Kekasih Bayaran Tuan Muda

Kekasih Bayaran Tuan Muda
Lisa Si Pembuat Ulah


__ADS_3

"Assalamualaikum Ibu, Bapak." ujar Sri pertugas kebersihan kompleks perumahan Alga. Dia datang bersama Lisa yang sedang asik menggendong boneka beruang kecil. Boneka yang Lisa dapatkan dari salah satu anak tetangganya.


"Waalaikumsalam," jawab Dira sambil berkacak pinggang sedangkan Pratama hanya tersenyum saja melihat tingkah cucunya. Cucunya yang satu ini memang ajaib sekali. Enggak bisa diam dan senang sekali kerja. Persis seperti Mayu dan David. Sepertinya dar*h Jepang Mayu dan David mengalir deras pada dirinya.


"Maaf Ibu, Bapak, neng Lisanya bersama saya, dia mau ikutan nyapu dan enggak mau ditinggal. Makanya saya ajak saja, daripada dia nangis. Tadinya saya mau telepon satpam supaya menghubungi Ibu, hanya saja ponsel saya ketinggalan." jelas Sri merasa tidak enak. Dia yakin keluarga Lisa pasti mengkhawatirkan Lisa, tapi mau gimana lagi, dia juga harus mengerjakan pekerjaannya terlebih dulu.


"Tidak apa-apa Sri yang penting cucu saya sudah sampai di rumah dalam keadaan selamat dan tidak kurang suatu apa pun. Dan yang terpenting lagi, dia tidak menyusahkan kamu kan?" ujar Dira bijak dan tidak ada alasan baginya untuk menyalahlan Sri karena bukan Sri yang salah.


Dira juga sudah mulai bisa menerima dan bersikap baik pada orang-orang yang status sosial jauh di bawahnya dan tentu saja itu gara-gara menantu dan cucunya. Mayu dan Lisa tidak pernah membeda-bedakan orang, bagi mereka semua orang itu sama.


"Tentu saja tidak Ibu, saya malah senang sekali ada neng Lisa. Dia rajin sekali kerjanya ya walaupun kerjanya buat berantakan saja, tapi itu bukan masalah." jawab Sri apa adanya. Apalagi gara-gara Lisa, dia jadi panen rejeki karena banyak tetangga yang bagi makanan pada mereka.


"Syukurlah kalau begitu. Nomong-ngomong kamu sudah makan?" tanya Dira lagi. Dira juga bukan orang yang tidak tahu terima kasih, karena biar bagaimana pun cucunya sudah dijaga dan diantar ke rumah dalam keadaan tidak kurang suatu apapun.


"Sudah Ibu, saya sudah makan."


"Ya sudah tidak apa-apa, kalau begitu kamu bawa sembakonya itu saja!" suruh Dira sambil menunjukkan sembako yang sudah disiapkannya sebanyak 2 kantong besar.


"Loh Ibu, kenapa banyak sekali?" ujarnya kembali merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa Sri. Itu sebagian titipan dari Mayu. Hari sabtu kemarin kamu enggak datang kan? Mayu sudah menyiapkannya untuk kamu."


"Iya Ibu, saya izin hari sabtu kemarin. Anak saya demam tapi sekarang sudah sembuh, makanya saya sudah masuk kerja lagi." jawabnya.


"Baguslah kalau begitu. Ya sudah kamu bisa bawa itu!"


"Iya Ibu. Terima kasih banyak Ibu, Bapak semoga rejekinya semakin banyak." ujar tulus.


"Sama-sama Sri. Kamu hati-hati!"


"Iya Ibu." ujarnya dan beralih pada Lisa yang yang sedang asik bercanda dengan opanya.


"Neng Lisa, Bibi pulang ya!" pamitnya pada Lisa.


"Oce Bibi, ati-ati ya!" ujarnya meniru apa yang sering dilakukan orang sekitarnya.


"Iya Neng,"


"Sok jadi orang besar sekali ini cucu Opa. Lisa dari mana saja?" ujar Pratama yang selalu geleng-geleng kepala melihat tingkah cucunya. Badan doang kecil, tapi kelakuannya terkadang seperti orang besar saja.


"Lica capu-capu Popa, belcih-belcih Lica." pamer Lisa dengan bangganya.


"Iya jalannya sudah bersih tapi Lisa jadi kotor kan?" ujar Pratama lagi.


"Belcih Popa, Lica uci-uci angan." ujar Lisa lagi karena sebelumnya dia dan Sri memang sudah cuci tangan dan cuci kaki.


"Cuci tangan pakai apa Lisa?"


"Canlait," ujar Lisa mantap membuat Dira dan pratama tersenyum.


"Sunlight itu buat cuci piring Lisa, bukan cuci tangan." ujar Pratama lagi.


