Kekasih Bayaran Tuan Muda

Kekasih Bayaran Tuan Muda
Mayu Hilang


__ADS_3

Hari demi hari berlalu, bulan demi bulan juga sudah berganti, kehamilan Mayu berjalan dengan lancar. Calon bayi mereka juga tumbuh dengan baik.


Hari-hari Mayu dan Alga semakin berwarna sejak kehadiran si jambang bayi di perut Mayu. Setiap hari Alga akan bicara di depan perut isterinya dan perhatian Alga juga tidak berkurang sedikit pun. Bahkan bisa dibilang perhatiannya semakin besar walau terkadang kelakuan Mayu benar-benar menguji kesabarannya.


Seperti yang sedang terjadi saat ini, Mayu tiba-tiba membangunkannya jam 1 dini hari dan berkata lapar. Parahnya lagi dia minta nasi goreng pinggir jalan dan tidak mau nasi goreng buatan Alga atau orang rumahnya. Padahal kehamilan Mayu sudah mau 7 bulan tapi tetap saja ngidamnya masih suka aneh-aneh saja.


"Kak Alga kok cemberut gitu wajahnya? Kak Alga enggak ikhlas ya membelikan nasi goreng untuk Mayu? Ya udah deh enggak usah jadi kalau enggak ikhlas!" ngambek Mayu


Alga menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Aku ikhlas Sayang, untuk kamu dan anak kita, enggak mungkin aku enggak ikhlas. Ini karena nyawanya belum kumpul saja, Ay." ujar Alga yang tidak ingin istrinya beneran marah. Alga tentu tidak mau anaknya ileran karena ayahnya tidak memenuhi keinginannya saat dia masih di perut bundanya.


"Yakin ikhlas?" tanya Mayu lagi.


"Iya Ay Iya, aku sangat ikhlas." ujar Alga menatap gemas pada istrinya.


Mayu seketika tersenyum. Alga hanya menggelengkan kepalanya dan tidak lupa meninggalkan satu kecupan di pipi Mayu. Pipi Mayu semakin tembeb sejak dia hamil dan Alga makin gemas saja dibuatnya. Walau terkadang Mayu sampai mengeluhkan berat badannya yang naiknya sangat banyak.


"Aku ikut ya Kak!" ujar Mayu lagi.


Alga yang hendak turun dari kasurnya, tidak jadi dan menoleh pada isterinya.


"Ini sudah pagi loh Ay, tidak baik ibu hamil keluar pagi-pagi. Aku tidak akan lama, kamu sebaiknya di rumah saja!" ujar Alga.


Alga tidak mau istrinya sakit gara-gara kena angin pagi. Alga sangat tahu Mayu, sejak dia hamil kondisi tubuh Mayu jadi lebih lemah.


"Tapi aku mau ikut Kak, aku juga mau lihat cara abang-abangnya masak nasi goreng." manja Mayu membuat Alga kembali menatap istrinya. Hanya saja kali ini ada cemburu dari tatapan matanya.


"Untuk apa kamu melihat abangnya Ay, lebih ganteng juga aku. Kamu lebih baik menatap aku saja." ujar Alga lagi.


"Ya tapi aku ingin Kak, ayolah Kak!" pinta Mayu lagi dengan wajah memelasnya membuat Alga tidak tega.


"Baiklah kamu ikut, tapi pakai jaket yang tebal dan jangan lupa pakai kaos kaki juga!" ujar Alga akhirnya.


"Siap Kak," semangat Mayu. Senang dia akhirnya Alga memberi dia izin.


***


Alga mengusap wajah Mayu saat Mayu menatap abang nasi gorengnya begitu serius. Mana abang nasi goreng masih muda dan lumayan ganteng lagi. Alga benar-benar tidak rela.


"Apaan sih Kak," protes Mayu karena merasa terganggu gara-gara ulah Alga.


"Di sini ada suami kamu loh Ay, tolong hargai!" ujar Alga dekat telinga isterinya.


"Hargai apa maksudnya, Mayu hanya melihat abang-abangnya loh Kak, bukan menginginkannya jadi suami kedua Mayu." ujar Mayu dan langsung mendapat pelototan dari Alga.


