
"Alhan! Alpan! Huwa ...." Lisa langsung menangis keras membuat seisi rumahnya terkejut.
Sejak Arhan dan Arfan bisa merangkak, hidup Lisa sudah tidak bisa tenang lagi. Ada saja ulah adik kembarnya itu yang membuatnya marah. Bahkan pernah kerena marahnya dia minta Arhan dan Arfan dikembalikan ke perut bundanya saja.
"Hihi ... hihi ...."
Si kembar yang sempat terkejut karena teriakan kakaknya malah tertawa dan langsung melarikan diri dari Lisa. Mereka merangkak dengan sangat cepat. Walau baru berusia 8 bulan tapi mereka benar-benar bayi yang aktif dan senang sekali mengoceh.
"Lisa kenapa Sayang?" tanya Alga dan langsung berlari menghampiri anak sulungnya.
Alga masih bisa melihat anak kembarnya merangkak ke arah balik sofa. Alga yakin mereka mau bersembunyi di sana. Memanglah kelakukan kedua anak kembarnya itu enggak ada duanya. Mereka malah lebih jahil dari Lisa waktu bayi.
"Ini Ayah, kembal melusak buku Lisa." ujar Lisa menujuk meja mini belajarnya yang sudah sangat berantakan dan ada juga bukunya yang sobek. Sebelumnya Lisa memang sempat ke dapur untuk minum dan berhubung ada kue di atas meja, dia makan itu dulu. Makanan enak sayang dilewatkan. Eh baliknya semuanya berantakan gara-gara si kembar. Padahal Lisa sudah mengingatkan adik-adiknya kalau mereka enggak boleh merusak baku Lisa.
Alga menarik nafas pelan kemudian berlutut di depan anaknya.
"Nanti kita beli buku baru lagi ya Kakak. Kakak jangan menangis lagi. Ayah belikan buku yang banyak deh." ujar Alga sambil sambil mengusap air mata anaknya. Kasihan memang anak sulungnya ini selalu jadi sasaran adik-adiknya.
"Sama celayon juga Ayah," rengek Lisa.
"Iya kita juga beli crayon yang banyak untuk Kakak. Selain itu Lisa mau beli apa lagi?" tanya Alga. Alga tahu anaknya lagi senang-senangnya menggambar dan karena itu juga si kembar suka bertingkah. Mereka ingin Lisa menemaninya main tapi Lisa malah asik dengan buku gambarnya.
"Beli mainan Ayah, tapi kembal enggak usah." ujar Lisa lagi yang masih kesal pada adiknya.
"Kalau kembar enggak beli mainan, nanti mainan Kakak diambil lagi, mau Kakak mainanannya diambil?" ujar Alga yang tidak ingin anaknya kembali berebut mainan.
"Enggak mau Ayah. Kembal beli satu saja, akak Lisa dua." ujar Lisa lagi.
"Adik kembar kan ada 2 Kakak, kalau mainannya hanya satu ya mereka akan rebutan dan ujung-ujungnya mereka minta mainan Kakak lagi." jelas Alga. Alga juga kadang capek melihat anaknya berantem tapi dia juga merasa senang karena itu benar-benar pengalaman baru untuknya.
"Ya sudah kembal beli dua, Akak Lisa dua." ujar Lisa akhirnya membuat Alga tersenyum.
"Siap Kakak, kalau begitu ayo kita bereskan bukunya, biar kita pergi beli mainan!" ujar Alga beralih pada meja belajar anaknya yang masih berantakan.
"Siap Ayah. Kembal jangan ikut ya Ayah!" pinta Lisa lagi.
"Kalau kembar enggak ikut, yang jaga mereka di rumah siapa? Bunda sama nenek kan ada ada kerjaan di halaman belakang. Opa dan oma pergi kondangan." ujar Alga.
Mereka memang sudah memperkerjakan 2 orang baby sitter hanya saja hari minggu mereka jarang masuk dan itu karena permintaan Alga sendiri. Dia mau menikmati hari liburnya dengan anak-anaknya.
"Ya sudah, kembal ikut aja." ujar Lisa tidak sepenuhnya ikhlas. Walau begitu dia tidak akan tega meninggalkan adik-adiknya kalau tidak ada yang jaga. Sekesal-kesalnya Lisa pada mereka, rasa sayangnya lebih besar.
