Kekasih Bayaran Tuan Muda

Kekasih Bayaran Tuan Muda
Diusir


__ADS_3

Mayu menurunkan barang dagangannya dari atas motornya. Berhubung para tetangganya tidak mau lagi pesan barang padanya, sisa baju tidur dan barang lain semuanya Mayu bawa dan mau dia jual di pinggir jalan. Lumayanlah walau lakunya hanya satu atau dua, seenggaknya modal Mayu bisa kembali.


"Huh!"


Mayu menghembuskan nafas kasar. Baru selesai menurunkan dagangan saja Mayu sudah merasa capek, ini karena barang dagangan Mayu lebih banyak dari biasanya. Ada satu karung 50 kg dan 2 karung lagi 25 kg.


Karung 50 kg tambah 25 kg, Mayu ikat di belakang dan karung 25 kg satu lagi, dia letakkan di depan di antara kedua kakinya.


"Wih May, habis belanja banyak May? Mantap." ujar pedagang samping kanan Mayu.


"Enggak Mas, ini Mayu bawa baju tidur sisa dagangan yang di rumah. Mas kalau mau beli untuk anak dan istrinya, silahkan saja Mas. Harganya murah Mas, jual modal saja Mas. Mayu ngabisin saja ini." ujar Mayu sambil mengeluarkan barang dagangannya.


"Beneran jual modal May?"


"Beneran Mas, ini baju tidurnya Mayu beli ada yang 25 ribu ada juga yang 30 ribu dan sebagainya. Untuk Mas, Mayu jual segitu saja. Ini beneran dan enggak pakai bohong Mas. Enggak apa-apa Mayu rugi di ongkos, yang penting Mayu balik modal saja." ujar Mayu lagi menujukkan barangnya.


"Saya mau sebenarnya May, mau beli buat istri saya. Dia pasti senang kalau dibelikan baju tidur. Hanya saja jualan saya juga belum laku May, nanti saja ya May kalau sudah laku. Doakan saja May dagangan saya laris, biar saya bisa beli 2 May." ujarnya bersungguh-sungguh.


"Siap Mas, Mayu doakan barang dagangannya laris manis tanjung kimpul, barang habis duit ngumpul." ujar Mayu dengan cerianya.


"Terima kasih May, kamu juga ya May."


"Iya Mas, semangat untuk kita pejuang sesuap nasi Mas!"


"Iya May, semangat!" ujarnya.


Mayu kembali fokus pada barang dagangannya.


Mayu menatap barang dagangannya yang sudah terpajang. Semuanya sudah disusun rapi hanya saja terlihat sempit karena ada tambahan baju tidur.


Jika saja Mayu menambahkan satu gantungan besi untuk baju tidurnya, maka dagangan Mayu akan terlihat lebih rapi dan banyak. Sayangnya untuk saat ini, Mayu harus menghemat uang pengeluarnnya. Ditambah lagi Mayu juga tidak mungkin jualan sebanyak ini setiap harinya. Ini terlalu beresiko, apalagi kalau lagi musim hujan, Mayu pasti akan kewalahan merapikan barang-barangnya.

__ADS_1


"Yuk yuk mari yuk kolor kolor b-"


"Ada satpol pp cepat-cepat bereskan dagangannya, sebelum pada diangkut." teriak salah satu pedagang.


Mayu tidak jadi meneruskan kata-katanya. Dia melotot mendengar teriakan itu. Mayu menoleh ke kanan. Semua para pedagang pinggir jalan mulai riuh membereskan barang dagangan mereka dan mengangkat apa saja yang bisa diangkat.


"Mas beneran ada satpol pp?" tanya Mayu memastikan.


"Iya May beneran, itu barang dagangan kamu cepat dibereskan May. Takutnya diangkut!" ujar masnya tanpa menatap Mayu, dia sibuk membereskan barang dagangannya.


"Ah iya Mas," ujar Mayu dan buru-buru mengambil karung. Mayu tidak lagi mengambil satu-satu barang dagangannya tapi langsung banyak sekaligus. Mayu juga tidak perduli kalau barang dagangannya akan kusut, berantakan dan sejenisnya yang penting itu dagangan bisa dia selamatkan dan tidak diangkut oleh satpol pp.


Mayu mengusap keringatnya yang bercucuran. Mayu benar-benar lelah. Dia baru selesai beres-beres dan belum sempat istirahat, sekarang barang yang sudah dibereskannya harus dimasukin karung kembali. Ini benar-benar tidak adil bagi Mayu, tapi seperti inilah resiko jualan pinggir jalan.


Apa yang terjadi hari ini begitu tiba-tiba dan di luar dugaan. Biasanya jika ada satpol pp, dari siang mereka sudah diperingatkan supaya tidak dagang. Di tambah lagi di daerah Mayu jualan sekarang, jarang sekali ada satpol ppnya kecuali kalau ada orang penting yang mau lewat, itu saja.


"May sini May, karungnya Mamang bantu angkut!" ujar salah tukang parkir dan langsung membantu mengangkat karung Mayu.


Mayu mengangguk dan dengan sisa tenaganya, Mayu mengangkat 2 karung kecil lainnya. Mayu dan si mamang berlari ke arah toko yang tidak mungkin digusur oleh satpol pp.


Mayu hanya menatap lirih meja dan raknya yang sudah diangkut. Sekuat tenaganya Mayu menahan air matanya agar tidak terjatuh. Bagaimana dia akan lanjut jualan lagi kalau meja dan raknya diangkut semua?


