Bukan Mauku

Bukan Mauku
Perubahan


__ADS_3

Aldo terdiam mencari jawaban yang pas buat Dimas, Kan banyak waktu terpotong dengan mengobrol,? lagian lebih lama kan bagus, semoga lebih cepat ada perubahan," ujar Aldo setelah mendapat alasan, yang sebenarnya, dia masih betah berada di tempat tersebut.


Dimas ngangguk, meskipun kurang suka, dengan keberadaan dokter Aldo, namun Dimas pasrah demi pengobatan sang istri, Dimas beranjak dari duduknya lalu memboyong Naya ke kamar, "Yok sayang," Dimas berjalan menuju kamarnya yang hanya beberapa langkah dari tempat tersebut.


"Permisi dulu ya dok,?" ucap Naya melirik dan mengangguk pada dokter Aldo.


Aldo tersenyum membalas anggukan dari Naya, lantas dia pun berdiri, melihat-lihat pemandangan di luar dari balik dinding kaca rumah Dimas.


Sudah berada di kamar, Dimas menutup pintu dengan kakinya, menurunkan Naya di tempat tidur, Naya hendak turun tujuan kamar mandi, namun Dimas segera merangkul tubuh sang istri, menarik kerudungnya hingga terlihat rambut panjangnya Naya, Dimas membelai dan mencium rambut Naya, usai itu mendekatkan wajahnya dengan wajah Naya.


"Aku kangen sayang," lirih Dimas dengan sangat pelan hingga Naya merasakan hembusan napas dari Dimas.


Naya mencoba menolak pelukan tersebut, "Sayang.., dah sore mau solat, kau juga belum mandi, ih..,dari tadi bukannya mandi.?"


"Emangnya sayang mau berduaan sama Aldo,?" dengan nada datar dan tatapan sayu.


"Kan ada Bibi, kalau sayang mau mandi,? Heran aku," dengan masih posisi yang sama.


"Hah, Bibi sibuk di bawah memasak, masa di suruh jagain bunda juga, kasian sayang..," cup.., Dimas mengecup bibir Naya dengan sangat lembut dan dalam, Naya berusaha berontak namun tangan Dimas mengunci kepala Naya membuat Naya tak bisa berkutik selain menikmati.


Naya lagi-lagi mendorong dada Dimas, akhirnya Dimas melepaskan tangannya dari kepala Naya, "Yang, sudah sore, mandi sana, kasian dokter Aldo menunggu," ucap Naya lirih sambil mengusap bibirnya yang basah.


"Oh, bunda lebih kasian sama dia ketimbang sama aku, ok-ok,?" Dimas menjauh dari Naya dan membuka bajunya untuk mandi.


"Bukan gitu yang," Naya turun dan masuk kamar mandi tuk mengambil air wudu.


Tak selang lama Naya keluar dengan tetesan air wudu di wajahnya, Dimas yang sudah memakai handuk, berdiri depan pintu, "Jangan keluar dulu, nanti saja sama aku,?" ucap ketika melintasi Naya.


"Iya yang," sahut Naya, kemudian mengenakan Mukena, menggelar sejadah untuk dirinya dan untuk Dimas, Naya menunaikan lebih dulu sendiri, usai sholat Naya merapikan diri serta mengenakan kerudungnya kembali.


Dimas keluar dari kamar mandi, bertelanjang dada, Naya sudah menyiapkan bajunya di atas kasur, dan lantas Dimas memakainya, kemudian mengenakan sarung, tuk sholat, usai sholat Dimas malah malas-malassan untuk keluar menemui Aldo.


"Ayok dong yang, kasian dokter Aldo di luar," rajuk Naya.


Dimas berbaring di tempat tidur, "Dia pasti sholat dulu yang."


Naya terdiam tak berbicara lagi, lalu beranjak mendekati pintu, Dimas langsung bangun dari baringnya, "Mau kemana.?"


"Keluar," sahut Naya melirik Dimas dan berdiri depan pintu, Dimas turun mengenakan sarung, langsung meraih tubuh Naya lantas menggendongnya.


Aldo baru mendudukkan tubuhnya lagi di sofa semula, setelah dia dari bawah berjalan-jalan melihat suasana rumah, pandangannya tertuju kearah pintu kamar Dimas beserta istri, pintu terbuka lebar munculah Dimas menggendong Naya, ke hadapannya, membuat dia menelan Saliva nya, dan membuang pandangannya ke lain arah.


Setelah Dimas dan Naya duduk di depan Aldo, dengan senyum manisnya, "Wah-wah kalian sangat romantis,?" ucap Aldo.


"Harus bah, kita harus selalu romantis, kapan pun," Dimas menatap Naya dengan mesra begitu juga dengan Naya yang tengah menatap dirinya.