"Nah gitu dong, ini baru anak Ayah yang paling cantik dan pintar."
"Iya dong Lisa gitu lo," ujar Lisa narsis membuat Alga kembali tersenyum dan mengacak rambut pendek anaknya.
Gara-gara si kembar suka menarik rambut panjangnya, Lisa minta rambutnya dipotong saja. Walau rambut pendek, Lisa tetap cantik dan malah terlihat lebih menggemaskan lagi karena rambutnya yang pendek dia terlihat semakin gemoy.
Setelah selesai membereskan meja belajar anaknya, Alga beralih ke tempat si kembar.
Alga seketika tersenyum begitu melihat kedua anaknya malah asik main boneka milik Lisa. Mereka berlomba menarik boneka itu membuat bentuknya tidak lagi jelas.
"Ehem! Arhan, Arfan!" panggil Alga dan sengaja berdehem keras.
__ADS_1
Baik Arhan atau Arfan sama-sama menoleh. Mereka langsung melempar bonekanya dan kembali kabur. Sikap mereka seolah takut dimarahi Alga saja. Padahal Alga jarang sekali mau marah pada anaknya. Bisa dibilang berkata keras saja hampir tidak pernah walau kadang tingkah anak mereka membuatnya pusing setengah mati.
"Eh eh Arhan dan Arfan mau kemana?" tanya Alga sambil menarik baju belakang kedua anaknya.
"Yayaya!" oceh si kembar dan masih berusaha kabur.
Alga tidak akan membiarkan mereka kabur. Alga mengangkat kedua anaknya ke dalam gendongannya.
"Yayaya!" oceh mereka lagi dan masih berusaha kabur apalagi saat melihat Lisa mendekat pada mereka.
"Arfan, Argan, kakak Lisa tidak akan marah. Sekarang minta maaf dulu pada kak Lisa!" suruh Alga lagi.
Alga selalu mengajarkan permintaan maaf pada anaknya walau si kembar belum mengerti.
"Yaya Dedek, ayo calim!" unar Lisa sambil memberikan tangannya. Jika Lisa sudah mau manggil dedek itu berarti dia tidak marah lagi.isa tidak bisa marah lama-lama pada adiknya.
"Ayo salim kak Lisa, Dedek!" suruh Alga lagi sampai menunduk, yang mana tujuannya biar si kembar bisa menggapai tangan kakaknya.
"Cacaca!" oceh si kembar lagi.
"Iya minta maaf dulu sama Akak Lisa!" ujar Lisa sambil memberikan tangannya untuk disalim Arfan.
"Hihihi ...."
Arfan tertawa senang, dia paham kalau Lisa mau salim itu berarti kakaknya tidak akan marah lagi padanya.
Sama halnya dengan Arhan, dia juga tersenyum pada kakak cantiknya.
Lisa ikutan tersenyum pada adiknya.
"Tatatak," ocehnya.
"Iya Akak. Sini gendong Akak!" ujar Lisa. Walau umurnya baru 4 tahun setengah dia sudah kuat menggendong adiknya.
"Tatatak," oceh Arhan lagi dan mengulurkan tangannya. Dia mau digendong Lisa walau rasanya tidak senyaman saat digendong orang dewasa di sekitarnya.
***
Alga sudah menggendong Arfan di depan dan Arhan di belakang. Dia siap membawa anaknya ke minimarket yang ada di depan kompleks mereka saja. Minimarketnya lebih lengkap di sana, selain itu ada tempat bermain utuk anak-anak juga.
Alga juga tidak lupa memakaikan si kembar topi dan Lisa helm. Walau hanya ke depan, dia tidak pernah lupa mengajarkan anaknya pakai helm jika mereka naik motor.
"Makasih Ayah," ujar Lisa begitu Alga selesai memakaikannya helm.
"Sama-sama Kakak. Sudah siap berangkat?"
"Yaya." semangat Lisa.
Alga kemudian membawa anaknya ke arah motornya yang terparkir. Padahal di rumahnya ada 5 mobil yang terparkir, tapi dia lebih memilih menggunakan motor.
