Kekasih Bayaran Tuan Muda

Kekasih Bayaran Tuan Muda
Cucu Perempuan


__ADS_3

Hari-hari Alga dan Mayu setelah sah menjadi suami istri sangat berbeda dengan pengantin baru kebanyakan, yang mana mereka hanya menghabiskan waktu mereka di rumah sakit saja.


Sebenarnya keluarga sudah meminta mereka pulang dan tidak masalah sama sekali kalau harus menggantikan Alga dan Mayu. Hanya saja Alga dan Mayu tidak mau karena mereka sangat paham, nenek Iroh lebih merasa nyaman kalau bersama mereka. Alga dan Mayu juga tidak mau mengambil resiko, terlebih saat melihat nenek Iroh yang semakin hari semakin baik keadaannya. Wajahnya juga sudah mulai terlihat segar.


Walaupun harus menghabiskan waktu mereka di rumah sakit tapi itu tidak mungurangi kebahagiaan Alga dan Mayu. Mereka juga tetap mesra bahkan bisa dibilang semakin mesra.


Seperti yang terjadi saat ini, disaat nenek Iroh sedang tidur setelah dia selesai minum obat. Alga dan Mayu memilih bermesraan di sofa sambil nonton video pernikahan mereka. Video yang durasinya hampir 10 jam dan itu karena Alga dan Mayu meminta video original dan bukan video yang sudah diedit.


Mayu tampak bersandar di daada bidang suaminya, sedangkan Alga memilih merangkul Mayu dan tangan yang satu lagi memegang ponselnya.


Baik Alga atau Mayu sama-sama tersenyum begitu melihat video mereka saat akad yang mana mereka sama-sama gugup dan salah salah tingkah.


"Kamu ngegemesin banget saat salah tingkah Ay," ujar Alga kemudian mengecup pucuk kepala istrinya.


"Dan Kak Alga lebih ganteng kalau salah tingkah. Ada manis-manisnya lagi." balas Mayu.


"Manis mana dari gula?" tanya Alga.


"Manis Kak Alga hehe ...." ujar Mayu tersenyum malu.


"Serius kamu Ay?"


"Serius dong. Manisnya gula kan bisa habis, nah manisnya suamiku enggak ada habisnya ea ...." ujar Mayu kemudian menyembunyikan wajahnya.


Senyum Alga mengembang mendengarnya. Istrinya bisa saja buat dia melayang.


"Tumben kamu gombal Ay, tapi aku suka. Teruskan!" ujar Alga memeluk Mayu gemas dan sampai menggoyangkannya ke kiri dan ke kanan.


Mayu juga tersenyum lebar dalam pelukan suaminya, sesederhana itu kebahagiaan mereka.


"Ehem, yang pengantin baru bermesraan terus." ujar Dira dari arah pintu.


Alga dan Mayu menoleh, mereka kembali tersenyum begitu melihat Dira dan Tuti datang. Dira memang sengaja datang bersama pembantunya karena sejak Alga dan Mayu sah, ibunya Rangga dia ditugaskan untuk membantu nenek Iroh dan mengurus semua kebutuhannya.


"Mi, Budhe! Silahkan masuk!" ujar Alga sambil melepas pelukannya.


Dira dan Tuti mengangguk. Mayu dan Alga memang sengaja membatasi keluarga yang mau datang mengunjungi nenek Iroh. Mereka tidak mau nenek Iroh terganggu dan bisa fokus pada kesembuhannya saja.


"Kalian sudah makan siang?" tanya Dira perhatian sambil meletakkan barang bawaannya. Barang bawaannya bersama Tuti cukup banyak. Ada buah, roti, makanan berat juga ringan serta minuman.


"Belum Mi, Mami ada bawa makanan apa?" tanya Alga.


"Ini ada sup iga, udang brokoli, salmon sama ayam rica-rica! Makan saja mumpung masih hangat!" ujarnya sambil memasukkan minumannya ke dalam kulkas.


"Ini ada jus dan kelapa muda juga. Kalian harus minum ini, biar tetap sehat." ujar Dira perhatian. Dia kasihan pada anak dan menantunya, makanya dia juga berusaha jadi ibu dan ibu mertua yang baik untuk Alga dan Mayu.

__ADS_1


"Iya Mi, terima kasih ya Mi." ujar Alga dan beralih pada istrinya.


"Ayo Ay, kita makan!" ujar Alga dan Mayu mengangguk mantap.


