, membasuh muka menatap wajahnya dari cermin, telapak tangan menempel di tepi dudukan cermin.
"Apa yang harus aku lakukan.? ya Tuhan..,!" mendongak kan kepala ke langit-langit, kemudian masuk ke kamar menghempaskan tubuhnya di kasur, menatap langit-langit kamar yang terlihat samar karena lampu yang remang-remang.
__ADS_1
"Apa aku harus mengikuti keyakinan Naya.?" batin Dimas, tak terasa ngantuk pun menyerang hingga tertidur pulas.
Angin malam yang begitu dingin, bersemilir lembut, tak terlihat namun jelas terasa desiran nya, memanjakan setiap orang yang tengah terlelap semakin menarik dan membalut kan selimut ke tubuh masing-masing.
Waktu sudah menunjukkan jam 02.15 menit Pagi, "Sayang jangan tinggalkan aku, sayang aku mencintaimu, jangan buat akau seperti ini.?" Dimas mengigau dan seketika terbangun dari tidurnya.
"Ya Tuhan..!
Setelah terbangun Dimas tak bisa tidur kembali, pikiran dan hatinya gelisah, hanya guling-guling ke kanan dan ke kiri hingga akhirnya ia beranjak bangun dari tempat tidur, menuju kamar mandi, tuk membersihkan diri.
Selesai mandi, mengambil baju dll. kini Dimas sudah berpakaian rapi, keluar kamar berdiri bersandar di daun pintu sejenak pandangan Dimas menyisir ke setiap sudut, sepi mungkin belum pada bangun, kemudian langkahnya menuju tangga, Dimas merasa lapar mencari makanan di kulkas,
"Cari apa Dim..? pagi buta sudah membuka kulkas.?"
Dimas menoleh ke sumber suara, Ibunya berdiri beberapa meter dari tempat ia berjongkok, sambil nyengir kuda ia mengambil sebungkus roti, "Lapar Mak" berjalan menuju kursi meja makan.
"Hemm," bu Hesa menggeleng pelan dan meninggalkan Dimas yang tengah makan.
Bu Hesa yang sedang memasak menoleh kearah Dimas.
"Mak.?" panggil Dimas mendekat.
"Hmm," bu Hesa tetap asik memasak.
"Aku, hari ini libur gak ke beribadah dulu." dengan sedikit ragu, bu Hesa seketika menoleh Dimas. "Kenapa.? gak biasanya kau ada di rumah, tapi gak mau pergi beribadah.?" bu Hesa mengangkat alis sebelah.
"Lagi malas Mak." tanpa menunggu bu Hesa bicara lagi, Dimas berlalu pergi menaiki tangga, menghempas kan tubuhnya di kasur, entah apa yang di pikirkan Dimas saat ini. dia seorang yan taat seketika berubah memutuskan berhenti beribadah.
*****
Pagi-pagi Naya setelah memasak, Naya mandi bersih-bersih, tak lama kemudian ia masuk kamar, mengenakan celana panjang dan kaos berwarna merah, rambut di ikat sederhana.
Hari minggu ini ada rencana makan bersama dengan dua orang laki-laki, bersama Lely dan sepupunya dan juga bibinya.
__ADS_1
Meski berusaha ceria namun jika saat ingat Dimas, air mata selalu menetes, di toilet pun tanpa sadar air mata berjatuhan, hati yang gundah.
"Hapy dong teh, jangan bersedih begini," kata sepupunya, melihat Naya berderai air mata, siangnya Naya sedikit mampu mengendalikan emosinya, tak terlalu hanyut dengan perasaan.
Mengobrol, sambil makan bareng, beralaskan daun pisang, Naya dan Lely sih gak terlalu banyak bicara dengan kedua laki-laki itu.
Apa lagi laki-laki yang satu lagi yang katanya mendekati Naya, dia pendiam banget, hanya dua wanita, ya itu bi Mirna dan sepupunya bernama Intan,
Merekalah amat tebar pesona, padahal mereka mempunyai suami, intan malahan tengah mengandung anak kedua, Lely yang sudah janjian dengan pacarnya langsung pergi, tinggallah Naya, sepupu, dan juga bibinya, kedua laki-laki itu pun berpamitan.
Begitupun sepupu dan bibinya berpamitan pulang, karena makan pun sudah selesai, tinggallah SMP(selesai makan pulang) Naya hanya tersenyum miris mengingat sikap tebar pesona kedua wanita itu, tapi biarlah itu urusan mereka.
Naya mengambil air wudhu, kemudian menunaikan sholat dzuhur, berzikir sebentar, usai itu Naya mengambil ponsel dan memutar sebuah lagu.
Selamat tinggal sayang relakan ku pergi.. meninggalkan dirimu yang ku kasihi, bukan niatku sayang membuat kau terluka...namun terpaksa.
Sejarah cinta kita tak mungkin berulang.. walaupun kasih kita seluas lautan, kita hanya merancang Tuhan menentukan..tak kesampaian.
^^^Apa lagi hendak di kata...memang itu lumrahnya...dunia, setiap yang bercinta pasti kan merasa suka dan duka..O..o..o..^^^
^^^Apa lagi hendak di paksa...jodoh kita telah pun tiada, kita yang berkasih...kita yang merintih, hati tersiksa.^^^
...Memang benar kata pujangga purnama indah usah di puja..kelak jiwa akan terluka, meratap hibah..!...
...ikutlah pilihan keluargamu yang menentukan jodoh buatmu, diri ini usah kau ingat lagi, biarlah pergi..!...
Tanpa terasa buliran air mata pun jatuh lagi, membasahi bantal, "Apa aku tak pantas tuk mendapat kebahagiaan.?" batin Naya. "Aku juga seperti yang lain yang ingin di cinta dan mencinta, aku ingin bahagia dengan orang yang aku sayangi." memejamkan matanya, yang terbayang hanyalah Sebuah nama Dimas, mengisi ruang hatinya.
,,,,
Met siang reader ku yang masih setia mampir di novel ini, semoga dalam indungan Allah SWT selalu, jangan lupa lake, komen bila kalian suka dll.
Terimakasih banyak🙏 ♥️♥️♥️♥️ tuk kalian semua.
__ADS_1