
"Aaa mau!" teriak Lora dan Shinta semangat. Mereka kembali melompat kegirangan. Padahal Mayu yang dikecup tapi seolah mereka ikut merasakan. Mayu benar-benar beruntung bisa merasakan kecupan dari seorang tuan muda.
"Cie cie Mayu," goda teman mereka yang lain.
Dari banyaknya teman Mayu yang menggodanya, hanya Irpan yang diam dan tidak beraksi. Dia bahkan sampai memalingkan wajahnya karena tidak tahan melihatnya.
Andi yang sedari tadi berdiri di sampingnya, menepuk pelan bahunya. Dia mengerti yang namanya cinta bertepuk sebelah tangan memang sangat berat.
Sementara itu Mayu juga masih terdiam di tempatnya berdiri. Wajahnya terasa panas dan mulutnya seakan terkunci. Mayu benar-benar tidak bisa berkata-kata lagi. Satu sisi dia ingin marah karena Alga yang seenaknya saja menciumnya, tapi di sisi yang lain Mayu juga tidak bisa memungkiri kalau ada perasaan senang di hatinya. Sembilan belas tahun umur Mayu, baru kali ini dia merasakan kecupan seorang laki-laki dan rasanya itu benar-benar nano-nano. Sulit digambarkan dengan kata-kata.
Sedangkan Alga si pelaku utama yang sudah membuat kegaduhan kembali menatap ke depan dan memperlihatkan wajah coolnya, seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Walau tidak bisa dipungkiri ada kepuasan tersendiri di hatinya melihat Mayu tidak berkutik dan Irpan yang terdiam. Terserah mau bilang Alga jahat dan egois, tapi Alga masih ingat dengan jelas, surat perjanjian kerja sama itu, dan selama kerja sama itu masih berlaku, Mayu tidak boloh dekat dengan cowok lain selain dirinya. Anggap saja itu sebagai hukuman dari Alga.
Suasana berbeda terlihat jelas di kelompok Naura. Mata Naura sampai melotot dan botol minum yang sedari tadi dia pegang sampai diremas kuat, seakan itu adalah Mayu. Naura benar-benar kesal, bagaimana mungkin wajah kusam dan tidak cantik itu dikecup oleh Alga. Bukankah wajahnya jauh lebih menarik untuk dikecup dari pada wajah Mayu?
'Aaa sialan lo, Mayu! Awas saja lo, Mayu. Gue pasti akan memberi lo pelajaran.' batin Naura sangat marah.
"Gila kali ya itu kak Alga, bisa-bisanya dia mau kecup pipi Mayu yang jelek itu." ujar Yuli.
"Gue juga heran. Gue saja ilfil banget lihat itu wajah, tapi kok kak Alga bisa-bisanya mau cium dia. Apa dia tidak takut bibirnya akan terluka karena mencium wajah yang penuh kuman dan virus itu." ujar Ira dan beralih pada Naura.
"Sabar ya Nau, dan gue semakin yakin kak Alga itu memang dipelet sama Mayu, kalau enggak, enggak mungkin banget kak Alga mau cium pipinya yang enggak banget itu. Semua orang juga tahu kalau pipi lo lebih menarik dari Mayu." ujar Ira berusaha menyemangati temannya.
"Iya gue tahu, dan gue enggak akan diam saja pokoknya kalian harus bantu gue buat memberi pelajaran pada Mayu. Dia harus diberi peringatan supaya dia sadar, dia siapa." ujar Naura sambil mengepakan tangannya.
"Itu pasti Nau, kami pasti akan membantu lo, karena kami juga benar-benar tidak rela melihat kak Alga jatuh ke tangan perempuan udik itu." ujar Yuli ikut mengepakan tangannya.
Keadaan yang sama juga terlihat di tempat Lia dan Rani. Lia juga sampai mengepalkan kuat tangannya. Mereka benar-benar tidak rela melihat Alga mengecup pipi Mayu.
'Gue tidak akan diam saja Mayu, lihat saja gue pasti akan melakukan sesuatu, yang bisa membuat lo menyasal karena sudah berani merayu Alga.' batin Lia.
Hatinya benar-benar membara melihat apa yang baru saja terjadi.
Beda halnya dengan Rangga dan Yudha. Mereka sampai saling menatap bingung melihat apa yang dilakukan oleh tuan muda mereka. Setelah sekian tahun, mereka baru kali ini kembali melihat seorang Alga bersikap agresif pada perempuan. Dan itu jelas bukan Alga banget.
__ADS_1
Apa yang terjadi pada tuan muda mereka, apa dia sudah mulai ada rasa pada Mayu?
Rangga termasuk salah satu orang terdekat Alga yang sangat tahu Alga, dan Rangga bisa melihat jelas perubahan sikap Alga saat bersama Mayu, dan bagaimana tatapan Alga pada Mayu. Alga juga yang sering sekali diam-diam mencuri pandang pada Mayu. Bahkan untuk acara makrab ini saja, dia sampai rela ikut turun tangan supaya Mayu bisa ikut. Padahal sebelumnya mana pernah dia begitu, tahunya hanya terima beres saja.
"Apa kita memikirkan hal yang sama?" ujar Yudha.
