Kekasih Bayaran Tuan Muda

Kekasih Bayaran Tuan Muda
Dira Kembali Berulah


__ADS_3

Kening Alga berkerut begitu sampai kamar dan melihat kamarnya berantakan. Apa rumahnya baru saja kemalingan? Rasanya tidak mungkin, dari Alga masuk keadaan rumahnya baik-baik saja dan tidak mungkin yang kemalingan hanya kamarnya saja. Terlebih lagi kamarnya ada di lantai tiga dan itu juga balkonnya menghadap ke halaman depan. Kalau pun ada kemalingan sudah pasti dari lantai satu atau kamar bagian belakang.


Brak!


Alga langsung mempercepat langkahnya begitu melihat ada benda jatuh.


"Mami! Mami ngapain di kamar Alga, Mi!" kaget Alga menatap heran maminya.


Jangan-jangan maminya yang sudah membuat kamarnya berantakan?


Dira yang sedang memeriksa isi laci lemari anaknya menoleh.


"Mami mau ngecek barang-barang kamu." ujar santai dan kembali melanjutkan mengecek barang-barang Alga.


"Mami untuk apa mengecek barang-barang Alga, Mi? Lihatlah gara-gara mami semuanya jadi berantakan. Kasihan si mbok Mi." ujar Alga meletakkan kasar tasnya.


Padahal rencana Alga sampai rumah ingin mengerjakan tugas tapi gara-gara maminya rencananya langsung berantakan. Alga tidak mungkin bisa mengerjakan tugas jika kamarnya berantakan.


"Mami hanya mau tahu, kamu jual barang apa saja." ujar Dira cuek dan tanpa menatap anaknya.


"Maksud Mami menjual barang apa Mi?" bingung Alga.


"Ya barang-barang berharga kamu Alga, barang apa lagi? Mami yakin kamu pasti menjual barang-barang kamu supaya bisa pacaran sama cewek tidak tahu diri itu kan? Sebaiknya kamu ngaku saja, kamu jual barang apa saja?" tuduh Dira tidak berdasar.


Alga menghembuskan nafas kasar.


"Ya ampun Mi, Alga tidak menjual barang-barang Alga, Mi. Alga tidak serendah itu Mi dan Mayu juga tidak sematre itu. Satu lagi yang harus Mami tahu, sejak Mami menghukum Alga, setiap jalan dengan Mayu, selalu Mayulah yang membayar makanan kami Mi, dan kalau pun kami makan, paling habisnya hanya 50 ribu, jadi untuk apa aku menjual barang-barangku?" jelas Alga. Alga benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikiran maminya. Bisa-bisanya dia menuduh Alga seperti itu.


Alga memang pernah kepikiran ingin menjual salah satu jam mewahnya, hanya saja Alga takut ketahuan dan kalau ketahuan sudah pasti masalahnya akan besar, jadi Alga lebih memilih berhemat saja. Lagian sekarang Mayu juga sudah punya banyak uang, jadi Alga tidak perlu khawatir lagi kalau hanya untuk uang jajan. Mayu tidak keberatan memberi dia uang. Apalagi Alga rencananya mau berbisnis dengan kekasihnya. Mereka ingin mengembangkan usaha kolor dan bh Mayu.


"Bohong! Kamu bohong Alga, kamu jangan coba-coba membohongi Mami ya! Mami ada bukti kalau kamu dan kekasih kamu itu makan di kafe mahal. Kalian juga pesan makanan yang banyak, dan siapa lagi yang membayari makan kalian kalau bukan kamu? Mami bukan orang bodoh yang bisa kamu bohongi Alga. Jadi lebih baik kamu jujur saja pada Mami." ujar Dira bersikukuh.


Alga menatap maminya dan lagi-lagi menghembuskan nafas kasar. Alga ingat beberapa jam yang lalu dia habis makan di kafe dengan Mayu. Sepertinya ada yang mengadu pada maminya.


