Kekasih Bayaran Tuan Muda

Kekasih Bayaran Tuan Muda
Adik Lisa


__ADS_3

"Dedek!, Akak Lisa angen dedek." seru Lisa begitu dia sudah masuk rumah dan mendapati Mayu sedang mengusap perut buncitnya. Kehamilan Mayu sudah memasuki usia 8 bulan dan tidak lama lagi akan melahirkan.


Mayu tersenyum melihat tingkah tingkah anaknya. Setiap hari Lisa selalu menyapa calon adiknya. Dia juga akan cerita depan perut Mayu. Mana bicaranya juga semakin lancar dan jelas. Mayu suka saja mendengarnya.


"Salim dulu Kakak!" ujar Mayu sambil mengulurkan tangannya. Lisa juga tidak mau lagi dipanggil cantik atau Lisa, maunya dipanggil kakak. Semakin banyak maunya dia, tapi semakin kelihatan juga jiwa kakaknya.


"Ciap Bunda," ujar Lisa dan menyambut uluran tangan bundanya.


"Ba,"


Dia salim pada Mayu, selanjutnya naik ke sofa dan mengecup kening dan pipi Mayu.


Senyum Mayu mengembang melihat perlakuan manis anaknya.


"Dedek!" seru Lisa lagi kemudian duduk di samping Mayu dan mengusap perut Mayu.


Lisa juga mendekatkan bibirnya ke perut Mayu dan mengecup perut Mayu sebanyak 2 kali. Setelah itu dia mengusap sayang perit bundanya.


"Dedek, Akak Lisa udah puyang les. Akak Lisa, senang dedek. Akak Lisa belajal hitung. Wan, tu, tli, po, paip, sik, sepen, eg, nain, ten. Pintal Akak Lisa, Dedek." ujar Lisa dan berhenti untuk sejenak. Dia mengubah posisinya jadi berdiri di depan perut Mayu, yang mana tujuannya supaya dia bisa lebih mudah bicara depan perut Mayu.


"Nanti alau, Dedek udah lahil, Dedek ikut les sama Akak Lisa ya Dedek. Selu Dek, banyak teman. Banyak makan enyak Dedek." ujar Lisa lagi membuat Mayu kembali tersenyum sedang Dira yang sudah duduk di samping menantunya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


Hobby makan Lisa tidak berkurang sedikit pun. Walau begitu dia terlihat semakin kurus, dan itu kerena dia semakin tinggi dan aktivitasnya juga semakin banyak. Dia sudah sekolah paud dan jadwalnya les sudah full dalam seminggu kecuali hari saptu dan minggu saja. Hari minggu juga tidak ada waktu rebahan untuknya karena Para sepupunya akan datang ke rumahnya dan main di halaman samping rumah Alga. Halaman yang sudah Alga sulap jadi permainan outdoor sekaligus tempat uji kemampuan untuk anak-anak. Ada rumah pohon, ada panjat dinding, ada ayunan dan lain sebagainya. Lisa dan para sepupunya sangat betah main di sana, terkadang ada tambahan anak tetangga juga.


Lisa menoleh pada Mayu begitu dia teringat sesuatu.


"Kenapa Kakak?" tanya Mayu sambil mengusap rambut panjang anaknya.


"Bunda, dedek nakal, tendang-tendang Bunda?" tanya Lisa teringat Mayu yang sering mengaduh kesakitan gara-gara tendangan adiknya. Adiknya begitu aktif di dalam sana.


"Enggak kok Kakak, dedeknya enggak nakal, dedeknya baik sama Bunda." ujar Mayu membuat Lisa tersenyum senang dan kembali beralih pada Mayu.


"Dedek pintal. Dedek angan nakal ya Dedek. Dedek halus sayang-sayang Bunda. Sian Bunda, Bunda endong-endong Dedek telus, Dedek belat." ujar Lisa lagi.


Lisa ingat Mayu yang terkadang kesusahan jalan karena perut besarnya. Terkadang Alga bahkan harus memeganginya karena tidak tega melihat isterinya dan Lisa selalu memperhatikan itu. Makanya Lisa juga semakin nurut pada bundanya dan sikapnya juga semakin manis pada Mayu.


Sementara Mayu dan Dira lagi-lagi tersenyum mendengar kata-kata Lisa. Sudah kelihatan jiwa penyayang Lisa, walau cerewetnya membuat geleng-geleng kepala.


"Kakak!" panggil Mayu.


"Iya Bunda," jawab Lisa dan beralih pada bundanya.


"Bunda haus, minta minum pada budhe Kakak! Cemilannya juga sekalian!" suruh Mayu.


"Siap Bunda, pelintah Bunda, Akak lakcanakan." ujar Lisa dan tanpa menunggu lebih lama lagi, dia langsung berlari ke arah dapur.


Mayu dan Dira kembali tersenyum melihat semangat Lisa.


"Budhe!" panggil Lisa.


"Iya Non, ada apa?" tanya Tuti.


