Kekasih Bayaran Tuan Muda

Kekasih Bayaran Tuan Muda
Lisa Jadi Artis Dadakan


__ADS_3

"Enpa!" rengek Lisa dan langsung berlari ke arah David yang tengah serius mengerjakan pekerjaannya.


David mengangkat kepalanya begitu mendengar suara yang enggak asing baginya.


"Loh Lisa kok bisa ada di sini Cantik?" kaget David dan langsung mengulurkan kedua tangannya dan membawa Lisa ke pangkuannya.


"Enpa, Yayah kakal Enpa." ujar Lisa langsung mengadu pada grandpanya. Sedangkan Alga hanya menggelengkan kepala melihat drama anaknya.


"Nakal kenapa, ayah larang Lisa makan?" tanya David sambil mengusap sayang rambut halus cucunya.


"Nono Enpa. Yayah nono beyik cucu Lica. Yayah kakal Enpa." ujar Lisa mengadu pada grandpanya.


David menoleh pada Alga dan Alga malah tersenyum.


"Gimana aku bisa beli susu buat Lisa, Dad. Lisa membuatku tidak bisa kerja. Baru juga sampai dia minta pulang." ujar Alga membela dirinya.


David hanya menggelengkan kepala melihat drama cucu dan menantunya.


David beralih menatap cucunya.


"Oh jadi masalahnya, gara-garanya Lisa minta pulang. Lisa kenapa mau pulang?" tanya david menatap lembut pada cucunya.


"Lica mau oma, Enpa." ujar Lisa membuat Alga kembali menggelengkan kepalanya. Giliran sama omanya minta ngikut Alga, sekarang malah minta sama omanya lagi. Anaknya plin plan sekali.


"Omanya masih di rumah, nanti dia datang jemput Lisa. Lisa di sini dulu saja ya nunggu Oma. Ayah Alga biar kerja dulu. Kalau enggak kerja nanti ayah Alga dimarahi sama bosnya. Mau Lisa ayahnya dimarahi?" ujar David berusaha membujuk cucunya.


"Nono," ujar Lisa cepat membuat David dan Elga tersenyum. Sekalipun Lisa sebelumnya sempat ngambek pada Alga, dia jelas tidak mau ayahnya dimarahi.


"Lisa enggak mau kan ayahnya dimarahi. Grandpa juga enggak mau ayah Lisa dimarahi, kasihan dia. Ayah Alga suruh kerja saja ya!" ujar David lagi.


"Yaya Enpa,"


"Jangan iya saja Cantik. Bilang pada ayahnya, Ayah boleh kerja! Lisa enggak minta pulang ayah." suruh David.


Lisa menatap Alga dan raut wajahnya masih ada cemberutnya.


"Yayah boyeh kelja, Lica nono puyang." ujar Lisa nurut apa kata David.


"Beneran Ayah boleh kerja?" tanya Alga memastikan dan menatap dalam anaknya.


"Yaya Yayah,"


"Ok, kata semangat untuk Ayah mana!" tagih Alga.


"Cemangat kelja Yayah." ujar Lisa sedikit terpaksa.


"Siap Cantik, Ayah pasti semangat kerja supaya bisa beli susu untuk Lisa. I love you cantiknya Ayah." ujar Alga menatap tersenyum pada anaknya.


"Piyu Yayah," balas Lisa.


"Senyumnya mana!" tagih Alga lagi.


Lisa hanya memgerucutkan bibirnya membuat Alga dan David tersenyum.


"Senyum Lisa jelek, enggak suka Ayah." ujar Alga dan langsung mendapat protesan dari Lisa.


"Nono!" seru Lisa tidak terima dibilang jelek.


"Oh Lisa cantik ya, bukan jelek. Maaf ya Cantik ya, Ayah salah. Ya sudah Ayah kerja dulu ya, Lisa mau ikut Ayah atau sama grandpa?"


"Cama Enpa," ujarnya memeluk David.


"Enggak apa-apa ini Dad?" tanya Alga.


"Enggak apa-apa, Daddy juga belum waktunya miting. Lisa biar di sini saja!" ujar David dan kembali mengusap rambut cucunya.


"Terima kasih Dad. Alga, pergi Dad."


"Iya."


"Cantik Ayah kerja dulu ya. Lisa jangan nakal sama grandpa!"


