
"Yang saya butuhkan adalah calon buat putri saya. Gak butuh saran apa pun, gimana kalau saya akan datang ke rumah untuk menemui istri kau. Dan saya akan bilang kalau dokter lah yang menodai putri saya, dengan cara itu mau tidak mau istri mu akan mengijinkan dan kau akan menikahi putri saya," tersenyum puas sebab terlintas di pikirannya bahwa rencana yang akan dia buat akan berhasil.
Dimas menatap lekat pada Mahdalena. "Silahkan, lakukanlah. Karena saya yakin, istri saya akan lebih mempercayai saya ketimbang anda," jelas Dimas sambil mengangguk-anggukan kepalanya. "Hem, anda terlalu percaya diri," Senyum Dimas mencibir.
"Lihat saja nanti," tatapan dan ucapan Mahdalena ungkapan mengajak perang dingin.
"Silahkan, saya tidak takut. Anda mau mundur dari bisnis pun silahkan, saya mampu mencari donatur lain yang lebih baik dari anda. Kini saya tahu bahwa anda seorang yang licik," dengan tatapan sangat tajam.
Mahdalena semakin tersulut emosinya, genggam gelas berisi air diangkat byuuur! air minumnya disirsmkan ke muka Dimas. Itu sungguh di luar dugaan Dimas.
Dimas mengusap muka dengan satu telapak tangannya, ingin sekali ia membalas. Namun masih untung akal sehatnya masih berpungsi dengan baik, dia menyunggingkan bibirnya senyum. "Saya semakin tidak menyangka Ibu dewan yang terhormat, prilakunya tidak mencerminkan jabatannya."
Mahdalena yang geram, melihat ke sekitar yang lumayan banyak orang yang sekedar ngopi dan berbincang. Lalu Mahdalena menghela napas, jika ia berlaku yang tidak-tidak. Takut ada yang merekam dan akhirnya tercium media, yang tentunya akan menjatuhkan namanya sendiri.
"Baiklah dokter, mulai detik ini saya nyatakan kita mulai berperang dan lihat siapa yang akan menang," seru mahdalena.
"Terserah, yang jelas Allah maha melihat. Ia maha tahu siapa yang salah dan yang benar," mata Dimas menyiratkan ke atas.
Bibir Bu dewan bergetar menahan amarah yang kian memuncak. Matanya merah, raut kulit wajahnya yang keriput dihiasi ketegangan. "Jangan kau bawa-bawa nama Tuhan di sini."
"Hem ..." Dimas berdiri menyambar ponselnya, lantas berlalu meninggalkan wanita paruh baya itu yang terdiam di tempat.
Dimas sudah berada di dalam mobil. "Jalan Pak?" pinta Dimas.
"Sekarang kemana Pak?" tanya Pak Mad dia pikir kali aja mau kemana lagi.
"Ke rumah. Pulang," ucap Dimas, ia bersandar dan memikirkan perkataan Mahdalena tadi. "Aku harus ceritakan semua pada Istri 'ku secepatnya," gumam Dimas dalam hatinya.
Sesampai nya di rumah, Dimas bergegas menemui sang istri yang tentunya berada di kamar atas. Bersama baby twins nya.
"Assalamu'alaikum, sayang Ayah pulang nih," sambil membuka pintu kamar dengan pelan nampak sang istri tengah bersimpuh di atas sejadah nya, melirik ke tempat baby twins kosong. "Kemana mereka.
Setelah menyimpan barangnya di atas meja, Dimas memutar tubuhnya kembali turun ke lantai bawah. Mau mencari keberadaan sang buah hati.
"Arif ... Kayla? kalian di mana sayang," suara Dimas sedari masih dari tangga.
Dan ternyata mereka tengah bermain bersama Rita dan Bibi. "Huuh," Dimas membuang napasnya, tadi sudah cemas akan keberadaan mereka. Ternyata ada di sini.
"Sayang Ayah, lagi apa nih hem bermain. Kok belum bobo sayang?" Dimas meraih keduanya, Rita juga kenapa belum bobo."
"Ayah kangen kalian," cup Dimas menciumi pipi keduanya.
Sesaat kemudian setelah melepas rasa rindu Dimas membiarkan mereka bermain kembali. "Titip ya Bi?" Dimas mengusap ketiga anak itu.
