
"Aku juga tidak percaya ini Sin. Aku jadi semakin penasaran siapa gerangan orangnya yang sudah memberikan uang itu pada Mayu? Selama ini tidak ada yang mencurigakan dari gerak geriknya, dan dia juga tidak pernah bertemu dengan lain, selain Alga, teman-temannya di kampus juga para pembelinya. Aktivitas sehari-harinya juga hanya jualan dan ke kampus saja. Kalau pun berpergian, paling perginya sama Alga saja." ujar Dira.
"Kalau menurutku Mbak, kemungkinan besar Mayu bertemu dengan orang itu di kampusnya atau kalau enggak dia pura-pura jadi pembeli Mayu." ucap Sindi.
"Benar juga, orang suruhan Mbak enggak mungkin mengikuti Mayu sampai ke dalam kelasnya, begitu juga dengan para pembelinya, orang suruhan Mbak hanya bisa memperhatikannya dari kejauhan dan tidak tahu apa saja yang Mayu lakukan dengan pembelinya. Aku benar-benar tidak menyangka, gadis yang aku pikir lugu itu ternyata lebih lebih licik dari kita. Ini benar-benar tidak bisa dibiarkan ini. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kalau dia jadi istri Alga, bisa-bisa semua harta Alga dialihkan atas namanya. Mana Alga nurut banget lagi sama itu perempuan. Ahh ... aku bisa stress memikirkan gadis tidak tahu diri itu!" seru Dira menggebu.
"Jangan sampai Mbak. Pokoknya Alga enggak boleh sampai menikah dengan perempuan licik itu. Kita harus melakukan sesuatu untuk memisahkan mereka Mbak."
"Aku juga selalu memikirkannya Sin, tapi kamu bisa lihat sendiri, semua cara yang Mbak lakukan selalu gagal. Alga bahkan tidak perduli walau fasilitasnya diambil. Bahkan gara-gara itu, dia semakin banyak waktu dengan Mayu. Begitu juga saat kita mencoba membuat mereka salah paham, Alga dengan mudah mengetahuinya. Dan kita enggak mungkin melakukan, apa yang kamu lakukan pada David dulu. Mbak tidak ingin mengorbankan Naura sekali pun Naura mungkin mau melakukannya. Mereka masih terlalu muda dan Alga juga baru mau 21 tahun. Bisa-bisa mas Pratama marah besar kalau sampai itu terjadi, karena Alga satu-satunya harapan yang bisa menggantikan posisi David, dan Alga masih harus belajar banyak tentang perusahaan. Dia juga harus fokus." jelas Dira.
Sindi menghembuskan nafas kasar.
"Mbak benar, kita enggak mungkin menjebak Alga. Ditambah lagi antara David dan Alga itu jelas berbeda Mbak. David itu takut hidup miskin, sedangkan Alga, dia sama sekali tidak takut hidup miskin. Aku bahkan masih tidak menyangka dia bersedia menemani gadis gembel itu jualan kolor dan bh pinggir jalan. Entah apa yang dipikirkannya sampai-sampai dia mau melakukan semua itu. Dia juga tidak ada rasa malu dan gengsi. Di benar-benar sudah ketularan gadis tidak tahu diri itu." ujar Sindi.
"Itu dia Sindi. Aku sendiri sangat malu melihatnya. Untung tidak ada kerabat atau rekan bisnis kita yang melihat, kalau sampai ada yang melihat, aku tidak tahu lagi mukaku ini mau diletakkan dimana." ujar Dira kemudian menghembuskan nafas panjang.
Sindi juga ikut menghela nafas dan tampak berpikir.
"Ah iya Mbak, kalau misalkan kita datangi gadis itu dan kita ancam dia supaya mau meninggalkan Alga gimana Mbak?" saran Sindi tiba-tiba.
Dira menggelengkan cepat kepalanya.
