
"Enak saja nuduh gue bar-bar, lo duluan ya yang mulai." ujar Mayu tidak terima.
"Mulai apa? Gue enggak ada melakukan apa-apa ya sama lo. Jangan ngada-ngada deh lo." balas Naura dan beralih menatap Alga.
"Lihat lah Kak, pacar Kakak! Padahal jelas-jelas dia yang salah. Dia bukannya minta maaf tapi malah balik menuduh Nuara. Dia benar-benar tidak punya hati Kak, dan perempuan tidak punya hati ini tidak pantas jadi pacar Kak Alga. Jangan sampai image Kak Alga sebagai laki-laki baik, tegas dan berprestasi, dirusak sama perempuan tidak tahu diri ini. Naura berkata seperti ini karena Naura perduli dan sayang pada Kak Alga." seru Naura lagi.
Naura tidak akan menyerah sampai Alga mengakhiri hubungannya dengan Mayu.
"Image Kak Alga tidak akan rusak karena gue. Kak Alga percaya kan pada saya?" ujar Mayu dan ikut mengadu pada Alga.
Alga yang sedari tadi diam, hanya menarik nafas pelan.
Brak!
Bukan Alga yang memukul meja tapi Lia. Lia juga menatap tajam pada Mayu dan Naura.
"Kalian berdua keluar! Ruangan ini bukan pasar dan kalian tidak ada kepentingan sama sekali di ruangan ini. Jangan ganggu kami semua yang ada di sini! Pagi-pagi udah buat ribut saja!" marah Lia menunjuk ke arah pintu keluar.
Tanpa menunggu diperintah 2 kali Mayu langsung keluar. Mayu juga tidak betah ada di ruangan ini, kalau bukan karena kerja sama dengan Alga, dia juga tidak akan mau menginjakkan kaki di ruangan ini.
"Kamu menunggu apa lagi Naura? Keluar kamu!" seru Lia lagi.
Naura balas menatap tajam Lia.
"Iya saya akan keluar, Kak Lia tenang saja!" ujarnya dan kembali menatap Alga.
"Kak Alga, Naura sangat berharap Kak, Kak Alga memikirkan baik-baik apa yang Naura katakan. Cewek seperti Mayu bukan hanya tidak pantas bersanding dengan kak Alga, tapi dia juga sangat tidak pantas masuk keluarga besar Peratama. Semua keluarga peratama itu sikapnya elagan Kak dan tidak ada yang bar-bar seperti Mayu. Permisi Kak." ujar Naura kemudian keluar dari ruangan BEM.
Alga lagi-lagi hanya menarik nafas pelan.
Dia juga sangat tahu Mayu itu tidak pantas untuknya juga berada di tengah keluarganya, dan hubungannya dengan Mayu juga tidak seperti yang Naura bayangkan. Mayu itu hanya kekasih bayarannya, dan Alga sengaja melakukannya demi melindungi dirinya dari perempuan seperti Naura dan yang lainya.
Alga capek dengan para perempuan yang suka mendekatinya. Terlebih lagi mereka itu kebanyakan munafik. Mereka mengejar Alga karena ada maunya saja. Alga paling malas berhadapan dengan manusia munafik.
"Alga, lain kali jangan izinkan mereka masuk ruangan ini lagi. Ruangan ini bukan buat tempat pacaran atau berantem Alga. Kamu itu ketua, kamu itu harusnya bisa memberi contoh yang baik bukan contoh yang buruk." ujar Lia lagi pada Alga. Lia paling tidak suka melihat kedekatan Alda dan Mayu. Hatinya merasa panas.
__ADS_1
"Sejak kapan di ruangan ini melarang bawa pacar Lia? Selama pacarannya hanya sebatas ngobrol itu bukan suatu masalah. Lagian kedatangan Mayu ke sini juga hanya sekedar menyapa Alga, bukan melakukan hal aneh-aneh. Kalau memang di ruangan ini dilarang membawa pacar, harusnya kamu katakan itu pada Nia dan Arga. Mereka hampir setiap hari pacaran di sini dan kita semua santai-santai saja. Alga memang ketua, tapi bukan berarti dia saja yang harus memberi contoh yang baik. Memberi contoh yang baik itu adalah tugas kita semua." ujar Rangga membela teman sekaligus bosnya.
Rangga itu akan selalu jadi orang pertama yang pasang badan untuk Alga.
"Ya ee Nia dan Arga pacarannya tidak pernah buat ribut, tidak seperti si Mayu itu yang datang-datang langsung buat ribut." ujar Lia membela diri.
"Mayu juga tidak buat ribut. Kedatangannya kesini jelas-jelas hanya ingin menyapa Alga. Justru yang buat ribut itu adalah Naura. Kamu itu harusnya menyalahkan Naura dan bukan Mayu saja. Udahlah masalah seperti ini tidak perlu diperpanjang, dan saya juga akan mengingatkan pada Mayu supaya lain kalau kalau dia datang, diam-diam saja dan tidak buat keributan lagi." ujar Rangga dan kembali duduk di tempatnya.