Mayu senyum-senyum melihat Alga melotot.


"Mayu hanya bercanda Kak," ujar Mayu lagi.


Alga lagi-lagi mengusap wajah istrinya dan kali ini merangkul Mayu posesif. Alga ingin menunjukkan pada semua orang kalau Mayu hanya miliknya.


Mayu lagi-lagi tersenyum melihat sikap posesif Alga. Mayu benar-benar merasa dicintai oleh Alga.


Abang tukang nasi gorengnya bahkan diam-diam tersenyum melihat pasangan muda itu. Dia juga sempat mendengar pembicaraan Alga dan Mayu dan dia merasa lucu saja.


"Mbak, Mas pesanannya sudah selesai." ujarnya.


"Iya Mas," ujar Alga dan langsung bangun dari duduknya. Setelah melakukan pembayaran dia kembali merangkul Mayu dan tidak memberikan Mayu sedikit pun kesempatan melirik abang tukang nasi gorengnya. Mayu lagi-lagi hanya tersenyum dibuatnya.


"Mm ... enaknya," ujar Mayu begitu dia membuka bungkus nasi gorengnya. Nasi goreng seafood tambah sayur juga telur dadar.


"Lebih enak nasi goreng buatanku kali Ay." ujar Alga tidak terima Mayu memuji masakan abangnya.


"Ya enggak lah Kak, Mayu yakin nasi goreng abangnya jauh lebih enak dari buatan Kak Alga. Pengalaman itu tidak bisa bohong Kak. Udah Kak akui saja!" ujar Mayu kemudian menyendok nasi gorengnya dan memakannya dengan nikmat.

__ADS_1


Alga tidak terima dengan perkataan istrinya, walau begitu dia tetap ikut memakan nasi goreng milik Mayu.


Alga kembali menatap Mayu, rasa nasi goreng pinggir jalan itu memang rasanya enggak bisa bohong dan Alga harus mengakui kalau rasanya memang beneran enak.


"Gimana Kak, enak kan?" tanya Mayu.


"Iya rasanya enak. Kamu mau disuap tidak?" ujar Alga mengakui sekaligus menawarkan jasa.


"Mau!" semangat Alga membuat Mayu tersenyum.


Alga juga ikut tersenyum, senang dia melihat semangat istrinya. Rasa cemburu Alga yang sempat singgah bahkan hilang seketika.


"Ok," ujar Alga kemudian menyuapi isterinya dengan senang hati. Melihat Mayu makan dengan lahap membuat Alga merasa senang dan pengorbanannya tidak berakhir sia-sia. Walau Alga yakin besok pagi Mayu pasti akan cemberut depan kaca karena wajahnya yang semakin membengkak.


"Kak, terima kasih." ujar Mayu tiba-tiba.


"Terima kasih untuk apa Ay?" tanya Alga dan kembali memakan nasi goreng istrinya.


"Terima kasih sudah mengabulkan apa pun keinginan Mayu, walau gara-gara itu waktu istirahat Kak Alga jadi berkurang."


Alga kembali menatap istrinya dan meraih tangan Mayu dengan tangan kirinya. Alga menggenggamnya erat.


"Kamu enggak perlu minta maaf untuk itu Ay. Itu sudah jadi kewajiban dan tanggung jawabku sebagai seorang suami. Justru aku yang mau berterima kasih untuk kamu. Terima kasih kamu sudah mau mengandung anakku. Terima kasih juga kamu rela jadi gemuk demi anak kita. Pengorbanan kamu tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan apa yang aku lakukan Ay." ujar Alga tulus.


"Kak Alga benar, demi anak kita aku jadi gemuk dan enggak cantik lagi Kak. Pokoknya nanti begitu anak kita lahir, Kak Alga harus menemaniku olahraga." ujar Mayu membuat Alga tersenyum dan kembali mengecup gemas pipi isterinya.


"Kata siapa kamu enggak cantik lagi Ay. Justru kamu semakin menggemaskan kalau gemuk dan aku suka." ujar Alga berusaha menghibur isterinya.


"Bohong," ujar Mayu.


