
"Ngapain kamu belanja di toko murahan seperti itu Sindi? Kita eggak pantas memakai barang murahan seperti itu. Apa kamu dapat ancaman dari David? Cerita pada Mbak, biar aku yang akan membalas David." seru Dira. Dira tidak akan tinggal diam saja jika David berani macam-macam pada Sindi.
"Enggak Mbak, David tidak pernah mengancamku. Aku memilih belanja di toko Mayu karena kemauanku sendiri dan demi kebahagiaan anakku. Sama seperti Mbak Dira yang juga sedang berjuang demi kebahagiaan anak Mbak Dira." ujar Sindi.
Sindi enggak mungkin bicara terus terang kalau dia tidak lagi mendukung Dira dan Rahel dan beralih mendukung Mayu, karena biar bagaimana pun Dira sudah seperti kakak kandungnya sendiri. Sindi juga pasti akan tetap menghormati keputusan Dira.
"Demi kebahagiaan Naura gimana maksud kamu? Apa hubungannya kebahagiaan Naura dengan kamu belanja di toko Mayu? Udahlah Sindi ngaku saja kamu, kalau kamu memang mendapat perlakuan tidak baik dari David! Sudah saatnya kamu membalas David, Sindi. Jangan biarkan dia semakin menjadi kelakuannya." balas Dira lagi dan tetap teguh pada pendapatnya.
"David beneran tidak melakukan apapun padaku Mbak. Dia hanya diam saja belakangan ini. Begitu juga dengan rumah seharga 5 milyar yang Mbak bilang kemarin itu. David tidak ada rencana membelikan rumah itu pada Mayu, tapi dia memang ingin membelikan rumah itu untuk Naura dan Mayu, dan itu untuk mendukung Naura yang ingin memiliki usaha bersama Mayu. Ini Naura sendiri yang bilang padaku Mbak, makanya aku percaya." jelas Sindi.
"Ngapain Naura mau buka usaha dengan Mayu. Apa dia mau buka usaha kolor murahan juga? Ya ampun, kenapa Naura jadi turun derajatnya sih? Naura enggak pantas buka usaha murahan seperti itu. Dia bisa membuka bisnis yang lebih besar lagi." seru Dira lagi. Dia benar-benar enggak habis pikir dengan jalan pikiran Naura. Bisa-bisanya dia yang notabennya putri seorang CEO ternama mau menurunkan derajatnya. Ini benar-benar tidak masuk diakal. Harusnya dia itu memilih naik dan bukannya terjun bebas.
"Mbak benar, Naura memang bisa memiliki bisnis pakaian dalam lebih besar lagi, dan aku juga bisa mewujudkannya. Hanya saja Mbak kan tahu sendiri seperti apa Naura, dia itu tidak jauh berbeda dengan Alga dan Vivi. Dia selalu kuat pada pendiriannya. Jika dia ingin A maka dia akan terus berusaha demi mendapatkan A, dan saat ini dia ingin bisnis dengan Mayu, kalau pun dilarang akan percuma saja Mbak. Apalagi David juga memberi dukungan penuh padanya. Ya dia makin mantap dengan keputusan yang sudah dibuatnya. Otomatis apapun pendapatku tidak akan didengarkan olehnya. Makanya demi kebahagiaannya aku pilih mengalah saja. Aku ingin memberi dukungan padanya. Lagian setelah aku pikir-pikir Mayu itu tidak jahat Mbak, dia juga sayang dan perduli pada Naura." jelas Sindi.
"Yakin kamu Mayu itu sayang pada Naura? Mayu itu baik karena ada maunya saja Sindi. Kamu tahu kan kalau dia itu licik dan cara mainnya sangat halus. Aku sangat yakin dia sengaja ngebaik-baikin Naura demi bisa mendapatkan harta bagiannya. Sekarang saja sudah kelihatan itu, dia pura-pura mengajak Naura bisnis bersama dengan maksud supaya David memberikan mereka modal yang lebih besar lagi. Dan setelah bisnisnya besar nanti, aku sangat yakin, dia akan menendang Naura dengan cara perlahan. Udahlah Sindi kamu enggak usah ikut-ikutan seperti Alga yang sok-sokan mau membela Mayu. Anak itu enggak pantas dibela sama sekali." jelas Dira.