"Wow, makanannya banyak sekali." ujar Mayu begitu dia membuka rantang yang dibawa Dira.


"Mami sengaja Mayu, siapa tahu ibu Iroh minta makan. Dia biasanya suka sup iga." ujar Dira.


"Benar juga ya Mi dan semoga nenek mau makan banyak, biar cepat sehat." balas Mayu sambil mengambil piring untuk Alga.


"Itu yang kita harapkan Mayu."


"Sepiring berdua saja Ay!" pinta Alga dan Dira hanya menggelengkan kepalanya. Kebiasaan sekali ini anaknya. Apalagi sejak menikah dengan Mayu, dia tidak jadi malu-malu lagi memperlihatkan kemesraannya. Hanya saja Dira tidak membencinya, dia justru senang melihatnya karena Mayu kini menjadi menantu kesayangannya.


"Iya Kak. Lauknya mau apa Kak?" nurut Mayu.


"Sesuai selera kamu saja Ay. Aku suka makanan apa pun itu yang kamu suka." ujar Alga dan langsung mendapat protesan Dira.


"Mentang-mentang pengantin baru suka ikut-ikutan saja kamu Alga." ujar Dira.


"Bukan suka ikut-ikutan Mi. Selera Alga dan Mayu memang sama. Namanya juga jodoh. Iya enggak Budhe?" ujar Alga minta dukungan Tuti.


"Iya Den Alga."


"Tuh Mami dengar sendiri kan!" ujar Alga lagi.


"Jika terus membaik, lusa sudah bisa pulang Mi." jawab Mayu.


"Syukurlah. Itu berarti saat acara pengajian Naura kalian sudah boleh hadir."


"Iya Mi. Lagian kalau pun nenek tidak jadi pulang kami tetap akan hadir. Kami tidak mau Naura dan Alex kecewa. Mereka saja selalu siaga di hari pernikahan kami. Kami harus membalasnya Mi." ujar Mayu kemudian meletakkan piring makanannya yang sudah terisi penuh di depannya dan Alga.


"Benar itu. Lagian kalau kamu tidak ada takutnya malah muncul fitnah. Bisa saja mereka berpikir kamu terlalu asik bulan madu, padahal malam pertama saja belum." ujar Dira lagi membuat Alga dan Mayu saing menatap.


"Mami benar kan, kalian belum malam pertama atau kalian memang sudah melakukannya?" tanya Dira lagi dan sengaja menggoda anak dan menantunya.


"Belum Mi," ujar Alga pelan.


Dira mengusap punggung anaknya. Sejujurnya ada rasa kagum di hatinya melihat Alga. Bisa dibilang Alga pemikirannya jauh lebih dewasa dari umurnya dan tidak seegois Pratama dan dia sendiri. Entah ini karena pengaruh dari Mayu, Dira tidak tahu.


"Yang sabar ya Alga. Nanti begitu semuanya sudah membaik, kalian bisa langsung tancap gas. Oh iya, kalau boleh, Mami minta cucu cewek dong. Mami ingin punya cucu cewek." ujar Dira mengingat calon adiknya Rio juga laki-laki. Dira juga berkata santai saja padahal efeknya tidak lah sesantai itu pada Alga dan Mayu. Alga dan Mayu sampai salah tingkah terutama Mayu. Mayu jadi kesusahan menelan makanannya.


"Ya enggak bisa gitu dong Mi. Jangan sampai Mayu jadi terbebani karena permintaan Mami. Baik Alga atau Mayu, sedikasihnya Allah saja dan kami juga akan menerima dengan senang hati entah itu anak perempuan atau laki-laki." ujar Alga dan Mayu tampak setuju dengan suaminya.


"Jangan bilang kalian mau menunda momongan?" tuduh Dira.

__ADS_1


Baik Alga atau Mayu menggelengkan cepat kepala mereka.


"Ya enggak lah Mi. Kami tidak pernah ada niatan sedikit pun mau menunda momongan. Malah kami berharap secepatnya diberi momongan biar nenek juga masih bisa melihat cicitnya." ujar Alga mantap dan diangguki Mayu.


"Baguslah kalau begitu." ujar Dira memberi dukungan. Dia juga berharap sekali secepatnya punya cucu dari Alga dan Mayu. Cucunya memang sudah mau dua tapi tetap saja dia tidak bisa main tiap hari dengan cucunya dan itu karena Vivi tinggal di rumah mertuanya dan Dira enggak mungkik tiap hari datang ke sana. Baik Vivi atau besannya memang tidak melarang, tapi tetap saja dia tidak enak pada besannya.


