Kekasih Bayaran Tuan Muda

Kekasih Bayaran Tuan Muda
Dira Lemas


__ADS_3

"Kami pulang dulu May, sekali lagi selamat ya untuk lo dan sukses terus untuk Maga Wear." ujar Noni sambil menjabat erat tangan Mayu.


"Iya Noni, terima kasih ya sudah membantu gue, dan ini ya buat beli tambahan makanan lain. Jangan lihat besar kecilnya tapi lihatlah ketulusan gue." ujar Mayu sambil memberikan uang 100 ribu.


"Loh, gue juga kebagian May? Padahal makanan yang lo siapkan juga sudah lebih dari cukup loh May, dan gue juga senang bisa membantu lo. Enggak usahlah May, uangnya buat karyawan lo saja!" ujar Noni.


"Mereka sudah dapat tambahan bonus masing-masing Noni, dan soal uang ini gue memang sengaja menyiapkan untuk kalian, dan sudah gue niatkan dari jauh-jauh hari. Gue ingin berbagi pada orang-orang terdekat gue dulu sebelum berbagi pada orang lain. Jadi lo terima ya, gue sedih loh kalau lo enggak mau menerimanya." ujar Mayu lagi.


"Bisa saja lo, ya sudah gue terima ya dan gue doakan semoga rejeki lo lebih banyak lagi. Jangan sungkan-sungkan juga minta bantuan gue, kalau kalian butuh tenaga tambahan, gue sangat bersedia membantu kalian." ujar Noni menerima uangnya.


"Beres kalau soal itu." ujar Mayu sambil mengacungkan jempolnya.


Tidak hanya Noni, Riana, Lely dan sumua yang sudah membantu Mayu hari ini dia berikan uang. Bahkan untuk tim Jerry juga kebagian.


Begitu juga dengan karyawannya semuanya dia berikan bonus tambahan termasuk Irma walau dia jaga di toko yang berbeda.


"Dan ini buat Kak Rangga, Kak Yudha, Irpan, Lora dan Shinta." ujar Mayu sambil memberikan masing-masing 500 ribu untuk mereka.


"Loh May, kenapa ini banyak sekali, bukannya kata kamu uangnya mau dipakai buat berbagi." ujar Yudha.


"Uang berbaginya masih cukup banyak kok Kak, dan Mayu rasa kita bisa berbagi di beberapa tempat walau jumblahnya tidak terlalu banyak, iya kan Lor?" ujar Mayu beralih pada Lora.


Sekali pun Mayu yang jadi bos, tapi kalau soal uang dia pasti akan membicarakannya dengan Lora, karena Lora lah yang bertanggung jawab soal keuangan.


"Iya Kak, sisa keuntungan kita masih lumayan banyak. Ditambah lagi ada tambahan juga dari Naura yang jumblahnya tidak sedikit. Lumayan lah itu bisa kita berikan untuk 2 tempat." jawab Lora.


"Baguslah kalau begitu. Berarti ini uangnya sudah bisa masuk kantong kan ya? Lumayan buat meneraktir ayang." ujar Yudha lagi.


"Eh Kak Yudha, katanya kemarin buat emaknya ya, kenapa jadi buat ayang? Lagian ayangnya juga dapat tuh!" protes Mayu cepat membuat Yudha tersenyum lebar.


"Saya hanya bercanda Mayu. Lagian saya juga sudah janji sama emak mau mengajak dia belanja, dan saya tidak mungkin ingkar janji padanya."


"Mantap, itu baru benar." ujar Mayu sambil mengacungkan jempolnya.


"Eh tunggu, nenek Iroh kok enggak kebagian?" ujar Rangga begitu sadar nenek Iroh diam saja dari tadi.


"Kebagian dong Kak Rangga. Mayu juga sudah menyiapkan bagian yang spesial untuk nenek Iroh tersayang." ujar Mayu kemudian mengeluarkan uang satu juta dari dalam tasnya.


"Nah itu baru benar." ujar ujar Rangga mengacungkan jempolnya.


"Tentu saja, eh sebelumnya kenapa jatah nenek Iroh lebih besar dari yang lainnya, ini bukan karena Mayu korupsi ya, tapi ini karena jatah Mayu, Mayu berikan pada nenek Iroh." ujar Mayu tanpa ditanya teman-temannya.


"Iya Mayu, kamu enggak perlu menjelaskan soal itu. Lagian kalau pun bagian nenek Iroh lebih besar, kami tidak keberatan sama sekali. Kami kan sayang sana nenek Iroh, iya kan teman-teman?" ujar Rangga.


