
"Assalamualaikum Yah," ujar Mayu begitu Alga menjawab video callnya.
"Waalaikumsalam Bunda. Tumbem video call di jam kerja, kangen ya? Apa kurang yang semalam?" ujar Alga dan langsung mendapat lirikan tajam dari Mayu.
Alga tersenyum melihatnya.
"Yah, plis deh ya, ini bukan saat yang tepat membahas begituan." protes Mayu.
"Terus kita bahas apa dong, rencana pernikahan kita? Kita kan sudah menikah Bun, untuk apalagi kita membahasnya?" canda Alga dan langsung mendapat teriakan dari istri tercintanya.
"Yah!" seru Mayu dan Alga lagi-lagi tersenyum.
"Bercanda Bun. Ya sudah kita serius sekarang. Bunda ada apa video call?" tanya Alga lagi.
"Lisa Yah. Ayah beri dia minum kan, makanya enggak sembarangan kan? Apa dia ada menangis?" tanya Mayu beruntun membuat Alga melotot.
Alga melotot bukan karena pertanyaan istrinya tapi dia baru ingat pada anaknya yang ikut ke kantor. Ini karena terlalu serius bekerja dia jadi melupakan putri cantiknya.
"Kenapa Ayah melotot? Jangan bilang Ayah enggak beri anaknya minum dan memberikannya makan sembarangan!" ujar Mayu lagi.
"Bu-bukan Bun, Ayah lupa kalau Lisa ikut. Lisa dari tadi bersama daddy. Ya sudah Ayah melihat Lisa dulu ya Bun. Nanti Ayah telepon balik." ujar Alga sadar akan kesalahannya.
"Yah ... yah, bisa-bisa Ayah melupakan anak Ayah. Untung Lisa tidak mendengarnya. Baiklah, Ayah lihat Lisa dulu, Bunda tunggu telepon balik Ayah!"
"Iya Bun, secepatnya Ayah hubungi Bunda. Bye Bun, love you."
"Love you too Yah." balas Mayu.
Alga mematikan sambungan video callnya dan buru-buru keluar dari ruangannya. Dia harus melihat anaknya.
"Eh Pak Alga mau kemana?" tanya Melly begitu melihat Alga keluar terburu-buru dari ruangannya.
"Melihat anak saya," jawab Alga singkat dan Melly tidak lagi berani bertanya. Jawaban Alga sudah sangat jelas.
Alga menekan cepat tombol lift dan begitu lift terbuka Alga memilih berlari kecil. Dia mau secepatnya sampai di ruangan mertuanya.
Alga tidak menemukan adanya Very di mejanya karena itu dia memilih mengetuk pintu ruangan David kemudian membuka pintunya.
"Dad!" panggil Alga. Alga jarang menggunakan bahasa formal dengan David. Apalagi kalau hanya mereka berdua saja.
"Kenapa Al?" tanya David dengan santainya dan menoleh sebentar pada Alga.
Alga tidak langsung menjawab. Dia mengedarkan pandangannya dan tidak menemukan tanda-tanda keberadaan Lisa.
"Lisa dimana Dad?" tanya Alga.
"Oh, Lisa sama Very. Mereka ada di pantry. Kamu ke sana saja!" ujar David dan masih tetap santai.
"Iya Dad, aku pergi Dad."
"Iya," ujar David.
Alga kembali keluar dari ruangan mertuanya dan kembali mempercepat langkahnya ke arah pantry.
"Very!" panggil Alga saat melihat Very sedang duduk santai.
__ADS_1
Very menoleh dan langsung bangun dari duduknya begitu melihat Alga. Walau Alga bukan pimpinan utama tapi dia dihormati selayaknya David dan itu karena Alga anak dari pemilik saham terbesar dan sebentar lagi akan diwariskan pada Alga.
"Iya Pak, ada apa?" tanya Very.
"Dimana Lisa?" ujar Alga balas bertanya. Dia tidak melihat adanya Lisa di sekitar Very.
"Itu Pak, Lisa sama Mpok Alpa ikutan keliling. Dia enggak betah diam saja Pak. Tapi Pak Alga tenang saja, Mpok Alpa pasti bisa menjaganya dengan baik. Lisa aman bersama dia." jawab Very apa adanya. Dia sudah berusaha menahan Lisa tapi tidak berhasil. Mana Mpok Alpa semangat sekali mengajak Lisa.
