Kekasih Bayaran Tuan Muda

Kekasih Bayaran Tuan Muda
Kedatangan Dira


__ADS_3

Dira melangkah dengan terburu-buru begitu dia sampai lobby kantor Pratama. Dia tidak sabar ingin bertemu secepatnya dengan cucunya. Dira merindukan cucunya yang crewet itu.


"Se-selamat siang Bu," ujar satpam tampak gugup begitu melihat kedatangan Dira. Walau dia tidak salah tapi dia takut saja Dira marah gara-gara cucunya hilang dan belum ditemukan.


Dira hanya menganggukkan kepalanya, dan terus melangkah ke arah lift.


Kening Dira berkerut begitu melihat sikap karyawannya Pratama yang terlihat aneh saat papasan dengannya. Apa itu karena Dira sudah lama tidak datang ke kantor Pratama? Sejak Dira menyerahkan sahamnya pada Alga dan Vivi dia memang tidak mau lagi terlibat di perusahaan, dia mau menikmati masa tuanya. Apa lagi sejak ada Lisa, dia sudah tidak perduli sama harta, yang penting transferan dari Pratama lancar tiap bulannya.


Walau Dira sudah lama tidak ke kantor Pratama, dia masih hapal dimana letak ruang direktur, CEO dan yang lainnya karena tidak banyak yang berubah dengan kantor pratama.


"Eh Ibu. Selamat siang Bu." ujar Melly tampak kaget begitu melihat kedatangan Dira yang tiba-tiba. Mana Lisa belum ditemukan, apa yang akan dia katakan pada ibu bosnya itu?


Melly tentu tidak mau Dira marah. Melly pernah dengar cerita soal istri bos besarnya itu, kalau Dira sangatlah galak dan tidak takut pada siapa pun.


"Siang, Alga dan cucu saya ada di dalam kan?" tanya Dira.


"I-itu Ibu, Pak Alga membawa anaknya ke pantry. I-iya ke pantry." bohongnya dan semakin gugup.


Kening Dira lagi-lagi berkerut melihat sikap gugup Melly. Sungguh sikap karyawan Pratama aneh sekali. Dira juga tidak akan marah kalau mereka tidak salah. Apalagi sekarang ini, dia jarang sekali mau marah, karena cucu kesayangannya itu pasti akan protes kalau melihat dia marah.


"Kamu panggil mereka, bilang padanya kalau saya sudah datang." printah Dira.


"Ba-baik Ibu," ujarnya.


Dia buru-buru pergi meninggalkan Dira, sedangkan Dira memilih masuk ke ruangan Alga.


Dira kembali merasa heran melihat ruangan Alga yang terlihat bersih. Bahkan tas Lisa yang dia bawa juga masih terlihat rapi.


"Ini Alga apa tidak memberikan anaknya minum atau snack?" monolog Dira.


Walau benak Dira penuh dengan tanda tanya, dia memilih duduk di sofa menunggu kedatangan Alga dan Lisa.


Sementara itu, Melly sudah sampai di pantry dan tidak menemukan adanya Alga di sana. Melly tampak gelisah, bisa gawat ini. Bosnya bisa-bisa kena marah.


Melly memilih mencari Alga, di tidak bisa diam saja.


"Very!" panggilnya begitu melihat Very yang sudah keringat karena berlari ke sana kemari mencari keberadaan Lisa. Wajahnya juga terlihat begitu panik karena hilangnya Lisa gara-gara dia. Jika sampai terjadi sesuatu pada Lisa, pekerjaannya jadi taruhannya. Padahal dia sangat senang kerja di Pratama group. Apalagi sejak dia diangkat jadi sekretaris David. Ada kebanggan tersendiri di hatinya karena untuk bisa duduk di jabatan itu bukanlah suatu hal yang mudah.


Very menoleh.


"Ada apa Mel?" tanyanya.


"Gimana Lisa apa sudah ketemu?"

__ADS_1


"Belum Mell," ujar Very dan suaranya terdengar berat.


"Lalu dimana Pak Alga? Ibunya pak Alga sudah datang Ver." ujar melly lagi dan itu berhasil membuat Very melotot dan jantungnya juga berdebar lebih cepat dari biasanya.


