Kekasih Bayaran Tuan Muda

Kekasih Bayaran Tuan Muda
Kabar Baik Dari Mayu


__ADS_3

"Ackh!" Mayu yang baru bangun dari duduknya kembali merasa pusing. Ada apa dengan dirinya kenapa tiba-tiba dia merasa jadi lemah. Apa ini karena Alga terlalu memanjakannya akhir-akhir ini?


Mayu kembali memijat kepalanya dan menarik nafas dengan perlahan kemudian membuangnya dengan perlahan. Setelah merasa lebih baik dia kembali melangkah leluar dari ruang kerjanya.


"Shin!" panggilnya.


"Kenapa May?" tanya Shinta.


"Tolong buatkan gue teh hangat dong Shin. Kepala gue tiba-tiba pusing." ujar Mayu membuat Shinta seketika menoleh padanya.


"Pusing banget kepalanya? Kalau benar-benar pusing mending dibawa istirahat saja May atau lo pulang duluan juga tidak apa-apa. Ini kerjaan kita juga sudah mau selesai." ujar Shinta. Sebelumnya Alga juga sudah menitip pesan padanya kalau Mayu merasa kelelahan atau pusing, Mayu sebaiknya disuruh istirahat atau pulang.


"Hanya pusing biasa saja Shin, minum teh hangat juga udah mendingan ini." ujar Mayu lagi. Rasa pusingnya memang tidak seberapa bila dibandingkan dengan yang tadi pagi.


"Ya sudah kalau lo inginnya begitu. Gue buatkan tehnya dulu." ujar Shinta memilih tidak memaksa.


"Ok, sekalian sama potongan buah kalau ada Shin, gue ingin yang segar-segar."


"Ok," ujar Shinta.


Sembari menunggu Shinta, Mayu memilih duduk di sofa.


Tidak lama setelah itu Shinta datang sambil membawa nampan berisi teh untuk Mayu serta potongan buah juga, seperti keinginan Mayu.


"Silahkan Nyonya Alga," ujar Shinta membuat Mayu tersenyum.


"Terima kasih Shinta. Lo enggak buat minum juga?" tanya Mayu sambil mengambil potongan buahnya. Mayu lebih tertarik melihat potongan buah itu.


"Enggak haus gue, gue mau buahnya saja." ujar Shinta dan ikut nyomot buah yang dia buatkan untuk Mayu.


"Silahkan!" ujar Mayu.


"Misalkan dibuat bumbu rujaknya pasti lebih enak lagi ini Shin." ujar Mayu lagi membuat Shinta menoleh padanya.


"Benar juga, sayangnya gue lagi malas May. Lagian Lora dan yang lainnya bisa protes kalau melihat kita rujakan. Jadi lebih baik kita makan apa yang ada saja."


"Benar juga," ujar Mayu dan lagi-lagi nyomot buahnya dan memakannya dengan lahap.


"Lo kelaparan atau gimana, tumben-tumbenan makan buah selahap itu." ujar Lora.


"Enggak juga, gue hanya ingin saja. Buahnya enak." ujar Mayu santai dan lagi-lagi mengambil potongan buah jambu.


"Biasanya juga enak kali Mayu dan lo tidak selahap itu. Aneh-aneh saja lo!" protes Shinta dan Mayu cuek saja.


"Eh May!" panggil Shinta.


"Kenapa?"


"Lo kan nikahnya udah satu bulan lebih. Udah ada tanda-tanda hamil belum?" tanya Shinta santai tapi reaksi Mayu tidaklah santai. Mayu sampai batuk-batuk gara-gara pertanyaan Shinta.


"Uhuk ... uhuk!"


"Pelan-pelan dong Mayu, lo sebaiknya minum dulu!" ujar Shinta dan membantu mengambilkan minuman Mayu.


Mayu meminum cepat minumannya.


"Gimana, apa sudah lebih baik?" tanya Shinta sambil mengusap punggung Mayu.


