
Mayu menghampiri abang bengkelnya setelah pelanggannya pergi.
"Sepertinya mesinnya sudah benar ya Bang, cepat juga ya memperbaikinya." sindir Mayu. Mayu tidak akan bisa diam saja jika ada sesuatu yang tidak beres menurutnya.
"Eh i-itu Mbak, ternyata kerusakanya tidak terlalu parah." ujarnya gugup.
"Kerusakannya tidak terlalu parah atau Abang memang tidak mau melayani saya? Kenapa? Apa karena saya hanya isi angin makanya abang tidak mau melayani saya? Bang saya ini juga sama pedagang seperti Abang, dan sebagai pedagang Abang seharusnya tidak pilih-pilih pelanggan. Walau saya hanya pedagang kecil tapi saya juga bayar kok Bang, bukan gratis. Apa sebelumnya saya punya salah sama Abang, makanya Abang tidak mau melayani saya? Kalau memang saya punya salah saya minta maaf, tapi lain kali jangan begitu dong Bang. Asal Abang tahu, saya sudah susah payah mendorong motor saya dari dalam parkiran Tanah Abang sana dan itu tidak dekat Bang. Sampai di sini Abang tidak mau melayani saya, begitu juga saat saya sampai di bengkel sana, pemiliknya sedang tidak ada di tempat. Saya tidak masalah sama sekali kalau saya harus dorong motor sampai ke rumah, tapi yang jadi masalahnya di rumah itu, ada nenek tua yang sedang duduk gelisah menunggu cucunya yang tidak pulang-pulang Bang, dan itu karena pemilik bengkel tidak mau isi angin. Apa Abang tidak merasa kasihan pada nenek tua itu Bang?" ujar Mayu panjang kali lebar.
Cara ini salah satu cara Mayu untuk meluluhkan hati orang-orang pasar di sekitarnya. Mayu bukan bermaksud supaya dia dikasihani tapi Mayu berharapnya supaya sesama orang kecil itu bisa saling membantu bukan menjatuhkan.
Pemilik bengkel itu menatap tidak tega pada Mayu dan rasa bersalahnya jadi semakin besar. Harusnya dia ikuti saja kata hatinya, hanya karena uang kata hatinya jadi tertutup rapat.
"Ma-maaf Mbak, bukan saya tidak mau melayani Mbak, tapi karena saya disuruh oleh seseorang, makanya saya tidak mau melayani Mbak. Begini saja Mbak, kalau memang motornya belum diisi angin, Mbak boleh bawa ke sini lagi dan Mbak tidak perlu bayar. Saya juga bersedia serivis motornya dan itu juga gratis Mbak." ujarnya dan itu tulus dari dalam hatinya. Dia juga hanya orang kecil seperti Mayu, dan dia bisa mengerti posisi Mayu.
Mayu menarik nafas pelan.
"Tidak perlu Bang, saya hanya perlu tahu siapa orangnya yang sudah menyuruh Abang. Abang tidak perlu khawatir, saya tidak akan bawa-bawa nama Abang. Saya hanya sekedar ingin tahu pelakunya, supaya lain kali saya bisa lebih berhati-hati pada orang itu. Saya sangat berharap untuk kali ini Abang mau menolong saya." ujar Mayu penuh harap. Mayu tidak akan diam saja, orang yang sudah berbuat jahat padanya, dia harus berikan peringatan.
Pemilik bengkel itu menarik nafas pelan.
"Baiklah Mbak, sebagai bentuk permintaan maaf saya akan memberitahukan siapa orangnya. Orangnya seumuran dengan Mbak, hanya saja penampilanya lebih modis dan kulitnya juga lebih bersih dan terawat."
"Apa rambutnya panjang, kemerahan, lebat dan dicurly bagian bawahnya?" tanya Mayu menyebutkan ciri-ciri rambut Naura, mengingat Naura yang akhir-akhir ini suka cari ribut dengannya.
"Enggak Mbak. Rambutnya memang panjang tapi itu hitam lurus dan ada poni. Teman yang satunya juga rambut lurus tapi pendek, kira-kira sebahu lah." jelasnya.
"Mereka hanya dua orang?" tanya Mayu lagi. Dari ciri-cirinya itu bukan Naura, karena Naura selalu pergi bertiga dengan Ira juga Yuli.
"Iya Mbak dan mereka juga pakai mobil honda jazz warna putih."
Mayu mencoba mengingat dengan ciri-ciri yang dimaksud abangnya.
Alis Mayu seketika terangkat, begitu teringat seseorang.
'Jangan-jangan pelakunya adalah kak Lia dan Kak Rani. Mereka kan selalu pergi berdua dan mobil kak Lia juga honda jazz warna putih serta rambutnya hanya sebahu.' batin Mayu.
"Ah iya Mbak, toko yang disebelah ini punya CCTV, Mbak bisa minta tolong saja padanya. Orangnya baik Mbak, dia pasti mau bantu."
"Iya Bang, terima kasih Bang."
"Sama-sama Mbak."