"Enggak Sayang, aku enggak bohong. Mau kamu gemuk atau kurus aku tetap cinta dan dimataku kamu tetap cantik. Hanya saja kurus memang lebih baik dan itu demi kesehatan kamu dan biar kamu tetap percaya diri. Jadi kamu enggak perlu khawatir ok. Bagiku yang terpenting itu kamu dan calon anak kita tetap sehat." ujar Alga lagi dan itu berhasil membuat Mayu tersenyum.


"Terima kasih Kak sudah menerima Mayu apa adanya Mayu dan terima kasih juga Kak Alga selalu berhasil membuat Mayu merasa tenang dan senang."


"Sama-sama Sayang. I love you sayang, semangat terus sayangku!"


Mayu merasa senang karena Alga selain jadi suami siaga, dia juga selalu berhasil membuat Mayu tetap percaya diri.


***


Tidak terasa kehamilan Mayu sudah 9 bulan dan dari perkiraan dokter harusnya dia sudah melahirkan. Hanya saja Mayu belum merasakan tanda-tandanya akan melahirkan, karena itu mereka masih di rumah saja.


Mayu sendiri merasa bingung kenapa dia belum merasakan mules atau kontraksi padahal Mayu sudah melakukan semua cara yang diperintahkan dokter biar cepat kontraksi. Dia sering jalan kaki di sekitaran rumah Alga, dia juga banyak minum air putih dan lain sebagainya.


Alga juga ikut khawatir melihat istrinya. Dia bahkan sempat menyarankan Mayu supaya oprasi saja, sayangnya Mayu tetap bersikukuh ingin melahirkan secara normal. Terlebih lagi kata dokternya juga tidak ada masalah dengan bayinya dan bisa melahirkan secara normal. Mayu semakin yakin lagi mau melahirkan secara normal.


"Ay jangan jauh-jauh ya!" ujar Alga mengingatkan istrinya.


Pagi ini Mayu kembali ingin jalan pagi, sedangkan Alga, dia melakukan olahraga di halaman rumahnya saja.


"Ok Kak, Mayu jalannya hanya sampai depan itu saja kok. Hanya selang 4 rumah saja dari sini." ujar Mayu mantap.


"Iya tidak apa-apa, kamu hati-hati!"


"Siap Ayah. Bunda pergi dulu ya Ayah." ujar Mayu sengaja panggil ayah bunda membuat Alga tersenyum dan mengacungkan jempolnya.


Mayu jalan perlahan keluar dari halaman rumah Alga dan Alga kembali melakukan pemanasan.


Alga olahraga dengan serius sampai lupa kalau Mayu sudah pergi dari satu jam yang lalu.


"Alga!" panggil Dira dari balkon lantai 2 rumahnya.


Alga menoleh dengan nafas ngos-ngosan dan keringat yang bercucuran.


"Kenapa Mi?" tanyanya.

__ADS_1


"Mayu dimana? Bukannya dia mau jalan pagi sama kamu?" tanya Dira begitu dia tidak melihat menantunya bersama Alga.


Alga tampak terkejut karena seketika teringat pada Mayu.


"Mayu lagi jalan Mi. Sebentar Mi!" ujar Alga dan buru-buru keluar dari halaman rumahnya dan mencari keberadaan istrinya.


"Ay kamu dimana?" gumam Alga saat tidak melihat Mayu di jalan. Biasanya dari depan pagar rumah Alga, Mayu akan langsung kelihatan.


"Mi, Mayu tidak kelihatan. Alga cari dia dulu!" seru Alga lagi dan tanpa menunggu jawaban maminya dia langsung berlari mencari keberadaan istrinya. Ada rasa khawatir di hatinya takutnya Mayu mengalami kontraksi atau mules. Harusnya Alga menemani istrinya saja, bukannya malah asik olahraga sendiri.


"Anak itu, bukanya jaga istri tapi malah asik sendiri." ujar Dira. Dia juga ikut khawatir dan buru-buru pergi dari balkon rumahnya. Dia harus membantu mencari Mayu.


Sementara itu Alga sudah sampai di ujung jalan tapi belum menemukan Mayu juga. Alga jadi semakin khawatir, istrinya ada dimana? Mana dia tidak bawa ponsel dan Mayu juga sama.