"Oce Yayah."


"Good girl." ujar Alga mengacungkan jempolnya.


"Ah iya Alga, suruh Very masuk!"


"Iya Dad," ujar Alga.


Begitu Alga keluar tidak lama setelah itu Very sekretaris David masuk.


Lisa yang sebelumnya masih ngambek manja langsung semangat begitu melihat Very.


"Peli!" serunya. Dia kenal dengan sekretaris David. Dia sering bertemu dan Very juga sering memberi makanan padanya.


Very melambaikan kecil tangannya. Baru tahu dia ada cucu bosnya. Sebelumnya Very memang tidak ada di mejanya saat Alga dan Lisa datang.


"Bapak ada apa memanggil saya?" tanya Very beralih pada bosnya.

__ADS_1


"Kamu pergi ke minimarket depan, belikan jajanan untuk Lisa dan mainan juga kalau ada. Ingat jajanannya jangan minuman manis atau es krim dan sejenisnya. Minumannya cukup air mineral saja!" printah David.


David kemudian membuka dompetnya dan memberikan beberapa lembar uang merah pada sekretarisnya.


"Baik Pak, uangnya saya terima. Permisi Pak." ujarnya dan tidak lupa tersenyum pada Lisa sebelum dia pergi.


"Peli itut!" seru Lisa membuat kedua laki-laki itu menatap padanya.


"Lisa mau ikut om Very?" tanya David.


"Yaya Enpa."


"Ya sudah Lisa boleh ikut om Very, tapi ingat Lisa engga boleh nakal ya! Harus nurut pada om Very!" ujar David mengingatkan.


"Oce Enpa." semangat Lisa dan tersenyum pada David. Wajah cemberut Lisa yang sebelumnya sempat singgah seketika hilang bak ditelan bumi.


"Very tolong jaga Lisa ya!" ujar David lagi pada sekretarisnya.


"Baik Pak," ujar Very dan tidak keberatan sama sekali. Dia senang sama Lisa walau Lisa rada songong karena memanggilnya dengan panggilan nama saja. Very maklum saja karena anak kecil pada dasarnya memang kebanyakan begitu.


***


"Hihi ... hihi ...." Lisa benar-benar senang saat Very mengajaknya ke minimarket dan membebaskan Lisa pilih makanan apa saja yang dia mau.


Lisa begitu bersemangat memasukkan makanannya ke dalam keranjang. Dia asal pilih saja, karena dia juga tidak begitu mengerti semua makanan itu. Lisa jarang makan chiki-chiki dan sejenisnya.


"Peli loti!" seru Lisa girang begitu mereka melewati rak roti.


"Iya roti, Lisa mau roti?"


"Mau!" seru Lisa langsung semangat 45.


"Lisa mau yang rasa apa??" tanya Very lagi.


"Picang," jawab Lisa mantap dan Very hanya tersenyum mendengarnya. Very tahu Lisa suka sekali pisang.


"Ok, Om pilihkan roti rasa pisang untuk Lisa ya. Lisa mau berapa rotinya?"


"Yima." ujar Lisa lagi sambil mengangkat tangangannya dan menujukkan ke 5 jarinya.


"Memang Lisa habis 5? Lisa enggak takut tambah gendut? Nanti ini perutnya tambah besar loh." ujar Very menunjuk perut Lisa yang buncit.


"Lica emoi Peli." ujar Lisa lagi menujuk perutnya membuat Very tertawa.


"Makin gendut makin gemoy ya Lisa?"


"Terserah Lisa saja deh. Lisa mau apa lagi?" ujar Very setelah memilih roti rasa pisang untuk Lisa dan Very mengambilnya 2 saja.


"Picang Peli hihi ...." ujar Lisa menunjuk pisang. Penglihatannya begitu tajam kalau soal pisang.


"Ok, kita beli pisang." ujar Very dan membawa Lisa ke tempat Pisang. Lisa langsung minta pisangnya dan memeluknya erat. Kalau sudah ada pisang Lisa langsung melupakan jajanannya yang lain.


"Jajannya udah Lisa?"


"Dah," ujar Lisa cepat.


"Kita bayar?"


"Ya."


"Yakin Lisa?"


"Yaya Peli," ujarnya lagi membuat Very menggelengkan kepalanya.


"Songong sekali kamu Lisa," gemasnya.


