
Mayu jalan perlahan keluar dari toilet dan diikuti Sindi yang jalan di belakangnya.
Mayu menggengam tangannya sendiri, dia benar-benar berharap ada seseorang yang menolongnya supaya bisa kabur dari Sindi.
"Belok kan Mayu!" seru Sindi begitu mereka sudah sampai di luar toilet.
"Iya Tante," ujar Mayu. Ingin rasanya Mayu belok kiri saja dan berlari ke arah ballroom. Sayangnya Mayu tidak ingin membuat Sindi semakin curiga saja padanya. Saat ini yang harus Mayu pikirkan adalah apa yang akan dia katakan jika Sindi bertanya tentang dia dan David, dan Mayu tidak mungkin mengaku sebelum dia bicara dengan daddynya.
"Bagus," ujar Sindi dan tatapannya masih terlihat marah pada Mayu.
"Loh Mom, kamu mau kemana?" ujar David tiba-tiba dan pura-pura baru keluar dari toilet laki-laki. David memang sengaja bersembunyi di sana, karena dia sudah bisa menebak apa yang ingin dilakukan istrinya.
Baik Sindi atau Mayu sama-sama-sama terkejut dan langsung menghentikan langkah mereka. Mereka juga sama-sama menatap pada David yang berhenti tepat di depan mereka.
"I-itu Dad, aku hanya mau mencari angin segar saja." bohong Sindi, sedangkan Mayu dia tidak menyia-nyia kesampatannya sama sekali. Mayu buru-buru putar balik dan meninggalkan Sindi saat Sindi bicara dengan David.
'Terima kasih Dad,' batin Mayu. Mayu benar-benar lega, daddynya datang di saat yang sangat tepat.
"Yakin kamu mau mencari angin segar? Ini udah malam loh, kamu bisa masuk angin. Kamu sudah makan belum?" ujar David bersikap biasa dan pura-pura tidak tahu apa-apa.
Sindi sampai mengepalkan tangannya mendengar pertanyaan suaminya. Kenapa dia baru sadar kalau David pintar sekali menyimpan rahasia? Bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, padahal dia sedang menyimpan banyak rencana dalam benaknya.
"Belum," jawab Sindi singkat dan menatap tidak suka pada David. Sindi juga yakin kalau David pasti sengaja melakukan ini. Dia pasti ingin melindungi Mayu, dan sekarang lihat lah, Mayu bisa pergi dengan mudah tanpa biasa dia cegah lagi. Padahal Sindi sangat menunggu momen ini, momen dimana Mayu bisa jauh dari Alga.
"Kenapa belum makan? Kamu bisa sakit kalau tidak makan. Sebaiknya kamu makan, aku temani." ujar David lagi.
Sindi ingin sekali menolak, tapi dia juga tidak punya alasan karena dia juga tidak ingin David jadi curiga kalau dia sudah tahu sesuatu soal dia dan Mayu.
"Baiklah aku makan." putus Sindi akhirnya dengan berat hati.
"Bagus. Ayo!" ujar David lagi kemudian melangkahkan kakinya. Diam-diam David merasa lega karena Mayu sudah pergi jauh meninggalkan mereka.
"Iya," jawab Sindi malas dan semakin mengepalkan tangan. David benar-benar sudah menggagalkan rencananya.
Sementara itu Mayu sudah sampai di dalam ballroom. Mayu benar-benar lega dia akhirnya selamat dari Sindi.
__ADS_1
Mayu kemudian mengedarkan pangangannya dan mencari keberadaan Alga. Sebenarnya Mayu ingin sekali cerita pada Alga, hanya saja Mayu harus menahan diri, karena lagi-lagi dia tidak ingin Alga curiga. Mayu terpaksa menyimpan rapat-rapat semuanya, hingga saatnya tiba nanti.
Mayu tefleks tersenyum begitu melihat Alga mengangkat tangannya dan menatap padanya. Hanya saja senyum itu seketika memudar begitu melihat Alga, duduk di meja bersama sepasang suami istri dan seorang wanita yang masih terlihat muda dan dia juga terlihat cantik dan modis.
