
Mayu duduk sendirian di pinggir jalan. Di sampingnya ada motor buntutnya yang berisikan barang dagangannya.
Tatapan Mayu menatap lurus ke depan dan terlihat kosong. Mayu sedang berpikir keras kemana lagi dia harus jualan setelah ini?
Mayu menghapus cepat air matanya yang kembali jatuh tanpa bisa dia cegah.
'Ya Allah, Mayu tahu Engkau tidak mungkin memberi cobaan melebihi batas kemampuan hamba-Mu ini ya Allah. Mayu mohon tunjukkan lah jalan untuk Mayu ya Allah. Mayu hanya ingin berdagang dengan nyaman. Ini bukan hanya untuk hamba tapi untuk nenek Iroh juga. Mayu tidak mau nenek Iroh sampai tahu apa yang Mayu alami. Mayu tidak ingin melihat dia drop lagi hingga masuk rumah sakit. Mayu mohon tolonglah hamba-Mu ini ya Allah.' batin Mayu dan lagi-lagi menangis.
Mayu menghapus cepat air matanya begitu mendengar suara adzan maghrib. Mayu mau sholat juga lanjut curhat. Mayu butuh mengadu semuanya pada sang penciptanya. Hanya itu satu-satunya harapan Mayu saat ini. Jalan Mayu terasa buntu, tapi Mayu yakin jika Allah berkehendak, maka hanya dalam waktu singkat, jalan buntu itu bisa terbuka lebar.
Mayu bangun perlahan dari duduknya dan kembali menaiki motornya. Sebelum menjalankan motornya Mayu kembali mengusap sisa air matinya. Mayu juga menarik nafas perlahan dan membuangnya dengan perlahan. Mayu harus kembali berkonsentrasi sebelum dia melanjutkan perjalanan.
"Loh Al, itu kan Mayu." ujar Rangga begitu dia melewati Mayu.
Alga menoleh.
"Iya benar itu Mayu," ujar Alga dan memperhatikan Mayu dari dalam mobilnya.
"Mayu mengusap air matanya, apa jangan-jangan dia menangis?" ujar Yudha yang duduk di samping Rangga.
"Bisa jadi dan sepertinya dia lagi ada masalah. Saat di kampus gue sempat melihatnya hanya duduk sendirian di musala, dan tatapannya terlihat kosong. Bahkan saat gue sengaja lewat di depannya, dia enggak sadar sama sekali. Itu jelas bukan Mayu yang biasanya. Ditambah lagi, dia juga sudah pulang jam segini dan barang dagangannya juga sangat banyak, lebih banyak dari biasanya." ujar Rangga.
Alga tanpa sadar mengangguk. Dia beberapa kali bertemu Mayu saat Mayu membawa barang dagangannya dan tidak pernah melihat Mayu membawa sebanyak itu. Paling 1 karung 50 kg, dia ikat di belakang dan 1 karung 25 kg dia letakkan di depan.
"Ikuti dia!" ujar Alga tiba-tiba.
"Maksudnya Al?" bingung Rangga.
"Kita ikuti Mayu, gue mau lihat dia mau pergi kemana." ujar Alga.
Hati Alga langsung tidak bisa tenang mendengar Mayu ada masalah. Dia tidak tega dan dia tidak bisa diam saja. Dia harus membantu Mayu.
"Baik Al." ujar Rangga mantap dan setuju dengan keputusan Alga. Walau Mayu bukan saudara atau orang terdekatnya, tapi Rangga juga merasa kasihan pada adik tingkatnya itu. Dia tahu bagaimana kerasnya Mayu. Mayu yang harus kerja banting tulang demi menghidupi dia dan neneknya. Padahal di usia Mayu yang sekarang harusnya tugasnya hanya belajar dan pergi main bersama teman-temannya.
"Mayu ke masjid Al, apa kita mau sekalian sholat maghrib juga?" tanya Rangga.
"Iya boleh," ujar Alga dan terus mengawasi gerak gerik Mayu. Alga semakin yakin kalau Mayu memang ada masalah. Mayu bahkan tidak sadar dengan mobil Alga sama sekali. Padahal jarak mereka tidak begitu jauh.