Very kemudian membawa Lisa ke kasir dan melakukan pembayaran.


"Lisa jangan lari-lari nanti jatuh!" ujar Very mengingatkan dan berusaha menyamai langkahnya dengan Lisa.


"Nono Peli. Lica nono atuh."


"Iya Om tahu, makanya Om mengingatkan Lisa." ujar Very lagi dan Lisa tidak lagi perduli. Dia begitu asik dengan dunianya. Lisa sangat senang karena diijinkan makan pisang yang banyak. Tidak seperti biasanya hanya boleh satu saja.


"Lisa tunggu Lisa!" ujar Very lagi sambil menarik ujung baju Lisa dari belakang.


Very tahu kelakuannya sangat tidak sopan pada cucu bosnya, tapi mau gamana lagi, dari pada Lisa jatuh atau nabrak orang, lebih baik dia pilih cara paling aman saja.


"Kita ke pantry saja Lisa." ujar Very lagi membawa Lisa ke pantry.


Lisa ngikut saja dan tidak komentar apa-apa. selama pisang masih ada dalam genggamannya, dunia Lisa baik-baik saja.


"Loh Ver, anak siapa itu yang kamu bawa? Awas dimarahi pak David loh!" tanya si mpok salah satu OB begitu mereka sampai pantry.


"Wong ini cucu pak David, Mpok. Gimana dia mau marah? Dia sendiri yang nyuruh saya jaga cucunya." jawab Very.


"Seriusan ini cucu pak David? Cucu dari anaknya yang mana?" tanyanya dan langsung memperhatikan Lisa.


"Pak Alga, Mpok. Calon bos besar juga ini." ujar Very lagi.

__ADS_1


"Pantas saja cantik sekali. Kayak boneka hidup." ujarnya kemudian jongkok di depan Lisa yang sedang asik meletakkan pisangnya di kursi.


"Hallo Cantik," ujar si mpok sambil melambaikan tangannya. Ini rejeki nomplok untuknya karena bisa bertemu secara langsung dengan cucu bosnya. Cucu yang hari ini sempat jadi perbincangan hangat para karyawan.


"Allo," jawab Lisa dan tersenyum pada si mpok.


"Wah dia jawab Ver," ujar si mpok antusias.


"Ya jelas saja dia jawab. Dia punya mulut Mpok."


"Iya Mpok tahu Ver, tapi kan dia bisa diam saja gitu. Mana senyumnya manis banget lagi. Ingin cium Mpok, Ver." ujarnya menatap Lisa gemas.


"Eh jangan Mpok. Ini bukan soal level ya Mpok, orang tua Lisa enggak suka, orang lain kiss anaknya sembarangan. Saya saja enggak berani, Mpok." ujar Very cepat.


"Iya Very, Mpok juga ngertilah. Mpok cuma gemas saja." ujarnya dan kembali menatap Lisa. Lisa tampak sedang berusaha membuka kulit pisangnya. Dia tidak sabar mau makan pisang.


"Namanya siapa Cantik?" tanya si Mpok lagi.


"Lica," jawab Lisa tanpa menoleh.


"Wah namanya cantik sekali Lica, secantik orangnya. Mpok bisa minta pisangnya tidak Lica? Satu saja." tanyanya lagi dan kali ini berhasil membuat Lisa menoleh padanya.


Lisa menatap si mpok dan pisangnya bergantian. Dia kemudian menganggukkan kepalanya perlahan. Lisa ingat kata-kata orang tuanya kalau Lisa enggak boleh pelit. Dia harus berbagi makanan.


"Boyeh," ujar Lisa pelan.


"Beneran boleh Lica?" tanyanya memastikan dan Lisa kembali menganggukkan kepalanya.


"Asik. Mpok ambil satu ya Lica. Terima banyak Lica. Kamu selain cantik ternyata enggak pelit juga. Mantap Lica. " ujarnya semangat kemudian mengambil 1 pisang Lisa.


"Lica, Mpok sekalian minta foto boleh tidak Lica? Ckrek ckrek gitu Lica." ujarnya Lagi. Kesempatan emas ini tidak boleh dia lewatkan. Kesempatan langka sekali dia bisa foto sama anak bosnya.


