
Sejak kelahiran anak Alga dan Mayu, suasana di rumah Alga tidak pernah sepi. Tidak hanya Sindi dan David yang setiap hari berkunjung ka sana. Naura dan teman-teman mereka, saling bergantian mengunjungi si bayi mungil itu. Mereka senang sekali melihat bayi Alga dan Mayu, yang mereka beri nama Alisa, dipanggil Lisa.
Alga juga menepati janjinya, tiap malam dia menemani istrinya begadang dan jika dia melihat Mayu terlalu lelah dia siap menggantikan tugas istrinya. Perhatian Alga juga tidak berkurang sedikit pun pada istri tercintanya. Alga benar-benar menepati janjinya.
Mayu tentu saja merasa senang dengan perhatian suaminya. Rasa lelahnya seketika hilang kalau sudah ada Alga.
"Bunga cantik untuk istriku yang paling cantik." ujar Alga memberikan buket bunga untuk istri tercintanya.
"Makasih Ayah," ujar Mayu tersenyum dan menerima bunganya. Rutinitas baru Alga tiap pulang kerja, dia pasti akan selalu membawakan sesuatu untuk istri tercintanya. Entah itu bunga, makanan kesukaan Mayu, cemilan dan yang lainnya.
"Sama-sama. Bunda suka?"
"Suka sekali Ayah."
"Baguslah kalau Bunda suka, Ayah senang mendengarnya." ujar Alga kemudian mengecup kening, pipi dan bibir istrinya. Berhubung tidak ada orang di kamar mereka, Alga main-main sebentar dengan bibir istrinya. Alga sangat sangat tahu itu adalah obat paling mujarab untuk mengusir rasa lelahnya dan Mayu.
Alga melepas tautan bibir mereka dan mengusap bibir dan pipi istrinya.
"Pipi kamu sudah mulai kempes Bun," ujar Alga.
"Gimana tidak kempes, tembemnya pindah ke anak kita. Lihat lah pipi Lisa sampai tumpah-tumpah begitu." ujar Mayu dan ada senyum di wajahnya mengingat anaknya yang makin gembul makin hari padahal usianya baru 4 bulan.
"Benar juga, Ayah jadi merindukan putri kita?Dimana dia?" tanya Alga
"Sama Mami. Ayah sebaiknya mandi dulu saja. Setelah mandi baru boleh main sama Lisa." ujar Mayu mengingatkan.
"Siap Sayang. Mandi bareng yuk Bun!" ujar Alga dengan santainya dan langsung mendapat protesan dari Mayu.
"No Yah aku baru selesai mandi ya. Lihat saja ini rambutnya saja masih basah." ujar Mayu menunjuk rambutnya.
"Ya enggak apa-apa Bun, nanti Ayah bantu mengeringkannya deh." ujar Alga lagi.
"Enggak ada itu Yah, takutnya Lisa keburu nangis kalau ditinggal terlalu lama. Sebaiknya Ayah masuk kamar mandi sekarang!" tegas Mayu.
"Iya Bunda iya. Tunggu Ayah kalau mau menghampiri Lisa. Ayah mandinya tidak akan lama." ujar Alga dan tak lupa mengecup pipi istrinya sebelum masuk kamar mandi.
Mayu hanya tersenyum melihat tingkah suaminya.
Mayu memilih menata bunganya terlebih dulu kemudian menyiapkan baju ganti untuk Alga.
***
Alga merangkuk istrinya ke kamar anak mereka. Walau Lisa belum menempati kamar itu, tapi Alga dan Mayu sengaja menyiapkannya dan itu karena banyak yang sering mengunjungi anak mereka. Alga tidak begitu suka sembarangan orang masuk area kamarnya. Kamar adalah area privasinya bersama istrinya.
"Hallo semua," ujar Alga begitu masuk kamar anaknya. Tidak hanya Lisa dan Dira di sana ada Sindi dan nenek Iroh juga. Mereka suka sekali main sama si bayi gembul itu.
"Hallo juga Ayah. Ayah sudah pulang kerja." ujar Dira mewakili cucunya.