__ADS_1
Dimas lagi-lagi menaiki anak tangga. ceklek! kenop pintu Dimas putar. "Assalamu'alaikum bunda,?" suara Dimas lirih sambil berjalan mendekati sang istri, yang tengah membereskan tempat tidur si kecil.
"Wa'alaikum salam wr, wb" jawab Naya memutar badan dan meraih tangan sang suami, lantas mencium punggungnya.
Dimas langsung memeluk tubuh Naya yang mungil itu. "Ayah kangen sayang," cup! mengecup pucuk kepala sang istri. Rasa bersalah kini menghantui perasaannya. "Maafkan aku yang," batin Dimas.
Naya pun membalas dan menikmati pelukan suaminya, membenamkan wajah di dada sang suami, hingga akhirnya Naya mendongak. "Sudah solat belum?"
"Hehehe belum," menggaruk tengkuknya. "Mau mandi dulu."
"Ya udah, sana keburu abis waktunya. Aku siapkan pakaiannya, cepetan?" suruh Naya melepas pelukan.
"Tapi ini dulu," Dimas menunjuk bibirnya.
"Apaan sih? udah sana cepetan dah malam juga," Naya tersipu malu.
"Ayok dong sekali ... aja," rajuk Dimas.
Naya mengulum senyumnya, menatap wajah sang suami. "Ya udah, tutup mata dulu tapi," dengan lirih, Dimas pun dengan cepat memejamkan matanya.
Naya menyeringai, menempelkan dua jarinya ke bibir. Kemudian di tempelkan lagi ke bibir Dimas, membuat Dimas membuka mata. "Ah curang bukan dengan itu sayang." Dimas merajuk kesal.
"Sudah sana bersih-bersih dulu napa?" sambil mendorong pelan dada Dimas.
Dengan malas dan wajah kecewa Dimas masuk kamar mandi untuk bersih-bersih, Naya melangkah mendekati lemari mau mengambil pakaian santai Dimas. Di simpannya di atas tempat tidur.
Dimas keluar dari balik pintu kamar mandi dan tampak segar, Naya hanya melirik Dimas pun tak bersuara apa pun. Hanya lirikan mata saja yang bicara.
Selepas Dimas melipat bekas sholatnya, Naya berdiri. "Makan yuk yang?" sambil menutup laptop miliknya.
"Yuk, nanti setelah makan ada yang ingin Ayah bicarakan," sahut Dimas penuh keseriusan.
Naya menatap heran. "Tentang apa?"
"Makan dulu yuk, lapar," timpal Dimas lagi belum ingin membahas apa yang ingin di bicarakan.
"Baik lah," Naya mengangguk, mereka pun berjalan bergandengan turun menuju dapur.
Kini mereka sudah duduk manis, di hadapannya sudah tersedia beberapa menu makan malam. Dimas dan Naya makan sepiring berdua dan sangat menikmati nya, Pak Mad dan istri pun ikut makan bersama juga bocah gemuk Rita. Hanya Bi Taty yang gak makan bersama dengan alasan sudah makan, lagipula baby twins gak ada yang jaga.
"Kok om sam tante makannya suap-suapan sih? kan sudah gede, Rita saja makan sendiri ya Bu," Rita menatap Dimas dan Naya kemudian melirik Ibunya, Meri.
Dimas saling melempar senyum dengan istrinya setelah mendengar ocehan Rita. "Yang, nanti juga kalau anak kita sudah besar pasti ngoceh seperti Rita loh," bisik Naya ke telinga Dimas yang di balas anggukan.
__ADS_1
Meri tersipu malu anaknya bicara seperti itu, "Maaf Bu, Tuan," Meri mengangguk. "Em ... Rita, makan nya jangan sambil ngobrol, nanti keburu kenyang."
"Tidak apa Bi," sahut Naya, sambil terus menyuapi sang suami.
Makan pun selesai, Naya lebih dulu menidurkan baby twins nya, kebetulan mereka sudah lelah bermain.
"Sudah tidur ya?" tanya Dimas ketika melihat baby twins nya sudah tidur, di tempatnya masing-masing.
"Iya," Naya berdiri langkahnya menuju sofa, dan duduk di sana.
