Bukan Mauku

Bukan Mauku
Hti-hati yang


__ADS_3

Naya tak menyangka akan mengalami di tempat yang tidak biasanya, namun tetap menikmatinya, ada sensasi yang luar biasa di rasakan nya, sensasi yang membawa mereka melayang terbang jauh, mengitari langit ke tujuh, keduanya sangat menikmati aktifitas yang halal bagi mereka, seakan dunia hanya milik mereka berdua, dan yang lain pada ngontrak kali ya, hehehe.


Di makan, Dimas dan Naya sedang makan malam, bersama beberapa warga yang datang berkunjung, katanya perkenalan akan tetangga baru, mereka makan sambil berbincang, "Kebetulan saya di sini sekitar dua tiga hari lagi, dan kami akan segera pindah dari sini," ucap Dimas.


Naya menoleh, "Apa bener,?" dengan tatapan yang penuh rasa penasaran.


"Beneran yang, masa kerjaku di sini dua hari lagi," sahut Dimas melirik istrinya.


"Oh, alhamdulillah..," batin Naya.


"Oh iya kah, berarti kami berkunjung ke sini untuk pertama dan juga terakhir dong," ujar salah satu tetangga.


"Iya benar sekali," Dimas mengulas senyum ramahnya pada semua.


"Sayang sekali ya, pak dokter di sini cuma sebentar saja," sambung yang lainnya.


Beberapa waktu kemudian mereka semua pulang, tinggallah orang rumah, Pak mad beres meja makan dan memungut piring kotor, di bantu oleh Naya juga Dimas.


Selesai bersih-bersih pak Mad pamitan untuk pulang, usai mengunci pintu, Dimas dan Naya duduk santai di sofa dalam kamar.


"Emang bener yang kita akan pulang besok lusa,?" tanya Naya pada Dimas yang duduk di sebelahnya.


"Iya sayang, kita akan segera pulang,"


"Alhamdulillah, akhirnya kita pulang juga," ucap Naya.


"Iya dong sayang," Dimas mengacak rambut istrinya dengan tatapan penuh kasih sayang.


"Aku kangen keluarga ku, apa kabar mereka sekarang ya,? aku mau telpon mereka mama Anisa ya," Naya menatap Dimas.


"Boleh, telpon saja, aku juga ingin mengobrol dengan mereka," ucap Dimas.


Naya vic cal Lely, kebetulan di angkat dengan cepat dan mereka sedang berkumpul, akhirnya mereka ngobrol banyak, temu kangen dari kejauhan, namun soal kehamilan Naya sama sekali tidak di bahas, belum di kasih tau, lama.., mereka ngobrol sampai akhirnya Naya pamit, telpon pun terputus.


"Ya udah bobo yuk dah malam nih,?" ajak Dimas.

__ADS_1


"Hem..," Naya pun mengiyakan, ajakan suaminya untuk tidur, Dimas turun menggantikan lampu menjadi temaram.


Siang berganti malam, nyanyian suara binatang malam pun bermunculan, Naya tertidur dalam pelukan suami, tak ada tempat ternyaman selain dada suami atau pelukan suami.


Pukul empat Naya sudah bangun dan bersih-bersih diri, lalu membangunkan suaminya untuk sholat bareng, Dimas melek menggosok mata yang masih terasa ngantuk, tampak istrinya sudah bersiap untuk sholat, kemudian bangkit, "Bentar sayang, maklumlah, pria itu..kalau tidur sendiri tapi..,ketika bangun berdua," membuat Naya keheranan mendengarnya.


"Maksudnya apa,? gak ngerti," Naya menggeleng sok polos gitu.


"Hem.., gak ngerti apa gak ngerti,?" dengan gaya orang ngantuk berat.


"Iya..,cepetan ah bangun, aku tunggu,"


Dimas turun dari tempat tidur berjalan menuju kamar mandi, Naya menyiapkan pakaian kerja buat Dimas, lalu membuka gorden jendela, Naya duduk di atas sejadah, berzikir sambil menunggu suaminya bersih-bersih.


Dimas nongol dari balik pintu dengan mengenakan handuk di pinggang, "Gak keramas yang,?" Tanya Naya menoleh Dimas.


"Nggak ah, malas lagian kita gak macam-macam kan semalam, perasaan Ayah tidak ngapa-ngapain Bunda, selain tidur," goda Dimas sembari mengenakan pakaian yang sudah tersedia di atas tempat tidur.


Naya terus saja berzikir tak melayani pembicaraan suaminya, hingga Dimas berdiri di depannya dan membaca takbir.


"Jangan, kan ada pak Mad, Bunda duduk aja sama ayah di sini," Dimas meraih tubuh Naya agar duduk di pangkuannya.


"Ta-tapi.., pak Mad belum datang kayanya, pintu kan belum Ayah bukain," Naya lirih.


"Sayang pak Mad itu punya kunci rumah ini sendiri, jadi kapan aja dia mau masuk, bebas, kecuali kunci pintu kamar ini, cuma aku yang pegang," Dimas menempelkan hidung di pipi Naya.