Kurang kerjaan banget itu yang mengadu. Apa dia tidak tahu kalau kekasihnya itu sangat pintar dalam mengelola uang? Bahkan tanpa uang pemberian dari papa kandungnya, kalau hanya buat makan di kafe, Mayu masih sangat sanggup untuk membayar. Hanya saja Mayu memang lebih memilih hidup berhemat karena tidak mau uang tabungannya sampai habis.


"Ok Mi, aku akui aku dan Mayu memang sempat makan di kafe tapi itu jelas-jalas Mayu yang bayar Mi. Mayu yang diam-diam memberikan uangnya padaku supaya aku yang bayar sendiri pada pelayannya. Karena Mayu tidak mau aku terlihat rendah di mata orang-orang. Mayu itu tidak sekere yang mami pikirkan. Bahkan nih ya Mi kalau Mayu mau, tanpa dia jualan selama satu tahun ke depan, uangnya tabungannya itu masih cukup Mi. Hanya saja dia tidak mungkin melakukan itu karena Mayu adalah tipekal gadis pekerja keras. Dia paling tidak bisa kalau menganggur. Dia bisa stress kalau tidak bekerja." ujar Alga mememuji kekasihnya.

__ADS_1


"Mami tidak percaya. Enggak mungkin penjual kolor dan bh bisa punya tabungan yang banyak. Paling banyak juga 1 jutaan saja. Gimana ceritanya uang 1 juta cukup buat setahun. Udah deh Alga kalau bicara itu sesuau fakta saja dan tidak usah berlebihan. Mami tidak akan percaya pada kamu kalau menyangkut pacar tidak tahu diri kamu itu." ujar Dira tidak mau kalah.


Alga menggaruk kasar kepalanya.


"Susah ya bicara sama Mami yang bisanya menganggap orang lain rendah saja, dan kalau Alga jelaskan sampai mulut Alga berbusa pun hanya akan percuma saja. Udah sebaiknya Mami keluar saja, Alga mau belajar Mi. Tolong jangan ganggu Alga!" ujar Alga capek berdebat dengan maminya.


"Enggak Mami tidak akan keluar sampai kamu mau ngaku. Kamu sudah jual barang apa saja?" ujar Dira yang tetap teguh pada pendiriannya.


Alga kembali menggaruk kasar kepalanya. Ini maminya benar-benar menguji kesabarannya saja.


"Mi harus berapa kali lagi Alga bilang kalau Alga tidak pernah jual barang Alga. Mami bisa tanya Rangga atau Yudha kalau Mami tidak percaya. Mami sangat tahu Alga bukan, Alga tidak mungkin mengakui sesuatu yang tidak Alga perbuat. Mi, jangan karena aku jadi anak baik, Mami jadi semakin seenaknya saja padaku Mi. Kesabaranku itu ada batasnya Mi. Jangan sampai aku keluar dari rumah ini karena perlakuan Mami. Aku ini bukan anak kecil lagi Mi. Kalau aku mau aku juga bisa cari uang sendiri. Aku juga tidak perduli kalau Mami keluarkan dari kartu keluarga, karena aku tidak takut miskin sama sekali. Bagiku yang penting aku bisa hidup dengan nya tenang dan nyaman." tegas Alga akhirnya mengeluarkan uneg-unegnya.


Sudah cukup kesabaran Alga selama ini, karena dia diam, maminya senang sekali cari gara-gara dengannya.


Dira terdiam dan menelan ludah. Tentu saja dia tidak mau kalau Alga sampai keluar dari rumah mereka. Sudah pasti dia yang akan disalahkan kalau sampai itu terjadi. Pratama juga bisa marah besar padanya.


"Iya Alga iya, Mami keluar, tapi ingat awas saja kalau kamu jual barang-barang berharga kamu demi gadis tidak tahu diri itu!" ujar Dira sebelum akhirnya keluar dari kamar anaknya.


Alga kembali menghembuskan nafasnya kasar melihat kelakuan maminya. Kesabarannya benar-benar diuji karena maminya.


Keesokan harinya seperti yang sudah di rencanakan Mayu. Pulang kuliah dia langsung menjemput neneknya dan mereka berangkat bersama ke hotel yang sudah dipesan oleh Mayu.


