
Mayu kembali ke rutinitasnya begitu Alga kembali ke London. Selain sibuk mengurus revisi skripsi dan yang lainnya supaya bisa secepatnya wisuda. Mayu juga disibukkan dengan mengurus pernikahannya. Mulai dari gaun, hotel dan yang lainnya dia urus bersama Dira dan tidak lupa melibatkan Alga tentunya, walau Alga seringnya protes kerena pemilihan gaun Mayu yang terlalu terbuka.
Seperti yang sedang terjadi saat ini, disaat Dira dan Sindi mengajak Mayu ke butik dan Alga tidak suka dengan pilihan gaun kedua wanita paruh baya itu.
"Terbuka apanya lagi sih Al, ini gaunnya udah tertutup banget loh bagian depannya dan ini gaunnya indah sekali. Mayu pasti cantik baget nantinya kalau pakai gaun seperti ini." ujar Dira mulai kesal dengan sikap posesif anaknya. Dari tadi Alga protes terus dengan gaun pilihannya.
"Bagian pundaknya itu loh Mih masih terlalu terbuka. Pokoknya Alga enggak suka kalau Mayu memamerkan tubuhnya, walah hanya sekedar pundak. Lagian menurut Alga Mayu akan lebih cantik kalau pakaiannya lebih tertutup lagi." ujar Alga tanpa ragu membuat Dira tambah kesal dan Mayu hanya tersenyum tipis saja. Padahal menurut Dira, bagian pundak terbuka yang Alga maksud masih dibatas wajar, bukan yang terbuka banget.
"Berarti kalau misalkan ini bagian pundaknya dibuat lebih tertutup lagi sampai di dekat leher, kamu setuju Al?" tanya Sindi berusaha menengahi. Sindi tidak mau hanya perkara gaun malah jadi berantem.
"Ya tentu saja Alga setuju Tante. Untuk bagian dadanya sampai bawah Alga sudah suka semua, hanya tinggal pundaknya saja." jelas Alga.
"Baiklah nanti kami akan bicarakan sama desainernya lagi dan minta untuk bagian pundaknya dibuat lebih tertutup. Terus ini gaun yang satunya lagi gimana? Ini sudah tertutup semua loh." ujar Sindi sambil menunjukkan gaun yang satunya lagi dan yang akan Mayu gunakan untuk resepsi kedua.
"Bagian dadanya apa enggak terlalu rendah itu Tante. Jika di pakai, belahannya enggak kelihatan kan?"ujar Alga lagi membuat Mayu sampai tersenyum malu dan Dira hanya menepuk keningnya.
"Enggak lah Al. Ini ujung laher vnya masih di atas dadanya Mayu. Kamu tenang saja kalau soal itu, kami akan minta desainernya supaya belahannya tidak kelihatan. Kamu ini takut sekali itunya Mayu kelihatan orang lain. Padahal Mayunya juga biasa saja." protes Sindi.
"Ya takut lah Tante. Alga saja belum pernah melihat dan Alga tidak akan rela kalau orang lain yang melihatnya duluan. Apalagi para lelaki hidung belang di luar sana." ujar Alga membuat Mayu semakin malu.
"Terserah kamu lah Al, pusing Tante melihat sikap posesifnya kamu." ujar Sindi dan akhirnya menyerah juga.
"Hehe ...." Alga hanya tertawa kecil menanggapinya.
"Berarti ini gaun resepsinya udah deal kan Al? Jangan sampai kamu protes lagi nanti." ujar Dira.
"Iya sudah Mi," ujar Alga mantap.
"Berarti sekarang tinggal tuxedo untuk kamu. Kamu maunya yang seperti apa?" tanya Dira lagi.
"Aku tinggal dicocokkan dengan gaunnya Mayu saja Mi dan yang penting bentuknya tidak yang aneh-aneh saja." ujar Alga lagi. Alga sangat paham kalau tuxedo cowok bentuknya begitu-begitu saja dan tidak seribet gaun tentunya.
__ADS_1
"Baiklah, nanti Mami kirim beberapa foto untuk kamu dan Mami harap ukuran tubuh kamu jangan sampai berubah lagi. Kasihan desainernya kalau harus 2 kali kerja." ujar Dira mengingatkan.
"Iya Mi. Alga pasti akan menjaga berat badan ideal Alga sampai hari pernikahan tiba. Lagian Alga juga enggak maulah terlihat jelek saat pernikahan Alga. Apa kata anak Alga nanti, takutnya mereka malu mengakui Alga sebagai papa." ujar Alga dan langsung disambut gelengan kepala Mayu dan yang lainya.