Tanpa sadar tuduh Mayu jatuh ke lantai. Mayu terduduk di emperan toko. Mayu menyembunyikan wajahnya di karung dagangnya.


Mayu yang semula masih bisa menahan tangis, perlahan mulai mengeluarkan air matanya. Sungguh hari yang dia lalui hari ini begitu berat. Di rumah dia dapat masalah dan di tempat jualan masalahnya lebih besar lagi. Padahal Mayu sudah capek badan, sekarang ditambah capek pikiran lagi. Jika begini terus bagaimana dia akan mencari nafkah untuknya dan neneknya. Padahal Mayu hanya pejuang sesuap nasi, bukan sebongkah berlian.


Tidak jauh dari Mayu, tampak Naura, Sindi dan Dira sedang tersenyum penuh kemenangan dari dalam mobil mereka.


"Lihatlah Tante, Mayu benar-benar sudah seperti gembel." seru Naura dengan bahagianya.


"Memang dia gembel, sayangnya dia tidak sadar kalau dia hanya gembel, makanya kita harus memberi dia sedikit pelajaran, supaya dia sadar dia siapa. Dan seorang gembel seperti itu sangat tidak layak masuk keluarga Pratama." ujar Dira dengan tatapan sinisnya pada Mayu.

__ADS_1


"Benar sekali Mbak dan itulah akibatnya jika berurusan dengan kita. Itu bahkan belum seberapa, kalau kita mau kita bisa melakukan lebih dari itu." ujar Sindi.


"Benar sekali Sin. Sekarang perintahkan itu ketua satpol pp supaya menjalankan perintah kita selanjutnya!" printah Dira.


"Siap Mbak," ujar Sindi mantap kemudian mengambil ponselnya.


"Selamat tinggal Mayu dan selamat menikmati kesengsaraan lo! Bye bye gembel." ujar Naura dengan tatapan sombongnya.


***


Satuan polisi pamong praja sudah pergi, Mayu dan pedagang lainnya kembali jualan di pinggir jalan. Berhubung mayu tidak sempat menyelamatkan meja dan rak bajunya, terpaksa mayu jualan beralaskan karung saja.


Mayu mengeluarkan barang dagangannya satu persatu dan sambil merapikannya kembali. Mayu tidak mau barang barunya dianggap barang bekas karena terlihat kusut.


Mayu mengangkat kepalanya saat melihat beberapa pedagang datang menghampirinya.


"Ada apa Budhe, Pakde, Mamang apa kalian mau membeli pakaian dalam atau baju tidur?" tanya Mayu seperti biasanya.


Pakde menatap Mayu dan menarik nafas pelan.


"Tidak May, kami tidak ingin belanja, hanya saja kami semua yang ada di sini mau minta tolong May. Apa kamu mau menolong kami?" ujar budhe itu menatap tidak enak pada Mayu.


Mayu balas menatap budhe itu, melihat tatapan budhe itu perasaan Mayu jadi tidak enak.


"Jika Mayu bisa, Mayu pati mau menolong Budhe, ada apa ya Budhe?" tanya Mayu perlahan.


"Begini May, kami ada dapat laporan, kalau kita semua yang ada disini sampai diusir dan tidak boleh dagang itu karena kamu May. Katanya kamu membuat masalah sama salah satu pihak yang berkuasa. Kami tidak tahu siapa orangnya pihak berkuasa itu May, yang jelas selama kamu masih dagang disini, maka setiap hari itu satpol pp akan mendatangi tempat ini dan tidak memperbolehkan dagang di sini. Untuk itu May, kamu jangan dagang di sini lagi ya May. Kami benar-benar tidak ingin May, karena kamu kami semua jadi terkena imbasnya. Hanya di sini tempat kami mencari nafkah untuk menghidupi keluarga kami. Kami enggak tahu lagi harus bagaimana kalau tidak boleh lagi dagang di sini. Satu lagi May, kamu juga masih muda, kamu masih bisa mencari pekerjaan yang lebih layak. Tidak seperti kami yang tidak mungkin lagi mencari kerja, tidak akan ada lowongan bagi kami May, kecuali jadi pembantu dan sejenisnya. Kamu mau bantu kami kan May, kami mohon." jelas budhe itu sambil menundukkan kepalanya.


Sungguh dia juga tidak ingin mengusir Mayu, karena dia juga tidak punya hak untuk itu. Hanya saja ini demi kebaikan mereka semua, dia terpaksa melakukannya, karena dia juga sangat sadar melawan pihak yang berkuasa itu sama saja bun*h diri namanya. Mereka pihak berkuasa banyak yang tidak punya hati dan egois.


Tes

__ADS_1


Air mata Mayu jatuh tanpa dia sadari. Sungguh ini benar-benar berat bagi Mayu. Mayu tidak mungkin setega itu membiarkan para pedagang tidak boleh jualan lagi karena dia. Sementara kalau dia tidak jualan di sini, dimana lagi dia akan jualan?


"Maafkan kami May, ini bukan karena kemauan kami May. Kami juga sangat terpaksa melakukan ini demi kebaikan kami May." lirih budhe itu. Dia merasa bersalah melihat air mata Mayu. Padahal Mayu anak baik tapi entah kenapa Mayu bisa ada masalah sama pihak berkuasa.


__ADS_2