"Iya sudah,"


"Baguslah. Lo ini aneh-aneh saja, perasaan pertanyaan gue biasa saja tapi reaksi lo itu berlebihan sekali Mayu. Ingat lo ini bersuami kalau lo hamil sangat wajar." ujar Shinta.


"Iya Shinta gue tahu, tapi gue bosen mendengar pertanyaan itu mulu." balas Mayu. Awalnya Mayu merasa biasa saja dengan pertanyaan itu, tapi lama-lama jadi kesal juga. Padahal dia dan Alga juga santai saja.


"Ya namanya juga tinggal di Indonesia May, udah jadi kebiasaan gitu loh. Maaf deh kalau lo enggak nyaman."


"Iya enggak apa-apa. Lo doain aja ya, semoga secepatnya kabar baik itu datang."


"Siap May. Ya sudah gue balik kerja lagi. Lo juga kalau masih pusing, istirahat saja! Jangan dipaksakan!" ujar Shinta mengingatkan sahabatnya.


Mayu mengangguk dan kembali melanjutkan acara makan buahnya.

__ADS_1


***


"Shinta, Mayu dimana?" tanya Lora sambil meletakkan berkas-berkasnya di atas meja.


"Di atas. Ada apa lo mencarinya?" ujar Shinta balas bertanya.


"Ini loh, Kak Alga nelpon gue, katanya Mayu enggak angkat teleponnya." jawab Lora membuat Shinta menatapnya penuh tanya. Kenapa Mayu tidak mengangkat telepon suaminya? Perasaan mereka baik-baik saja. Saat makan siang bahkan mereka masih melakukan video callan.


"Kok bisa," ujar Shinta.


"Ya mana gue tahu, makanya gue bertanya sama lo, siapa tahu Mayu di kamar mandi atau dimana gitu. Dari tadi yang bersama Mayu kan lo." ujar Naura lagi.


"Iya sih. Eh jangan-jangan Mayu ketiduran lagi atau malah pingsan. Katanya dia pusing. Sebentar deh Ra!" ujar Shinta dan langsung meletakkan gelasnya dan belari ke lantai 2. Tempat dimana Mayu berada.


Shinta tiba-tiba merasa tidak enak. Dia takut terjadi sesuatu pada Mayu. Mayu itu jarang sekali mengeluh sakit.


"Mayu!" teriak Shinta cepat begitu melihat Mayu tergeletak di bawah meja kerjanya.


Lora yang hendak mengambil minum tidak jadi karena teriakan Shinta.


"Mayu kenapa Shin?" tanya Lora cepat dan meletakkan gelasnya kembali.


"Mayu pingsan Lora, bantu gue!" seru Shinta lagi terdengar khawatir dari nada suaranya.


"Pingsan!" seru Lora dan tanpa menunggu lebih lama lagi dia berlari ke lantai 2.


"Ambil minyak kayu putih dulu Ra, di tas gue ada!" ujar Shinta begitu mereka membaringkan Mayu di sofa.


Lora mengangguk dan tanpa menunggu lebih lama lagi dia langsung mengambil apa yang diminta Shinta.


"Ini Shin." ujar Lora dan menuangkan sebagian ke tangannya. Dia membantu mengoleskannya ke kaki Mayu.


Shinta menerimanya dan mengoleskannya di pelipis dan leher Mayu.


"May bangun May!" ujar Shinta berusaha membangunkan Mayu.


Mayu masih setia memejamkan matanya dan wajahnya terlihat pucat.


"Sebaiknya telepon Kak Alga saja, biar dia saja yang menghubungi dokternya." ujar Lora. Lora tidak ada teman dokter, beda halnya dengan Alga yang memiliki banyak keluarga dokter termasuk kakak iparnya sendiri. Selain itu Alga jugs harus tahu keadaan istrinya.


"Ya sudah lo telepon dia Ra. Cepet Ra!"