"Benar sekali." kompak mereka membuat senyum Mayu dan nenek Iroh mengembang.


"Terima kasih teman-teman." ujar Mayu kemudian mendekat pada neneknya.

__ADS_1


Mayu menatap haru pada neneknya.


"Ini ya Nek, buat beli baju baru atau mau buat menginap di hotel lagi juga boleh." ujar Mayu.


Nenek Iroh balas tersenyum haru dan menggelengkan kepalanya.


"Enggak Nak, ini uangnya buat beli baju baru kamu saja. Selama ini Nenek ingin sekali membelikan kamu baju baru, hanya saja Nenek tidak bisa membelikannya karena Nenek tidak punya uang. Berhubung sekarang Nenek sudah punya uangnya, Nenek tidak ingin menundanya lagi." ujar nenek Iroh.


"Ih kok gitu sih Nek, ini Mayu benar-benar tulus loh memberikannya untuk Nenek."


"Dan Nenek lebih tulus lagi." ujar nenek Iroh tidak mau kalah.


"Ya sudah deh, kalau begitu nanti kita beli baju baru bersama-sama ya Nek dan setelah itu kita nginap di hotel seperti waktu itu." ujar Mayu.


Nenek Iroh kembali menggelengkan kepalanya.


"Enggak Nak, sekarang Nenek enggak suka lagi menginap di hotel karena bagi Nenek, rumah ini jauh lebih nyaman dari hotel. Apa lagi kalau ada Nak Alga dan yang lainnya." jujur nenek Iroh membuat Mayu tersenyum.


"Mayu juga sama kok Nek. Kalau begitu lain kali kita buat acara bakar-bakaran di sini ya Nek, gimana Nenek setuju?"


"Tentu saja sangat setuju Nak." ujar nenek Iroh mantap membuat Mayu lagi-lagi tersenyum.


"Peluk dulu Nek!" ujar Mayu merentangkan tangannya.


Nenek Iroh tersenyum kemudian membawa Mayu ke dalam pelukannya.


"Udah kebagian semua kan?" tanya Mayu begitu dia selesai dengan neneknya.


"Eh belum May, kak Alga belum kebagian." ujar Irpan.


"Kak Alga enggak kebagian juga tidak apa-apa, dia sangat kaya ini, apalah artinya uang ratusan ribu bagi dia." ujar Mayu.


"Walau enggak berarti apa-apa, tetap saja kak Alga harus kebagian May. Kak Alga juga sudah ikut bekerja keras loh. Dia bahkan rela jadi model kita." ujar Irpan lagi.


"Setuju sama Irpan, May." ujar Shinta memberi dukungan, sedangkan Mayu dan Lora hanya tersenyum saja.


"Kak Alga juga kebagian kok Irpan, tenang saja. Kami sudah menyiapkannya untuk Kak Alga. Tara ini dia jatah untuk Kak Alga." ujar Mayu sambil mengeluarkan uang 300 ribu dari dalam tasnya.


"Diterima ya Kak, buat teraktir ayangnya. Pasti deh Ayangnya senang dapat teraktiran dari Kak Alga." ujar Mayu lagi membuat Alga tersenyum gemas pada kekasihnya.


"Iya Ay, terima kasih ya Ay. Tentu saja ini uangnya akan aku gunakan buat teraktir ayang." ujar Alga mantap kemudian mengacak gemas rambut Mayu.


"Sama-sama Kak hehe ...." ujar Mayu senang dan perasaan senang yang sama juga dirasakan oleh Alga.


***


"Kami langsung ke kamar Al. Selamat istirahat Al." ujar Yudha begitu mereka sampai rumah mewah Alga.

__ADS_1


"Iya, kalian juga." ujar Alga.


Alga masuk melalui pintu utama, sedangkan Rangga dan Yudha masuk melalui tangga luar.


Alga tidak langsung ke kamarnya tapi dia memilih melangkah ke ruang keluarga. Walau masalah Mayu sudah beres, tapi Alga harus tetap bicara dengan maminya. Bukankah dulu Alga juga sudah mengingatkannya kalau Alga paling tidak suka, kalau maminya mengusik usaha Mayu.


Alga tanpa lega begitu melihat ada orang tuanya tambah Vivi di ruang keluarga dan mereka sedang sibuk merapikan undangan pernikahan Vivi.


"Mami!" seru Alga dan nada suaranya lebih keras dari biasanya.


Tidak hanya Dira yang menoleh tapi Pratama dan Vivi juga.