"Poto? Boyeh." ujar Lisa lagi. Dia sudah biasa diajak foto. Apalagi kalau dia ke kantor bundanya, hampir semuanya minta foto kecuali kalau ada omanya tentunya. Karyawan Mayu suka segan kalau ada Dira.


"Terima kasih Lica, kamu benar-benar anak baik deh. Cocok kamu jadi anak pak Alga dan ibu Mayu." ujarnya membuat Very menatap malas padanya. Kata-katanya si mpok aneh-aneh saja.


Si mpok kemudian mengambil ponselnya dan mengarahkan kameranya padanya dan Lisa.


Lisa yang tahu mau diambil foto langsung memperlihatkan gaya andalannya, menunjuk jari telunjukknya ke pipi. Si mpok sampai bersorak girang karenanya. Lica benar-benar menggemaskan sekali. Ingin rasanya dia cubit gemas pipi Lisa, sayangnya itu tidak akan terjadi. Dia takut dipecat.


"Mpok, enggak usah norak banget deh Mpok. Mpok kayak foto sama artis besar saja." ujar Very.


"Ini lebih dari artis besar tahu Very. Kamu enggak akan tahu gimana rasanya jadi saya. Iya enggak Lica?" ujarnya minta dukungan pada Lisa.


"Yaya Peli," ujar Lisa membuat si mpok semakin bahagia. Dia lagi-lagi bersorak karena Lisa.


Apa yang dilakukan si mpok mengundang perhatian karyawan lain yang hendak mengambil minum.


"Ada apa, Mpok senang banget kayaknya?"


"Ini loh, ada anaknya pak bos. Calon bos di masa depan. Dia bagi Mpok pisang satu dong." pamernya.


"Serius Mpok?" ujarnya dan langsung mencari keberadaan Lisa.


"Wah beneran ada anak pak bos, mau juga dong pisangnya." ujarnya kemudian minta pisang Lisa.


Lisa kembali memberikan pisangnya. Begitu juga saat ada karyawan lain yang kembali meminta pisangnya Lisa tetamemberikan pisangnya. Lisa jadi dapat banyak pujian. Hanya saja pujian itu tidak membuat Lisa senang dan itu karena pisang di tangannya tinggal satu.


Very sampai senyum-senyum sendiri melihat wajah Lisa yang tadinya sangat cerah jadi manyun. Kasihan sekali memang cucu bosnya itu, kayaknya dia memang enggak dapat restu makan pisang lebih dari satu.


"Eh," bingung Very saat melihat Lisa tiba-tiba lari ke kolong meja begitu melihat ada karyawan lain yang datang ke pantry. Lisa tampak memegang kuat pisangnya takut diminta lagi.


Very menahan tawa melihat kelakuan Lisa. Ajab sekali memang cucu bosnya itu. Padahal kalau Lisa tidak memberikannya juga tidak apa-apa. Para karyawan juga tidak serius meminta itu, mereka hanya iseng-iseng saja, enggak tahunya iseng-isemg mereka berhadiah.


"Pak Very kenapa?" tanya karyawan yang baru datang itu.


"Bukan apa-apa." jawab Very.


"Katanya anak pak Alga ada di sini ya Pak, dimana dia? Mau minta foto juga dong." ujar karyawan itu tidak mau ketinggalan.


"Udah balik ke ruangan papanya," bohong Very. Very tidak mau mengganggu Lisa lagi. Kasian dia. Untungnya juga Lisa bukan anak yang gampang nangis.


"Yah, sayang sekali dia sudah pergi. Padahal saya ingin sekali foto dengannya. Ya sudah deh saya balik kerja lagi saja." ujarnya tampak kecewa.


"Iya kerja lagi sana!" ujar Very.


Very kembali menatap pada Lisa begitu karyawan itu pergi.


Very lagi-lagi menahan tawanya begitu melihat Lisa yang sudah berhasil membuka pisangnya dan memakannya dengan nikmat.


"Lisa ... Lisa!" gumamnya. Dari cara Lisa menikmati pisang, sepertinya dia memang sudah terbiasa makan pisang di tempat tersembunyi.


Very tidak tahu saja kalau Lisa sudah sering melakukan itu kalau di rumah.


Very kemudian membungkukkan badannya dan menatap pada Lisa.


"Lisa!" panggil Very pelan.


Lisa tampak terkejut dan buru-buru mengode Very supaya diam.

__ADS_1


__ADS_2