"Itu terlalu beresiko Sindi. Kamu tahu kan kalau Mayu itu bukan gadis lugu, dia itu licik dan pemberani. Mbak takut dia akan melapor pada Alga. Jika Alga tahu Mbak mengancam kekasihnya, bisa-bisa dia semakin marah pada Mbak dan nekad menikahi gadis gembel itu. Apalagi sekarang si Mayu itu sudah punya uang milyaran. Sekali pun mereka menikah hidup mereka tidak akan lagi kekurangan." jelas Dira.
"Benar juga. Makin ke sini kita semakin sulit saja mengalahkan gadis gembel itu. Padahal dia hanya gadis kampungan, tapi bisa-bisanya kita yang dibuat mati langkah sama dia, tapi aku pribadi tidak akan menyerah Mbak. Aku pasti akan berjuang sampai akhir demi menyelamatkan Alga dari gadis tidak tahu diri itu, karena bagiku dia benar-benar tidak pantas masuk keluarga Pratama." ujar Sindi mantap.
"Tentu saja aku juga akan berjuang sampai akhir Sin, karena aku juga jelas tidak sudi mendapatkan menantu seperti dia. Tidak ada yang bisa dibanggakan dari dia, bisanya hanya buat malu saja." ujar Dira tidak kalah mantapnya.
"Tujuan kita sama Mbak dan aku yakin suatu saat nanti kita pasti akan berhasil. Ah iya Mbak, aku ada ide, kita kan tak mungkin mengusik kehidupan Mayu, bagaimana kalau kita berjuang keras mencari seseorang yang sudah membantunya selama ini? Aku sangat yakin Mbak, titik lemah Mayu ada pada orang yang sudah membantunya." saran Sindi.
"Mbak setuju dengan kamu Sin. Mbak akan tambah orang untuk mengikuti Mayu. Bila perlu kita bayar teman-teman Mayu supaya mau mengaku. Mbak yakin banget, salah satu teman Mayu pasti tahu siapa orang yang sudah membantu Mayu. Kita akan bayar mahal mereka. Hari gini ya kan, siapa juga yang mau menolak uang." ujar Dira dengan wajah sombongnya.
"Benar sekali Mbak. Apa lagi orang miskin seperti mereka, diberi uang 100 juta saja, pasti akan langsung buka mulut. Satu lagi Mbak, karyawan Mayu juga jangan sampai kelewatan. Aku rasa dia bisa kita jadikan CCTV untuk mengorek informasi tentang Mayu."
__ADS_1
"Ide bagus." ujar Dira mengacungkan jempolnya.
'Tunggu saja Mayu, sebentar lagi rahasia kamu pasti akan terbongkar. Siap-siap saja kamu, kali ini kamu pasti akan kalah dan menyerah pada Alga.' batin Dira.
Sementara itu Mayu yang mereka bicarakan sedang asik ngumpul bersama Nenek Iroh, Alga dan Rangga di rumah baru Mayu. Mereka ber 4 sengaja merayakan syukuran kecil-kecilan atas rumah baru Mayu. Perayaan besarnya nanti saja jika rumahnya sudah selesai di renovasi.
Mayu sengaja mengudang Alga dan Rangga karena mereka berdualah yang paling banyak membantu Mayu, dan baru mereka juga yang tahu soal rumah baru itu selain David, Dira dan Sindi.
Mayu tampak sibuk menata makanan dan minuman dan meletakkannya di atas tikar yang sudah mereka siapkan. Begitu juga dengan Alga dan Rangga. Mereka juga ikut membantu memotong buah. Sedangkan nenek Iroh, dia hanya duduk dan menonton saja. Baik Mayu atau Alga dan Rangga tidak mengizinkannya bekerja.
"Selesai deh," ujar Mayu senang begitu melihat tikarnya sudah penuh dengan makanan. Ada nasi tumpeng, ayam goreng, kue basah, potongan buah dan minuman. Walau hanya mereka berempat tapi Mayu sengaja beli makanan cukup banyak.
