
"Naura, makan dulu ya!" ujar Mayu sambil menarik pelan selimut yang menutup wajah Naura.
Naura hanya menggelengkan kepalanya dan enggan menatap Mayu.
Mayu menatap kasihan pada adiknya. Dia kemudian mengusap sayang rambut Naura yang menutup sebagian wajahnya.
"Nau, gue tahu lo lagi sedih, tapi lo juga enggak boleh mengabaikan kesehatan lo. Lo bisa sakit kalau tidak makan. Jika lo sakit, gue, mommy, daddy dan semuanya pasti sedih. Begitu juga dengan mas Alex." ujar Mayu berusaha membujuk namanya.
"Jangan sebut namanya, gue lagi tidak ingin mendengar namanya." ujar Naura lagi dan belum mau menatap Mayu.
Mayu menarik nafas dalam dan merapikan rambut Naura yang menutup wajah Naura.
"Nau, gue tahu kalau lo marah pada mas Alex, tapi lo juga enggak boleh berlarut-larut dalam kemarahan lo karena saat ini mas Alex juga sedang membutuhkan dukungan dari lo. Kalian harus saling menguatkan Nau karena itulah sejatinya menjalin suatu hubungan, kalian tidak hanya bersama dalam keadaan senang saja tapi dalam keadaan susah juga." ujar Mayu lagi.
"Nyatanya Mas Alex tidak mau bersama gue dalam keadaan susah. Dia juga tidak mau membagi kesusahannya dengan gue." ujar Naura lagi dan masih dalam posisi tidurnya.
"Bukan dia tidak mau Nau. Mas Alex sudah cerita semuanya pada gue, kalau dia tidak ingin saja menambah beban pikiran lo. Secara lo juga belum lama selesai sidang skripsi, lo juga masih harus revisi lagi dan menyiapkan semuanya untuk wisuda kita nanti. Selain itu lo juga masih harus mengurus Maga beauty. Dia pastinya ingin memberikan lo istirahat sejenak. Dia itu sangat memikirkan lo Nau. Hanya saja dia juga akhir sadar kalau apa yang dia lakukan salah. Sebagai seorang kekasih sudah sepantasnya dia berbagi masalahnya dengan lo dan mencari jalan keluar bersama. Mas Alex benar-benar sudah menyesali semuanya Nau. Untuk itu beri dia maaf ya Nau!" jelas Mayu.
Naura hanya diam. Dia merasa lebih baik setelah mendengar penjelasan Mayu, hanya saja amarahnya belum sepenuhnya hilang dan dia masih kesal pada Alex.
"Nau kenapa lo diam saja? Lo tidak mau ya memaafkan mas Alex?" tanya Mayu lagi.
Naura memilih bangun dari tidurnya kemudian duduk di depan Mayu.
"Bukan gue tidak mau Mayu, hanya saja gue masih marah padanya dan gue belum siap bertemu dengannya. Gue masih butuh waktu Mayu." ujar Naura apa adanya. Satu sisi dia memang ada rasa kasihan pada Alex tapi kemarahannya masih lebih mendominasi dan dia juga belum bisa melupakan apa yang Alex lakukan padanya.
"Baiklah kalau lo masih butuh waktu, tidak apa-apa. Hanya saja jangan terlalu lama ya, kasihan mas Alex karena dia juga tidak salah. Dia itu hanya korban keegoisan sepupunya Naura. Tadi malam dia dijebak, sepupunya dan teman-teman sepupunya sengaja membuat permainan supaya Mas Alex minum banyak dan kemungkinan disaat Mas Alex tidak sadar, mereka memasukkan obat perangsang itu ke dalam minuman mas Alex. Sepupunya itu sirik pada mas Alex dan dia juga sepertinya tidak terima kalau mas Alex dapat pacar seperti lo yang tentunya tidak hanya membawa kebahagiaan untuknya tapi membawa keuntungan sendiri untuk kemajuan karirnya karena bisa dibilang kalian ini adalah pasangan yang sama-sama beruntung." jelas Mayu lagi dan Naura mengakui itu.
Tidak hanya Alex yang beruntung mendapatkannya tapi Naura juga sama beruntungnya.
"Iya Mayu gue tahu itu. Hanya saja gue mau lihat sebesar apa perjuangan mas Alex minta maaf pada gue. Gue mau melihat keseriusannya Mayu." ujar Naura.
"Dan gue yakin, dia pasti akan membuktikannya. Kalau begitu lo makan dulu ya. Biar hati dan pikiran lo juga lebih tenang dan tidak dipenuhi oleh pikiran negatif terus!" ujar Mayu lagi dan kali ini diangguki oleh Naura.
Mayu tersenyum melihatnya dan mengacungkan jempolnya.
"Nah, gitu dong, ini baru adik cantik gue."
"Dan lo adalah kakak best gue."
