
Dira menatap Mayu yang duduk di depannya dengan pandangan remehnya. Penampilan Mayu kali ini sangat berbeda dengan penampilaan Mayu saat datang ke rumahnya bersama Alga. Penampilan Mayu kali ini tidak lebih dari seorang gembel, menurut Dira.
Dira kemudian menjentikkan jarinya dan hanya dalam waktu singkat beberapa pelayan kafe langsung keluar sambil membawa makanan dan minuman.
Alis Mayu sampai terangkat. Mayu menatap makanan dan minuman yang dihadangkan oleh pelayan dan itu hampir memenuhi meja di depan Mayu.
Mayu menatap makanan yang begitu menggugah selera itu. Padahal Mayu sudah sarapan, tapi kalau ditawarkan makanan itu lagi secara cuma-cuma, ya Mayu tidak akan menolaknya.
"Kamu bisa lihat sendiri kan, hanya dengan menjentikkan jari saya, apa saja bisa saya lakukan. Termasuk membuat hidup kamu di jalanan dan kelaparan." ujar Dira dengan sombongnya.
Mayu balas menatap Dira.
"Tante bukan Tuhan, jadi Tante jangan terlalu sombong. Rejeki dan dan kematian itu ada di tangan Tuhan, Tante. Tuhan juga kalau mau, hanya dengan menjentikkan jarinya, Tante bisa jadi miskin hanya dalam waktu singkat." balas Mayu. Sekali pun Mayu sempat gugup tapi Mayu tidak tahan untuk tidak membalas apa yang dikatakan Dira.
Tatapan sombong Dira berubah jadi marah.
"Heh kamu masih berani sama saya? Apa perlu saya melakukan lebih dari apa yang saya lakukan agar hidup kamu dan nenek kamu benar-benar menderita di jalanan sana? Ingat Mayu hanya dengan jentikan tangan saya, maka kamu dan nenek kamu bisa diusir dari kontarakan jelek kamu itu, sekarang juga." kesal Dira.
"Saya bukan berani pada Tante, saya hanya mengingatkan Tante supaya jangan terlalu sombong, itu saja. Oh jadi apa yang saya alami belakangan ini adalah ulah Tante?" ujar Mayu.
"Tentu saja, dan itu sebagai pengingat supaya kamu sadar kamu itu siapa, dan kamu itu sangat tidak layak untuk anak saya." ujar Dira mantap dan langsung to the poin.
Mayu terdiam dan menatap Dira. Terjawab sudah semuanya, siapa dalang dari masalah yang menimpanya.
"Kenapa kamu diam, apa kamu sudah sadar dan mengaku kalah? Satu hal lagi yang ingin saya sampaikan Mayu, jika kamu masih berani pacaran dengan anak saya, maka siap-siap saja beasiswa kamu akan dihentikan. Kamu sangat tahu bukan kalau pemberi beasiswa kamu itu adalah perusahaan Sinar Pratama group yang tak lain adalah perusahaan milik suami saya! Hanya dengan jentikan jari saya beasiswa itu bisa langsung dihentikan Mayu. Saya beri kamu waktu sampai nanti malam, hari ini juga kamu harus mengakhiri hubungan kamu dengan Alga, kalau tidak siap-siap saja kamu angkat kaki dari universitas itu. Permisi." ujar Dira kemudian bangun dari duduknya.
Mayu tetap diam dan memikirkan kata-kata Dira.
"Satu lagi Mayu, silahkan saja kamu makan makanan itu, sebagai ucapan perpisahan antara kamu dan anak saya. Satu lagi, saya juga bisa mengirimkan lebih dari ini pada nenek kamu asal kamu menuruti keinginan saya. Sadar dong Mayu sadar, dari sisi mana pun kamu tidak ada pantasnya untuk anak saya." ujar Dira lagi kemudian pergi meninggalkan Mayu dengan wajah sombongnya.
Mayu tetap diam dan tidak mengeluarkan sepatah kata pun.
Mayu membawa tangannya ke pelepisnya dan memejamkan matanya.
Sunguh ini sebenarnya pilhan yang mudah saja bagi Mayu karena hubungannya dan Alga juga hanya sekedar kekasih bayaran dan tidak ada cinta diantara mereka. Hanya saja Alga selama ini sudah begitu baik padanya, dan sekali pun dia hanya kekasih bayaran, Alga selalu melakukan yang terbaik untuknya. Dalam hati kecil Mayu di tidak ingin membuat Alga kecewa karena Alga juga tidak pernah mengecewakannya.
'Huh ... apa aku sebaiknya bicara baik-baik saja dengan kak Alga dan memberitahukan tante Dira kalau hubunganku dengan kak Alga tidaklah seperti yang tante Dira pikirkan. Aku dan kak Alga hanya pura-pura pacaran.' batin Mayu.
__ADS_1
Mayu benar-benar tidak ingin kehilangan beasiswanya dan Mayu mau dia tetap kuliah di universitas itu, karena bisa masuk universitas itu bukanlah suatu hal yang mudah.
Setelah berpikir beberapa menit, Mayu memutuskan untuk pergi, tapi sebelumnya makanan yang sudah Dira pesan, Mayu minta bungkus semua. Sayang makanan itu kalau tidak dimakan, apalagi dibuang. Untuk orang kecil seperti Mayu, makanan seperti itu tentu sangat berarti.