"Serius kamu Mel, ada ibunya pak Alga?" tanya Very mastikan dan berharap dia salah dengar.


"Tentu saja saya serius Very."


"Aduh Mel, hancur sudah ini nasib saya. Ibu Dira pasti sangat marah ini." seru Very semakin gelisah juga takut.


Melly ikutan gelisah, dia juga takut tapi dia juga kasihan pada Very, dan dia tidak mungkin bisa membantu.


"Saya cuma bisa bilang sabar Ver dan kamu harus tetap tenang. Sebaiknya kamu lanjut cari lagi saja. Saya juga mau mencari pak Alga. Ujar Melly.


Very mengangguk dan mereka kemudian pergi ke arah yang berbeda.


"Pak Alga! Pak Alga!" panggil Melly begitu melihat Alga yang terlihat sangat kacau. Penampilannya juga tidak lagi serapi biasanya. Rambutnya acak-acakan dan jasnya sudah dibuka. Ini karena dia terlalu panik juga takut. Alga benar-benar takut terjadi sesuatu pada anaknya. Di kantor banyak benda berat. Bagaimana kalau Lisa kejatuhan benda berat? Membayangkannya saja sudah membuat Alga susah bernapas.


Alga menoleh dan tatapannya jelas terlihat sangat berbeda dengan biasanya.


"Pak Alga, ada ibu Dira di ruangan Bapak. Saya disuruh mencari Pak Alga dan Lisa." ujar Melly lagi membuat Alga menundukkan kepalanya dan menggaruk kasar kepalanya. Untuk saat ini, Alga tidak berani bertemu dengan maminya, Alga sudah bisa membayangkan bagaimana marahnya maminya padanya.


Melly menatap tidak tega pada bosnya. Dia sangat paham, Alga. Satu sisi dia pasti sangat khawatir dan disisi lain dia juga pasti takut karena sudah pasti dia juga bakalan ikutan kena marah.


"Kamu sebaiknya bantu cari Lisa saja Melly, mami saya biarkan saja!" ujar Alga.


"Baik Pak, permisi Pak." ujar Melly kemudian mencari ke tempat lain.


Alga kembali menatap sekelilingnya, kemana lagi dia harus mencari keberadaan anaknya?


"Lisa kamu dimana cantik? Kamu baik-baik saja kan sayang? Oma sudah datang Lisa, ayah takut dia mengamuk pada ayah. Ini memang salah ayah. Harusnya Ayah turuti saja kemauan kamu dan antar kamu pulang." monolog Alga. Ada rasa bersalah di hatinya tapi mau gimana lagi nasi sudah jadi bubur.


Alga kembali berlari, seingatnya untuk kamar mandi belum dia cari, takutnya Lisa ke sana. Lisa biasanya paling betah di kamar mandi. Dia suka main air.


"Pak Alga! Pak Alga! Lisa sudah ketemu Pak Alga!" seru karyawan dan terdengar lega dari nada suaranya.


"Benarkah?" ujar Alga.


Alga tidak jadi ke belok ke toilet. Alga memilih berlari ke arah pemilik suara itu.


"Dimana anak saya?" tanya Alga tidak sebaran. Karyawan yang sudah mengelilingi Lisa, mempersilahkan Alga dan mereka terlihat menahan tawa. Mereka semua sudah heboh dan panik, eh eggak tahunya yang buat heboh malah asik bermimpi. Mana itu wajahnya sampai senyum-senyum lagi. Sepertinya dia senang karena sudah berhasil mengerjai satu kantor.


"Itu Pak," ujar salah satu karyawan menunjuk ke arah Lisa.

__ADS_1


Alga buru-buru melihat anaknya. Dia belum sepenuhnya tenang, melihat karyawan yang sampai mengelilingi anaknya, Alga takut Lisa kenapa-napa.


"Lisa!" seru Alga refleks begitu melihat anaknya yang sedang tertidur dengan nyenyaknya. Tidurnya sampai terlentang begitu dan tidak perduli sama sekali dengan sekitarnya. Mana tubuhnya juga penuh dengan coretan. Mulai dari kaki, tangan dan baju semua kebagian. Untungnya bagian wajahnya tidak kebagian, jadi masih amanlah.