"Gue yakin iya." ujar Rangga mantap.
Yudha menarik nafas pelan.
"Jika apa yang kita pikirkan adalah benar. Jujur saja gue khawatir pada tuan muda juga Mayu. Mereka itu bagaikan bumi dan langit, tidak ada jalan untuk mereka bersatu, dan hanya keajaiban yang bisa menyatukan mereka." ujar Yudha. Yuda sangat tahu seperti apa keluarga Pratama dan tidak sembarangan orang bisa masuk keluarga itu.
"Gue juga mengkhawatirkan hal yang sama, tapi apa pun jalan yang diambil oleh tuan muda, gue pasti akan selalu mendukungnya, karena bagi gue dia sangat berhak bahagia." ujar Rangga mantap. Bagi Rangga, Alga tidak hanya sekedar tuannya atau temannya, tapi Alga juga sudah seperti saudara untuknya. Saudara yang selalu bersamanya saat dalam keadaan suka dan duka.
"Gue juga sama Ngga, gue juga akan selalu ada untuk tuan muda kita." ujar Yudha tidak kalah mantapnya.
Rangga dan Yudha kembali melihat ke arah Alga dan yang lainnya.
Suasananya sudah terlihat berbeda, Alga tidak lagi foto berdua dengan Mayu, tapi mereka sudah foto ramai-ramai. Bahkan hampir semua peserta makrab ikut foto dengan mereka. Hanya saja posisi Alga itu selalu di samping Mayu, seolah dia hanya milik Mayu dan Mayu juga hanya miliknya seorang. Namun itu bukan masalah bagi Shinta dan yang lainnya. Dengan Alga mau foto dengan mereka itu sudah cukup membahagiakan bagi mereka, karena selama ini Alga memang jarang sekali mau foto bersama para mahasiswa kecuali untuk dokumentasi kampus.
"May tunggu!" Mayu yang hendak pergi mandi menghentikan langkahnya.
"Kenapa Shin?"
Shinta bukannya menjawab, tapi dia malah menghampiri Mayu, kemudian menempelkan pipinya pada Mayu. Pipi bekas dikecup oleh Alga.
"Masih ada bekas kissnya kak Alga, lumayan May." ujar Shinta dengan cerianya dan tanpa dosa.
Mayu sampai menepuk keningnya. Ada-ada saja ini ulah temannya.
"May, gue juga mau May. Shinta gantian dong!" seru Lora tidak mau ketinggalan sambil menarik Shinta.
Lora juga menempelkan erat pipinya ke pipi Mayu.
__ADS_1
"Lumayan banget ini May, walah hanya bekasnya tapi rasa senangnya sampai ke hati. Gimana dengan lo May, rasa senangnya pasti sampai ke surga ya May." ujar Lora dengan lebaynya.
Mayu menggelengkan kepalanya.
"Enggak segitunya juga Lora. Lo jangan terlalu norak deh." ujar Mayu yang sebenarnya tidak bisa memungkiri kalau dia juga senang.
"Cie cie malah nuduh kita norak. Bilang saja lo juga pasti senang banget kan dikiss sama ayang? Mana ayangnya mendekati sempurna begitu lagi. Gue nih ya May, kalau diposisi lo, enggak akan bisa tidur gue. Beruntung banget sih lo May. Bagi keruntungan lo sama kita dong May! Mau banget ikut beruntung ini May." ujar Lora gemas.
"Gue enggak seberuntung itu Lora. Lo belum tahu saja apa yang terjadi sebenarnya. Eh!" ujar Mayu dan refleks menutup mulutnya. Gawat, dia keceplosan.
'Semoga saja Shinta dan Lora tidak sadar.' batin Mayu.
"Memangnya apa yang terjadi sebenarnya Nay?" kepo Lora.
"Bukan apa-apa. Eh Kak Rangga, tunggu!" ujar Mayu sengaja menghindar. Mayu, benar-benar tidak mau kalau dia sampai keceplosan.
"Sebentar ya Shin, Lora, gue mau ada yang disampaikan pada kak Rangga." ujar Mayu, dan tanpa menunggu persetujuan temannya dia langsung berlari meninggalkan Shinta dan Lora.
Shinta dan Lora mengangguk. Mereka kemudian saling menatap.
"Mayu sepertinya sengaja menghindar, apa jangan-jangan dia memyembunyikan sesuatu dari kita ya?" ujar Lora.
"Iya gue juga berpikirnya begitu, tapi apa ya yang disembunyikan Mayu dari kita?" ujar Shinta ikut bertanya-tanya.
"Mayu itu habis dukun, itu saja lo berdoa enggak tahu. Teman macam apa lo?" ujar Naura tiba-tiba muncul di belakang mereka.
Shinta dan Lora menoleh ke belakang.
"Cape deh!" ujar mereka malas kemudian pergi meninggalkan Naura. Malas mereka berurusan dengan Naura.
"Hei lo berdua tunggu! Gue belum selesai bicara!" seru Naura.
"Ogah!" kompak Lora dan Shinta kemudian tertawa ngakak.
__ADS_1
Naura sampai mengepalkan kuat tangannya.
"Enggak Mayu enggak temannya, sama saja nyebelinnya." kesalnya.