"Tentu saja Mayu gitu loh." ujar Mayu berakhir narsis dan Naura hanya tersenyum tipis melihatnya. Beruntung memang dia memiliki Kakak seperti Mayu yang tidak hanya menjadi tempat curhat bagi Naura tapi selalu bersamanya dalam keadaan suka dan dukanya.
Setelah Naura selesai makan, Mayu tidak langsung pulang. Dia memilih menemani Naura biar tidak berlarut-larut dalam kegalauannya. Dia mengajak Naura membuat cemilian, nonton dan mereka juga berenang bersama.
Naura terlihat semakin membaik dan dia juga sudah bisa tersenyum lebar seperti biasanya, hanya saja dia masih enggak menjawab telepon dari Alex dan begitu juga dengan pesan Alex yang sudah puluhan kali dia kirim pada Naura tapi Naura masih enggan membalasnya.
"Non Naura, ada kiriman makanan dan buket bunga untuk Non Naura." ujar pembantu di rumah Naura.
Naura yang sedang asik nonton dengan Mayu seketika menoleh.
"Kiriman dari siapa Bi?" tanya Naura.
"Katanya dari den Alex, Non." ujarnya lagi membuat Mayu yang sedang asik makan kerupuknya seketika tersenyum menggoda pada Naura.
__ADS_1
"Ehem! Ehem!" goda Mayu.
"Apa sih Mayu?" ujar Naura dan beralih pada pembantunya.
"Letakkan di meja itu saja Bi, terima kasih Bi." ujar Naura.
"Sama-sama Non. Permisi Non."
Naura menganggukkan kepalanya. Naura hanya melirik sebentar pada kirimannya dan tidak ada niatan untuk mengambilnya.
"Kok lo diam saja Nau, diambil dong! Itu ada makanannya loh!" ujar Mayu.
"Malas," ujar Naura cuek dan memilih memakan kerupuknya kembali.
"Kenapa malas? Jangan terlalu jual mahal kali Nau! Apa jangan-jangan lo merasa kecewa bukan orangnya yang datang tapi hanya kirimannya saja?" tanya Mayu lagi.
Naura ingin berkata iya karena yang Naura harapkan memang Alex sendiri yang datang minta maaf padanya dan bukan hanya semedar kirimannya saja.
"Enggak juga," jawab Naura dan dia memilih bohong kali ini. Gengsi dia.
"Kalau enggak ya makanan diambil dong Nau! Atau gue yang ambil nih?" goda Mayu.
"Ambil saja kalau mau!" suruh Naura.
"Ok," ujar Mayu kemudian bangun dari ayunan rotannya.
"Wow ada coklat dan suratnya juga Nau. Cakolat mahal lagi, yakin nih coklatnya buat gue saja?" ujar Mayu lagi.
Naura melirik pada Mayu. Hatinya sudah mulai goyah, dia bukan ngiler pada coklatnya tapi dia lebih tertarik pada suratnya. Dia penasaran dengan isinya.
"Udah lo enggak usah jual mahal begitu. Ini lo ambil coklat dan suratnya!" ujar Mayu kemudian memberikan kedua benda itu pada Naura.
Naura menatap Mayu dan beralih pada surat dan coklatnya.
"Ambil Naura, gengsi itu enggak perlu dipelihara! Gengsi itu hanya akan membuat menderita saja!" ujar Mayu lagi kemudian membuka kiriman makanan Alex yang lain.
Naura menghembuskan nafas pelan dan dia akhirnya mengambil suratnya membuat Mayu tersenyum lebar. Akhirnya Naura berhasil juga mengalahkan rasa gengsinya.
Naura membuka perlahan kertasnya dan tanpa sadar menggelengkan kepalanya. Hari gini apa masih zaman surat menyurat? Padahal lebih gampang pakai ponsel. Meski begitu Naura cukup senang melihat usaha Alex. Seenggaknya surat yang ditulis Alex untuknya, lebih membutuhkan perjuangan dari pada pesan yang Alex kirim padanya.
[Hai By, i miss you.]
Kata itu yang pertama kali Naura baca dan itu cukup membuat Naura tersenyum haru. Walau masih marah tapi Naura juga tidak bisa membohongi dirinya kalau dia juga rindu pada kekasihnya.
Naura kembali melanjutkan membaca isi surat Alex.
[By, maaf maaf dan maaf. Hanya kata itu ingin terus aku ucapkan By dan aku sangat berharap secepatnya mendapatkan maaf dari kamu.
Aku benar-benar menyesal By dan aku sama sekali tidak ada niatan untuk me*ecehkan kamu. Aku juga tidak ada niatan untuk menghianati cinta kamu. Aku melakukannya dalam keadaan tidak sadar By. Aku dalam pengaruh obat terkutuk itu.