***
"Ngapain lo ke sini? Alga tidak ada di sini." ujar Lia dengan juteknya begitu Mayu menginjakkan kakinya di ruang bem.
Mayu hanya menarik nafas pelan, kalau melihat situasi seperti ini sungguh Mayu juga tidak ingin jadi kekasih Alga saja. Mayu yakin, Lia pasti tidak akan sejutek ini, kalau antar Mayu dan Alga tidak ada hubungan.
"Kalau boleh tahu kak Alga dimana ya Kak?" tanya Mayu tetap sopan dan tidak mau terpancing dengan wajah juteknya Lia.
"Ya mana gue tahu, lo yang pacarnya, kenapa lo malah menanyakannya pada gue? Susah memang ya kalau jadi pacar tidak dianggap." ujar Lia menatap mengejek pada Mayu.
Mayu sampai mengepalkan tangannya, nyebelin banget ini mulutnya Lia.
"Iya susah, dan lebih susah lagi cinta bertepuk sebelah tangan. Mana sangat berharap lagi dan sampai rela berbuat jahat, eh malah lebih tidak dianggap lagi. Sakitnya tuh di sini!" ujar Mayu sambil menunjuk bokoknya.
"Bye!" ujar Mayu lagi kemudian pergi meninggalkan Lia.
"Mayu! Sialan lo!" teriak Lia kesal.
'Kira-kira kalau kak Lia tahu maminya kak Alga sejahat itu, apa dia masih mau berharap pada Kak Alga?' batin Mayu.
"Eh Kak Rangga! Kak Rangga!" panggil Mayu cepat begitu melihat Rangga keluar dari salah satu ruangan.
Rangga menoleh dan Mayu langsung berlari kecil menghampiri Rangga.
"Akhirnya kamu nongol juga May, dari kemarin saya mencari kamu, kamu kemana saja? Ditelepon juga tidak diangkat." ujar Rangga.
"Kak Rangga telepon saya? Maaf Kak ponselnya mode diam dan jarang juga saya melihat ponsel. Ini saja ponselnya ketinggalan di rumah. Kak Rangga ada apa mencari saya?"
"Alga ingin bicara dengan kamu." ujar laki-laki berparas tampan itu.
"Kebetulan sekali Kak, saya juga ingin bicara dengan Kak Alga. Kak Alga ada dimana ya Kak?"
"Di perpustakaan. Ah iya Mayu kamu tunggu Alga di taman belakang perpustakaan saja, nanti saya yang akan menghubungi Alga supaya menemui kamu di sana. Jika di dalam perpustakaan takut mengganggu mahasiswa lain." jawab Rangga.
__ADS_1
"Baik Kak, kalau begitu saya duluan ya Kak."
"Iya."
Mayu kembali melangkahkan kakinya ke arah perpustakaan.
Tidak butuh waktu lama, sampai juga Mayu di belakang perpustakaan. Mayu memilih duduk di bangku dekat pohon supaya tidak panas. Ini sudah jam 10, panas mataharinya sudah mulai tak tertahankan.
"Ini minum!" ujar Alga tiba-tiba sambil memberikan segelas minuman pada Mayu.
Mayu menoleh dan senyum manis seketika terbit di wajahnya.
"Terima kasih Kak Alga, tahu saja kalau Mayu lagi haus."
"Tentu saja saya tahu, saya cukup banyak tahu tentang kamu." ujar Alga kemudian meminum minuman miliknya sendiri.
"Saya juga tahu banyak tentang Kak Alga. Saya tahu Kak Alga suka jutek tapi baik, saya juga tahu Kak Alga sangat tampan juga sangat kaya. Calon CEO dari Pratama group lagi, mantap." ujar Mayu sambil mengacungkan jempolnya.
Alga diam-diam tersenyum tipis mendengarnya.
Mayu menatap Alga dan menarik nafas pelan. Mayu pasti akan merindukan momen seperti ini dengan Alga. Mayu harus mengakui kalau dia senang menghabiskan waktu dengan Alga.
"Kenapa kamu menatap saya seperti itu?" tanya Alga dan balas menatap Mayu dalam. Akhirnya Alga bisa melihat dari dekat wajah gadis yang dicintainya. Wajah yang sudah membuatnya tidak bisa tidur dengan nyenyak sepanjang malam kerena kepikiran.
"Tidak apa-apa Kak. Sebenarnya saya ingin membicarakan hal penting dengan Kak Alga." ujar Mayu apa adanya.
"Saya juga ingin membicarakan hal penting dengan kamu." ubar Alga tidak mau kalah.
"Saya lebih dulu Kak, karena apa yang ingin saya sampaikan ini benar-benar penting, tingkat ibukota Kak." ujar Mayu dan masih sempat-sempatnya bercanda.
Alga sampai tersenyum mendengarnya.
"Iya Mayu iya, saya juga sabar menunggu giliran. Kamu ini tidak sabaran banget." ujar laki-laki bertubuh atletis itu.
"Hehe ...." Mayu tersenyum malu. Alga hanya menggelengkan kepalanya.
"Ya sudah kamu bisa mulai duluan!" suruh Alga.
__ADS_1
Mayu kembali menatap Alga dan menarik nafas pelan.
"Jadi begini Kak,"