
"Mas ini, tante Tere menghubungiku terus dari tadi dan aku yakin dia pasti menanyakan keberadaan Mas Alex. Aku jawab apa pada mereka Mas?" tanya Naura.
Alex memejamkan matanya sejenak. Sekujur tubuhnya masih terasa sakit dan Alex juga tidak memiliki banyak tenaga untuk bicara, apalagi berpikir. Hanya saja dia tidak mau orang tuanya tahu keadaannya. Alex tidak ingin terjadi perang saudara karena sudah pasti bundanya akan marah besar begitu tahu apa yang dilakukan Frans padanya.
Alex membuka perlahan kembali matanya dan menatap sayu pada kekasihnya.
"Katakan saja aku tidak pulang malam ini. Bilang pada mereka aku ada kerjaan dengan Yudha dan Rangga." jawab Alex pelan. Alex memang beberapa kali tidur di rumah Yudha. Rumah yang Yudha beli dengan cara mencicil pada Alga dan yang ingin dia tempati bersama istri dan anak-anaknya nanti karena dia tidak mungkin tinggal di rumah Alga lagi jika sudah menikah.
Sedangkan Rangga rencananya ingin membeli rumah Mayu saja, karena begitu Mayu menikah, dia pasti pindah dari rumah penuh kenangan itu dan neneknya pastinya ikut pindah bersama dia. Selain Itu Mayu juga mau menggunakan uangnya untuk membangun kantor yang lebih layak untuk mereka.
"Baik Mas," ujar Naura. Alasan dari Alex memang sangat bisa diterima dan orang tua Alex juga tidak akan mempermasalahkannya.
"Iya By," ujar Alex dan kembali memejamkan matanya.
Naura menatap kasihan pada kekasihnya. Apa yang menjadi ketakutan selama ini akhirnya terjadi juga. Jahat sekali itu sepupunya.
Naura mengalihkan pandangannya begitu ponselnya kembali bergetar dan yang menghubunginya adalah calon mertuanya.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Naura menjawab teleponnya dan tebakan Naura benar, ibunya Alex langsung menanyakan keberadaan Alex. Naura menjawab persis seperti yang dikatakan Alex.
Naura mematikan sambungan teleponnya setelah dia ngobrol sebentar dengan Tere dan meminta Tere untuk tidak perlu khawatir soal Alex dan itu sebenarnya sangat bertentangan dengan kata hatinya. Sebagai seorang ibu, Tere sangat berhak tahu keadaan anaknya, tapi mau gimana lagi keadaannya sangat tidak memunginkan dan Naura juga belum menemukan alasan yang tepat.
Naura beralih menatap kekasihnya dan mengusap pelan rambut Alex.
"Mas Aku sudah bicara dengan Tante. Mas tidak perlu khawatir lagi ya. Saat ini Mas lebih baik fokus pada kesehatan Mas saja dan jangan berpikir macam-macam dulu. Aku juga disini akan selalu ada untuk mas Alex." ujar Naura lembut dan penuh perhatian.
"Iya By, terima kasih."
"Sama-sama Mas. Cepat sembuh Mas, love you."
"Love you too By." ujar Alex dan kembali memejamkan matanya.
Naura kemudian mengecup dalam kening Alex dia sangat menyayangi laki-laki yang sedang terbaring lemah ini.
***
Keesokan harinya Alex bangun dari tidurnya dan keadaannya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Rasa sakitnya juga sudah berkurang banyak.
"Selamat pagi pria tampan." sapa Naura membuat Alex seketika menoleh padanya dan ada senyum tipis terbit di wajahnya.
Naura juga ikut tersenyum, ada perasaan senang di hatinya melihat pacar tersayangnya sudah bisa tersenyum lagi.
"Gimana keadaan Mas Alex pagi ini, apa sudah lebih baik?" tanya Naura.
"Lumayan By," jawab Alex masih terdengar lemas, tapi itu sudah lebih baik dari kemarin.
"Syukurlah kalau begitu, aku senang mendengarnya. Semoga keadaan Mas Alex terus membaik ya Mas."
"Amin."
__ADS_1
"Mas Alex mau apa? Minum atau sarapan?" tanya Naura lagi.
"Minum dan sarapan By," jawab Alex. Walau dia tidak ada nafsu makan tapi dia ingin memaksakannya buar cepat sembuh. Ini tidak hanya untuk dia, tapi untuk Naura, orang tuanya dan orang-orang yang sayang padanya.
"Mantap, ini yang aku mau, biar cepat sembuh ya Mas." ujar Naura yang merasa senang dengan jawaban Alex.
"Iya By,"
"Ya sudah, aku ambilkan minumnya dulu ya!"
"Iya By," ujar Alex lagi.