Alga menarik nafas pelan. Dia sangat paham kelakuan anaknya yang satu.
"Saya tahu Very, tapi Lisanya sudah kamu berikan minum belum? Lisa enggak boleh ketinggalan minum air mineral." ujar Alga.
"Udah kok, Pak. Air mineralnya bahkan sudah mau habis setengah botol. Itu botolnya." ujar Very menunjuk botol bekas minum Lisa.
"Syukurlah kalau begitu. Ini kok jajanannya banyak sekali. Kamu beri Lisa jajanan seperti ini?" tanya Alga mulai was-was. Jika maminya tahu Lisa diberi makanan yang banyak mengandung mecin, dia pasti marah. Lisa memang boleh makan chiki-chiki dan sejenisnya, tapi sedikit saja, tidak boleh banyak-banyak.
"Tadinya iya pak, hanya saja, Lisa lebih tertarik sama pisang dan rotinya. Setelah dia makan pisang dan rotinya dia ikut Mpok Alpa." jawab Very lagi.
"Syukurlah kalau begitu. Ya sudah kamu telepon Mpok Alpa, suruh dia antar Lisa ke sini! Bundanya mau bicara dengannya." suruh Alga.
"Baik Pak," ujar Very kemudian mengambil ponselnya dan menghubung si mpok.
Tut tut tut
Panggilan dari Very tidak dijawab.
Very kembali melakukan panggilan kedua dan hasilnya sama saja.
"Pak telepon dari saya tidak diangkat. Saya sambil cari dia saja Pak." ujar Very.
Sementara itu Lisa sedang asik coret-coret di menggunakan spidol di bawah kolong. Entah dimana dia menemukannya hanya Lisa yang tahu.
Lisa terlihat begitu serius, sama seperti para karyawan Pratama yang sedang serius di meja masing-masing dan tidak menyadari kehadiran Lisa diantara mereka.
"Mpok! Mpok Alpa!" panggil Very negitu menemukan orang yang dicarinya.
Mpok Alpa menoleh dan langsung memperlihatkan wajah khawatir juga takutnya.
"Ver, gawat Ver, Mpok kehilangan Lisa. Gimana ini Ver?" ujar mpok Alpa dengan wajah paniknya.
Very melotot mendengarnya.
"Kok bisa Mpok?" seru Very dan langsung dilanda rasa khawatir juga takut yang sama.
"Mpok juga tidak tahu Ver, tadi Mpok disuruh fotocopy, Lisa masih ikut bersama Mpok ke tempat fotocopy. Dan karena ada yang ngajak Mpok ngobrol, Mpok sampai melupakan Lisa. Nah begitu Mpok kembali, Lisa sudah tidak ada di sekitar mesin fotocopy. Mpok sudah mencarinya Ver tapi belum juga ketemu dan karyawan juga tidak ada yang melihatnya. Gimana ini Ver? Mpok sangat takut Ver. Mpok bisa dipecat ini Ver." ujar mpok Alpa mau nangis rasanya.
"Mpok tenang dulu ok Mpok. Kita cari Lisa, bila perlu kita minta priksa CCTV." ujar Very berusaha tenang walau dia juga dilanda perasaan takut. Ditambah lagi CCTV di kantor mereka juga tidak bisa menjangkau semua sudut, terutama di bagian kolong dan yang lainnya. Lisa bisa nyelip dimana saja dan para karyawan tidak akan menyadarinya.
"Iya Ver dan semoga secepatnya bertemu Ver."
"Amin Mpok. Mpok sebaiknya ke kanan, saya akan cari ke kiri!" ujar Very lagi.
"Iya Ver!" ujar si mpok dan kembali mencari keberadaan Lisa. Dia tidak mungkin berteriak memanggil nama Lisa, karena biar bagaimana pun ini area kantor dan si mpok tidak mungkin mengganggu karyawan lain yang sedang bekerja.
Alga yang sedari tadi masih menunggu mulai gelisah, mana istrinya juga sudah kembali menghubunginya. Apa yang akan Alga katakan pada istrinya? Sudah pasti istrinya mau melihat Lisa anaknya.
__ADS_1
Alga akhirnya bangun dari duduknya. Dia tidak bisa diam saja, dia harus mencari keberadaan anaknya. Alga juga memutuskan untuk tidak menjawab telepon dari Mayu. Alga tidak mau istrinya jadi khawatir.
