Kekasih Bayaran Tuan Muda

Kekasih Bayaran Tuan Muda
Siapa Pelakunya dan Apa Tujuannya?


__ADS_3

"Tumben pesannya hanya sedikit, lagi diet?" tanya Alga begitu Mayu mengucapkan pesanannya.


"Ah enggak Kak, Mayu lagi kenyang saja, makanya pesannya hanya sedikit." ujar Mayu. Mayu lagi enggak nafsu makan, jadi dari pada kebuang lebih baik dia pesan secukupnya saja.


"Habis makan apa kamu?" tanya Alga lagi.


Mayu refleks menatap Alga.


'Habis makan masalah,' batin Mayu.


"Enggak makan apa-apa Kak." ujar Mayu akhirnya.


"Tidak makan apa-apa kok bisa kenyang. Lagi ada masalah kamu?" tanya Alga lagi tidak menyerah.


Mayu lagi-lagi menatap Alga.


"Tumben Kak Alga kepo. Kepo itu enggak baik loh Kak. Kepo itu bisa menyebabkan rindu, beneran deh. Bahaya kan kalau Kak Alga rindu pada Mayu, Kak Alga bisa-bisa jatuh cinta nanti." ujar Mayu lagi. Mayu tidak mungkin menceritakan masalahnya pada Alga. Alga hanya kekasih bayarannya. Lagian kalau pun dia cerita, Alga belum tentu mau membantunya jadi percuma saja.


Gantian Alga yang menatap Mayu.


'Bukan bisa lagi Mayu, tapi saya sudah jatuh cinta pada kamu. Apalagi setelah melihat apa yang kamu alami hari ini. Hati saya ikut sakit melihat kamu menangis Mayu, dan saya tidak suka melihat kamu menangis. Saya lebih suka melihat kamu tersenyum atau tertawa.' batin Alga.


"Kak Alga! Hei Kak Alga kok jadi ngelamun?" ujar Mayu sambil mengibaskan tangannya depan wajah Alga.


"Ah iya tidak apa-apa. Mayu bisa saya bertanya?" tanya Alga lagi.


"Silahkan Kak," ujar Mayu sambil mengambil air minum yang disediakan oleh pemilik warung pecel lele.


"Itu dagangan kamu, tumbenan sekali kamu membawanya sangat banyak? Bukannya jualan di pinggir jalan itu cukup repot kalau dagangan banyak? Apalagi kamu hanya sendirian. Bagaimana kalau tiba-tiba datang hujan?" tanya Alga lagi kembali mencari tahu soal Mayu.


"Kak Alga hari ini benar-benar kepo deh, ini seperti bukan Kak Alga saja." ujar Mayu yang tengah berusaha menghindar dari pertanyaan Alga.


"Jawab saja Mayu! Kalau ada orang bertanya baik-baik itu ya dijawab baik-baik! Jangan malah bilang saya kepo terus, itu tidak sopan namanya Mayu." ujar Alga mulai geregetan. Susah banget mencari informasi tentang Mayu.


Sebenarnya kalau Alga Mau, dia bisa menyuruh orang lain untuk mencari tahunya, tapi spesial untuk Mayu dia ingin mencari tahunya dari Mayu sendiri.


Mayu menghembuskan nafas cepat.

__ADS_1


"Iya Kak Alga benar, saya memang membawa dagangan lebih banyak dari biasanya, dan itu karena saya mau dapat untung lebih banyak lagi Kak. Hanya saja yang namanya jualan kan ada ramai ada tidaknya, nah kebetulan saat saya bawa banyak, pembelinya malah sepi. Jadi ya begitu deh, dapatnya capek doang." ujar Mayu dan tidak berani menatap mata Alga. Ini karena dia sedang berbohong.