Gaya Alga benar-benar sudah seperti bapak-bapak sederhana yang takut pada istri. Padahal sebentar lagi dia akan diangkat jadi CEO. David sudah tidak mau menunggunya lagi. Baginya waktu yang dia berikan pada Alga sudah sangat cukup karena ini sudah lebih dari 5 tahun, sessai dengan perjanjiannya dengan Alga waktu itu.
Selain itu Alga juga sudah sangat siap, makanya David tidak ingin menundanya lagi. Walau begitu Alga minta waktu 4 bulan lagi, seenggaknya sampai si kembar umur satu tahun dan David tidak mempermasalahkannya.
__ADS_1
"Kakak bisa naik?" tanya Alga begitu dia sudah duduk di motor.
"Bisa Ayah, Akak Lisa hebat." ujarnya dengan percaya dirinya membuat Alga tersenyum.
Lisa memegang kuat baju ayahnya kemudian naik ke atas motor.
"Dah Ayah," ujarnya. Sedangkan si kembar malah tepuk tangan. Senang dia kalau Alga mengajak mereka naik motor.
"Pegangan yang kuat ya Kakak!" suruh Alga.
"Siap Ayah." semangat Lisa.
Alga kemudian menyalakan motornya dan menjalankannya dengan kecepatan pelan saja. Alga tidak mau cepat karena memang tidak ada yang perlu diburu-buru.
"Alga semangat!" seru Alex dari halaman rumahnya. Alga memang panutan sekali jika menyangkut istri dan anak-anaknya. Alga selalu melakukan yang terbaik untuk mereka.
"Siap Alex." ujar Alga mantap.
"Dadah ungkel!" ujar Lisa ikutan.
"Iya Kakak. Pegangan yang kuat ya Kakak! Awas jatuh!" ujar Alex mengingatkan keponakannya.
"Siap Angkel." ujar Lisa lagi dan mengeratkan pegangannya. Dia juga takut jatuh, tapi dia juga senang sekali naik motor.
Hanya butuh waktu 5 menit saja untuk mereka sampai di tempat tujuan. Seperti biasa Lisa langsung mengambil keranjang dan Alga mengikutinya dari belakang.
"Ayah Lisa mau sosis ya!" ujar Lisa melihat sosis besar yang dipajang dekat kasir.
"Iya, nanti selesai belanja kita beli sosis." ujar Alga.
"Hole!" seru Lisa senang.
"Hihi ...." si kembar juga ikutan senang. Paling senang mereka kalau diajak ke minimarket karena sudah pasti mereka akan kebagian susu dan pisang. Mereka memang adiknya Lisa sekali. Makanan kesukaan mereka tidak jauh dari susu dan pisang.
Setelah keranjang belanjaannya penuh. Alga melakukan pembayaran dan tidak lupa beli sosis untuk Lisa. Selesai melakukan pembayaran Alga mengajak anaknya bersantai di depan mini market yang mana ada permainan anak serta beberapa penjual makanan juga di sana.
"Bunda!" seru Lisa begitu melihat Mayu jalan terburu-buru ke arah mereka. Mayu enggak bisa tenang membiarkan Alga pergi bersama anak-anaknya. Dia takut Alga kewalahan menjaga anak-anaknya.
"Iya Sayang. Kakak mam apa itu?" ujar Mayu begitu sampai dan Alga tersenyum padanya. Dia sudah bisa menebak Mayu memang pasti akan datang.
"Sosis enak," ujar Lisa mantap.
"Bagi dong!" ujar Mayu sambil membuka mulutnya dan Lisa dengan senang hati menyuapi bundanya.
"Makasih Kakak,"
"Sama-sama Bun- Dedek!" teriak Lisa seketika membahana begitu Arhan ikutan menarik sosisnya dan memasukkannya ke dalam mulutnya.
Alga menepuk keningnya, selalu begini kalau menyangkut makanan, si kembar selalu menginginkan makanan kakaknya padahal giginya juga baru dua.
Mayu hanya tersenyum saja. Ini sudah jadi pemandangan sehari-harinya. Lisa yang suka teriak dan si kembar yang suka sekali mengganggu kakaknya. Enggak kebayang Mayu kalau si kembar sudah jalan dan bisa bicara, suasana pasti akan semakin heboh lagi.
Satu bab lagi teman-teman. Besok tamat.
__ADS_1