Aldo menunduk dalam, "Ya sudah kita mulai lagi terapinya."


"Aku siap dok, maaf lama menunggu kami,?" ucap Naya pada dokter Aldo.


Di bawah bi Taty kedatangan bu Hesa dan maria, "Majikanmu mana,?" bu Hesa langsung melenggang ke dalam setelah bi Taty membukakan pintu.


"Ada di atas sedang terapi Ibu," sahut bi Taty membuntuti langkah bu Hesa dan Maria.


Bu Hesa membalikkan badan, "Terapi apa,?" dengan penasaran.


"Oh, pasti Kakak ipar terapi kakinya Mak, benar kan Bi saya,?" sahut Maria sambil melirik bi Taty.


"Iya Non, terapi Ibu," bi Taty langsung ke dapur untuk melanjutkan tugasnya.


"Sedang apa Bi,?" Maria mengikuti Bibi.


"Memasak Non,?" bi Taty menunjuk pekerjaannya.


"Oh," Maria membulatkan mulutnya, "Ada cake gak Bi,?" sambung Maria celingukan ke lemari-lemari yang terletak di dapur.


Bi Taty tersenyum, "Tidak ada Non, Ibu.., sibuk menulis, tapi kalau saja Non atau Ibu besar meminta pasti Ibu bikinkan."

__ADS_1


"Em.., padahal aku suka banget sama kue buatan kakak ipar," Maria mendudukkan dirinya di kursi meja makan.


"Nanti Bibi bilang sama Ibu, kalau Non suka," bi Taty dengan fokus memasak.


Bu Hesa mondar mandir melihat keadaan rumah putranya, "Majikan Bibi ngapain aja tiap hari, pasti gak ada kerjaan kan.?"


"Em.., Ib-Ibu.., kalau pagi-pagi suka menyiapkan sarapan buat Bapak," sahut bi Taty.


"Itu aja,?" bu Hesa sinis.


Bi Taty merasa kesal dengan ucapan Ibu majikannya yang sedikit sinis dan kurang suka pada majikannya, "Ya.., tentunya melayani Bapak ketika di kamar, jangankan di kamar, di depan saya saja Bapak suka manja sama Ibu, jadi bukan tidak ada yang Ibu Naya lakukan, apalagi buat suaminya, banyak," ujar bi Tay sambil mendelik kan matanya, membuat bu Hesa mati kutu mendengar ucapan bi Taty.


Masakan sudah siap di hidangkan, bi Taty menatanya di meja, di bantu oleh Maria, sementara Bu Hesa naik ke atas.


Di atas, Dimas masih setia menemani sang istri, tak ingin sedetik pun ia meninggalkannya, apa lagi sampai Naya dengan dokter Aldo berdua, tak akan dia biarkan.


"Coba Naya berdiri, dan ayunkan kaki perlahan," ucap Aldo.


Naya berdiri di bantu Dimas, mengikuti setia arahan Aldo untuk mengayunkan kaki dan tangan, Naya melangkah ke depan dan ke belakang dengan perlahan, nampak wajah Naya mengguratkan kebahagian, ia menarik sudut bibirnya tersenyum.


Dimas yang berdiri dengan tangan memegangi bahu sang istri ikut tersenyum melihat Naya tersenyum, "Apa yang kau rasakan sayang.?"


"Rasanya lebih ringan yang," Naya tersenyum, dan mencoba berjalan tanpa pegangan, terbukti Naya bisa walau masih beberapa langkah, berdiri terdiam lalu membalikan badan kembali ke tempat semula, menggambarkan rona wajah bahagia, "Alhamdulillah, yang.., aku ada perubahan, terimakasih ya Allah.?"


Dimas merangkul tubuh sang istri sebelum membawanya duduk, "Aku ikut bahagia sayang," sambil mencium pucuk kepala Naya.


Aldo merasa senang sekaligus kikuk melihat adegan tersebut, senang karena sudah mulai ada hasil dari usahanya, kikuk jika harus melihat adegan mesra antara pasien dan suaminya.


"Haduh, selalu saja di suguhi adegan mesra seperti ini, ck..,gak tahan kalau terus-terusan seperti ini," gumam Aldo memalingkan mukanya.


Bu Hesa baru saja menapaki lantai atas dimana putra dan mantunya berada, "Kalian sedang apa di sini,? Mama lama.., di bawah kalian tidak kelihatan batang hidung pun, rupanya sedang--!"


"Eh.., Mama sudah lama,?" Naya menoleh ke arah Ibu mertuanya.


"Mak,? sama siapa kesini,? yang lain di mana,?" Dimas terkejut melihat kedatangan Mamanya.


"Sudah dari tadi, Maria di bawah sama bi Taty, eh.., kau Aldo kan,? kawan Dimas waktu itu,?" bu Hesa menunjuk Aldo, rupanya mereka sudah saling mengenal, Aldo pun tersenyum dan mengangguk hormat pada bu Hesa.