"Iya Mi. Ya sudah kami makan dulu Mi."


"Iya,"


***


"Selamat datang di rumah Pratama, Nenek. Semoga betah." ujar Alga begitu nenek Iroh sudah turun dari mobil. Setelah satu minggu dirawat nenek Iroh akhirnya diperbolehkan pulang. Hanya saja dia belum boleh banyak beraktifitas.


"Iya Nak Alga terima kasih," ujar Nenek Iroh dan menatap rumah mewah Alga. Rumah yang akan dia tempati mulai hari ini dan sampai seterusnya.


"Sama-sama Nenek, Nenek mau langsung ke kamar atau mau santai-santai dulu di luar?" tanya Alga perhatian.


"Langsung ke kamar saja Nak Alga. Nenek mau istirahat." ujar Nenek Iroh. Kesehatanya belum kembali sepenuhnya, bawaannya ingin tidur saja.


"Baiklah kita langsung ke kamar Nenek." ujar Alga kemudian membawa nenek Iroh masuk. Mayu dan yang lainnya juga ngikut sambil membawa barang-barang dari rumah sakit.


"Ini dia kamar Nenek, semoga Nenek suka." ujar Alga lagi begitu mereka masuk kamar nenek Iroh. Kamar yang letaknya persis di samping kamar Tuti dan itu karena permintaan nenek Iroh sendiri. Nenek Iroh terlalu ribet kalau kamarnya di lantai dua atau tiga. Walau ada lift tapi tetap saja dia tidak suka naik lift, terlalu merepotkan menurutnya. Apalagi rumah Alga sangat besar dan lebih besar dari rumah Naura.


Nenek Iroh menatap takjub isi kamarnya dan itu selayaknya kamar untuk hotel bintang 5. Ada kasur yang empuk, ada sofa santai yang dilengkapi dengan meja. Ada televisi berukuran besar dan ada beberapa lemari tentunya.


"Ini beneran kamar untuk Nenek nak?" tanua nenek Iroh memastikan.


"Tentu saja Nenek. Kami memang sengaja merenovasi kamar ini untuk Nenek. Di kamar ini juga sudah dilengkapi tombol daruratnya. Misal Nenek merasa tidak enak badan atau butuh sesuatu tinggal tekan saja tombol ini. Ingat Nenek tidak perlu merasa sungkan atau apapun itu. Kami benar-benar tidak mau terjadi sesuatu pada Nenek dan kami tidak ada yang melihatnya." jelas Alga.


"Iya Nak Alga. Terima kasih untuk semua perhatian yang kalian berikan pada Nenek. Nenek tidak mungkin bisa membalasnya, Nenek hanya bisa berdoa untuk kebahagiaan kalian dan rejeki kalian selalu dilancarkan." ujar Nenek Iroh merasa terharu. Dia tidak menyangka kalau Alga dan keluarganya benar-benar memberikan yang terbaik untuknya.


"Kami juga tidak mengharapkan balasan dari Nenek karena kami tulus memberikannya pada Nenek. Kami hanya butuh doa Nenek saja. Ya sudah Nenek bisa istirahat dan semoga nenek betah tinggal di kamar ini." ujar Alga lagi.


"Pasti betahlah Nak Alga, kamarnya seperti kamar hotel, televisinya juga sangat besar. Suka sekali Nenek." ujar nenek Iroh apa adanya membuat Alga tersenyum.


"Syukulah kalau begitu. Alga semang mendengarnya Nek dan Alga juga sangat berharap Nenek sehat-sehat terus menempati kamar ini."


"Amin." kompak nenek Iroh dan Mayu.


***


"Kak, kamar kita dimana?" tanya Mayu begitu mereka sudah selesai dengan nenek Iroh. Mayu tahu kamar Alga, tapi Mayu takut saja Alga sudah pindah kamar karena sebelumnya Alga sempat bilang padanya kalau kamar itu terlalu sempit untuknya dan Mayu. Mereka butuh kamar yang lebih besar lagi.


"Kenapa Ay, kamu sudah tidak sabar ya melakukan malam pertama kita yang sempat tertunda?" goda Alga dan langsung mendapat pukulan gemas Mayu.

__ADS_1


"Apaan sih Kak!" ujar Mayu salah tingkah.


__ADS_2