"Udah dong. Ya ampun ini cantiknya Ayah ceria sekali." ujar Alga mendapati anaknya yang tengah menggerakkan tangannya dan tersenyum padanya. Hingga lesung pipinya kelihatan. Walau gembul anak Alga dan Mayu termasuk anak yang aktif juga pintar. Penglihatannya sudah mulai jelas dan dia juga sudah mulai bisa mengenali ayah, bunda dan orang terdekatnya, makanya tiap kali melihat Alga, Mayu dan orang terdekatnya dia selalu tersenyum.
Alga balas tersenyum pada anaknya. Dia kemudian meraih tangan Lisa dan membawanya ke bibir Lisa.
"Assalamualaikum cantiknya Ayah." ujar Alga.
"Aaa!" ocehan Lisa membalas sapaan ayahnya dan senyumnya semakin mengembang membuat Alga benar-benar gemas padanya.
"Cantiknya Ayah senyum-senyum saja. Lisa rindu Ayah?" ujar Alga lagi dan tidak lupa meninggalkan kecupan di pipi gembul anaknya.
"Aaa!" Lagi-lagi Lisa mengoceh dan mengangkat tangannya minta digendong Alga.
"Enggak boleh!" goda Dira dan menjauhkannya dari Alga.
Lisa menatap omanya dan kembali mengeluarkan ocehannya.
__ADS_1
"Aaa!" oceh Lisa dan Dira hanya tertawa ngakak dibuatnya.
"Masih kecil udah bisa protes saja ini cucu cantik Oma." ujarnya mengecup pipi gembul Lisa kemudian memberikannya pada Alga.
Lisa lagi-lagi tersenyum begitu dia pindah ke gendongan ayahnya.
"Jangan murah senyum kali lah Lisa, nanti banyak yang naksir Sayang. Repot Ayah." ujar Alga membuat keempat wanita itu tersenyum.
"Ayahnya juga banyak yang naksir ya wajar kalau anaknya juga ketularan. Siap-siap saja kamu Alga." ujar Sindi.
"Oh tidak bisa, nanti yang naksir Lisa enggak usah banyak-banyak ya sayang ya. Cukup satu tapi berkualitas seperti Ayah. Pusing Ayah kalau banyak yang ngapelin Lisa." ujar Alga lagi dan disambut senyum manis Lisa, seakan ngerti saja dia apa kata ayahnya.
"Sok ngerti banget ini si cantik ini. Jangan dengarkan apa kata ayah kamu Lisa, enggak apa-apa punya pacar banyak, yang penting punya suaminya cukup satu saja." ujar Sindi kompor.
"Enggak bisa gitu dong Mom, Lisa enggak boleh jadi playgril. Ayah, bundanya saja enggak playgril. Ya Cantik ya." ujar Alga lagi.
"Ya enggak apa-apa dong playgril Alga. Biar beda gitu." ujar Sindi lagi.
"Beda untuk hal tidak baik enggak perlu Mom. Pokoknya Lisa enggak boleh jadi playgirl titik." ujar Alga lagi tidak mau kalah.
"Kalian ini lagi ngeributin apa sih? Lihat lah Lisa sampai bingung gitu wajahnya." ujar nenek Iroh.
Alga refleks menatap anaknya dan Alga kembali tersenyum. Lisa begitu ekspresif dan suka sekali mengubah mimik wajahnya. Makanya enggak heran semuanya pada betah gendong dia. Mana jarang sekali menangis. Gimana orang-orang sekitarnya enggak makin gemas.
Naura yang tengah hamil muda saja obatnya hanya Lisa. Di saat Naura lagi ngidam berat atau moodnya lagi turun, cukup diberi senyum Lisa saja, moodnya langsung naik.
Terkadang Alga sampai protes karena berpikir itu hanya akal-akalan Naura saja supaya bisa meminjam anaknya. Nyatanya memang begitulah faktanya. Kalau kata Alex senyum Lisa mengandung uang, makanya semua orang ketagihan.
"Lisa Aunty cantik datang. Aunty bawa mainan dong." seru Naura. Dari arah pintu.
Senyum di wajah Alga langsung memudar, baru juga main sebentar dengan anaknya, penguasa Lisa sudah datang saja.