"Yakin kamu hanya karena jualan sepi saja?" tanya Alga yang benar-benar tidak puas dengan jawaban Mayu. Alga sangat yakin kalau hanya karena jualan sepi, Mayu tidak mungkin menangis selama sejam di masjid. Palingan Mayu hanya akan terus jualan di pinggir jalan. Sedikit banyaknya Alga sudah tahu tentang Mayu, dan kalau soal jualan Mayu akan selalu bersemangat dan tidak kenal kata menyerah.


Alga bahkan pernah diam-diam nonton Mayu saat Mayu jualan live di tiktok dan Alga sampai senyum-senyum sendiri melihat cara Mayu jualan. Semangat Mayu benar-benar membara dan kadang terlihat lebay juga. Apa lagi kalau ada yang memberikannya hadiah. Mayu sampai lompat-lompat sengking senangnya. Padahal hadiahnya hanya mawar atau es jeruk saja.


"Sangat yakin dong Kak, untuk apa juga saya bohong pada Kak Alga? Ah iya Kak, makanannya udah sampai. Sebaiknya kita makan saja." ujar Mayu kemudian beralih pada makanan yang disiapkan penjualnya. Mayu merasa lega akhirnya dia bisa menghindar dari rasa kepo Alga.


Saat makan, Mayu yang tidak ingin ditanya Alga, memilih makan dengan cepat dan akhirnya makanan Mayu sudah habis tapi Alga baru habis setengahnya.


"Kenapa, apa kamu mau nambah?" tanya Alga saat mendapati Mayu sedang menjilat sisa sambal di tangannya.


"Iya Kak, makanannya enak juga ternyata hehe ...." ujar Mayu tersenyum malu. Soal makanan Mayu ternyata tidak pernah berubah, awalnya doang enggak nafsu, tapi begitu makanannya sampai di mulut, ujung-ujungnya tidak cukup satu piring. Apalagi makanan yang dihidangkan saat baru selesai dimasak. Rasanya itu jauh lebih enak.


"Kamu ini kebiasaan. Rangga pesankan lagi untuk Mayu, sekalian buat nenek Iroh juga!" suruh Alga pada Rangga yang duduk di meja sebelahnya bersama Yudha.


"Ok Tuan muda, mau tambah apa lagi May?" tanya Rangga.


"Nasi uduk satu, tempe 2, tahu 2, lele satu dan satenya juga 2." jawab Mayu mantap.


Alga menggelengkan kepala mendengarnya. Makannya Mayu memang selalu banyak, hanya saja yang membuat Alga heran badannya tetap kerempeng. Entah kemana perginya itu nasi yang dimakannya? Tapi kalau dilihat dari aktivitas Mayu yang begitu banyak, sangat wajar memang badannya tidak bisa gemuk. Alga saja belum tentu sanggup melakukan aktivitas seberat itu. Bangun jam empat pagi langsung mengerjakan pekerjaan rumah dan yang lainnya, selanjutnya nagih kereditan kemudian pergi kuliah. Pulang kuliah masih lanjut jualan, dan kadang belanja dulu ke tanah abang. Jika masih ada waktu lanjut jualan live lagi di tiktok. Benar-benar waktu istirahatnya hanya buat tidur doang.


"Ambil saja! sekalian ambil sambalnya juga kalau mau." ujar Alga yang tidak keberatan sama sekali berbagi makanan dengan Mayu.


"Terima kasih Kak Al, Kak Alga baik deh." ujar Mayu tersenyum. Setelah makan perasaan Mayu jadi baikan meski masalahnya belum terselesaikan.


"Sama-sama," ujar Alga dan lanjut makan. Gara-gara Mayu, Alga juga jadi ikutan suka makan banyak, apalagi kalau makan di pinggir jalan, selain harganya lebih murah, terkadang rasanya juga lebih enak.


"Sayang, mau disuap enggak Sayang?" goda Mayu sambil mendekatkan satenya ke mulut Alga. Meniru apa yang mereka lakukan di rumah Alga waktu itu.


Alga refleks menatap Mayu dan mereka sama-sama tersenyum.


Alga memperhatikan lebih dalam wajah Mayu.


