Kekasih Bayaran Tuan Muda

Kekasih Bayaran Tuan Muda
Karyawan Pertama Mayu


__ADS_3

"Kak!" panggil Mayu setelah selesai melayani pembelinya.


"Kenapa Ay?" tanya Alga tanpa menoleh. Dia sedang sibuk mengetik sesuatu di laptopnya.


"Kalau misalkan aku meperkerjakan satu orang karyawan, gimana menurut Kak Alga?" tanya Mayu minta pendapat kekasihnya.


Alga seketika menoleh pada Mayu.


Mayu sudah memikirkan semuanya, setelah ini Mayu akan semakin sibuk, dan dia tidak mungkin membiarkan neneknya terlalu sering menggantikan pekerjaannya, kasihan neneknya. Kios juga tidak boleh sering ditutup, karena pada dasarnya salah satu kunci sukses dagang itu adalah disiplin, dan kalau bisa buka setiap hari.


"Kalau pendapatan kamu sudah cukup untuk memperkerjakan satu karyawan, menurutku itu malah lebih bagus Ay. Jadi kamu juga tenaganya tidak terlalu terkuras. Seenggaknya kamu masih adalah waktu untuk beristirahat. Selain itu kamu juga bisa lebih fokus kuliahnya." usul Alga.


"Kalau dari pendapatan sih sudah lumayan cukup Kak. Apalagi sekarang bukanya dari jam 9 pagi sampai jam 9 atau 10 malam. Waktu jualannya lumayan panjang. Kemarin aku sempat tanya karyawan toko sebelah, katanya gajinya juga tidak terlalu besar. Hanya 50 ribu sehari, tapi dia suka dapat bonus kalau penjualannya banyak. Makanya rencanaku, kalau misalkan aku memperkerjakan karyawan, barangnya mau aku tambah lagi. Supaya penjualannya juga lebih banyak lagi. Seenggaknya aku juga bisa memberikan bonus walau tidak banyak, gitu Kak." jelas Mayu.


"Nah kalau begitu, tidak masalah kalau kamu memperkerjakan satu karyawan. Tapi kalau bisa carilah karyawan yang jujur dan yang memang benar-benar niat kerja. Jangan pandang dari segi fisik dan usia, karna dalam berusaha terutama dagang, kejujuran itu adalah yang paling utama." saran Alga lagi.


"Iya Kak, Mayu mengerti. Berarti Mayu baiknya mulai cari dari mana ya Kak? Buat pengumuman di pintu atau tanya ke orang-orang?"


"Dua-duanya juga boleh Ay, kamu bisa tempelkan pengumuman di pintu sekalian tanya ke orang-orang!"


"Saran yang bagus Kak. Kalau begitu aku beli kertasnya dulu ya Kak, sekalian pinjam spidol dulu ke sebelah."


"Enggak modal banget kamu Ay," ujar Alga tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya.


"Bukan enggak modal Kak, Mayu butuh spidolnya hanya buat nulis sedikit ini. Sayang kalau enggak kepakai. Udah ya kak, Mayu mau ke sebelah dulu. Kak Alga jaga dulu kiosnya!"


"Iya Sayang," ujar Alga dan segera mematikan laptopnya.


Tidak sampai 20 menit Mayu kembali datang dengan wajah cerahnya.


"Kak Al- upss!" suru Mayu dan seketika menutup mulutnya begitu melihat Alga sedang melayani pembeli.


Diam-diam Mayu tersenyum melihat cara Alga melayani pembeli. Alga cukup dengan senyum tipis dan tanpa perlu bicara panjang kali, barangnya pasti jadi, dan itu juga tanpa diskon. Memang kharisma pacar gantengnya itu tidak bisa dibohongi.


"Terima kasih Mbak, sering-sering mampir ya Mbak!" ujar Mayu begitu pembelinya melewatinya.


"Iya Mbak,"


Mayu kembali melangkah mendekati Alga.


"Dapat berapa Kak?" tanya Mayu.


"Seratus ribu doang Ay," ujar Alga mantap sambil memberikan uangnya.


"Wih mantap, ditinggal sebentar saja dapatnya banyak. Gimana kalau ditinggal seharian. Pasti dapat untung semakin banyak lagi." ujar Mayu memuji kekasihnya.


