
"Saya juga tidak tahu pastinya masalahnya Mas, yang saya dengar Mayu itu ada membuat masalah dengan orang kaya dan berkuasa gitu. Nah itu orang kaya sengaja menemui ketua satpol pp, supaya di tempat ini dilarang jualan selama Mayu masih jualan di sini. Karena ini para pedagang di sini minta baik-baik pada Mayu supaya Mayu pergi saja dan tidak jualan di sini. Sebenarnya saya dan yang lainnya juga tidak tega menyuruh Mayu pergi. Mayu itu gadis yang baik, ceria dan selalu bersemangat. Kadang tingkahnya itu benar-benar hiburan buat kami di sini Mas. Bahkan terkadang kalau jualannya lagi ramai, dia suka traktir loh Mas. Saya pribadi cukup kehilangan." jelas pedagang itu apa adanya.
"Berarti, dari kemarin Mayu tidak boleh jualan di sini?" tanya Alga lagi.
"Iya Mas. Kemarin itu meja dan raknya diambil setelah itu dia disuruh pergi oleh pedang di sini."
Alga menarik nafas pelan. Dia mulai mengerti kenapa Mayu sampai menangis. Mayu pasti kebingungan kemana lagi dia harus mencari nafkah. Apalagi dia tidak hanya harus menghidupi dirinya sendiri tapi neneknya juga. Selain itu mereka juga harus bayar kontrakan. Pasti pusing banget itu Mayu.
'Mayu bermasalah sama orang kaya dan berkuasa, siapa kira-kira? Apa jangan-jangan mami?' batin Alga.
Alga kembali menatap penjualnya.
"Pak, apa orang kaya dan berkuasa itu ada menampakkan dirinya? Dia laki-laki atau perempuan?" tanya Alga lagi.
"Saya tidak ada melihatnya Mas, kalau Mas ingin tahu orangnya, Mas bisa temui ketua satpol ppnya saja!"
"Terima kasih atas informasinya Pak, kalau begitu saya pergi dulu."
"Iya Mas sama-sama. Ah iya Mas kalau bertemu Mayu sampaikan salam saya padanya. Bilang juga padanya, supaya dia tetap semangat dan tidak boleh menyerah. Dia itu pedagang pintar dan tidak gengsian, saya yakin dia pasti akan jadi pedagang hebat nantinya." ujarnya tulus.
"Iya Pak terima kasih. Ah iya Pak, ini saya ada sedikit rejeki, di terima ya Pak. Bapak juga harus tetap semangat." ujar Alga sambil memberikan uang merah selembar. Ini gara-gara Mayu, rasa perdulinya jadi lebih besar pada orang lain.
"Eh tidak usah Mas, tidak apa-apa." ujarnya tidak enak menerima pemberian Alga.
"Tidak baik menolak rejeki Pak, saya benar-benar tulus memberikannya. Semoga dagangannya laris Pak." ujar Alga lagi.
"Baiklah Mas, terima kasih Mas. Mas ganteng, sangat cocok dengan Mayu yang cantik jelita. Semoga secepatnya bertemu Mayu, Mas."
Alga tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya.
Sementara itu Mayu sudah sampai di salah satu kawasan yang ramai penduduknya. Tempat itu tidak begitu jauh dari rumah kontrakan Mayu, beda beberapa RT saja dan masih satu RW.
Mayu menghentikan motornya tepat di depan warung dan ada beberapa ibu-ibu yang sedang bergosip di sana.
Mayu turun dari motornya dan memperlihatkan wajah cerianya.
"Selamat sore ibu-ibu cantik semua, apa Mayu bisa minta waktunya sebentar?" tanya Mayu seramah mungkin dan tidak lupa memperlihatkan senyum terbaiknya.
"Iya selamat sore juga Neng, ada apa ya Neng?" tanya salah ibu.
"Ini Ibu, saya hanya mau menawarkan barang dagangan ada baju tidur, kolor dan bh. Harganya murah saja Ibu-ibu, sama dengan yang di pasar. Untuk kualitas juga dijamin bagus, apa lagi kolornya, anti masuk gigi pokoknya." ujar Mayu dengan gaya khasnya.
"Si Neng bisa saja, kalau yang anti turun gunung ada enggak Neng?" tanya salah satu ibu.
"Sudah pasti ada dong ibu cantik, kalau pakai bh jualan Mayu, otomatis gunungnya enggak akan turun lagi, dan akan terlihat se*si. Dijamin deh bapak di rumah akan tergoda gitu loh." ujar Mayu lagi dengan tatapan genitnya, membuat para ibu seketika bersorak.
__ADS_1
"Si Neng, memang paling bisa deh jualannya. Udah nikah apa janda Neng?" ujar ibu lain.
"Saya ini masih ABG ting-ting Ibu. Saya belum nikah. Saya masih 19 tahun dan saya mahasiswa." ujar Mayu apa adanya.
"Serius mahasiwa? Kenapa jualan?" tanya Ibu lain seakan tidak percaya.
"Saya juga tulang punggung keluarga Bu, saya hanya hidup berdua dengan nenek saya. Jadi ya setelah kuliah saya harus jualan untuk biaya hidup saya dan nenek saya."
"Wah hebat ya Neng, bisa kuliah sambil jualan dan tidak gengsi lagi. Padahal neng cantik loh, kalau mau cari duit yang instan juga sangat gampang dan banyak yang mau." ujar Ibu itu merasa salut pada Mayu.