Mayu dan neneknya saling menatap dan mereka saling tersenyum begitu melihat hotel bintang lima itu. Hotelnya sangat besar dan juga mewah.


Kedatangan mereka hanya disambut dengan tatapan jutek oleh oleh satpam begitu juga saat mrreka sampai di meja resepsionis. Mayu dan neneknya dilayani dengan malas-malasan. Hanya saja begitu Mayu menujukkan kode vouchernya resepsionisnya seketika bersikap ramah pada Mayu dan melayani Mayu dengan sebaik-baiknya.


Mayu hanya tersenyum dalam hatinya. Tidak sia-sia juga dia minta rekomendasi pada Alga. Segitu besarnya memang pengaruh orang-orang berduit itu.


"Ayo Nek, kita sudah bisa ke kamar." ujar Mayu ceria dan menggandeng tangan neneknya kembali.


"Iya Nak," ujar nenek Iroh mengikuti cucunya.


"Eh ini kita mau kemana Nak?" tanya nenek Iroh saat mereka hendak masuk lift.


"Naik lift Nek, kamar kita ada di lantai 20 Nek." jawab Mayu.


Nenek Iroh seketika menatap cucunya.

__ADS_1


"Serius Nak, tinggi banget."


"Iya Nek, biar pemandangannya lebih bagus Nek. Dijamin Nenek tidak akan kecewa." ujar Mayu sambil menekan tombol lift.


"Mau lantai satu pun, Nenek tidak akan kecewa Nak. Nenek sudah sangat senang bisa menginjakkan kaki di hotel ini. Hotelnya benar-benar bagus ya. Pasti harga sewanya mahal ini. Kamu harusnya jangan terlalu boros dong Nak!" ujar nenek Iroh yang tidak pernah bosan mengingatkan cucunya.


"Harga aslinya memang lumayan mahal Nek, 1 juta 8 ratus permalam, tapi karena kita dapat diskon 80 persen jadinya murah. Udah, spesial untuk hari ini sebaiknya kita jangan pikirkan masalah uang dulu Nek. Kita fokus bersenang-senang saja Nek, kita tidak boleh merusak hari bahagia kita."


"Baiklah Nak," ujar nenek Iroh dan mengeratkan pegangannya di tangan Mayu. Mereka kembali sama-sama tersenyum.


"Selamat datang di kamar kita Nek. Kita benar-benar jadi orang kaya hari ini. Gimana menurut nenek kamar kita?" ujar Mayu memamerkan kamar mereka.


"Nak ini benar-benar bagus Nak, kasurnya besar dan empuk, ada sofa dan televisinya juga. Nenek sangat suka ini." ujar Nenek Iroh berbinar. Dia sangat senang melihat kamar hotelnya benar-benar seperti kamar orang kaya.


"Baguslah kalau Nenek suka. Sekarang Nenek mau melakukan apa dulu, nonton tidur atau apa?"


"Nonton dulu saja Nak."


"Ok ayo kita nonton dulu." ujar Mayu sambil membawa neneknya ke sofa kemudian menyalakan televisi. Walau baru kali ini Mayu menginap di hotel tapi dia sudah mengerti tentang hotel, karena sebelumnya sudah belajar dari youtube dan Alga juga sudah menjelaskan beberapa hal terpenting padanya. Jadi Mayu tidak akan salah lagi.


Nenek Iroh tampak tersenyum begitu televisinya menyala.


"Ah iya Nek, Mayu lupa membawa snack yang sudah Mayu siapkan. Sebentar ya Nek, Mayu ambil dulu. Nenek enggak apa kan Mayu tinggal?"


"Enggak apa-apa Nak."


"Ok Nek, Mayu keluar sebentar ya Nek."


"Iya Nak hati-hati."


"Ok Nek." ujar Mayu.


Mayu melangkahkan cepat kakinya keluar dari kamar.


Mayu melangkah dengan riangnya dan tanpa perduli sekitarnya.


"Loh Mbak, bukankah itu Mayu pacarnya Alga? Dia ngapain di hotel?" ujar Sindi begitu mereka keluar dari restoran hotel dan melihat Mayu jalan tidak jauh dari mereka.

__ADS_1


__ADS_2