Sindi menggelengkan kepalanya.
"Enggak Mbak, aku yakin kali ini Mayu itu tidak ada niatan ingin mengambil harta bagian Naura juga menendang Naura. Kenapa aku bilang begitu, Naura sendiri yang bilang padaku kalau dia akan mendirikan Maga Beauty yang mana dia yang akan jadi ownernya, dan ada David juga yang membantunya. Mbak tahu sendiri seperti apa David, kemampuannya di bidang bisnis tidak bisa diragukan lagi. Apalagi dia itu sayang sekali pada Naura, dan dia pasti akan rela melakukan apa saja demi kebaikan Naura." balas Sindi dan tetap teguh pada pendiriannya.
__ADS_1
Kening Dira berkerut begitu mendengar penjelasan Sindi.
"Kamu bilang Maga Beauty? Gimana ceritanya itu dari Maga Wear jadi Maga Beauty?" tanya Dira heran.
"Iya Mbak Maga Beauty. Mungkin rencana mereka memang ingin membuat bisnis yang lebih besar lagi seperti Dior dan sejenisnya. Untuk itu mereka tidak hanya ingin memproduksi pakaian dalam saja, tapi produksi yang lainnya juga. Bahkan kata Naura dalam waktu dekat mereka mau meluncurkan bikini. Setelah selesai bikini kemungkinan akan membuat lingering atau baju tidur. Dan Naura sendiri akan fokus untuk produk skinkarenya dan tentunya Mayu dan timnya juga siap membantu Naura." ujar Sindi lagi.
"Ok Sindi aku paham maksud kamu. Sekarang begini, buatlah mereka nantinya akan sukses besar, dan siapa yang paling diuntungkan di sini? Sudah jelas Mayu lah orangnya. Nama Mayu lah yang akan diagungkan karena semua orang tahunya Maga itu adalah milik Mayu, bukan Naura. Lalu dimana posisi Naura? Dia hanya akan dianggap nomor kesekian saja bahkan bisa tidak dianggap sama sekali. Apa kamu mau anak kamu yang harusnya bisa menjadi yang utama dan yang terdepan tapi posisinya malah tidak dianggap sama sekali. Kalau aku jelas saja enggak mau anakku di posisi itu. Itu jelas bukan levelku sama sekali. Anakku itu bos bukan anak buah." ujar Dira lagi tidak menyerah dan kali ini dia berhasil membuat Sindi terdiam.
Sindi menatap Dira, jika dipikir-pikir ada benarnya juga apa kata Dira. Posisi anaknya sudah pasti akan dibawah Mayu selama dia bekerja sama dengan Mayu dan bawa nama Maga Wear atau Maga Beauty. Masak iya sih anak David dan Sindi harus berada di bawah Mayu? Dia harusnya berada di posisi di atas Mayu bukan di bawah Mayu.
Melihat Sindi terdiam Dira mendekatinya dan mengusap lengan Sindi.
"Naura enggak mau Tante!" ujar Naura tiba-tiba sambil jalan mendekat ke arah Dira dan mommynya. Kesal Naura sepertinya Dira sedang berusaha mempengaruhi mommynya lagi. Padahal Naura baru saja merasa senang karena mommynya sedang belajar mau menerima Mayu dan memberi dukungan pada Mayu.
Dira dan Sindi refleks menoleh ke arah Naura.
"Maksud kamu enggak mau apa Naura?" tanya Dira.
"Naura enggak mau membuat skincare atas nama Naura sendiri. Naura maunya hanya nama Maga Beauty saja. Naura juga enggak masalah kalau harus jadi yang kedua atau yang ketiga, selama Mayu yang utama." tegas Naura.