By, aku sudah memeriksa CCTV club dan aku juga sempat berantem dengan penanggung jawab clubnya begitu juga dengan pelayan yang melayaniku semalam. Pelayannya akhirnya mengaku kalau dia disuruh Frans memasukkan obat itu ke dalam minumanku serta menukar minumanku dengan kadar alkohol yang lebih tinggi dan itu tanpa sepengetahuanku. Dia juga sengaja menyewa gadis itu untuk merayuku. Frans benar-benar licik By dan aku sangat marah padanya.
By sekali lagi aku minta maaf atas kebodohanku. Aku janji By akan lebih berhati-hati lagi dari Frans dan aku sangat membutuhkan dukungan dari kamu untuk melawan Frans. Ayo kita kalahkan Frans bersama By dan jangan buat dia senang karena sudah berhasil membuat kita berantem!
__ADS_1
By, aku sangat berharap setelah kamu membaca suratku ini, kemarahan kamu jadi sedikit mereda dan secepatnya mau mengangkat teleponku. Aku merindukan suara kamu By. I love you so much By.
Salam dari aku yang selalu setia menunggu maaf dari kamu, Alex.]
Naura membawa suratnya ke dalam pelukannya dan memeluknya erat seolah itu adalah Alex. Amarahnya seketika menghilang setelah membaca isi surat Alex dan Naura bisa merasakan ketulusan dari setiap kata yang Alex tulis. Naura juga merasa kasihan padanya karena dalam masalah yang menimpa mereka kali ini, Alex lah yang menjadi korban utamanya.
'Maafkan aku juga mas yang terlalu marah dan kecewa pada mas Alex dan terima kasih sudah mau berjuang untuk mendapatkan maafku.' batin Naura.
Naura memejamkan sejenak matanya, tekatnya sudah bulat dia mau memaafkan Alex dan dia juga mau berjuang pada Alex.
Naura kemudian beralih menatap Mayu.
"May, suruh mas Alex datang dong. Bilang padanya, gue mau mendengar kata maaf langsung dari dia bukan dari surat atau via telepon." pinta Naura membuat senyum Mayu mengembang. Akhirnya hari Naura luluh juga. Begitu memang seharusnya, kalau marahan itu enggak perlu lama-lama, terlebih lagi bukan mereka berdua yang salah tapi orang ketiga lah yang ingin menghancurkan kebahagiaan mereka.
"Siap tuan putri, printah siap dilaksanakan. Begitu dong, kan enak kalau saling memaafkan." ujar Mayu kemudian meraih ponselnya.
Mayu langsung mencari nama Alex dan menghubunginya.
Alex yang sedang bersandar di mobilnya dan menatap rumah mewah Naura buru-buru mengalihkan pandangannya begitu mendengar ponselnya berdering.
Alex memang sengaja mendatangi rumah Naura. Makanan juga surat itu, dia sendiri yang menghantarnya. Hanya saja dia tidak mau masuk karena tidak mau Naura jadi tidak nyaman karenanya.
Alex langsung menegapkan tubuhnya begitu melihat Mayu yang menghubunginya.
"Hallo Mayu," ujar Alex.
"Iya hallo Mas. Mas Alex dimana?" tanya Mayu.
"Ada di depan rumah Naura." jawab Alex apa adanya.
"Serius?" tanya Mayu seakan tidak percaya. Dia tidak tahu kalau Alex mendatangi rumah Naura.
"Iya Mayu,"
"Baguslah kalau begitu. Itu berarti Mas Alex bisa masuk. Naura mau bertemu." suruh Mayu.
"Serius?" tanya Alex. Gantian Alex yang seakan tidak percaya dengan yang disampaikan Naura.
"Serius Mas. Saya tidak mungkin bohong sama Mas Alex. Ditunggu Mas!"
"Siap Mayu!" ujar Alex. Semangat Alex langsung kembali begitu mendengar kekasihnya mau bertemu dengannya. Akhirnya usahanya berbuah manis juga.
Alex mematikan sambungan teleponnya dan menyimpan ponselnya kembali. Alex juga tidak lupa merapikan penampilannya. Setelah memastikan penampilannya rapi, Alex kemudian melangkahkan kakinya masuk ke rumah Naura.
"Assalamualaikum," ujar Alex.
"Waalaikumsalam Mas Alex. Langsung masuk saja Mas!" ujar Mayu yang sudah menunggu kedatangannya.
"Terima kasih Mayu. Naura dimana?" tanya Alex.
"Ada di ruang keluarga Mas. Langsung ke sana saja!" suruh Mayu.
Alex mengangguk. Alex sudah tahu letak ruang keluarga karena dia sudah sering ke rumah ini.
__ADS_1
Sampai di ruang keluarga, Alex seketika terdiam begitu melihat Naura sedang berdiri di samping ayunan dan menatap padanya. Ada kerinduan di mata mereka.