"Uci angan Popa. Angi!" ujar Lisa tidak mau kalah.


"Wangi apa?"


"Jeyuk emon," ujar Lisa lagi dan langsung dihadiahi kecupan gemas dari Pratama. Pintarnya Lisa benar-benar menurun dari dia.


"Lisa tahu jeruk lemon?" tanya pratama lagi.


"Au Popa. Acem." ujar Lisa sampai memejamkan matanya kebayang asemnya Lemon.


"Iya asem, sama seperti Lisa yang bau asem."


"Lica angi Popa. Angi bebi." ujar Lisa lagi tidak terima dibilang bau asem.


"Wangi baby kalau sudah mandi. Lisa kan belum mandi, makanya bau asem." seru pratama lagi sengaja ngetes cucunya.


"Angi Popa. Ni etek Lisa angi." ujar Lisa sambil mengangkat tangannya dan men*ium wangi keteknya. Wajah Lisa merengut karena bau keteknya.

__ADS_1


"Lisa kenapa cemberut?" tanya Pratama manahan tawanya melihat ekspresi cucunya.


"Etek Lica auk acem." ujar Lisa dengan polosnya membuat Pratama dan Dira tertawa ngakak.


"Hihi ...." melihat oma dan opanya tertawa, Lisa juga ikut tertawa.


"Lisa ... Lisa kamu ini ada-ada saja. Yuk ah kita mandi saja, biar wangi lagi." ujar Dira setelah tawanya mereda.


"Oce Moma,"


***


"Mayu, kamu pulang kerja jam berapa?" tanya Dira menelepon menantunya.


"Jam 5 udah bisa pulang Mi, ada apa?"


"Mami mau belanja ke mall. Kamu susul Mami ya, Mami pergi sama Lisa. Kami langsung berangkat dari tempat les Lisa." ujar Dira.


"Iya Mi. Lisa dimana Mi?"


"Itu, lagi asik makan dia." ujar Dira sambil mengarahkan kameranya pada Lisa.


Lisa sudah melambaikan tangannya dan memperlihatkan senyum moneynya pada Mayu.


"Hai cantik, lagi mam apa itu?" tanya Mayu dan balas tersenyum pada anaknya.


"Pencekek Bubun, enyak cenan." pamer Lisa membuat Mayu lagi-lagi tersenyum.


"Bagi Bunda dong!" pinta Mayu."


"Ola ico Bubun," ujar Lisa lagi membuat Mayu tertawa ngakak.


"Anak Bunda kenapa jadi Jawa?" ujar Mayu merasa lucu mendengar anaknya bicara bahasa Jawa. Mayu juga tidak perlu heran siapa pelakunya karena hampir semua pekerja di rumah Dira bisa bahasa Jawa dan bahasa sehari-hari mereka juga lebih sering bahasa Jawa.


"Lica wong Jowo Bubun." ujarnya lagi dengan percaya dirinya.


Kali ini tidak hanya Mayu dan dira yang tertawa, tapi supirnya Dira juga ikut tertawa. Dia adalah salah satu yang suka mengajari Lisa bahasa Jawa.


"Ata pakde. Cenang Lica Bubun."


"Senang Lisa jadi Orang Jawa?"


"Ya."


"Mantap. Bunda juga senang."


"Cama Lica Bubun?"


"Iya,"


"Hole!" ujar Lisa senang membuat Mayu lagi-lagi tersenyum.


"Hari ini Lisa ngapain saja sama Oma?" tanya Mayu.


"Beyajal Bubun."


"Bohong. Hari ini, anak kamu ini kerjanya ngebabu saja ini. Mami sampai khawatir gara-gara dia." ujar Dira.


"Ngebabu gimana Mi?" tanya Mayu.


Dira kemudian menceritakan apa yang dialaminya membuat Mayu tetawa ngakak. Ada-ada saja memang tingkah anaknya. Sedikit saja lepas pengawasan, bisa kemana-mana dia. Untungnya tetangga mereka hampir semuanya baik pada Lisa dan kalau ada Lisa prinsip siapa lo siapa gua tidak berlaku di kompleks mereka. Lisa benar-benar sudah menjadi anak pemersatu tetangga.


"Maafkan Lisa ya Mi yang sudah merepotkan Mami. Nanti Mayu belikan hadiah deh, biar Mami makin semangat." ujar Mayu.


"Tidak apa-apa Mayu, Mami tidak merasa direpotkan. Mami hanya takut saja. Lagian sekarang juga sudah aman. Apa yang terjadi, Mami anggap sebagai peringatan juga untuk Mami, supaya lain kali labih berhati-hati lagi dalam menjaga Lisa." ujar Dira yang tidak menyalahkan Lisa dan menantunya karena itu memang salahnya.