"Iya,"


***


Alga mondar mandir, dia benar benar khawatir pada istrinya. Harusnya Alga tidak usah mengizinkan Mayu kerja saja hari ini. Padahal saat mau berangkat juga Mayu terlihat lemas dan tidak sesemangat biasanya.


Sama halnya dengan Lora dan Shinta, mereka juga tidak bisa menyembunyikan rasa khawatir mereka dan ada penyesalan juga di hati mereka terutama Shinta. Harusnya saat Mayu mengeluh pusing, dia tidak seharusnya mengizinkan Mayu kembali kerja.


Baik Alga, Shinta dan Lora buru-buru menghampiri sang dokter begitu dia selesai memeriksa Mayu.


"Gimana Mas, istri saya kenapa? Dia tidak apa-apa kan Mas?" tanya Alga tidak sabaran dan ridak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya.


Dokter Mega tersenyum tipis dan menepuk pelan lengan Alga membuat Alga bertanya-tanya. Kenapa dokter Mega malah tersenyum. Tidak tahukah dia kalau Alga sedang ketakutan saat ini. Terserah mau bilang Alga lebay tapi begitulah adanya. Empat tahun lebih lamanya mereka bersama, baru kali ini dia menemukan istrinya tidak sadarkan diri. Belum lagi kata Naura Mayu tergeletak di lantai, Alga takut saja sebelum jatuh istrinya terbentur sesuatu.


"Istri kamu tidak apa-apa Alga, dia baik-baik saja dan tidak ada yang terluka. Hanya saja kondisinya memang cukup lemah mengingat dia tengah hamil muda. Selamat ya Alga, sebentar lagi kamu akan jadi ayah." jelasnya membuat Alga menatap tidak percaya padanya.


"Ini serius dokter, istri saya sedang hamil?" tanya Alga memastikan.


"Iya serius. Untuk lebih jelasnya kamu bawa periksa ke dokter kandungan. Minta dokter Anita saja yang memeriksanya. Dia salah satu dokter kandungan terbaik." suruhnya.


"Ba-baik Dokter, saya pasti akan membawanya periksa ke rumah sakit. Terima kasih banyak Dokter." ujar Alga sampai gugup karena menahan rasa harunya.


Padahal sebelumnya Alga sangat takut juga khawatir tapi sakarang dia sangat senang. Dia benar-benar tidak menyangka keinginan terbesarnya dengan Mayu secepat itu dikabulkan oleh Allah.


Shinta dan Lora yang berdiri di belakang Alga juga tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya. Mereka sampai tos. Mereka tidak sabar menyambut anggota baru mereka.


"Sama-sama Alga dan sekali lagi selamat untuk kamu." ujarnya lagi


"Iya Dokter," ujar Alga.

__ADS_1


Alga beralih menatap Mayu yang sudah sadar dan tengah menatap padanya.


Alga menghampiri istrinya dan menatap Mayu penuh haru. Mayu juga membalas tatapan suaminya dengan tatapan yang sama. Mayu mendengar apa yang Alga bicarakan dengan dokter Mega.


Alga kemudian duduk di samping isterinya dan tatapannya tidak lepas sedikitpun dari Mayu.


Untuk beberapa saat mereka saling menatap haru sampai akhirnya Alga membawa Mayu kepelukannya dan memeluk Mayu erat.


"Selamat untuk kita sayang. Sebentar lagi kamu akan jadi bunda dan aku jadi ayah. Aku benar-benar bahagia istriku. Terima kasih istriku." lirih Alga dan mengecup dalam rambut istrinya.


Mayu mengangguk. Air matanya sampai menetes karena bahagia. Dia benar-benar tidak menyangka akan menjadi ibu dalam waktu dekat. Ini adalah kado terindah untuknya dan Alga.


"Iya Kak, selamat untuk kita. Mayu juga sangat bahagia Kak." balas Mayu.


Alga melepas pelukannya dan kembali menatap isterinya.