Setelah mengambil minum, Naura membantu Alex minum. Begitu juga dengan sarapannya, Naura menyuapi kekasihnya dengan telaten. Alex tanpa sadar tersenyum tipis. Walau sekujur tubuhnya merasa sakit tapi ada rasa senang di hatinya dengan semua perhatian yang Naura berikan. Alex benar-benar merasa dicintai oleh kekasihnya. Jika sudah begini tidak ada lagi alasan baginya untuk meragukan cinta Naura. Naura yang akan selalu bersamanya disaat susah dan senangnya begitu juga saat dia sakit maupun sehat.
"Cie cie yang lagi asik suap-suapan." ujar Mayu begitu dia masuk kamar Alex.
Naura dan Alex sama-sama menoleh dan sama-sama tersenyum tipis.
"Masuk may!" suruh Naura.
"Tanpa disuruh juga gue sudah masuk. Gimana keadaan mas Alex, apa sudah lebih baik?" tanya Mayu sambil meletakkan barang bawaannya.
"Lumayan Mayu. Rasa sakitnya sudah mulai berkurang dan tenaganya juga sudah mulai pulih." jawab Alex.
"Alhamdulillah dan semoga semakin sehat ya Mas. Makannya yang banyak dong, biar cepat kuat lagi!" ujar Mayu.
"Ini juga sudah banyak, apalagi karena disuapi Naura, aku jadi makin lahap." ujar Alex membuat Naura dan Mayu tersenyum. Memang dasar ini Alex, lagi sakit saja masih bisa gombal.
"Benar sekali," ujar Alex dan dia juga ikut tersenyum. Beruntung memang dia yang tidak hanya punya pacar yang baik tapi calon kakak iparnya juga lebih baik lagi dan tidak hanya itu calon suami dari calon kakak iparnya juga sama baiknya, makanya tidak heran Frans semakin hari semakin sirik padanya. Hingga dengan teganya berbuat hal sadis pada Alex.
Alex masih terus makan sambil disuapi Naura. Padahal dia sebelumnya merasa terpaksa memakan sarapannya tapi ujung-ujungnya habis juga.
"Mantap," ujar Naura mengacungkan jempolnya. Dia merasa senang karena Alex menghabiskan sarapannya.
"Iya, terima kasih By."
"Sama-sama. Sekarang minum obat ya, biar cepat sembuh!" ujar Naura lagi sambil menyiapkan obat Alex.
"Iya By," nurut Alex.
Mayu diam-diam tersenyum juga kasihan melihat mereka. Mayu benar-benar berharap bisa secepatnya menyelesaikan masalah mereka dengan Frans. Apalagi Frans sampai senekad ini, jangan sampailah kejadian ini terulang kembali.
"Ah iya Mas, untuk Mas Frans, apa rencana Mas Alex kedepannya?" tanya Mayu begitu Alex selesai minum obatnya.
"Saya juga belum tahu Mayu, saya bingung. Satu sisi saya sangat marah padanya dan ingin membalasnya tapi di sisi yang lain, saya juga tidak ingin keluarga kami sampai tahu masalah ini. Apalagi saya dan Naura sudah mau menikah, saya benar-benar tidak ingin terjadi masalah. Saya maunya pernikahan kami diambut dengan hati yang bahagia, bukan hati yang membenci." ujar Alex. Alex benar-benar dilema.
"Benar juga ya mas, mana itu mas Frans juga sombong banget lagi. Susah sekali bicara baik-baik dengan dia. Padahal posisinya lagi terancam." ujar Mayu lagi.
"Itu dia Mayu, makanya saya juga bingung. Sekarang saya mau tanya, misal kalian di posisi saya, apa yang akan kalian lakukan?" ujar Alex balas bertanya.
__ADS_1
"Kalau Naura sendiri sih, lebih baik dilaporkan pada polisi saja Mas, karena menurut Naura dia sudah kelewatan kali ini dan orang seperti itu harus diberikan efek zera. Tapi disisi lain Naura takut kalau tante Mawar akan mengamuk nantinya. Dia kan selalu membela anaknya, walau anaknya salah." ujar Naura ikutan bingung.
"Itu dia By yang selalu jadi bahan pertimbanganku. Belum lagi bunda juga pasti tidak akan kalah ngamuknya begitu tahu aku sampai masuk rumah sakit gara-gara Frans. Dimata orang tua Frans aku memang tidak berharga tapi dimata bundaku tentu aku sangat berharga dan tidak akan terima jika ada yang berbuat kasar padaku." tambah Alex. Sebagai orang tua mereka pasti akan membela anaknya masing-masing dan yang paling kasihan adalah ayah kami. Haruskah mereka juga ikutan berantem gara-gara anak-anaknya?