"Oh, kok aku lupa sih dia pegang kunci sendiri," ucap Naya, melingkarkan lengan di leher Dimas dikarenakan takut jatuh duduk di atas pahanya, walau tangan Dimas merangkul kuat pinggang Naya.


"Dada sayang sudah mulai mengembang, karena faktor kehamilan, aku semakin suka memainkannya," bisik Dimas.


"Tapi.., sakit loh, rasanya sakit, dan mudah..,-!


"Mudah apa,?" Dimas penasaran.


"Nggak apa-apa kok," Naya menyembunyikan wajahnya di pundak Dimas.

__ADS_1


"Hem.., mudah apa jawab dulu sayang mudah apa,?" Dimas mengelus punggung Naya.


"I-iya mudah sakit maksud aku," elak Naya.


"Bukan, aku yakin bukan itu maksudnya, tapi ya sudah lah," Dimas terus memeluk tubuh sang istri, sesekali mencium pipi, kening, bibir dan d*** Naya dengan lembut, karena itu salah satu permintaan dari Naya setiap pagi, setelah ketahuan Hamil Naya lebih bersikap ingin di manja sama suaminya, bahkan setiap pagi ingin di manjakan di daerah-daerah tertentu, yang di antaranya d*** yang ingin di elus-elus suaminya, aneh memang ngidamnya Naya, orang ingin di elus itu bagian perut namun lain lagi bagi Naya.


Tak ada yang membuka suara selain hembusan napas yang teratur dari keduanya, hingga Dimas mengakhiri semuanya dengan kecupan hangat di kening, ada rasa kecewa dari wajah Naya, "Kenap sayang,? lain kali kita bisa lanjutkan lagi, apa aku hari ini tidak usah bekerja, agar terus menemani Bunda hem..,?" lirih Dimas, memandangi istrinya, Naya menggeleng.


"Nggak, sayang kerja aja, aku gak apa-apa kok, udah kita keluar, pasti pk Mad sudah buatkan kita sarapan bukan,?" Naya berdiri dari pangkuan Dimas, tangan Dimas pun menggenggam erat tangan Naya.


"Tunggu sayang,?" Dimas menghentikan Naya yang melangkah, lalu Dimas mengancing kan pakaian istrinya, "Gimana kalau ada yang melihat,kan malu, lagian gak boleh ada yang melihat kecuali aku," membuat Naya tersenyum, kemudian keduanya ke dapur, yang benar saja sarapan sudah tersedia di meja, namun pak Mad tidak ada di tempat, mungkin sedang bersih-bersih di tempat lain.


Naya langsung mengambil sarapan dan segera melahapnya duluan, setelah itu barulah menyuapi Dimas sampai kenyang, di sela makannya, Naya membuatkan susu coklat sebentar buat Dimas, mungkin pak Mad lupa untuk menyiapkannya.


Kini sudah waktunya Dimas berangkat kerja, Dimas mencium kening sang istri dan Naya mencium punggung tangan Dimas, "Hati-hati yang," pesan Naya.


"Ok, jaga diri baik-baik di rumah," Dimas berjalan mengambil tas kerjanya yang masih di kamar, tak lama Dimas kembali membawa tas kerjanya.


"Assalamu'alaikum, yang aku berangkat dulu ya," mengusap kepala Naya.


"Wa'alaikum salam iya, jangan ngebut-ngebut," pinta Naya.


Dimas keluar berjalan mendekati motornya, memanaskan mesin sebentar, lalu mengenakan helm dan melaju menyusuri jalan raya, untuk ke rumah sakit tempatnya bekerja.


Tengah asik melaju tiba-tiba dari kejauhan terlihat kerumunan, rupanya ada kecelakaan tunggal, dan korbannya masih tergeletak, belum di evakuasi, Dimas langsung menanyakan apa ada yang sudah memanggil ambulance, mereka bilang tidak tau, Dimas langsung menelpon pihak RS karena tidak mungkin di bawa pake motor.


Tidak lama ambulance datang dan membawa korban tersebut, Dimas mengekor dari belakang, sesampainya di rumah sakit Dimas langsung menangani korban yang barusan kecelakaan karena mengalami luka robek di beberapa bagian.


,,,,


Terimakasih reader ku, masih mengikuti cerita ini, dan semoga kabar kalian selalu berada dalam lindungan Allah yang maha kuasa, Aamiin.., ok, jangan lupa selalu lake, komen, rating dan vote nya dong๐Ÿ™๐Ÿ™


Nb..


Para reader yang aku hormati dan aku sayangi, kalau ada tulisan aku yang salah itu di komen dong,,๐Ÿ™ biar aku betulkan atau revisi ulang, agar membangun aku lebih baik lagi๐Ÿ™ dan tidak lupa aku ucapkan selamat menunaikan ibadah puasa, bagi yang menjalankannya.

__ADS_1


__ADS_2