Lia menatap kesal Rangga dan mau tidak mau dia kembali duduk di tempatnya. Lia beralih menatap Alga. Alga masih tetap diam dan tidak komentar apa-apa.
Alga memang tipekal laki-laki yang bukan banyak omong, tapi apa pun yang keluar dari mulutnya, tidak ada yang berani membantah. Satu-satunya yang berani membantahnya hanya Mayu.
***
"Cewek kerempeng ikut saya!" ujar Rangga begitu Mayu keluar dari kelasnya.
Mayu seketika menatap malas Rangga. Selalu saja Mayu dipanggil kerempeng.
"Enggak mau, saya mau ke perpustakaan. Saya mau pinjam buku." ujar Mayu cepat.
"Kamu tinggal sebutkan saja judul buku yang mau kamu pinjam. Tidak sampai 15 menit buku itu sudah ada di tangan kamu." tegas Rangga.
Mayu seketika menatap Rangga.
"Seriusan bukunya bisa sampai di tangan saya dalam waktu kurang dari 15 menit? Bagaimana kalau tidak sampai?" tantang Mayu.
"Sangat serius nona kerempeng. Kamu jangan meremehkan saya! Kamu tidak tahu siapa saya? Apa saja yang saya mau, bisa saya dapatkan dalam waktu cepat." balas Rangga.
"Sombong!"
"Saya tidak sombong, saya hanya berkata apa adanya. Cepat sebutkan judul bukunya, jangan sampai tuan muda terlalu lama menunggu! Dia bisa marah."
"Baiklah, saya mau buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer." ujar Mayu. Lebih baik dia mengalah saja. Susah menang dia kalau sudah berhubungan dengan Alga.
"Baru masuk kuliah saja sudah sok-sokan baca buku itu. Bukunya beneran dibaca enggak, jangan-jangan hanya buat pajangan lagi?" ujar Rangga sambil mengambil ponselnya dan menuliskan sesuatu di sana.
__ADS_1
"Ya beneran dibaca dong. Buku itu sangat bagus dibaca untuk menambah wawasan."
"Baguslah. Bukunya sebentar lagi akan sampai. Ayo kita pergi!"
"Kemana?"
"Ikuti saya saja Nona kerempeng, enggak usah banyak omong!"
"Iya ya tuan cungkring." ujar Mayu mengikuti langkah Rangga.
Rangga hanya melirik sekilas pada Mayu dan menggelengkan kepalanya. Benar-benar ini Mayu memang tidak punya rasa takut sama sekali.
Sepanjang perjalanan banyak para mahasiswi yang menatap ke arah Mayu dan Rangga, dan tidak jarang juga yang langsung menggosipkan Mayu. Mayu sampai membuang nafas kasar. Sepertinya dia harus terbiasa jadi pusat perhatian juga jadi bahan gosip.
"Santai saja dan tidak usah perdulikan tatapan juga gosip mereka." ujar Rangga tanpa menoleh.
"Gimana saya mau santai Kak, kalau apa yang mereka katakan itu tidak benar? Saya ini juga punya perasaan dan saya bisa sakit hati dengan apa yang mereka katakan. Lagian kenapa sih tuan Muda tidak cari pacar beneran saja, kenapa juga harus melibatkan saya? Masa kuliah saya jadi benar-benar tidak tenang karena dia." ujar Mayu mengungkapkan uneg-unegnya.
Rangga menarik nafas pelan.
"Tidak semudah itu mencari pacar Mayu, terutama bagi tuan muda yang notabennya sulit sekali jatuh cinta. Jika dia memacari gadis lain tanpa perasaan cinta, bukankah itu bisa menyakiti hati gadis itu? Tuan muda tidak mau itu terjadi. Untuk itu dia lebih memilih mencari kekasih bayaran saja, jadi tidak perlu melibatkan perasaan sehingga tidak ada yang akan sakit hati." jelas Rangga.
"Tapi Kak kenapa harus saya. Saya benar-benar capek Kak. Saya juga hanya ingin kuliah dengan tenang."
"Itu karena kamu sudah buat kesal tuan muda, jadi kamu terima saja resikonya. Masih mending dia hanya menjadikan kamu kekasih bayaran, bukan tumbal proyek."
"Heh!" seru Mayu tidak terima.
Rangga hanya tersenyum saja. Ternyata bicara dengan Mayu tidak seburuk yang dipikirkannya. Mayu bisa diajak bicara baik-baik dan anaknya juga tidak gampang baperan.
"Enggak usah senyum-senyum, Kak Rangga jelek kalau tersenyum." ujar Mayu dengan sadisnya.
"Hei!" seru Rangga tidak terima.
Mayu hanya menjulurkan lidahnya.
__ADS_1
Ingin rasanya Rangga meraup wajah Mayu. Sayangnya dia melihat tatapan Alga yang sangat tajam padanya dan Mayu. Rangga harus bisa menahan dirinya.