"Iya Mi, terima kasih banyak ya Mi sudah jadi oma terbaik untuk Lisa. Lisa sangat beruntung memiliki Oma seperti Mami."


"Mami juga beruntuk memiliki cucu seperti Lisa dan menantu seperti kamu." ujar Dira lagi membuat Mayu tersenyum.

__ADS_1


"Berarti kita sama-sama beruntung ya Mi."


"Tentu saja. Ya sudah Mayu ini kami sudah sampai. Kami mau cari baju dulu untuk Lisa."


"Iya Mi, kalian hati-hati!"


"Iya,"


"Lisa jangan nakal ya cantik, jangan jauh-jauh dari Om!"


"Oce Bubun." ujar Lisa mantap dan langsung dihadiahi kecupan sama omanya.


***


"Bubun!" seru Lisa girang begitu melihat Mayu datang menghampirinya.


Mayu tersenyum dan mempercepat langkahnya.


"Hallo sayangnya Bunda," ujar Mayu sambil mengulurkan tangannya dan Lisa menyambutnya dengan senang hati. Setelah Lisa salim, Mayu juga tidak lupa salim pada mertunya.


"Kalian sudah belanja apa saja Mi?" tanya Mayu membawa Lisa ke gendongannya.


"Itu!" ujar Dira menujukkan kantong belanjaannya yang lumayan banyak.


"Belanjanya banyak sekali Mi. Itu baju Lisa semua Mi?"


"Enggak, sebagian ada baju buat Rio dan Reihan juga. Nanti kita singgah ke rumah mereka sebentar." ujar Dira. Walau dia setiap hari bersama Lisa tapi kalau dia belanja sesuatu cucunya yang lain juga pasti ke bagian.


"Ok Mi, terus ini mau belanja apa lagi?"


"Kita ke supermarketnya saja. Mami mau belanja kebutuhan dapur dan buah." ujar Dira kemudian mengambil ponselnya. Dia ingin menghubungi supirnya.


Mayu mengangguk. Begitu supir Dira datang, mereka langsung pergi meninggalkan tempat itu.


"Bubun, Lica jayan Bubun!" pinta Lisa yang enggak betah kalau digendong.


"Ya sudah, tapi Lisa jangan lari-lari ya!" pringat Mayu.


"Oce Bubun. Lica baik Bubun."


"Iya Bunda tahu itu." ujar Mayu kemudian menutunkan anaknya.


"Mayu, gimana kalau kita beli jam tangan pintar dulu untuk Lisa. Mami rasa Lisa membutuhkan itu. Mami tidak ingin kejadian hari ini terulang kembali." ujar Dira.


"Boleh juga itu Mi dan semoga Lisa mau memakainya ya Mi." ujar Mayu. Mayu paling tahu anaknya tidak suka yang ribet. Pakai gelang saja dia tidak mau, padahal gelangnya hanya gelang simple.


"Semoga saja mau," ujar Dira kemudian menarik tangan Lisa supaya ngikut dia dan Mayu. Mayu tersenyum melihat Lisa memanyunkan bibirnya. Lisa ingin lari ke kepenjual mainan dan Dira sudah sangat hapal itu.


"Lisa pakai ini dulu Sayang! Ini jamnya sangat cantik loh." ujar Dira begitu dia dan Mayu menemukan jam tangan pintar yang cocok untuk Lisa.


Lisa langsung menyembunyikan tangannya ke belakang. Dia tidak betah dipakaikan jam tangan. Bagi Lisa itu sangat mengganggu.


Dira beralih menatap menatunya.


"Enggak mau dia Mayu, gimana ini?"


"Aku juga bingung Mi dan Lisa kalau enggak mau ya enggak. Dipaksa juga percuma, ujung-ujungnya akan dibuang kalau kita bersikukuh memakaikannya." ujar Mayu teringat gelang Lisa yang dia buang. Mana itu gelang harganya puluhan juta. Untung pekerja rumahnya yang menemukannya, kalau orang lain Mayu enggak yakin itu gelang akan dikembalikan.


"Benar juga, tapi enggak apa-apalah kita beli satu, siapa tahu nanti dia tiba-tiba mau."


"Iya Mi tidak apa-apa." ujar Mayu.


Setelah melakukan pembayaran mereka kembali melanjutkan perjalanan.


"Ya ampun Lisa, jangan lari-lari cantik! Nanti nambrak!" ujar Mayu mengingatkan anaknya dan berusaha mengejar Lisa.


Lisa hanya tertawa dan terus berlari. Ini alasannya kenapa dia tidak mau digendong, dia bisa bebas berkeliaran.


"Lisa awas!" teriak Mayu.

__ADS_1


Bruk!


__ADS_2