Mayu ingin berpikir positif dan dia percaya pada kekasihnya, tapi tidak bisa memungkiri kalau Mayu sulut berpikir positif pada permpuan di sekitar Alga. Pesona kekasihnya itu memang tak bisa dihindarkan. Jadi wajar saja banyak perempuan yang suka dekat dengannya. Dan Mayu juga tidak bisa membohongi dirinya kalau dia suka merasa cemburu, mau gimana lagi namanya juga cinta. Bukankah cemburu itu tanda cinta? Hanya saja Mayu tidak akan cemburu buta karena dia tidak mau Alga jadi tidak nyaman karena rasa cemburunya.
"Sini sayang, duduk!" ujar Alga mempersilahkan kekasihnya dan ada senyum di wajahnya.
Mayu kembali tersenyum, panggilan sayang serta senyum di wajah Alga benar-benar bagai siraman es dalam tumbuh Mayu yang sempat memanas.
"Iya Kak," ujar Mayu. Sebelum duduk Mayu juga tersenyum dan menganggukkan kepalamya pada orang-orang yang duduk satu meja dengan Alga. Mereka juga balas tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Bahkan perempuan yang sempat membuat hati Mayu tak nyaman itu pun ikut tersenyum manis pada Mayu.
"Ay, kenalkan ini Om Handoko, juga istrinya dan ini mbak Dona anaknya. Beliau ini, manager di Pratama group." ujar Alga memperkenalkan orang yang duduk satu meja dengannya.
"Iya Kak." ujar Mayu dan beralih menatap mereka, Mayu sudah mulai terbiasa diperkenalkan dengan orang-orang sukses di sekitar Alga.
Mayu tersenyum ramah pada mereka dan mengulurkan tangannya.
"Hallo Om, Tante, Mbak, saya Mayu." ujar Mayu memperkenalkan dirinya.
"Hallo juga Mayu. Ternyata kamu memang beneran cantik dan ramah, pantas saja Alga dengan mudah jatuh cinta pada kamu." ujar Dona membuat senyum Mayu makin mengembang lagi. Mayu senang bukan karena pujian Dona, tapi dari kata-kata Dona terlihat jelas kalau Dona tidak punya maksud apa-apa pada Alga, seperti kebanyakan gadis di sekitar Alga. Itu cukup membuat Mayu lega dan dia tidak perlu merasa cemburu lagi.
"Terima kasih juga untuk pujiannya Mayu."
"Iya Mbak sama-sama."
"Ah iya Ay, Mbak Dona ini seorang perancang busana loh, dan dia juga sedang mencari patner kerja sama katanya. Siapa tahu kamu tertarik kerja sama dengannya." ujar Alga lagi. Alga juga baru tahu dan itu karena sebelumnya Dona sempat tanya-tanya soal Maga Wear, yang dia pikir ada hubungan kerja sama dengan Alga.
"Benarkah Mbak?" ujar Mayu tampak antusias.
"Iya benar sekali Mayu, dan saya juga sudah tahu loh soal Maga Wear. Awalnya saya tahu dari iklan kalian di sosial media dan ayah juga sempat cerita katanya Maga Wear sudah buat heboh satu kantor. Makanya saya jadi penasaran dan akhirnya iseng-iseng beli sepasang. Saya cukup puas dengan produknya dan Maga Wear memang menang soal kualitas." jelasnya.
"Terima kasih Mbak, senang deh Mayu Maga Wear dapat pujian dan dari pelanggannya langsung lagi." ujar Mayu merasa senang.
"Kamu memang pantas mendapatkan pujian itu Mayu, dan ini bukan karena ada Alga di sini ya. Mbak tidak ada maksud untuk cari muka sama sekali karena Mbak juga tidak ada kaitannya dengan Alga." ujarnya membuat Mayu lagi-lagi tersenyum.
__ADS_1
"Mbak bisa saja. Saya juga tidak kepikiran sampai ke sana kok Mbak." ujar Mayu apa adanya, dan Alga hanya tersenyum saja mengengar percakapan mereka.
"Baguslah kalau begitu. Ah iya soal yang Alga bilang sebelumnya saya serius loh. Saya dengar dari Alga kalian katanya mau mengembangkan produk Maga Wear."