"Kamu enggak mau foto dulu Ay, buat kenang-kenangan?" ujar Alga mengingatkan. Alga tahu kalau kekasihnya suka mengabadikan momen penting dalam hidupnya, dan menurut Alga, ini adalah salah satu momen penting dalam hidup Mayu.
"Benar juga. Fotokan Mayu dan Nenek dong Kak, tapi pakai handphone Kak Alga saja ya!" pinta Mayu dan ada senyum di wajahnya.
Alga juga ikut tersenyum.
"Terima kasih Kak," ujar Mayu kemudian foto berbagai gaya dengan neneknya, terkadang Alga juga ikutan, dan yang terakhir Rangga juga tidak ketinggalan. Tampak senyum bahagia di wajah mereka semua.
"Sekarang kamu bisa potong tumpengnya May, biar aku foto!" suruh Rangga.
"Ok Kak. Nyanyi dulu dong biar seru!" pinta Mayu.
"Salah Nak, harusnya doa dulu dong. Kita jangan lupa mengucapkan rasa syukur kita pada sang pencipta kita! Atas semua berkat yang sudah dia berikan." ujar nenek Iroh mengingatkan.
"Ah Iya lupa Mayu. Terima kasih Nenek sudah mengingatkan Mayu. Baiklah kita berdoa terlebih dulu, kak Alga yang pimpin ya Kak!" ujar Mayu.
"Siap Ay," ujar Alga mengacungkan jempolnya.
Mayu mengangguk dan mereka berempat kemudian doa bersama.
"Amin." ujar Alga setelah selesai mengucapkan doanya.
__ADS_1
Mereka berempat kembali saling tersenyum.
"Berarti sekarang sudah boleh potong tumpeng?" tanya Mayu.
"Iya sudah." jawab nenek Iroh.
"Kak Alga, nyanyi dong!" pinta Mayu.
Alga kembali mengacungkan jempolnya.
"Potong tumpengnya potong tumpengnya ...." Alga bernyanyi dengan semangat.
Mayu memotong tumpengnya dengan wajah bahagia kemudian memberikan memberi suapan pertama pada nenek Iroh. Nenek Iroh juga balas menyuapi Mayu. Selanjutnya Mayu juga menyuapi Alga dan Rangga. Dan Rangga mengabadikan semua itu dalam foto tentunya.
"Selamat untuk rumah barunya ya Ay. Semoga rumah baru kamu membawa berkah bagi siapa saja yang tinggal di dalamnya. Kamu dan nenek juga selalu diberi kesehatan dan kebahagiaan tentunya. Aku ikut bahagia untuk kamu dan nenek Ay. Sekali lagi selamat untuk kalian berdua." ujar Alga tulus.
"Terima kasih banyak Kak Alga." ujar Mayu tersenyum haru, begitu juga dengan nenek Iroh senyum bahagia tidak pernah hilang dari wajahnya. Dia sangat senang sekaligus merasa terharu dengan rumah baru Mayu.
"Sama-sama Sayang." ujar Alga manis.
"Cie sayang ehem ehem ...." goda Rangga membuat senyum Alga dan Mayu semakin lebar.
"Udah ah bercandanya, sekarang sebaiknya kita makan!" ujar Nenek Iroh.
"Ok Nenek," kompak Mayu dan yang lainnya.
Mereka berempat makan dengan wajah bahagianya, dan sesekali Alga juga menyuapi Mayu dan nenek Iroh. Rangga juga tidak mau ketinggalan, hanya saja Rangga kebagian menyuapi nenek Iroh dan Alga saja, karena Alga sudah pasti tidak mengizinkan Rangga menyuapi kekasihnya.
"Dasar posesif!" seri Rangga.
"Tidak apa-apa namanya juga cinta mati, iya enggak Ay?" ujar Alga tanpa ada rasa gengsi membuat senyum Mayu semakin lebar.
Kebahagiaan Mayu benar-benar sempurna hari ini dan Mayu berharap kebahagiaan ini akan selalu ada padanya.
__ADS_1