Mayu yang sedari tadi setia memperhatikan mereka hanya tersenyum saja. Udah biasa dia semua orang ingin berebut perhatian anaknya. Anaknya si murah senyum dan memiliki lesung pipi 2, entah menurun dari siapa itu. Di keluarga Mayu dan Alga tidak ada yang memiliki lesung pipi. Hanya saja Mayu dan daddynya memang memiliki dagu belah. Kalau kata dokternya Lisa. Kekurangan pada dagu belah Mayu dan David, pindah ke pipi Lisa dan jadilah lesung pipi.
"Kabar baik apa itu Nau?" tanya Sindi penasaran.
"Begini Mom. Mbak Aira(kakaknya Alex) dan keluarga kecilnya sudah setuju pindah ke rumah ayah dan bunda. Jadi Naura dan Mas Alex akan pindah ke rumah Mommy dan daddy. Sungguh berita yang sangat baik bukan?" ujar Naura dengan wajah cerianya dan mendapat reaksi yang sangat berbeda dari Alga dan Sindi.
"Kalau itu bukan kabar baik namanya Naura tapi musibah." ujat Alga cepat dan disambut tawa Mayu dan yang lainnya.
Menghadapi Naura yang berkuasa atas anaknya saja sudah membuat Alga pusing. Belum lagi Alex yang suka sekali nyulik anaknya. Parahnya lagi Lisa sama siapa saja mau dan selalu memperlihatkan senyum moneynya.
***
Bulan demi bulan berlalu, usia kehamilan Naura sudah tujuh bulan. Sama seperti ibu hamil pada umumnya Naura juga mengadakan acara 7 bulanan dan akan dilangsungkan di rumah orang tuanya atau lebih tepatnya rumah yang Naura dan Alex tinggali saat ini.
Rumah Naura sudah dipenuhi oleh keluarga mereka, Mayu dan keluarga kecilnya juga tidak ketinggalan tentunya. Mayu memilih menemani Naura dan membantu Naura mempersiapkan dirinya. Sedangkan Alga memilih ngobrol dengan Alex dan yang lainnya sedangkan Lisa dibuk memamerkan senyum moneynya pada semua orang.
Lisa yang kini sudah berusia 10 bulan tampak semakin menggemaskan. Rambut hitam lebatnya sudah mulai panjang. Dia semakin pintar ngoceh dan sudah bisa jalan jika ada yang memegangi tangannya.
"Lisa foto dulu Lisa!" ujar Lora sambil mengarahkan kamera poselnya.
Lisa langsung memamerkan senyumnya dan matanya sampai merem membuat Lora dan yang lainnya tertawa melihat tingkahnya.
"Hihi ...." Lisa juga ikut tertawa memuat Lora dan yang lainnya kembali tertawa. Ada-ada saja memang kelakuan Lisa.
"Lisa nangis dulu Lisa, huhuhu gitu!" suruh shinta.
"Nonono!" oceh Lisa sambil menggoyangkan kepalanya membuat orang-orang sekitarnya kembali tertawa.
"Lisa, mau makanan tidak Lisa?" tanya Rangga sambil memamerkan makanan di tangannya.
Lisa menoleh pada Rangga dan langsung memperlihatkan senyum moneynya.
__ADS_1
"Yayaya!" oceh Lisa dan langsung merangkak cepat ke arah Rangga. Lisa suka sekali makan dan senyum moneynya akan langsung keluar kalau melihat makanan.
"Ngga jangan sembarangan memberi Lisa makanan! Nanti sakit lagi." ujar Alga mengingatkan.
Beberapa minggu Lisa sempat sakit gara-gara makanan. Mayu dan Alga sampai takut karena baru kali itu Lisa menangis terus. Untungnya cepat ditangani oleh dokter dan sakitnua juga tidak parah.
"Enggak kok Al, ini hanya bolu. Lisa mau bolu Lisa?" ujar Rangga lagi karena Lisa sudah berdiri sambil berpegangan pada kakinya dan berusaha mengambil bolu.
Lisa tidak menjawab dia hanya mengangkat tangannya berusaha mengambil bolu yang dipegang Rangga.
"Sabar dong Lisa cantik. Kamu ini selalu saja tidak sabaran kalau menyangkut makanan." ujar Rangga kemudian memberi bolunya sedikit saja pada Lisa.
"Hihi ...." Lisa langsung tertawa dan tidak lupa memperlihatkan senyum moneynya. Jika sudah begitu siapa coba yang bisa menolak pesonanya Lisa?