"Seperti yang kau lihat, lama ya kita tidak bertemu,? semakin ganteng aja kau Aldo,? oya kau sudah menikah kan waktu itu,? gimana kabar istrimu, dan tentunya pasti sudah punya anak ya,?" deretan pertanyaan bu Hesa pada Aldo.


Masih dengan senyumnya, Aldo menjawab, "Baik tante, sudah punya dua tante."


"Hem.., kapan-kapan bawa ke sini bah, kita bertemu di sini ya Aldo,?" ucap bu Hesa.


"Baik tante, kapan-kapan ya,?" Aldo mengambil ponselnya dan tangannya sibuk dengan ponsel pribadinya.


Sementara Dimas dan Naya saling pandang, "Rencananya kalau gak salah Mamak mau nginep," bisik Dimas di telinga Naya.


"Oh," Naya membuat bentuk Oo., di mulutnya.


"Nggak apa-apa kan sayang,?" tanya Dimas lirih.


Naya menggeleng pelan sembari mengulas senyum, "Emangnya kenapa yang,? ini kan rumahnya juga, terus apa masalahnya, hem,? balik nanya dengan tatapan sendu.


"Ya, siapa tau sayang keberatan," dengan menyunggingkan senyum.


"Nggak lah, aneh..," Naya lagi-lagi menggeleng pelan.


Aldo menyimpan ponsel ke sakunya, "Ok, saya rasa cukup dulu, lusa saya kembali datang kesini, untuk melanjutkan, sekarang saya balik dulu lah," Aldo berdiri dan meraih tas nya.


"Baik lah dok makasih ya,?" Naya menangkupkan kedua tangan depan dada, dan Dimas juga beranjak dari duduknya, akan mengantar Aldo ke depan,


"Sebaiknya kau makan dulu, sebelum pulang, pasti Bibi sudah siapkan masakan di bawah," ucap Dimas pada Aldo yang berdiri bersiap pergi.


"Iya yang, ajak makan dulu, Bibi pasti masak banyak," Naya memandangi Dimas, yang juga meliriknya.


"Terimakasih, saya pulang dulu lah," Aldo melangkah, sambil mengucap salam, bu Hesa beranjak dari duduknya mendekati Aldo dan memegangi tangan Aldo.

__ADS_1


"Tante tidak akan membiarkan kau pulang sebelum mencicipi masakan tante,? yah makan dulu ya Al,?" bu Hesa menuntun tangan Aldo menuruni anak tangga ke ruang makan, dan Aldo tidak bisa menolak permintaan bu Hesa.


Naya dan Dimas mengangkat bahu masing-masing dan saling pandang, bibir mereka saling melempar senyuman.


"Sayang mau turun sekarang,?" Dimas duduk kembali di tempat semula.


"Nggak, nanti aja nanggung mau magrib dulu lah,?" Naya melihat langkah Aldo dengan Ibu mertuanya tersebut.


"Ya sudah, nanti aja, kita ke kamar sekarang,?" Dimas beranjak memegangi kedua tangan Naya agar beranjak berdiri tanpa kesulitan, Naya pun mencobanya, dan lumayan bisa lah sedikit-sedikit, semakin ada perubahan, membuat Naya senyum merekah.


Terus Dimas menuntun Naya berjalan ke kamar, meski tak secepat yang normal tapi.., lumayan lah, tidak terlalu payah seperti sebelumnya.


Mereka sudah berada di kamar, saling berhadapan, memandangi satu sama lain, "Sayang kenapa menatapku seperti itu,?" Naya jadi malu-malu.


Tak lepas dari senyumnya, Dimas semakin intens memandangi wajah istrinya, "Sayang kok semakin cantik sih,? apa lagi setelah rajin perawatan,? makin tambah cantik deh," rayu Dimas.


"Ah gombal, iya lah aku cantik, secara aku ini wanita, kalau aku cowok pasti di bilangnya ganteng, hi. ,hi..,hi..," sahut Naya terkekeh.


"Bukan gitu sayang,?" elak Dimas sambil meremas jemari Naya.


"Sudah ah, magrib nih, kita ambil wudu dulu yuk," ajak Naya, melepas genggaman tangan Dimas, namun tak semudah itu Dimas melepaskan Naya, dia mendaratkan kecupan mesranya di bibir Naya, cup.., setelah puas bermain di sana barulah Dimas melepaskan Naya dengan senyum puas.


Naya mengusap bibirnya dengan punggung tangannya, "Uuh.., selalu aja, gak bosan apa,? sedikit menggerutu, kemudian mendekati pintu kamar mandi, Naya masuk dan di ikuti Dimas.