"Iya Mbak, rencanya memang begitu. Kami ingin buat baju tidur dan yang lainnya. Hanya saja kami melakukannya perlahan-lahan saja karena Kak Rangga dan Kak Yudha juga sedang sibuk magang, ditambah lagi pesanan Maga Wear untuk Pratama group juga sangat banyak. Mungkin nanti kami bisa gerak cepat kembali kalau Kak Rangga dan Kak Yudha sudah selesai magang. Soalnya mereka berdua yang paling mengerti soal Maga Wear. Tapi kalau Mbak Dona mau, boleh lah nanti Mbak kita bicarakan lebih lanjut. Jika ada waktu luang, Mbak juga boleh mampir ke toko Maga Wear." jelas Mayu.
"Terima kasih untuk kesempatannya Mayu, saya pasti akan mampir ke toko Maga wear secepatnya, tapi sebelumnya boleh saya minta alamatnya!" ujarnya.
"Tentu saja boleh Mbak." ujar Mayu kemudian membuka tasnya dan mengeluarkan kartu nama Maga Wear.
Pembicaraan mereka masih terus berlanjut, dan Mayu tentu saja sangat senang hari ini. Selain dia dapat banyak kenalan baru, dia juga dapat banyak dukungan yang positif soal hubungannya bersama Alga. Tentu itu adalah suatu hal yang baik untuk mereka ke depannya.
***
"Terima kasih ya Kak," ujar Mayu begitu tinggal mereka berdua saja yang duduk di satu meja.
Alga menoleh pada kekasihnya.
"Terima kasih untuk apa Ay?" tanya Alga tidak mengerti.
"Terima kasih sudah mengajak Mayu ke pesta pernikahan mbak Vivi. Mayu sangat senang Kak dan ternyata ini tidak semenakutkan yang Mayu bayangkan." ujar Mayu.
Alga tersenyum, dia kemudian meraih tangan Mayu dan menggenggamnya erat.
"Sama-sama Ay, aku senang kalau kamu senang. Lagian kamu ini aneh-aneh saja, datang ke pesta pernikahan kok malah takut. Santai saja harusnya, mereka tidak akan makan kamu."
"Aku juga inginnya santai Kak, hanya saja aku awalnya takut kalau aku akan mendapatkan sindiran yang pedas atau kata-kata yang kuramg pantas seperti yang sering aku dapatkan dari keluarga Kak Alga, tapi ternyata aku salah." ujar Mayu apa adanya.
"Enggak akan Ay, karena kamu itu datang bersamaku dan penampilan kamu juga sangat mendukung, jadi tidak ada alasan bagi mereka untuk menghina atau merendahkan kamu, kecuali kalau mereka yang memang sirik hatinya. Itu keluargaku juga karena pengaruh mami saja, makanya pada enggak suka sama kamu. Padahal sebenarnya mereka itu tidak sebenci itu pada kamu. Apalagi setelah mendengar kamu juga sudah punya bisnis sendiri, banyak diantara mereka yang sudah mulai kepo sama kamu dan mulai lunak hatinya. Hanya saja mereka gengsi mengakuinya. Sepupuku Ratna dan Anggi bahkan diam-diam sudah memberi dukungan pada kamu, dan itu mereka sendiri yang mengatakannya padaku tadi pagi. Kalau mbak Vivi dan suaminya enggak perlu ditanya lagi. Mereka itu benar-benar sudah memberi restunya pada kita. Mereka bahkan pernah pesan banyak Maga Wear dan itu tanpa sepengetahuan kamu. Jadi kamu harus tetap bersabar ya Ay, aku sangat yakin perlahan tapi pasti restu itu pasti akan kita dapatkan, asal kita tetap berusaha dan tidak menyerah." jelas Alga.
Mayu menganggukkan kepalanya. Lagi-lagi dia merasa senang setelah mendengar penjelasan Alga.
"Iya Kak, aku pasti akan selalu bersabar dan aku juga akau terus berjuang sampai restu itu benar-benar kita dapatkan. Semangat terus untuk kita Kak!"
"Iya Ayang, kiss Ayang!" ujar Alga malah berakhir bercanda dan menunjuk pipinya.
__ADS_1
"No!" ujar Mayu cepat.
Alga hanya tersenyum lebar. Jika Mayu senang Alga lebih senang lagi, walau gara-gara Mayu, Alga harus jauh-jauh dari keluarganya karena enggak ingin Mayu jadi tidak nyaman karena mereka.