Kehadiran Alga cukup mengundang perhatian karyawan yang sedang bekerja di meja masing-masing. Beberapa diantara mereka yang sebelumnya sempat ngobrol bahkan langsung menghentikan obrolannya dan kembali serius bekerja.
Ini tumbenan sekali Alga sidak karyawannya. Apa terjadi masalah?
"Pak," ujar salah satu karyawan menyapa Alga sambil menganggukkan kepalanya.
"Iya. Apa kamu lihat mpok Alpa?" tanya Alga langsung saja.
"Mpok Alpa? Saya kurang tahu juga Pak, saya tidak begitu memperhatikannya." jawabnya yang memang tidak melihat mpok Alpa.
Alga menarik nafas pelan dan beralih pada karyawannya yang lain.
"Apa di sini ada yang melihat mpok Alpa atau anak perempuan yang mirip dengan saya?" tanya Alga lagi.
Salah satu karyawan mengangkat tangannya.
"Saya sempat melihatnya Pak. Saya juga melihat anaknya Pak Alga. Hanya saja mereka cuma sebentar saja di sini dan setelah itu langsung pergi. Saya tidak tahu perginya kemana Pak." jawab karyawan itu.
"Ya sudah tidak apa-apa. Jika kalian melihatnya atau melihat anak saya tolong hubungi saya atau sekretaris saya!" pinta Alga.
"Siap Pak. Apa anak Alga hilang?"
"Saya tidak tahu dia hilang atau tidak, hanya saja dia dari tadi tidak kembali dan saya curiganya dia hilang."
"Ya ampun Pak, semoga anaknya cepat ketemu ya Pak. Kasihan juga dia kalau sampai nyasar. Ini kantor besar sekali, dia pasti kebingungan." ujar karyawan itu lagi.
"Iya, amin."
"Pak hubungi bagian pengumuman saja pak! Supaya karyawan lain juga bantu mencari." ujar karyawan lain.
"Benar juga, ya sudah saya mau hubungi bagian pengumuman terlebih dulu. Kalian juga tolong bantu cari!" pinta Alga.
"Iya Pak," kompak mereka.
Alga kembali pergi sembari dia memainkan ponselnya. Alga melihat istrinya kembali menghubunginya. Bahkan ada panggilan dari David juga. Sepertinya Mayu bisa merasakan kalau anaknya hilang.
"Maaf Bun," ujar Alga yang belum berani mengangkat telepon istrinya. Alga memilih menghubungi bagian pengumuman saja. Itu yang paling penting saat ini.
Para karyawan pratama langsung heboh begitu mendengar pengumunan hilangnya Lisa. Mereka langsung sibuk mencari disekitar mereka atau di bawah kolong meja mereka. Sedangkan mpok Alpa dan Very semakin ketakutan saja. Ini sih sudah pasti mereka akan mendapat ganjaran dari keteledoran mereka.
"Apa sudah ketemu?" tanya karyawan lain.
"Belum, Lisa nya benar-benar hilang. Kok bisa ya?" ujar karyawan lain merasa heran sendiri.
"Ya bosa lah, di kantor ini banyak meja, banyak tumpukan kertar juga dan yang lainnya. Itu Lisa badannya kecil, dia nyelip di tumpukan kertas juga tidak akan kelihatan." ujar karyawan itu.
"Benar juga kalau begitu ayo kita periksa sekali lagi!" ujar karyawan itu lagi ikut mengkhatirkan Lisa.
"Iya. Eh cari di area lift dan tangga darurat juga. Takutnya dia ke sana!"
"Iya, biar saya saja yang mencarinya ke sana." ujar salah satu karyawan cowok dan langsung berlari.
Alga menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ini benar-benar aneh, bisa-bisanya Lisa tidak juga ditemukan. Padahal biasanya kalau Lisa mendengar namanya dipanggil dia pasti akan menjawab. Ini hampir semua karyawan memanggil namanya tapi dia tak kunjung menjawab. Alga jadi takut terjadi sesuatu pada anaknya.
__ADS_1
Sementara itu, Lisa yang sudah membuat heboh satu kantor, tampak sedang tertidur dengan pulasnya. Namanya anak kecil, kalau sudah ngantuk ya bisa tidur dimana saja dan kapan saja.