Kekasih Bayaran Tuan Muda

Kekasih Bayaran Tuan Muda
Alga Bukan Pencuri


__ADS_3

"Mi jangan bicara sembarangan, Alga tidak mungkin melakukan hal serendah itu! Lagian untuk apa juga Alga melakukannya? Pikiran Mami sepertinya sudah tidak waras." seru Alga.


Alga benar-benar tidak suka dengan tuduhan maminya yang tidak berdasar sama sekali. Bisa-bisanya dia menuduh anaknya seorang pencuri. Sungguh itu adalah tuduhan yang sangat kejam bagi seorang anak. Untung Alga sudah tahu karakter maminya dan bisa berpikir dewasa, kalau tidak Alga bisa bisa sakit hati dan benci pada maminya.


"Mami tidak bicara sembarangan. Mami menuduh kamu karena Mami sudah menemukan banyak bukti. Jadi lebih baik kamu mengaku saja, sebelum benar-benar marah sama kamu. Kamu tahu kan kalau Mami sangat benci sama yang namanya pencuri dan tidak ada ampun bagi seorang pencuri." balas Dira tidak mau kalah.


Alga menghembuskan kasar nafasnya. Bagaimana mungkin dia mengakui sesuatu yang tidak dilakukannya? Jangan salahkan Alga jika Alga marah pada maminya setelah ini. Alga juga punya perasaan, dia bisa marah juga kecewa.


"Bukti apa yang Mami maksud, tunjukkan pada Alga! Jangan sampai Mami memberikan bukti palsu! Jika Mami melakukannya, Alga akan benar-benar keluar dari rumah ini. Alga capek tahu Mi, difitnah Mami terus." ujar Alga kesabarannya mulai habis.


"Ok, Mami akan memberikan buktinya, dan kamu tidak akan bisa menyangkal lagi setelah ini. Lihat saja!" ujar Dira tidak gentar sedikit pun karena dia merasa dia di posisi yang benar.


Dira kemuduan mengambil ponselnya dan menujukkan rekaman CCTVnya pada Alga.


Alis Alga terangkat melihat rekaman CCTVnya yang memperlihatkan Alga masuk kamar orang tuanya dan tidak lama setelah itu dia keluar.


Tidak ada yang yang mencurigakan sedikit pun dari rekaman CCTV itu, dan apa yang Alga lakukan hanya hal biasa saja. Alga sangat tahu, yang bisa masuk kamar orang tuanya memang tidak bisa sembarangan. Selain kedua orang tuanya, Alga dan Vivi juga satu orang pembantu yang bertanggung jawab penuh untuk kebersihan kamar itu. Selebihnya tak boleh seorang pun menginjakkan kaki di sana karena di sana banyak barang berharga termasuk surat-surat penting dan yang lainnya.


"Sudah jelas bukan kalau kamu masuk kamar Mami dan papi? Dan kamu perhatikan baik-baik apa yang kamu pegang itu! Itu adalah jam tangan papi kamu Alga. Kamu sudah mencuri jam tangan papi kamu juga perhiasan Mami. Sekarang kamu tidak bisa mengalak lagi, buktinya sudah sangat kuat!" seru Dira.


"Argh ...."

__ADS_1


Alga sekuat mungkin menahan amarahnya agar tidak meledak. Alga juga menggaruk kasar kepalanya. Bisa-bisanya hanya karena Alga memegang jam tangan papinya dan dia dituduh pencuri. Alga sampai kehabisan kata menghadapi maminya.


"Kenapa kamu menatap marah pada Mami? Di sini, Mami yang harusnya marah pada kamu. Mami juga sangat kecewa pada kamu. Bisa-bisanya kamu menjual barang-barang Mami dan papi, demi memperkaya gadis tidak tahu diri itu. Kamu pasti tidak mengira bukan kalau Mami sudah tahu, kamu diam-diam menjual barang kami, dan hasil penjualannya kamu simpan dalam buku tabungan gadis gembel itu. Mami sangat tahu Alga kalau jumblah tabungan si Mayu saat ini lebih dari 1 milyar, dan itu semua itu sudah pasti dari kamu. Siapa lagi yang bisa memberikannya uang sebanyak itu juka bukan kamu." seru Dira lagi.