"Biasa saja Ay, enggak usah berlebihan gitu. Dimana kertasnya, bukannya kamu mau beli kertas tadi? Jangan bilang kamu lupa karena keasikan ngegosip." ujar Alga begitu melihat Mayu tidak membawa kertas apa-apa.


"Tidak perlu Kak, kebetulan sekali tetehnya teh Eneng, karyawan toko kosmetik itu, lagi cari kerja katanya. Tetehnya itu juga sudah pengalaman jual kolor dan bh. Dia lama kerja jadi karyawan mall. Hanya saja setelah menikah, dia ngikut suaminya ke sini, jadi terpaksa berhenti bekerja. Katanya juga kalau soal kejujuran, Mayu tidak perlu khawatir, dia yang jadi jaminannya. Dulu juga tetehnya itu jadi karyawan kepercayaan bosnya." jelas Mayu.

__ADS_1


"Baguslah kalau begitu. Terus masalah gajinya sudah kamu omongin, takutnya dia keberatan dengan gajinya."


"Sudah kok Kak, dia mau gaji 50 ribu sehari. Waktu di kerja di mall juga gajinya hanya segitu. Hanya saja seperti yang Mayu bilang sebelumnya, dia suka dapat tambahan bonus. Nah kebetulan sekali Mayu juga rencananya begitu. Udah pas banget kan itu. Sebentar lagi juga dia mau datang." jelas Mayu lagi.


"Baguslah kalau begitu. Selamat ya Ay, sebentar lagi kamu akan jadi bos. Aku salut pada kamu Ay, sudah jadi bos di usia kamu yang masih 19 tahun. Good job Ay." ujar Alga mengacungkan jempolnya.


"Kak Alga, bos apaan sih? Jangan berlebihan deh Kak Alga. Mana pantas Mayu dibilang bos, karyawannya juga hanya satu orang ini." ujar Mayu tersenyum malu.


"Pantas tidak pantas, tapi begitulah faktanya Ay. Walau usaha kamu masih kecil, ya kamu memang bos. It's ok kalau pendapatan kamu belum selayaknya para bos kebanyakan, tapi jam kerjanya kan sama saja Ay. Setelah ini kamu bahkan bebas mau ke kios kapan saja. Bahkan kalau kamu mau liburan juga bisa, dan uang masuk kamu akan tetap jalan." jelas Alga.


"Benar juga ya Kak. Asik akhirnya Mayu jadi bos juga. Perkenalkan ini bos Mayu ini!" ujar Mayu lebay.


"Enggak usah lebay juga Ay!" ujar Alga kemudian mereka tertawa ngakak bersama.


"Permisi!" ujar seorang perempuan usia 30 tahunan.


Alga dan Mayu seketika menghentikan tawanya dan menoleh ke asal suara.


"Iya Mbak, mau beli kolor atau bh? Silahkan pilih saja Mbak, enggak usah sungkan-sungkan." ujar Mayu ramah seperti biasanya.


"Bukan Mbak, saya Irma, tetehnya Eneng yang mau melamar kerja di sini." ujarnya.


"Oh, ini Teh Irma. Silahkan masuk Teh!" ujar Mayu mempersilahkan.


Alga juga menganggukkan kepalanya dan tersenyum pada Irma.


"Iya Mbak,"


"Iya terima kasih Mbak."


"Panggil Mayu saja Teh, biar lebih akrab juga."


"Tidak apa-apa nih Teteh panggil Mayu?"


"Tidak apa-apa dong dong Teh, santai saja sama Mayu."


"Iya Mayu, terima kasih."


"Sama-sama."


Mereka masih terus mengobrol untuk mencapai kesepakatan, termasuk kesepakatan gaji, jam kerja dan waktu libur. Mayu membebaskan hari libur untuk Irma tapi dengan catatan dia memeritahukannya tidak dadakan. Irma setuju dengan Mayu, dan dari pertama bertemu dengan Mayu, dia sudah cukup suka mendapat bos seperti Mayu. Mayu yang tidak ada sikap bossynya sama sekali dan kelihatan jelas kalau orangnya baik dan rendah hati.