"Apa Alga? Mami tidak budeg dan kamu itu enggak perlu teriak! Enggak tahu sopan santun sekali kamu." ujar Dira dan langsung protes.


Dira kesal pada anaknya karena apa yang dilakukannya pada Mayu tidak berhasil dan berakhir dengan sia-sia.


"Wajar Alga tidak tahu sopan santun, karena itu adalah didikan dari Mami." balas Alga lagi kemudian berdiri di dekat maminya dan menatap maminya. Alga bahkan tidak mau duduk.


"Heh jangan bicara sembarangan ya kamu, enggak mungkin Mami mendidik kamu tidak benar. Pasti ini gara-gara gadis tidak tahu diri itu, makanya kelakuan kamu itu makin hari makin menjadi saja." ujar Dira tidak terima.


"Iya Mayu memang tidak tahu diri tapi Mami lebih tidak tahu diri lagi. Bisa-bisanya Mami ingin mengacaukan acara launching Maga Wear. Mami tahu tidak, Maga Wear itu bukan milik Mayu sendiri Mi, tapi ada Rangga dan Yudha juga di dalamnya? Mami tahu kan kalau Rangga dan Yudha itu adalah bagian dari keluarga peratama juga? Dan Mami dengan teganya ingin menghancurkan usaha yang baru mereka rintis. Dimana hati nurani Mami? Apa Mami tidak pernah berpikir kalau bisnis keluaga kita juga bisa dihancurkan oleh orang lain?" ujar Alga mengeluarkan semua uneg-unegnya.


Dira terdiam, Vivi hanya menarik nafas pelan, karena dia sudah tahu kelakuan maminya, sedangkan Pratama, dia tampak terkejut begitu mendengar apa yang Alga katakan.


"Mami kamu serius melakukan itu pada Maga Wear, Alga?" tanya Pratama memastikan.


Alga menoleh pada papinya.


"Tentu saja Alga sangat serius Pi, dan Alga benar-benar malu karna kelakuan Mami. Alga benar-benar kecewa pada mami kali ini. Alga masih bisa terima kalau Mami menghina atau menjelekkan Mayu, tapi Alga tidak bisa terima kalau mami mau menghancurkan usaha yang mereka bangun dengan susah payah, karena membangun sebuah usaha itu tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Papi juga berasal dari kalangan pebisnis, tentu Papi sangat tahu sebesar apa usaha yang harus dilakukan." ujar Alga.


"Kamu benar Alga, membangun usaha itu bukan hal yang mudah dan kita harusnya memberi apresiasi pada mereka dan bukan malah menghancurkannya." ujar Pratama kemudian menoleh pada istrinya.


"Dira ... Dira. Apa yang kamu pikirkan sampai kamu setega itu pada Rangga dan yang lainnya? Apa mereka pernah mengganggu kamu? Harusnya kalau kamu memang tidak mau membatu, lebih baik kamu diam. Kita juga keluarga pebisnis loh Dira, dan jangan sampai kita mendapat karmanya karena kamu." ujar Pratama.


Dira memilih diam karena dia tahu dia di posisi salah.


Pratama menarik nafas pelan dan kembali menatap Alga.


"Alga, Papi mewakili mami kamu meminta maaf, dan sampaikan permintaan maaf papi pada Rangga, Mayu dan yang lainnya. Dan Sebagai tanda permintaan maaf Papi, besok kamu ke ruang personalia dan suruh mereka mendata ukuran pakaian dalam para karyawan. Bilang pada mereka kalau papi akan memberikan hadiah pakaian dalam pada mereka. Dan bilang juga pada mereka supaya membantu promosi. Bila perlu kamu hubungi juga brand ambassador kita dan minta mereka supaya bantu promosi." ujar Pratama membuat Dira seketika melotot, sedangkan Alga justru tersenyum lebar.


"Pi, papi tidak serius kan Pi? Karyawan Pratama itu jumblahnya tidak sedikit loh Pi!" seru Dira.


"Papi sangat tahu itu, dan ingat uang untuk membeli pakaian dalam itu, Papi akan ambil dari jatah bulanan Mami serta jatah liburan Mami ke luar negeri. Ini keputusan Papi sudah final dan tidak menerima protesan Mami lagi. Ini pantas untuk Mami." tegas Pratama membuat Dira seketika lemas.


Sementara Alga dan Vivi malah tersenyum lebar.


"Terima Kasih Pi, Papi memang best." ujar Alga.

__ADS_1


"Iya sama-sama."


__ADS_2