Rangga mengecup gemas pipi Lisa dan membawanya duduk di pangkuannya. Sayangnya begitu makanannya habis Lisa kembali turun dan mencari mangsa yang lain. Lisa masih kurang, dia tidak cukup kalau hanya sepotong bolu, udah gitu masih dibagi 4 lagi. Bagi Lisa jelas itu kurang sekali.
Lisa kembali merangkak cepat ke arah Ahmad ayahnya Alex yang sedang makan bolu. Matanya begitu jeli kalau menyangkut makanan.
Lisa kembali berpegangan di kaki Ahmad dan tidak lupa memperlihatkan senyum moneynya
Ahmad pura-pura tidak melihat karena sudah diberi kode oleh Alex.
"Yayaya!" oceh Lisa sambil mengangkat satu tangannya. Wajahnya terlihat marah karena Ahmad cuek padanya. Ahmad tentu saja mau ketawa melihatnya. Lisa marah tidak ada seramnya justru sangat menggemaskan.
"Makan semua saja Yah dam tujukkan tangan kosong pada Lisa!" ujar Alex tega sekaligus penasaran dengan reaksi Lisa.
Ahmad menuruti Alex. Dia memasukkun semua bolo ke dalam mulutnya dan menujukkan tangan kosong pada Lisa.
"Habis deh." ujar Ahmad menggoda Lisa.
Lisa seakan tidak terima. Dia kemudian menarik tangan Ahmad dan menggigitnya keras.
"Ackh!" Ahmad sampai mengaduh kesakitan karena gigitan Lisa cukup keras. Giginya sudah ada 6 dan pasti sakit kalau kena gigitan giginya.
"Ya ampun Lisa, kakeknya kenapa digigit Sayang?" ujar Alga, sementara Alex dan yang lainnya memahan tawa melihatnya. Mereka kasihan melihat Ahmad tapi lucu juga melihat tingkah Lisa.
"Nonono!" kesal Lisa.
Lisa memberikan tatapan marahnya pada Ahmad kemudian pergi meninggankan Ahmad. Apa yang dilakukan Lisa kembali mengundang tawa orang-orang sekitarnya. Bahkan Ahmad yang sempat mengaduh ikut tertawa gara-gara Lisa. Ternyata Lisa bisa segarang itu kalau menyangkut makanan. Ahmad jadi menyesal sempat menggodanya.
Ahmad kemudian mengambil bolu lagi dan buru-buru memanggil Lisa.
"Lisa, ini ada makanan Lisa. Bolu enak." ujar Ahmad memamerkan bolunya pada Lisa.
Lisa menatap makanannya dan senyum money seketika terbit di wajahnya. Entah kemana perginya wajah marahnya sebelumnya.
Lisa kembali mendekati Ahmad dan kembali tersenyum pada Ahmad membuat Ahmad dan yang lainnya kembali tersenyum termasuk Alga.
"Lisa mau?" tanya Ahmad.
"Yayaya!" semangat Lisa dan berusaha mengambil bolunya.
"Minta dikiss coba Om!" suruh Frans.
Ahmad mengangguk. Dia membungkukkan badannya dan menunjuk pipinya dekat wajah Lisa.
"Ba Lisa!" ujarnya dan Lisa buru-buru menutup mulutnya dengan tangannya membuat Alga dan yang lainnya tertawa ngakak. Lisa tidak mau sembarangan kiss orang. Kakek dan neneknya saja jarang-jarang mau kiss dia.
"Ya ampun Lisa, kamu ada saja ya tingkahnya." ujar Ahmad menatap gemas pada Lisa.
"Hihi ...." Lisa hanya tertawa karena orang-orang sekitarnya juga tertawa.
"Lucu sekali ya Pi. Beruntung sekali Alga dan Mayu punya anak segemas Lisa." ujar Tere.
__ADS_1
Alga tidak sepenuhnya setuju dengan kata-kata Tere. Dia memang beruntung punya anak seperti Lisa tapi kadang suka buat khawatir juga. Lisa sama siapa saja mau, apalagi kalau ditawari makanan, enggak akan nolak dia. Tentu itu membuat dan Mayu harus ekstra dalam menjaga Lisa. Mereka takut Lisa diculik.