Beberapa menit kemudian Naya dan Dimas keluar dari kamar mandi, setelah memakai mukena dan Dimas merapikan sarungnya, mulai lah mengucap takbir, dan mereka menunaikan sholat berdua.


Tenang, damai rasanya melaksanakan sholat berdua, semoga dapat menuju Jannah nya bersama, di ampuni segala dosa, syilap dan yang di sengaja, selepas mengucap salam lanjut membaca doa, kemudian seperti biasa Naya mencium punggung tangan Dimas dan Dimas mencium kening Naya yang terhalang kain mukena, nyes.., sejuk di hati, rasanya sulit di ungkapkan dengan kata-kata.


Sementara Aldo yang di tuntun oleh bu Hesa untuk makan tidak bisa menolak, Aldo duduk di kursi, di sana sudah ada Maria yang tidak mengenal siapa pria yang Mamanya tarik ke meja makan.


"Siapa pria ini Mak,?" dengan heran.


"Oh, dia dokter Aldo, kawan Abang mu, dan dia menjadi dokter spesialis untuk Naya," jawab bu Hesa sambil mengisi piring buat Aldo yang hanya diam, Maria tidak banyak bicara lagi.


"Silahkan Al di makan, anggap saja rumah sendiri jangan sungkan-sungkan," ujar bu Hesa, bi Taty hanya senyum aja dari belakang, merasa lucu dengan bu Hesa yang begitu antusias pada Aldo.


Usai makan Aldo bergegas pulang, dengan alasan sudah magrib, meski di cegah bu Hesa Aldo kekeh pulang, berjalan menuju mobil kesayangannya.


"Ih.., Mamak kenapa genit ih sama orang itu, geli deh lihatnya,? sudah tua juga, sudah punya cucu Mak, ingat usia, ingat suami," gerutu Maria pada Ibunya.


"Kamu ini, dia itu kawan Abang kau dari dulu lama Mamak gak ketemu dia, wajar dong Mamak senang bertemu dia terakhir ketemu dia waktu dia menikah, sudah lama banget, enak aja kau bilang saya genit, emangnya saya Ibu -ibu apaan,?" ujar bu Hesa sewot.


"Nggak usah sewot dong, kalau gak ngerasa genit, mentang-mentang dia ganteng tampan rupawan, genit-genit sok tebar pesona, ingat Mak dia masih muda Mamak sudah peot, punya suami juga," Maria masih saja menggerutu.


"Kau jangan kurang ajar ya sama Mamak,? jaga mulut kau itu Maria,? ngomong seenaknya gitu, kau pikir saya siapa,? saya ini Ibumu,?" bu Hesa menggertakkan giginya sambil menunjuk kening Maria dengan telunjuknya.


Bi Taty berdiri depan pintu kamarnya, melihat mereka berdua setengah adu mulut hanya tersenyum dan menggeleng, tanpa ada niat sedikitpun melerai, biar saja, lagian kurang mengerti dengan apa yang di permasalahkan oleh mereka.


Sampai Dimas turun bersama Naya, Ibu dan adiknya masih beradu mulut tak mau ada yang mengalah, bahkan bukan cuma mulut tapi tangan juga berbicara, ada yang melempar tomat, ada juga yang melempar tepung, bawang, entah apa yang sebenarnya mereka ributkan.?


Membuat dapur menjadi berantakan, "Ada apa ini,?" Dimas menghampiri keduanya, mereka masih saja tidak mendengar pertanyaan Dimas,


Bibi mendekati Naya, "Dari tadi Bu mereka bertengkar, entah apa yang jadi masalah yang sebenarnya,? Bibi pun tidak mengerti."


"Em.., aku kira Bibi tau,?" Naya melirik Bibi.


"Tidak Bu," menggeleng.


Karena mereka tak mendengar perkataan Dimas, brong breng brang, Dimas membenturkan panci dengan yang lainnya, baru keduanya terdiam, bu Hesa maupun Maria wajahnya penuh dengan tepung, memandangi Dimas.


Naya mengulum senyumnya, sedangkan bi Taty terkekeh melihat wajah keduanya berantakan tertutup sama tepung.


"Apa sih yang kalian ributkan bah,? kalian bukan anak kecil sampai membuat dapur berantakan begini,?" lirih Dimas menatap keduanya.


"Abang, ini Mamak genit-genit sama pria tadi," sahut Maria menunjuk sang Ibu.


"Siapa yang genit Dim,? emang salah ya kalau kita ramah sama tamu,? bukankah tamu adalah raja yang harus di utamakan,?" elak bu Hesa membela diri.

__ADS_1


,,,,


Aku up lagi nih, semoga kalian suka dan setia menunggu up, terimakasih ya reader ku yang baik hati, terus dukung aku ya,? dengan cara lake, komen, rating dan vote nya🙏


__ADS_2