"Bunda minta minum sama cemil-cemilan, sama Lisa juga ya Budhe! Tolong Budhe." ujarnya.


"Siap Non. Non Lisa bisa tunggu di depan saja! Nanti makanan dan minumannya, Budhe antar." ujar Tuti.


"Lisa bantu bawa, Budhe." ujar Lisa membuat Tuti tersenyum. Cucu majikannya ini sangat rajin dan bukan pecinta kaum rebahan sama sekali. Persis seperti opa dan gradpanya.


"Ok Non. Non Lisa bantu bawa gelasnya saja ya dan ingat jangan sampai jatuh!" ujar Tuti.


"Siap Budhe, Akak Lisa pintal Budhe. Nono jatuh." ujar Lisa mantap.


"Ya Kakak Lisa memang pintar."


"Yaya hihi ...." ujar Lisa senang.

__ADS_1


***


"Bunda!" panggil Lisa. Pagi ini Lisa menemani Mayu dan nenek Iroh berjemur.


"Kenapa Kakak?" tanya Mayu.


"Akak Lisa, semalam mimpi." ujar Lisa memulai ceritanya.


"Kakak Lisa mimpi apa Cantik?" tanya Mayu lagi.


"Dedek lahil, ada dua dedek, Bunda." ujar Lisa begitu ekspresif membuat Mayu dan nenek Iroh tersenyum mendengarnya.


"Terus dedeknya gimana? Dedeknya nakal atau enggak?" tanya Mayu samil mengusap perut buncitnya.


"Ihh dedek nono nakal. Dedek nangis telus. Dedek satu nangis, dedek 2 nangis, pucing Akak Lisa, Bunda." cerita Lisa lagi membuat Mayu dan nenek Iroh mau ngakak. Ada-ada saja ini, bisa-bisanya dia tahu pusing, padahal orang-orang sekitarnya yang sering pusing melihat tingkahnya.


"Kalau Kakak Lisa pusing, nanti minum obat ya Nak!" ujar nenek Iroh membuat Lisa seketika menoleh padanya.


"Akak Lisa, nono sakit Nenek. Akak Lisa, sehat nono minum obat. Olang sakit balu minum obat." ujarnya malah mengajari neneknya.


"Ya Nak ya," ujar Nenek Iroh sampai kehabisan kata. Cicitnya terlalu pintar.


"Li-Lisa!" ujar Mayu tiba-tiba terbata. Mayu merasakan perutnya perutnya sangat mulas juga sakit. Sepertinya dia mengalami kontraksi. Mayu memegangi perutnya rasa sakitnya semakin menjadi.


"Bunda nono Lisa, tapi Akak Lisa." protes Lisa dan beralih pada bundanya.


"Bunda napa?" tanya Lisa cepat, begitu melihat bundanya yang terlihat kesakitan.


"Bunda pipis celana!" ujar Lisa lagi saat melihat air membasahi kaki Mayu.


Nenek Iroh juga refleks menoleh pada cucunya.


"Ya ampun Mayu, kamu mau melahirkan Nak?Lisa kamu panggil Oma cepat! Bilang bunda mau melahirkan!" ujar nenek Iroh pada cicitnya dan tampak panik di wajahnya.


"Yaya Nenek!" ujar Lisa dan ikut panik.


Sementara Mayu keringatnya mulai bercucuran, badannya semakin lemas dan rasa sakit itu juga semakin menyerang.


"Oma! Bunda Oma!" teriak Lusa sambil berlari.


"Bunda Mayu kenapa Non?" tanya Tuti.


"Bunda sakit, bunda mahilkan!" seru Lisa sambil berlari ke arah tangga. Lisa mau ke kamar omanya yang di lantai 2.


"Melahirkan!" seru Tuti dan langsung berlari ke halaman belakang.


"Ya ampun Mayu, kamu sudah mau melahirkan? Sebentar ya!" serunya ikutan panik melihat Mayu kesakitan dan dua juga kembali berlari masuk rumah.


"Ujang, cepat bantu Mayu, Mayu mau melahirkan!" teriaknya memanggil supir Lisa dan Dira.


Ujang yang sedang membersihkan mobil seketika menghentikan kegiatannya dan menghampuri Tuti.


"Melahirkan Budhe. Dimana nyonya Muda, Budhe?" tanya Ujang terburu-buru.


"Mayu ada di halaman belakang cepat kamu bantu dia!" suruhnya dan kembali berlari masuk rumah.


"Siap Budhe." ujarnya dan tanpa menunggu lagi, dia langsung berlari masuk rumah. Dia khawatir pada nyonya mudanya.


"Ujang kamu mau kemana?" tanya Dira dari arah tangga. Dia juga jalan terburu-buru karena khawatir pada menantunya.


"Ini mau membantu nyonya muda, Nyonya!" ujarnya.


"Baguslah. Kamu cepat ya Ujang!" serunya lagi dan kembali beralih pada Lisa yang tengah memegangi tiang tangga karena takut jatuh.