"Halunya jangan kejauhan Al!" seru Sindi membuat Mayu dan Dira tersenyum lebar. Ada-ada saja memang ini Alga, udah mikirin anak saja, padahal nikahnya juga belum.
Alga juga diam-diam tersenyum tipis. Dia tidak perduli dituduh halu kejauhan, yang jelas dia memang ingin sekali punya anak dari Mayu dan Mayu juga sama. Mereka berdua memang sudah pernah membahas itu dan mereka sama-sama tidak mau menunda walau mereka sama-sama sibuk.
Setelah selesai memilih gaun, Dira dan Sindi masih mengajak Mayu membeli sepatu, tas dan yang lainnya. Mereka berdua benar-benar mengurus Mayu dari atas sampai bawah dan Mayu benar-benar berterima kasih pada mereka berdua. Mayu jadi merasa memiliki 2 ibu yang sayang padanya.
***
"Gimana May, sudah sejauh mana persiapan pernikahan lo dan kak Alga?" tanya Naura sambil menikmati puding mangganya.
"Untuk yang penting-pentingnya udah hampir semuanya sih. Dari hotel, makanan, gaun dan yang lainnya. Untuk yang kecil-kecilnya nanti saja, masih lama ini. Lo sendiri gimana, kalian juga pastinya sudah mulai menyiapkannya kan? Apalagi hotel dan gaun, harus dipersiapkan dari jauh-jauh hari. Takutnya hotelnya sudah dibooking orang duluan." ujar Mayu.
"Harusnya sih sudah mulai May tapi enggak tahulah," ujar Naura dan terlihat malas di wajahnya.
Naura menggelengkan kepanya.
"Kemarin itu kami sudah ke butik May, dan sudah memilih beberapa contoh gaun juga. Eh tiba-tiba mas Alex ditelepon rekan kerjanya dan disuruh datang. Mas Alex langsung bilang iya lagi dan meninggalkan gue sedirian di butik. Nyebelin banget enggak tuh? Memangnya dia doang yang sibuk. Gue juga sama sibuknya kali, makanya gue memilih langsung pulang saja. Malas gue. Parahnya lagi nih ya May, dia malah makin sibuk akhir-akhir ini dan jarang sekali ada waktu untuk gue. Gue malah jadi ragu, takutnya gue doang yang ingin menikah, sementara dia enggak." cerita Naura.
Mayu tampak menarik nafas pelan. Dia kemudian memilih duduk di samping Naura. Sepertinya Naura sedang mengalami cobaan sebelum menikah. Sama halnya dengan Mayu yang juga sudah mengalami banyak cobaan. Hanya saja Mayu sebisa mungkin berusaha mengerti pacarnya. Apalagi mereka komunikasinya hanya dari telepon saja dan itu bukanlah suatu yang mudah. Butuh rasa percaya yang sangat besar di dalamnya.
"Nau gue mengerti perasaan lo dan gue juga mengerti rasa kesal lo. Hanya saja di sini gue ingin berbagi pengalaman saja, biar rasa kesal lo enggak makin menjadi pada Mas Alex karena gue sangat yakin Mas Alex bukan tidak menginginkan pernikahan kalian, tapi kemungkinan besar dia memang benar-benar lagi sibuk dan siapa tahu juga dia ada masalah di perusahaannya. Lo tahu sendiri kan, walau mas Alex sudah jadi CEO tapi banyak yang tidak suka dia menduduki jabatan itu, terutama para sepupu dan om juga tantenya. Banyak juga yang ingin menjatuhkannya. Otomatis dia harus berusaha bekerja lebih keras lagi agar tidak ada yang bisa menjatuhkannya." jelas Mayu.
Naura menatap Mayu, ada benarnya memang apa yang dikatakan Mayu. Bahkan Alex sendiri pernah bilang padanya kalau dia sempat menyesal karena terlalu terburu-buru menerima jabatan CEO itu. Dia memang sudah mampu menduduki jabatan itu dan dia juga sangat siap menggantikan posisi ayahnya. Hanya saja Alex juga baru tahu kalau ternyata sepupunya sudah lama mengincar posisi kepeminpinan itu. Alex bahkan sempat ditatap sinis oleh tantenya dan begitu juga dengan omnya yang sikapnya langsung berubah pada Alex.
Alex juga sempat ingin mundur saja tapi entah kenapa sejak bicara dengan David yang sudah sangat berpengalaman, Alex jadi mengurungkan niatnya dan tetap mau maju walau rintangannya banyak.