__ADS_1
"Hei Naura, ada apa dengan kamu hah? Apa kamu enggak malu kalau posisi kamu di bawah Mayu? Kamu itu sangat layak berada di atas Mayu. Naura buka pikiran kamu lebar-lebar, jangan mau jadi bodoh Naura! Mikir enggak sih kamu kalau semua modal dan tenaga itu dari kamu dan Daddy kamu, tapi yang dapat pujian malah Mayu. Pikiran kamu sepertinya sudah tidak waras sejak dekat dengan si Mayu itu." ujar Dira lagi.
"Kata siapa Naura tidak waras, justru Naura bisa berpikir dengan waras sejak Naura dekat dengan Mayu. Ok, Naura akui jika Maga Wear atau Maga Beauty sukses maka yang paling pertama dapat pujian sudah pasti Mayu, dan Naura akan terima itu karena Mayu memang layak mendapatkan itu. Naura tidak masalah sama sekali kalau dibilang anak buah Mayu atau turun level lah, yang penting Naura merasa bahagia. Naura bahagia bisa bekerja dengan Mayu yang notabennya adalah kakak Naura sendiri. Ada banyak pengalaman berharga yang Naura dapatkan sejak dekat dengan Mayu. Naura juga bisa merasakan kasih sayang tulus dari Mayu, walau omongan Mayu mungkin kadang suka seenaknya pada Naura, tapi bukankan sepeti itu sejatinya seorang Kakak, yang mana mereka suka bersikap seenaknya pada adiknya tapi mereka juga akan jadi orang terdepan yang akan membela adiknya saat adiknya dapat masalah." jelas Naura membuat Dira tidak bisa berkata-kata lagi.
Naura benar-benar sudah keracunan Mayu, maka apapun yang akan dia katakan soal Mayu akan percuma saja. Naura tidak akan mendengarkannya.
"Kenapa Tante diam? Apa Tante sudah sadar kalau apa yang Naura katakan adalah kebenaran. Sudahlah Tante, Tante enggak perlu ikut campur soal apa yang mau dikerjakan Naura. Naura sudah besar Tante, dan Naura tahu apa yang terbaik buat Naura. Apalagi ada daddy juga yang selalu berdiri di belakang Naura. Daddy itu enggak mungkin menjerumuskan Naura, Tante. Dia itu daddy terbaik bagi Naura, daddy yang enggak pernah bersikap egois pada anaknya dan akan selalu mendukung keingian anaknya. Jadi Tante juga bisalah contoh daddy David, sedikit saja Tante dan enggak perlu gengsi juga. Percaya pada Naura Tante, hidup Tante akan jauh lebih bahagia kalau tidak menurutu gengsi Tante. Naura berkata seperti ini, karena Naura sudah mengalaminya. Ok Tante, Naura sayang Tante Dira." jelas Naura lagi kemudian pergi meninggalkan Dira yang masih terdiam.
Sindi menghembuskan nafasnya melihat kepergian anaknya.
"Udah lihat sendiri kan Mbak, bagimana kerasnya keinginan Naura, dan aku rasa akan percuma saja kalau kita bicara pajang kali lebar padanya. Itu enggak akan masuk lagi dalam benaknya Mbak. Untuk itu aku juga memutuskan akan berdiri dipihak anakku Mbak dan sekali lagi ini demi kebahagiaannya. Maaf ya Mbak kalau aku enggak bisa mendukung Mbak Dira lagi. Kita sama-sama berjuang demi anak kita masing-masing Mbak." ujar Sindi lagi.
Walau dia sempat setuju dengan apa yang dikatakan Dira, tapi kembali lagi, itu hanya akan percuma saja selama keinginan Naura sudah bulat dan enggak bisa diganggu gugat. Terlebih ada David dipihaknya.
Dira menghembuskan nafas panjang.
"Iya Sindi aku mengerti, tapi kalau misalkan Naura tiba-tiba berubah pikiran kamu beritahu aku saja." putus Dira.
"Iya Mbak, itu pasti Mbak." jawab Sindi mantap.
__ADS_1