Alga yang sempat mentap marah pada maminya. Memejamkan sejenak matanya dan berusaha menguasai dirinya. Alga mulai mengerti kenapa maminya menuduhnya pencuri, karena secara logika, Mayu tidak mungkin punya tabungan sebanyak itu dan kalau pun dia sampai punya tabungan sebanyak itu, sudah pasti semua orang akan berpikir Alga yang memberikannya jika mereka tidak tahu cerita yang sebenarnya.


Rangga saja, sempat syok saat Alga cerita padanya dan tidak menduga sama sekali kalau Mayu memiliki papa konglomerat.


Alga kembali membuka matanya dan menatap maminya. Lagi-lagi Alga menghembuskan nafas kasar.


Harusnya Alga sadar dari awal kalau Maminya tidak akan mau berhenti begitu saja selama dia masih pacaran dengan Mayu. Dia pasti akan menyelidiki lebih dalam soal Mayu. Hanya saja yang membuat Alga salut di sini, cara mainnya daddy Mayu sangatlah rapi. Dia benar-benar pintar menyembunyikan identitasnya dan bisa terhindar dari maminya. Padahal Dira sangat ahli soal menyelidiki orang. Dan Alga tidak boleh menyinggung soal papa kandung Mayu. Bisa gawat kalau Dira tahu, Mayu masih memiliki papa kandung. Dia pasti tidak akan tinggal diam, dia akan mengerahkan semua kemampuannya untuk mencari tahu soal ayah kandung Mayu. Alga tentu tidak ingin kalau maminya sampai mengancam ayah kandung Mayu.


Dira menatap Alga dan mulai berpikir. Ada benarnya memang apa yang dikatakan Alga, dan itu bukan pertama kali Alga mengambil jam tangan papinya. Bahkan Dira juga pernah melakukannya.


"Kenapa Mami diam, apa Mami sudah sadar kalau bukti yang Mami tunjukkan itu tidak berdasar sama sekali? Dan yang kedua tidak semua orang bisa berpikir licik seperti Mami terutama Mayu. Mayu jelas-jelas tidak akan mau menerima uang pemberianku, apalagi jumblahnya sampai milyaran. Terlebih lagi kalau uang itu uang curian. Sudah pasti Mayu akan menolak keras Mi. Jadi Mami, salah besar kalau berpikir Mayu mendapatkan uang itu dari Alga. Itu benar-benar pemikiran bodoh, dan Alga tidak menyangka mami bisa jadi bodoh karena Mayu." ujar Alga tanpa menyaring kata-katanya.


Alga sadar dia tak sepantasnya berkata seperti itu pada maminya, tapi karena tuduhan maminya juga sudah kelewat batas, lebih baik Alga ucapkan saja semuanya biar maminya sadar.


Dira kembali menatap Alga dan tatapannya terlihat kesal. Dira tidak suka Alga mengatainya bodoh. Itu benar-benar tidak sopan.


"Kamu berani mengatai Mami bodoh? Hebat kamu ya! Apa kamu lupa siapa yang sudah melahirkan kamu dan yang membesarkan kamu. Ingat Alga kalau bukan karena Mami kamu tidak akan ada di dunia ini dan bisa tumbuh dengan baik." ujar Dira balas marah.

__ADS_1


Alga kembali menggaruk kepalanya yang tidak gatal, mulai lagi ini maminya menyinggung kata itu, kata-kata pamungkus yang membuat Alga tidak lagi berkutik, dan Alga tidak mungkin meneruskannya lagi. Alga tidak mau kata-kata yang keluar dari bibirnya semakin tidak terkontrol lagi. Bisa-bisa perang mulut ini tidak akan berhenti sampai besok.