Alga kemudian mengecup dalam kening Mayu.


Alga menjauhkan wajahnya dan tersenyum pada istri tercintanya.


Selanjutnya tatapan Alga beralih pada perut Mayu.


Alga mendekatkan wajahnya di perut Mayu dan mengecup perut Mayu dalam.


"Assalamualaikum sayangnya Ayah dan bunda. Terima kasih Sayang sudah hadir di perut bunda. Tumbuh dengan baik dalam perut bunda ya Sayang. Ayah dan bunda sangat menyayangi kamu." ujar Alga di depan perut istrinya. Alga juga sudah mengganti panggilannya dan itu karena keinginan Mayu. Mayu pernah cerita padanya jika mereka memiliki anak, inginnya dipanggil bunda dan Alga dipanggil ayah.


Mayu kembali meneteskan air matanya melihat Alga bicara dengan calon anak mereka. Mayu lagi-lagi merasa terharu.


Alga kembali mengecup perut istrinya sebelum dia beralih menatap Mayu.


"Kenapa menangis Ay?" tanya Alga dan mengusap air mata Mayu.


"Aku merasa terharu Kak. Ini adalah air mata bahagia." ujar Mayu apa adanya membuat Alga kembali tersenyum. Alga mengecup bibir istrinya dan lagi-lagi membawa Mayu ke dalam pelukannya.


Rasa cinta dan sayang Alga semakin besar saja pada isterinya.


"Ehem!" Shinta berdehem keras. Shinta bukan ingin mengganggu Alga dan Mayu, tapi dia juga ingin mengucapkan selamat pada sahabatnya itu.


Alga menoleh dan menatap pada Shinta. Begitu juga dengan Mayu.


"Kak Alga, gantian dong! Kami juga ingin memeluk Mayu." ujar Shinta dan Lora ikut menganggukkan kepalanya.


Alga tersenyum, karena rasa senangnya dia sampai lupa pada Shinta dan Lora.


Alga kemudian melepas pelukannya dan mempersilahkan kedua gadis itu memeluk isterinya.


"Silahkan!" ujar Alga dan bangun dari duduknya


"Terima kasih Kak," kompak Lora dan Shinta dan langsung mendekati Mayu.


"Mayu selamat ya, sebentar lagi akan jadi bunda. Ikut senang gue Mayu dan gue enggak sabar ingin segera ketemu keponakan gue." ujar Lora kemudian membawa Mayu ke dalam pelukannya.


Mayu balas memeluk erat sahabatnya.


"Selamat juga May dan semoga lo dan calon debaynya sahat-sehat sampai lahiran ya May. Lo juga jangan sungkan-sungkan jika menginginkan sesuatu. Gue pasti dengan senang hati akan mengabulkannya." ujar Shinta ikutan memeluk Lora dan Mayu.


"Iya Lora, Shinta, terima kasih ya dan terima kasih juga kalian sudah jadi sahabat yang siaga untuk gue." ujar Mayu.


"Sama-sama Mayu." kompak mereka dan melepas pelukanya.


"May, boleh usap perut lo enggak May?" ujar Lora meminta izin.


"Silahkan!" ujar Mayu.


"Terima kasih May," ujar Lora senang kemudian mengusap perut Mayu.


"Hallo calon keponakan, ini aunty Lora yang cantik jelita. Baik-baik di sana ya calon keponakan dan kamu juga enggak perlu khawatir, karena begitu kamu lahir kamu sudah jadi miliarder. Ayah kamu itu pewaris Pratama group dan bunda kamu pemilik Maga Wear. Jadi begitu kamu lahir, kamu juga tidak perlu menangis, cukup tersenyum pada dunia." ujar Lora.


"Heh Lora, jangan ajari calon anak saya yang tidak-tidak ya. Kamu ini ngaco saja!" protes Alga tidak terima.


Lora dan yang lainnya hanya tertawa mendengarnya.

__ADS_1


__ADS_2