"Banyak juga Bu yang suka menawarkan. Hanya saja selama saya masih bisa dapat penghasilan halal, saya jauh lebih memilih penghasilan halal. Walau hasilnya tidak seberapa dan saya harus berjuang keras."
"Benar sekali Neng, saya setuju dengan Neng. Matap Neng, saya suka melihat semangat Neng." ujar Ibu lain.
"Terima kasih Ibu. Terus gimana ini, apa mau beli dagangan saya. Jika ada 3 orang saja yang mau beli, sistim kredit juga boleh. Cukup bayar 2000 saja sehari, dan harganya juga cukup tambah 5000 saja. Hitung-hitung berbagi jajanlah sama Mayu." ujar Mayu lagi.
"Kalau bisa kredit maulah Neng, tapi beneran harganya hanya tambah 5000 kan?"
"Beneran Ibu. Saya tidak mungkin bohong soal itu. Saya menjunjung tinggi kejujuran Bu. Lagian untuk apa bohong untuk perkara kecil, lebih baik bohong untuk perkara besar saja sekalian, dosanya sama ini."
"Benar sekali Neng, kalau begitu kami mau lihat barangnya dulu Neng!"
"Boleh banget Ibu, sebentar ya." ujar Mayu. Dengan semangat Mayu mengeluarkan barang dagangannya.
"Neng ini baju tidurnya bagus, bahannya adem dan tidak tembus pandang. Ini berapa Neng?"
"Pas saja Neng, saya malas tawar menawar."
"Ok Ibu. Kalau yang itu pasnya 40 ribu Ibu."
"Kalau kredit 45 ribu berarti ya?"
"Iya."
"Murah berarti, saya beli di pasar juga 45 ribu yang seperti ini. Ini udah kredit hanya 45 ribu lagi. Kalau begitu saya maulah Neng."
"Boleh Ibu,"
"Kreditnya pakai uang dp enggak Neng?"
"Mau pakai dp boleh, enggak juga boleh."
"Enggak usah saja ya Neng, biar saya beli 2 Neng. Saya mau beli untuk anak saya juga."
"Boleh banget Ibu, silahkan! Gampang saja kalau sama Mayu. Ah iya kalau ibu-ibu mau pesan kerudungan juga boleh. Apalagi kalau mau pesan 3, harganya saya kurangi 5 ribu. Begitu juga kalau mau pesan barang lain. Soal harga dijamin ok, samakan saja dengan yang di pasar. Jadi ibu-ibu ini bisa ngirit ongkos dan waktu juga kan. Barangnya juga dijamin no tipu-tipu, kalau tidak sesuai tidak masalah kalau tidak jadi." ujar Mayu lagi sangat genjar promosinya.
__ADS_1
"Boleh juga itu Neng, saya mau beli krudung sebenarnya. Hanya saja untuk hari ini mau beli kolor dan bhnya saja. Kalau ini kolor dan bhnya berapa Neng?"
"40 ribu Ibu, tambah 1 kolornya lagi saja, saya hitung 50 ribu saja nanti."
"50 ribu kredit?"
"Iya Ibu."
"Baiklah Ibu mau tambah kolornya satu lagi."
"Saya mau yang ini juga Neng."
"Siap Ibu," ujar Mayu dan langsung mengeluarkan buku catatanya. Mayu merasa senang, akhirnya dia punya langganan kredit baju lagi.
"Ah iya Ibu-ibu, kalau misalkan Mayu minta uang kreditnya pagi-pagi apa boleh? Saya ingin nagih dulu sebelum berangkat kuliah."
"Iya Neng tidak masalah hanya 2000 ribu ini, malah lebih bagus pagi, jadi uangnya juga tidak keburu habis buat jajan." ujar Ibu lain.
"Saya juga lebih setuju kalau pagi Neng. Siapa tahu nanti Neng ketemu anak saya, terus kalian jatuh cinta. Anak saya cakep loh Neng, kerja di bank lagi." ujar ibu yang lainnya.
"Wah mantap itu Bu, tapi kira-kira saya masuk kriteria menantu idaman enggak Bu?" tanya Mayu.
"Ya sangat masuk lah Neng, cakep begitu pintar cari duit lagi. Jika neng jadi menantu saya, saya yakin cucu saya pasti sangat cakep, tapi itu wajah asli beneran kan Neng, bukan wajah plastik?" tanya ibu itu lagi.
Mayu mau tertawa ngakak mendengarnya, ada-ada saja memang ini ibu-ibu.
"Sangat asli dong Ibu. Ini tarik saja hidung saya kalau tidak percaya." ujar Mayu menunjukkan hidungnya.
"Iya Neng percaya kok Ibu."
"Terima kasih atas kepercayaannya calon ibu mertua." ujar Mayu dengan cerianya.
"Sama-sama calon menantu. Semangat ya calon menantu."
"Ok calon ibu mertua."
"Cie cie," goda ibu-ibu yang lain membuat senyum Mayu semakin lebar.
Sangat berbeda dengan kedua orang yang duduk di dalam mobil mewah dan menatap Mayu dari kejauhan.
"Sialan, enggak ada menyerahnya itu anak dan dengan mudahnya dia dapat pelanggan." ujar Dira kesal.
"Iya heran aku Mbak, padahal hanya barang murahan begitu, banyak saja yang mau." ujar Sindi tidak kalah kesalnya.
"Pokoknya kita tidak bisa diam saja. Kita harus membereskan itu ibu-ibu, supaya tidak mau lagi belanja pada Mayu."
__ADS_1
"Setuju Mbak." ujar Sindi mantap.