Dimas pun mengikuti Naya serta duduk di sampingnya. Setelah mereka duduk santai, Naya membuka pembicaraan. "Apa yang ingin di bicarakan yang?"
Dimas menghela napas dalam-dalam, lalu barulah Dimas memulai pembicaraannya. "Begini yang," Dimas merubah duduknya menjadi berhadapan dengan Naya.
Dimas menceritakan masalah Mahdalena tentang kehamilan putrinya. Hingga ingin menyeret namanya ke dalam permasalahan yang dia hadapi, dari awal sampai akhirnya Dimas ceritakan. Tak ada sedikit pun yang terlewatkan.
Naya mendengarkan cerita sang suami dengan seksama, walau dengan jantung yang terus berdebar. Tak menyangka ada wanita yang tega ingin menghancurkan rumah tangga orang lain hanya demi kepentingan dirinya sendiri, mata Naya berkaca-kaca. Tak bisa membayangkan jika harus berbagi suami.
"Kamu beneran gak ngelakuin apa pun pada wanita itu? atau kamu akan mau menikahi wanita itu dan meninggalkan 'ku," lirih Naya menatap sendu suaminya.
Dimas kaget mendengar pertanyaan itu dari sang istri. "Bunda ... percayalah, aku gak pernah bertemu langsung dengan dia, apa lagi macam-macam. Satu lagi, aku gak akan pernah meninggalkan Bunda, anak kita," Dimas meyakinkan. Sambil menggenggam tangan Naya.
Dimas berjongkok di depan Naya tangannya menggenggam kedua tangan sang istri, "Sayang, aku gak mungkin khianati Bunda," Dimas menggeleng dan menatap netra mata Naya yang sendu dan berkaca-kaca.
Naya tersenyum getir dan tidak tau harus berkata apa lagi, selain mendengarkan perkataan suaminya.
"Lihatlah apa ada kebohongan di mata 'ku Bun? aku sayang sama Bunda, gak ada wanita lain selain Bunda dan Mama yang aku sayangi," menciumi punggung tangan Naya. Suara Dimas mulai berubah parau, matanya pun berkabut. Hatinya takut sang istri tidak lagi mempercayai dirinya. "Kalau Bunda gak percaya, tanya saja Pak Mad, dia tahu kemana saja Ayah pergi dan menemui siapa saja," menatap lekat, penuh harap sang istri percaya sepenuhnya. Karena memang ia tak bersalah tentang hal ini.
Naya menarik napas panjang ... lalu ia hembuskan perlahan, ia menarik tangannya dari genggaman tangan Dimas. Dimas pun terkejut menatap tangan Naya yang di tarik dari genggaman tangan dirinya, hati Dimas mencelos khawatir sang istri marah.
Namun apa yang terjadi, kedua tangan Naya membingkai wajah sang suami, dan bibirnya melukiskan senyuman tipis. "A-aku percaya kok sama suami 'ku, dan buat apa aku bertanya tentang dirimu pada orang lain, kalau aku sendiri sangat tahu bagai mana suamiku. Terima kasih juga sudah jujur sama aku," tutur Naya yang lembut.
"Jadi Bunda percaya sama Ayah?" tanya Dimas sangat antusias.
Naya mengangguk pelan sambil tersenyum samar, Dimas bahagia dan langsung memeluk tubuh istrinya sangat erat. "Terima kasih sayang? jangan juga meninggalkan 'ku, aku tak sanggup hidup tanpa Bunda."
"Kan ada Mama?" ucap Naya pelan.
Dimas tertegun mendengar yang Naya ucapkan, sembari melepas pelukan ia menatap lekat sang istri seraya berkata. "Apa maksud mu?" Dimas keheranan.
"Em ... maksud aku, seandainya aku gak ada, kan masih ada Mama wanita yang memang seharusnya kau sayangi," timpal Naya kembali.
Lagi-lagi Dimas menggeleng. "Ti-tidak, Bunda tidak boleh pergi, tidak boleh," Dimas kembali memeluk erat tubuh sang istri.
__ADS_1
,,,,
Terimakasih pada reader semua yang masih mengikuti kisah ini, terimakasih yang sudah lake n komen meski gak memberi vote nya heeh canda, pokok nya apa yang kalian lakukan untuk novel ini terimakasih telah membuat aku tetap semangat.🙏🙏