Setelah mencapai kesepakatan kerja, Mayu lanjut menjelaskan tentang barang dagangannya. Irma tentu saja gampang mengerti karena memang sudah berpengalaman.


***


"Yuk Kak kita pulang!" ujar Mayu begitu menutup kiosnya.


"Siap bu bos." ujar Alga sambil hormat.

__ADS_1


Mayu seketika tersenyum.


"Kak Alga apaan sih," ujar Mayu sambil menerima helm dari Alga.


"Anggap saja itu bagian dari doaku Ay. Jadi kamu itu harusnya mengaminkan saja, dan bukan protes." ujar Alga sambil menyalakan motornya.


"Amin. Udah kan calon pak bos yang sesungguhnya?"


"Nah gitu dong Sayang," ujar Alga lembut membuat senyum Mayu kembali mengembang.


"Kak, kita makan dulu ya sebelum pulang." ujar Mayh sambil naik motor.


"Kamu enggak makan di rumah saja Ay. Bukan aku tidak mau, tapi kasihan nenek kan, dia juga pasti belum makan." ujar Alga yang tidak mau nenek Iroh jadi kelaparan karena dia.


"Nenek udah makan kok Kak, aku tadi pesan gofood untuk dia. Jadi Kak Alga tidak usah khawatir soal nenek. Lagian, apa Kak Alga lupa kalau aku sebelumnya sudah janji, akan cerita soal kepergianku yang tiba-tiba." ujar Mayu mengingatkan.


"Kalau soal itu, tidak cerita juga tidak tidak masalah Ay, kamu pergi menemui papa kami ini jadi tidak ada lagi yang perlu dipermasalahkan." ujar Alga apa adanya.


"Kak Alga benar, memang tidak ada yang perlu dipermasalahkan soal daddy. Hanya saja Mayu butuh bantuan Kak Alga untuk menjual sesuatu serta membeli sesuatu. Dan kata Daddy, Kak Alga pasti bisa melakukannya." ujar Mayu teringat pesan David.


Alga menoleh ke belakang.


"Papa kamu tahu soal aku Ay?" tanya Alga.


"Tentu saja dia sangat tahu Kak, Dan dia juga sangat merestui Mayu pacaran dengan Kak Alga. Makanya Daddy ingin memantaskan Mayu supaya layak untuk Kak Alga." ujar Mayu apa adanya.


"Wow, ini benar-benar kejutan untukku dan aku senang mendengarnya. Jangan-jangan aku kenal padanya?" tebak Alga.


"Kalah soal itu rahasia. Maaf ya Kak, Mayu belum bisa terus terang soal itu."


"Tidak apa-apa Ay, yang penting dia sudah memberi restu, itu sudah cukup bagiku."


"Iya Kak. Kak, ayo jalan dari tadi enggak jalan-jalan ini kita. Kapan sampainya?" protes Mayu.


"Eh iya, aku lupa Ay. Ini karena keasikan ngobrol dengan kamu, aku jadi lupa segalanya. Kamu itu memang paling bisa membuatku tidak bisa berpaling Ay." goda Alga.


"Mulai lagi deh gombalnya."


"Hehe ...."


***


"Sayang kamu yakin mau makan di sini. Di sini makannya mahal loh tidak cukup seratus ribu." ujar Alga begitu Mayu minta berhenti di rumah makan seafood kekinian.


"Iya Kak, aku tahu. Aku hanya ingin makan seafood saus padang Kak. Tidak apa-apa lah sekali-kali kita makan enak. Menikmati hasil kerja keras gitu loh Kak." ujar Mayu.


"Mentang-mentang udah jadi bu bos gaya banget deh, tapi aku suka Ay. Sesekali kamu memang perlu memanjakan diri kamu, karena memanjakan diri itu, manfaatnya sangat banyak. Salah satunya kamu juga jadi makin bersemangat."


"Nah itu dia Kak. Yuk ah kita masuk!"

__ADS_1


"Ok Sayang."


Diam-diam Mayu menoleh ke belakang, orang yang mengikutinya juga sudah sampai di parkiran. Hanya saja dia sengaja tidak membuka helmnya.


__ADS_2