'Senyum kamu itu mengandung beban Mayu dan tidak setulus biasanya.' batin Alga.


Alga tidak akan berhenti sampai di sini saja. Meski Mayu tidak mau menceritakan masalahnya tapi Alga akan mencari tahunya.

__ADS_1


***


"Assalamulaikum Nenek. Mayu pulang." ujar Mayu berusaha ceria seperti biasanya.


"Waalaikumsalam Nak," ujar nenek Iroh pelan. Nenek Iroh sebenarnya ingin terlihat kuat, tapi entah kenapa begitu melihat wajah Mayu, dia jadi ingin menangis.


"Nenek kenapa?" tanya Mayu yang bisa melihat jelas perubahan wajah neneknya, lain dari biasanya.


Nenek Iroh yang sudah tidak tahan, langsung memeluk erat Mayu.


"Maafkan Nenek Mayu, maafkan Nenek." lirih nenek Iroh.


Deg deg


Jantung Mayu seketika berdebar cepat dan perasaannya jadi tidak enak.


"Nenek kenapa minta maaf? Apa terjadi sesuatu pada Nenek?" tanya Mayu menatap dalam neneknya.


Nenek Iroh hanya menggelengkan kepalanya.


"Tidak terjadi sesuatu pada nenek Mayu, hanya saja Nenek sangat sedih. Hari ini, jualan Nenek tidak ada yang laku sama sekali. Bahkan seribu perak pun enggak laku Mayu. Nenek sangat bingung Mayu, kenapa para tetangga kita tidak ada yang mau belanja pada Nenek? Apa Nenek punya salah pada mereka atau karena Nenek sudah tua dan bau tanah?" jelas nenek Iroh sambil menahan air matanya.


Satu harian ini dia benar-benar dibuat bingung dan bertanya-tanya, karena ini pertama kalinya tidak ada yang mau belanja ke warungnya. Warungnya memang tidak seramai warung orang lain tapi biasanya penjualannya tidak pernah kurang 50 ribu dalam sehari. Apalagi sekarang jenis jualannya sudah semakin banyak. Minyak goreng dan telor juga sudah tersedia.


Mayu kembali membawa nenek Iroh ke dalam pelukannya. Dia sangat tahu apa penyebab jualan neneknya tidak laku, dan Mayu yakin orang yang melakukannya adalah orang yang sama.


"Nenek yang sabar ya Nek, namanya juga jualan, pasti ada ramai dan sepinya. Mungkin ini sebagai pengingat pada kita, supaya kita libur sesekali gitu loh Nek. Selama ini kan Nenek juga belum pernah libur." ujar Mayu berusaha menenangkan neneknya.


Mayu juga tidak mungkin cerita masalahnya pada neneknya. Mayu takut neneknya kepikiran. Ini saja neneknya sudah mau menangis.


"Iya Nak, dan semoga saja sepinya hari ini saja ya Nak, dan mulai besok ramai lagi." ujar nenek Iroh tidak yakin.


"Amin. Ah iya Nek, kalau Nenek mau, besok Nenek libur saja Nek. Nenek sebaiknya istirahat saja." ujar Mayu.


"Enggak Nak, Nenek mau jualan atau enggak sama saja. Nenek tidak jualan pun hanya akan di rumah saja. Jadi lebih baik nenek jualan saja. Justru kalau nenek jualan, Nenek jadi merasa terhibur, apalagi kalau ada yang beli, Nenek jadi ada teman ngobrol." ujar Nenek Iroh apa adanya.


Mayu menatap neneknya. Ada benarnya memang apa kata neneknya. Hanya saja, Mayu benar-benar tidak ingin melihat neneknya kembali kecewa dan sedih karena jualannya tidak laku. Mayu yakin si pelaku pasti belum mau berhenti begitu saja.

__ADS_1


'Siapa sebenarnya pelakunya dan apa tujannya melakukan ini semua?' batin Mayu.


__ADS_2