"Kakak, kita ambil tas Oma dulu saja. Bunda kamu sudah dibantu mamang Ujang." ujar Dira. Dira mau menghubungi anaknya supaya segera nyusul mereka ke rumah sakit."

__ADS_1


"Iya Oma," ujar Lisa nurut saja.


Jika Mayu benaran mau melahirkan ini lebih cepat beberapa hari dari prediksi dokter, karena itu juga Alga masih masuk kerja.


***


Alga langsung berlari keluar dari ruangannya begitu dia mendapat telepon dari maminya.


Melly sampai terkejut karena pintu ruangannya dibuka cepat.


"Melly, untuk beberapa hari ke depan kamu tolong atur jadwal saya. Istri saya mau melahirkan. Berkas-berkas yang harus saya priksa dan tanda tangani antar saja ke rumah sakit!" printah Alga.


"Baik Pak. Semoga la-"


Belum juga Melly selesai bicara Alga sudah pergi meninggalkannya. Melly tidak kesal, dia sangat maklum. Dia memang sangat kagum pada bosnya itu, tapi bukan berarti dia menginginkan Alga. Dia juga sangat tahu diri dan dia sangat cinta pada pekerjaannya.


Kembali ke Alga. Alga masih terus berlari membuat karyawan yang papasan dengannya menatap heran padanya.


Alga tidak perduli itu, dia juga tidak tersenyum pada mereka separti biasanya, karena yang ada dalam benak Alga saat ini hanya Mayu dan Mayu. Dia sangat khawatir pada Mayu, selain itu dia juga tidak mau kejadian dulu terulang kembali. Untuk kali ini, Alga ingin mendampingi istrinya saat lahiran.


***


"Mi, gimana Mayu. Apa anak kami sudah lahir?" tanya Alga begitu dia sampai di hadapan maminya. Dia sampai ngos-ngosan dan terlihat sangat panik.


"Dia sudah masuk ruang operasi Alga. Kata dokter terlalu beresiko kalau melahirkan secara normal. Keadaan Mayu cukup lemah kali ini." ujar Dira.


"Tidak apa-apa Mi yang penting Mayu dan anak kami selamat." ujar Alga tidak mempermasalahkannya sama sekali karena sebelumnya juga dia dan Mayu sudah membicarakannya dan Mayu juga tidak masalah kalau pun dia lahirannya operasi caesar.


"Iya Alga, Mami juga berharap hal yang sama. Kamu sebaiknya masuk saja, kamu bisa temani Mayu!" suruh Dira.


"Iya Mi," ujar Alga.


Alga menarik nafas pelan sebelum dia masuk ruang operasi caesar istrinya.


Alga dipersilahkan untuk memakai topi dan baju khusus terlebih dulu. Setelah itu barulah diizinkan bertemu dengan Mayu.


"Bun," ujar Alga begitu melihat wajah istrinya yang terlihat sangat lemas.


Perasaan Alga begitu campur aduk, satu sisi dia merasa lega karena bisa menepati janjinya tapi di sisi yang lain, dia juga sangat khawatir pada istrinya.


Mayu tersenyum tipis padanya. Dia sudah disuntikkan obat bius regional yang berupa anestesi spinal, yang mana tujuannya untuk menghilangkan rasa nyeri dari pingging ke bawah.


Alga kemudian mengecup dalam kening istrinya.


"Harus kuat ya Sayang, di sini ada Ayah yang akan selalu ada untuk Bunda dan anak-anak kita." ujar Alga lagi.


Mayu kembali tersenyum tipis. Dia senang ada Alga bersamanya dan menemaninya disaat Mayu memang sangat membutuhkan kehadiran suaminya.


"I love you so much Bunda. Ayah yakin Bunda pasti bisa." ujar Alga lagi dan kembali mengecup kening Mayu.


Di depan ruang oprasi tampak Lisa baru sampai bersama Pratama, Sindi, Tuti dan nenek Iroh.


"Oma, bunda Mayu!" seru Lisa dan langsung berlari ke arah omanya. Di wajahnya tampak masih terlihat sisa air matanya karena sebelumnya sempat menangis gara-gara ditinggal Dira dan Bundanya. Dia sangat takut melihat bundanya kesakitan dan terlihat sangat lemas.


"Bunda di dalam sama ayah Alga, Kakak. Kakak Lisa di sini saja sama Oma ya! Kakak Lisa juga jangan nangis lagi. Bunda baik-baik saja kok." ujar Dira sambil mengusap sisa air mata cucunya.


"Bunda sakit, Oma." lirih Lisa.


"Nanti juga sembuh kok, makanya Lisa juga jangan nangis! Lisa doa sama Allah. Minta pada Allah, supaya dedek bayinya lahir selamat dan bundanya juga selamat!"


"Yaya Oma," ujar Lisa dan langsung menhangkat kedua tangannya.


"Oe oe oe ...."


"Dedek! Ini Akak Lica Dedek!" seru Lisa begitu mendengar tangisan bayi. Wajahnya juga terlihat sangat antusias. Dia tidak sabar ingin bertemu adiknya.

__ADS_1


__ADS_2