"Apa dia ke taman?" gumam Alga lagi dan tanpa menunggu lebih lama lagi, Alga berlari kearah taman.


Alga mengedarkan pandangannya ke seputaran taman. Hanya ada beberapa penjual sarapan serta orang yang yang melakukan olahraga. Tidak ada bayang-bayang Mayu di sana.


"Mas Alga cari siapa?" tanya penjual roti saat mendapati Alga yang tengah kebingungan.


"Saya mencari istri saya Mas, apa Mas ada melihatnya?" tanya Alga. Penjual yang datang ke kompleks mereka memang tidak sembarangan dan hampir semua penjual di sana sudah kenal pada Alga dan Mayu karena tiap hari minggu atau tanggal merah Alga dan Mayu memilih olahraga di taman kompleks mereka.


"Tidak ada Mas, saya tidak ada melihat mbak Mayu." jawabnya apa adanya.


"Mas yakin?" tanya Alga memastikan.


"Ya yakin tidak yakin sih Mas, takutnya dia lewat saat saya sedang melayani pembeli. Mas Alga coba tanya mbak Ida saja. Siapa tahu dia ada melihatnya!" ujarnya.


"Baik Mas, terima kasih Mas," ujar Alga lagi.


"Sama-sama." jawabnya.


Alga kembali menanyakan pada mbak Ida sang penjual bubur ayam dan hasilnya sama saja, dia juga tidak ada melihat Mayu datang. Begitu juga saat Alga bertanya pada tetangganya yang dia kenal dan dia juga tidak melihat adanya Mayu.


Alga semakin khawatir saja. Kemana perginya isterinya dan tidak biasanya Mayu seperti ini.


'Ay kamu dimana Ay, jangan buat aku takut Ay!' batin Alga dia benar-benar bingung harus mencari kemana lagi istrinya karena biasanya Mayu perginya hanya ke taman saja juga ke rumah orang tuanya.


"Ah iya rumah Daddy!" monolog Alga, tanpa menunggu lebih lama lagi Alga langsung berlari ke arah rumah mertuanya.


"Alga!"


Alga menoleh begitu mendengar namanya dipanggil.


"Alga belum menemukan Mayu, Mi. Ini Alga mau ke rumah daddy!" seru Alga tanpa ditanya dan kembali berlari. Alga sudah bisa menebak apa yang mau ditanyakan oleh maminya.


"Kok bisa," gumam Dira semakin panik saja. Kemana kira-kira menantunya? Mayu tidak mungkin diculik bukan? Kompleks mereka adalah salah satu kompleks paling aman karena tidak sembarangan orang bisa masuk jadi rasanya mustahil kalau Mayu diculik. Selain itu Alga juga tidak punya musuh, jadi kemungkinan diculik itu hampir tidak ada.


Alga sudah sampai di rumah mertuanya dan Alga langsung masuk saja. Dia sudah biada keluar masuk rumah itu dan rumah itu sudah seperti rumahnya sendiri.


"Mommy, Daddy!" panggil Alga begitu dia masuk rumah.


"Nyonya sedang olahraga yoga di halaman belakang Den Al," jawab bibi pekerja rumah itu.


"Apa dia bersama Mayu, Bi?"


"Enggak, Non Mayu tidak ada ke sini." jawabnya membuat Alga lemas.


"Seriusan Mayu tidak ada ke sini Bi?" tanya Alga lagi memastikan.


"Serius Den, untuk apa juga Bibi bohong pada Den Alga." ujarmya mantap.


"Terima kasih Bi. Alga pergi dulu Bi. Ah iya Bi, misal bertemu Mayu langsung telepon Alga ya Bi!" pinta Alga membuat bibi bingung tapi dia juga mengiakan permintaan Alga.


Alga kembali keluar dari rumah itu.

__ADS_1


"Alga gimana? Apa Mayu ada di rumah Sindi?" tanya Dira yang sudah berhasil menyusul anaknya.


"Tidak ada Mi, Mayu kemana ya Mi? Alga sangat khawatir Mi."


__ADS_2