"Jangan sampai lah Mas. Kasihan mereka kalau mereka sampai berantem di usia tua mereka dan menurutku itu tidak adil buat mereka. Apalagi selama ini mereka juga pasti sudah berusaha keras menjaga hubungan persaudaraan mereka agar tetap terjalin dengan baik." ujar Mayu.
"Itu dia Mayu, makanya aku juga selalu menahan diri dan rela menderita demi mereka. Harapanku kini hanya satu, semoga Frans bisa terketuk pintu hatinya." ujar Alex. Untuk kasus ini dia benar-benar harus berpikir dewasa agar keluarganya tidak hancur.
"Harapan saya juga sama Mas. Kalau begitu saya akan coba bicara lagi dengannya dan semoga saja kali ini dia mau mendengarkan saya." ujar Mayu. Mayu benar-benar tidak tega pada Alex dan dia ingin membantu Alex kerena ini demi kebahagiaan adiknya juga.
"Iya Mayu, terima kasih Mayu."
"Sama-sama Mas,"
***
Mayu masuk ke dalam ruangan tempat mereka menyekat Frans. Mayu tidak masuk sendiri ada Irpan kali ini yang menemaninya.
"Silahkan dimakan Mas!" ujar Mayu sambil meletakkan makanan untuk Frans.
Frans hanya melirik sebentar dan kembali menutup matanya. Dia terlalu malas bicara dengan Mayu.
Mayu dan Irpan saling menatap dan sama-sama menghela nafas. Susah sekali menghadapi orang yang satu ini. Sudah tua tapi sikapnya tidak bisa dewasa. Inilah akibatnya kalau terlalu dimanja.
Irpan mengode Mayu supaya kembali menyuruh Frans makan.
Mayu mengangguk dan kambali mendekati Frans yang masih setia tiduran di atas kasur. Walau posisinya lagi disekap tapi Mayu dan yang lainnya masih menyiapkan kamar yang layak untuknya. Mayu dan teman-temannya tidak setega itu menyiksa Frans, mereka masih punya hati.
"Mas Frans, jangan tiduran saja, makanannya dimakan dong Mas. Dari semalam Mas Frans tidak makan loh, Mas Frans bisa sakit." ujar Mayu.
Frans tetap diam membuat Mayu memberikan tatapan kesalnya. Benar-benar menyebalkan ini orang satu.
"Mas Frans, jangan sampai kami berbuat kasar ya dan memaksa Mas Frans makan! Kami punya batas kesabaran Mas. Jangan karena kami bersikap baik mas Frans bersikap seenaknya!" seru Mayu mulai kesal.
"Saya tidak mau makan dan saya juga tidak sudi makan makanan sampah itu. Saya mau pergi, keluarkan daya dari tempat menjijikkan ini!" ujar Frans akhirnya membuat Mayu semakin kesal.
Makanan sampah katanya, jelas-jelas Mayu beli makanannya di rumah makan padang dan lauknya juga rendang. Benar-benar menyebalkan memang ini orang satu.
"Kami tidak akan mengeluarkan Mas Frans selama Mas Frans belum menyadari kesalahan Mas Frans. Mas Frans sadar enggak sih kalau Mas Frans sudah melakukan kesalahan besar? Percuma umur sudah tua tapi pikiran enggak ada dewasanya sama sekali. Pantas saja hidup Mas Frans tidak bahagia!" kesal Mayu membuat Frans seketika menatap marah padanya.
"Kata siapa saya tidak bahagia? Sok tahu kamu!" ujar Frans tidak terima.
"Saya tidak sok tahu tapi faktalah yang bicara. Jika Mas bahagia dengan hidup Mas, Mas tidak akan sirik pada mas Alex dan tidak akan mengusik kebahagiaannya." balas Mayu lagi.
"Saya tidak mengusik kebahagiannya, saya hanya memperjuangkan apa yang harusnya menjadi hak saya." balas Frans lagi memvuat Mayu menggelengkan kepalanya.
"Hak apaan? Mas Alex juga memiliki hak yang sama ya. Bilang saja kalau Mas memang sirik! Udah salah juga masih saja tidak mau ngaku. Jadi orang itu enggak usah terlalu keras kepala dan egois Mas!" seru Mayu lagi.
"Mau saya keras kepala atau egois itu bukan urusan kamu, memangnya siapa kamu? Saya bahkan tidak kenal pada kamu. Ini hidup saya dan tidak ada urusannya dengan kamu." ujarnya lagi membuat Mayu semakin geregetan.
__ADS_1
Irpan sendiri bahkan berulang kali menghela nafas, jujur saja jika dia di posisi Mayu, mungkin tangannya sudah melayang pada ini orang satu. Kelakuannya benar-benar menguras emosi.