"Benar juga ya May, mana gue perhatikan akhir-akhir ini dia terlihat kayak banyak beban pikiran gitu. Kadang sampai enggak nyambung gitu omongannya." ujar Naura.
__ADS_1
"Nah itu dia dan di sini lo harusnya bisa bersikap jadi calon istri yang baik untuk dia dan yang bisa mengerti posisi dia. Lo juga bisa memberi perhatian lebih padanya. Jangan maunya diperhatikan terus." ujar Mayu menasehati adiknya.
Naura menghembuskan nafas dalam dan menganggukkan kepalanya.
"Iya May, lo benar. Tidak seharusnya gue membalas perbuatannya dan berpikir negatif padanya. Sebagai calon istri yang baik, harusnya gue bisa membantunya, minimal membantu meringankan beban pikirannya."
"Nah itu dia yang gue maksud. Jangan malah lo balas dia lagi. Amit-amit nih ya, takutnya kalian malah tidak jadi menikah karena masalah kecil yang jadi besar akibat kurangnya rasa pengertian." ujar Mayu lagi.
"Iya Mayu gue mengerti. Terima kasih ya Mayu sudah mengingatkan gue dan harus gue akui, lo cukup ahli masalah percintaan. Lo memang memang bisa dijadikan panutan." ujar Naura mengacungkan jempolnya.
"Gue bukan cukup ahli Naura, hanya saja gue belajar dari pengalaman gue saja. Apalagi setelah gue menjalani masa LDR dengan kak Alga, kedewasaan cinta kami benar-benar diuji dan begitu juga dengan pikiran positif terhadap pasangan." jelas Mayu.
"Dan itulah yang paling sulit May dan gue terkadang sadar kalau cinta gue tidak selalu bisa berpikir positif pada mas Alex. Apalagi kalau dia sudah di dekat cewek tuh, bawaannya suka cemburu saja." curhat Naura.
"Kalau itu wajar saja dong Naura, gue juga sama, namanya juga cinta. Hanya saja gue memang cukup diuntungkan, kak Alga itu suka risih kalau didekati cewek. Apalagi cewek yang bersikap genit padannya, langsung ilfil dia." ujar Mayu balas curhat.
"Nah itu dia Mayu. Mas Alex enggak begitu, dan sikapnya selalu ramah pada cewek-cewek sekitarnya. Gue enggak mungkin melarangnya karena takutnya dibilang terlalu posesif."
"Ya lo coba omongin baik-baik dong Nau, bisa saja kan kadang niatnya ingin ngetest lo saja. Lo cemburu enggak kalau dia dekat-dekat dengan cewek. Kadang cowok itu suka juga melihat kita cemburu. Kalau kata Kak Alga, gue sangat menggemaskan kalau lagi cemburu." ujar Mayu membuat Naura seketika menatap padanya.
"Wow percaya diri sekali ya lo!" seru Naura.
"Ya kan kata gue juga kata Kak Alga Naura, bukan kata mas Alex." ujar Mayu tidak mau kalah.
"Ya kalau mas Alex berkata seperti itu, udah gue beri minuman baygon lo." ujar Naura dan langsung mendapat tatapan ngeri dari Mayu.
"Sadis banget lo. Gue yakin deh kalau istri sahnya nanti kayak lo, dijamin itu para calon pelakor kabur duluan."
"Belum tentu juga Mayu, kalau suaminya pintar main cantik ya gue bisa apa, tapi gue yakin sih kalau Mas Alex bukan laki-laki seperti itu. Lagian kalau dia berani selingkuh, gue akan balas melakukan hal yang sama. Dia punya uang dan kuasa, sama gue juga. Dia bisa selingkuh dan gue juga bisa." ujar Naura membuat Mayu menggelengkan kepalanya.
"Kacau banget lo, Naura. Udah ah lo sebaiknya telepon mas Alex dulu itu, biar pikiran lo itu tidak semakin aneh saja. Gue juga mau video callan sama kak Alga dulu." ujar Mayu kemudian meraih ponselnya.
__ADS_1
Ini sudah jam 10 malam sudah saatnya dia ngobrol dengan Alga sebelum tidur. Sedangkan Naura tampak menarik nafas pelan. Lagi-lagi kesabarannya memang diuji kali ini dan ini sudah jam 10 malam tapi Alex belum ada menghubunginya lagi. Padahal biasanya dari jam 7 atau jam 8 malam dia pasti menghubungi Naura dan memastikan Naura pulang atau tidak.