Para karyawan sampai menutup mulut menahan tawa. Kelakuan Lisa benar-benar di luar prediksi BMKG.


Alga kemudian jongkok di depan anaknya. Akhirnya dia bisa bernafas dengan lega.


Alga bukannya mengangkat anaknya, tapi dia memilih mengambil ponselnya. Alga ingin mengambil foto anaknya. Alga bukan mau narsis. Ini biar istrinya tahu kelakuan anaknya dan lain kali tidak lagi mengizinkan Lisa ke kantor. Alga benar-benar kapok dibuat anaknya. Cukup kali ini saja Lisa ke kantornya.


"Ada apa ini, kenapa kalian kumpul di sini dan bukannya kerja?" tegur Dira dari arah belakang mereka.


Dira yang sudah tak sabar sekaligus merasa curiga karena Alga tak kunjung datang juga memutuskan mencari anak dan cucunya.


Para karyawan menoleh dan tampak terkejut di wajah mereka. Begitu juga dengan Alga, dia juga tidak kalah terkejutnya.


Alga buru-buru mengangkat anaknya. Ini benar-benar gawat, Dira bisa murka melihat cucunya tidur di lantai. Padahal itu karena kemauan cucunya sendiri.


"Kenapa kalian diam saja. Ini jam kerja loh!" seru Dira lagi dan tampak tidak suka di wajahnya.


"Ma-maaf Ibu, ini kami mau kerja." ujar para karyawan itu dan langsung kembali ke meja masing-masing hingga tinggallah Alga yang sedang menggendong anaknya.


"Alga, kamu juga di sini. Kamu ngapain di sini?" ujar Dira lagi tampak heran melihat anaknya. Apalagi penampilan Alga juga tidak lagi serapi biasanya.


Alga memutar badannya dan tersenyum tipis pada maminya.


Dira bukannya balas tersenyum, tapi dia justru melotot begitu sadar dengan keberadaan cucunya yang penampilannya jauh lebih berantakan dari Alga.


"Ya ampun cucuku! Ini Lisa kenapa bisa jadi begini Alga?" histeris Dira. Penampilan cucunya jadi enggak banget. Padahal saat dia ke kantor, Lisa dipakaikan baju kembang kembang yang cantik dan pakai bando juga. Ini penampilan cucunya sudah mirip gembel, mana tidurnya juga sangat pulas lagi.


"Panjang ceritanya Mi, sebaiknya kita ke ruanganku saja." ujar Alga yang enggak ingin mereka jadi pusat perhatian. Alga malu. Cukup anaknya saja yang membuat dia jadi bahan tertawaan.


Dira tidak membantah. Dia ngikut saja kemauan Alga. Lagian Dira juga tidak ingin mereka jadi pusat perhatian para karyawan.


***


"Aduh Lisa ... Lisa!" seru Dira begitu dia mendengar cerita Alga. Dira mau marah tapi mau ketawa juga. Apalagi saat melihat foto cucunya yang persis gembel. Dira mau ngakak rasanya. Jika foto itu dikirim ke grup keluarga, Dira yakin pasti heboh dan enggak heran juga kalau itu adalah Lisa.


"Pokoknya ya Mi, aku tidak akan membawa Lisa ke kantor lagi. Aku benar-benar kapok Mi!" seru Alga.


"Mami juga tidak akan mengizinkannya lagi Alga. Cucu mami jadi gembel gara-gara kamu. Ini gara-gara kamu juga yang enggak mau antar dia pulang. Udah tahu Lisa anaknya enggak bisa diam." balas Dira.


"Ya aku kerja Mi, gimana mau antar dia pulang. Ah iya Mi sebentar, aku belum ngabarin Mayu, dia pasti khawatir ini. Sebentar ya Mi!" ujar Alga tiba-tiba teringat isterinya.

__ADS_1


Dira mengangguk dan beralih menatap cucunya yang masih tertidur dengan pulasnya.


Dira tanpa sadar kembali tersenyum. Cucunya yang satu ini, benar-benar enggak ada duanya.


__ADS_2