__ADS_1
***
Mayu menatap ponselnya dan menggengamnya erat. Benar dugaan Mayu kalau pelakunya adalah Lia dan Rani.
'Kenapa mereka sampai setega ini padaku? Jika Naura yang makukannya aku maklum karena dia cinta sama kak Alga, tapi ini kak Lia dan kak Rani, apa jangan-jangan mereka juga cinta sama kak Alga?' batin Mayu.
Tin tin tin
"Eh!" kaget Mayu begitu mendengar suara kelakson mobil yang cukup keras di dekatnya.
Mayu menoleh.
"Kak Alga!" gumam Mayu. Mayu sampai melupakan Alga karena sibuk mengurus pelakunya.
Mayu buru-buru menyimpan ponselnya dan menghampiri Alga.
"Kak Alga, tunggu sebentar di sini, saya mau ambil belanjaan dulu Kak. Tidak akan lama, ok Kak." ujar Mayu dan tanpa menunggu persetujuan Alga dia langsung berlari masuk pasar Tanah Abang.
Alga hanya menatap heran kepergian Mayu. Dia beralih menatap sekitarnya.
'Bukannya ini ada bengkel, lalu motornya ada dimana?' batin Alga.
Tidak sampai sepuluh menit, Mayu datang sambil menenteng dua pelastik besar.
Alis Alga sampai terangkat melihatnya. Badan Mayu terbilang kecil atau krempeng kata Rangga, tapi anehnya dia kuat menenteng 2 pelastik sebesar itu. Alga juga yakin satu pelastik itu pasti lebih dari 10 kg. Tenaga dari mana Mayu bisa mengangkat seberat itu?
Alga sampai menggelengkan kepalanya, emang gadis di depannya ini tidak hanya bacotnya yang super tapi tenaganya juga super.
"Barangnya letakkan di belakang saja." ujar Alga sambil membuka kunci pintu belakang.
"Siap Kak." ujar Mayu sambil mengangkat barangnya ke atas mobil. Mayu juga tidak ada minta bantuan Alga. Emang semandiri ini Mayu.
"Kamu duduk di depan Mayu, saya bukan supir kamu!" ujar Alga begitu Mayu mau duduk di bangku belakang.
"Ah iya maaf Kak." ujar Mayu dan tanpa menunggu diperintah 2 kali dia langsung pindah duduk ke depan. Walau baru kenal Alga, Mayu cukup tahu karakter Alga yang tidak suka dibantah.
"Pakai sabuk pengaman kamu Mayu!" perintah Alga.
"Siap Kak." ujar Mayu dan lagi-lagi Mayu langsung melakukan apa yang disuruh Alga.
Mayu menatap sekeliling dalam mobil Alga. Ternyata isinya sangat jantan dan keren. Mayu sampai tidak sadar senyum-senyum sendiri, dan dalam waktu sekejap dia sudah lupa atas apa yang menimpanya beberapa menit yang lalu.
__ADS_1
'Joknya senyaman ini ternyata, pantas saja harganya milyaran. Mimpi apa ya aku bisa naik mobil harga milyaran?' batin Mayu dan kembali senyum-senyum.
"Jangan senyum-senyum terus Mayu, saya tahu mobil saya keren, tapi kamu tidak jadi gila juga karena naik mobil saya!" ujar Alga dengan sadisnya.
Senyum di wajah Mayu seketika memudar. Sadis banget itu mulut, tidak bisakah dia membiarkan Mayu merasa senang walau hanya sebentar saja.
"Eh Kak stop! stop!" seru Mayu tiba-tiba.
Alga memberhentikan cepat mobilnya.
"Kenapa lagi Mayu?" tanya Alga menahan rasa kesalnya.
"Itu Kak motor saya," ujar Mayu menunjuk ke arah motornya yang dia titipkan depan toko orang lain.
Alga menarik nafas pelan. Dia kemudian mengambil poselnya dan menghubungi seseorang.
"Kalian sudah sampai dimana?"
"Sudah mau sampai Tanah Abang, Tuan Muda. Tuan Muda ada dimana?"
"Tanah Abang. Motornya ada di depan toko olahraga! Kalian tinggal lurus saja dari pintu keluar Tanah Abang." ujar Alga.
"Baik Tuan Muda."
Sebelumnya Alga memang langsung menghubungi Rangga juga bengkel langgananya.
Alga mematikan sambungan teleponnya dan beralih pada Mayu.
"Kamu bilang pada pemilik tokonya kalau Rangga dan orang bengkel yang akan ambil motor kamu!"
"Baik Kak. Terima kasih Kak Alga." ujar Mayu kemudian turun dari mobil Alga.
***
"Kak Alga!" panggil Mayu saat mobil Alga sudah jalan kembali.
"Kenapa?" tanya Alga tanpa mau repot-repot menatap Mayu.
"Kenapa Kak Alga mau bantu saya, apa Kak Alga jatuh cinta sama saya?"
Alga refleks menatap Mayu.
__ADS_1