"Udahlah Mi terserah Mami saja mau bilang apa. Alga capek Mi, Alga mau istirahat." ujar Alga memilih menyerah dan kembali melangkahkan kakinya.


"Tunggu Alga, Mami belum selesai bicara! Makin tidak sopan saja ya kamu, berani-berani pergi saat Mami belum selesai bicara!" seru Dira dan menahan cepat tangan Alga.


"Bicara apa lagi, Mi? Bukankah semuanya sudah jelas kalau bukan Alga yang mencuri barang Mami dan uang Mayu itu juga jelas-jelas bukan dari Alga. Lalu apa lagi yang ingin Mami bicarakan?" ujar Alga dan terpaksa menghentikan langkahnya.


"Tentu saja soal uang Mayu. Dari mana dia bisa mendapatkan uang sebanyak itu? Jika bukan dari kamu, sudah pasti dari orang-orang sekitar kamu, iya kan? Siapa lagi?" ujar Dira yang tidak akan berhenti begitu saja.


Alga lagi-lagi menghembuskan nafasnya kasar.


"Ya ampun Mi, kenapa Mami jadi sekepo ini soal uang Mayu. Apa Mami sirik sama Mayu? Aku saja tidak sekepo itu loh Mi soal uang Mayu, yang penting uang itu Mayu dapatkan dengan cara yang halal, itu saja sudah cukup. Alga semakin tidak habis pikir saja dengan jalan pikiran Mami. Harusnya Mami senang, calon menantunya punya uang yang banyak, ini malah kepanasan. Udah deh Mi, bisa-bisa Alga stress duluan gara-gara mami." ujar Alga mau angkat tangan saja menghadapi maminya.


"Sirik kamu bilang? Untuk apa Mami sirik sama perempuan gembel itu? Harta Mami bahkan ada triliunan. Kami itu kalau bicara dipikir dulu, jangan asal nyerocos saja!" balas Dira.


Lagi lagi-lagi menghembuskan nafas kasar dan menggelengkan kepalanya. Jika yang berdiri di depannya ini bukan ibu yang sudah melahirkannya, sudah pasti Alga tinggalkan dari tadi.


"Baik Mi, sekali lagi Alga jelaskan biar Mami puas, ok! Uang itu Mayu dapatkan dari seseorang yang tulus sayang sama Mayu. Entah itu jenis kelaminya perempuan atau laki-laki Mami tidak perlu tahu, karena orang itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan Mami atau Alga, sudah jelas? Jadi Alga minta pada Mami, enggak usahlah mengurusi uang Mayu, malu tahu Mi. Untung Mayu, tidak mendengar. Jika sampai Mayu mendengarnya bisa-bisa Mayu menertawakan Mami sekeras mungkin. Lagian bukannya bagus Mayu punya uang banyak? Itu berati dia mau pacaran dengan Alga bukan karena harta tapi karena cinta. Satu lagi, Alga bahkan semakin kagum padanya, meski dia sudah punya uang milyaran, dia tidak foya-foya, dia tetap bekerja keras seperti biasanya. Padahal kebanyakan perempuan di luar sana, pasti akan pergi shoping sepuasnya atau jalan-jalan sepuasnya, jika punya uang sebanyak itu. Jadi tidak salah bukan kalau Alga juga semakin jatuh hati padanya, karena Mayuku itu sangatlah berbeda. Udah jelas kan semuanya Mi? Alga mau ke kamar." jelas Alga kemudian pergi meninggalkan maminya tanpa menoleh lagi pada Dira.


Kali ini Dira tidak berusaha menahannya lagi, dan itu bukan karena dia setuju pada Alga tapi karena dia penasaran dengan seseorang itu. Siapa gerangan seseorang itu? Apa dia saudara Mayu? Jika hanya kenalan Mayu, Dira rasa dia tidak akan mungkin memberikan uang sebanyak itu. Ditambah lagi cara memberikannya juga bukan sistim transfer atau cek atas namanya. Jelas-jelas orang yang memberikan uang itu, sudah pasti tidak ingin diketahui identitasnya.

__ADS_1


__ADS_2