***
Alga dan yang lainnya sudah selesai sholat tapi Mayu belum selesai juga. Bahkan setelah 10 menit menunggu Mayu belum keluar juga dari dalam masjid.
__ADS_1
Alga sampai menatap Rangga dan juga Yudha.
"Kenapa Mayu belum keluar-keluar juga?" tanya Alga yang tidak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya.
"Gue juga enggak tahu Al. Ini bahkan sudah mau setengah jam dia di dalam sana. Gue jadi penasaran apa yang dia lakukan di dalam sana. Apa gue sebaiknya lihat saja apa yang dia lakukan? Mumpung keadaannya juga lagi sepi. Sebentar lagi sudah mau sholat Isya, orang-orang akan kembali datang untuk sholat." ujar Rangga.
"Tidak usah biar gue saja yang melihatnya." ujar Alga. Alga juga sama penasarannya ditambah rasa khawatirnya juga makin besar. Alga takut terjadi sesuatu pada Mayu di dalam sana.
"Baiklah kalau lo mau melihatnya. Hati-hati Al dan perhatikan juga keadaan sekitar. Takutnya lo dikira mau melakukan perbuatan aneh-aneh!" ujar Rangga mengingatkan.
"Iya," ujar Alga mengacungkan jempolnya.
Alga kemudian melangkah perlahan dan langkahnya langsung tertuju ke tepat para perempuan biasanya sholat.
Alga melihat sekitarnya dari pembatas. Alga melihat ada seseorang yang masih memakai mukena tengah bersimpuh di atas sajadah. Alga sangat yakin kalau itu adalah Mayu.
Alga menatap sekitarnya. Tidak ada seorang pun di dalam masjid. Alga menarik nafas pelan. Dia kembali melangkah perlahan mendekat pada Mayu.
"Hikss ... hikss ...."
Langkah Alga seketika terhenti begitu mendengar suara tangis Mayu. Suara tangis yang begitu menyayat hati. Tanpa sadar tangan Alga terkepal erat. Ada keinginan dalam dirinya ingin menarik Mayu dan membawanya ke dalam pelukannya. Alga sangat yakin, pasti masalah Mayu sangat berat kali ini.
Setelah berdiri selama beberapa menit di sana Alga memutuskan kembali keluar. Alga takut ada yang melihatnya dan Alga jelas tidak mau muncul masalah baru lagi.
Alga menatap Rangga dan lagi-lagi menghela nafas.
"Sepertinya Mayu memang ada masalah besar, dia menangis di dalam sana." ujar Alga pelan. Alga memilih duduk di tangga masjid. Alga memejamkan sejenak matanya, sunguh dia benar-benar tidak tega melihat Mayu serapuh itu.
Rangga ikut duduk di samping Alga dan mengusap lengan Alga.
"Kita harus membantunya Al." ujar Rangga.
"Tanpa lo minta pun, gue pasti akan membantunya." ujar Alga mantap.
Alga tidak akan bisa melihat gadis yang dicintainya menderita. Dia harus berbuat sesuatu.
Azan untuk sholat isya kembali terdengar dan Mayu belum keluar-keluar juga dari dalam masjid.
Alga, Rangga dan Yudha kembali memutuskan sholat isya di masjid dan setelah mereka selesai pun, Mayu belum keluar juga.
"Kita tunggu sepuluh menit lagi saja. Kalau Mayu belum keluar juga, biar gue yang panggil dia ke dalam." putus Alga.
__ADS_1
Alga tidak akan pergi sebelum dia bicara dengan Mayu.
"Iya Al, kami setuju." jawab Yudha.
Di menit ke sembilan menunggu Mayu keluar sambil menundukkan kepalanya. Ada perasaan lega di hati Alga.
Alga menahan Rangga dan Yudha saat mau menghampiri Mayu. Alga mau mereka bersikap seolah mereka tidak menunggu Mayu.
"Mayu!" panggil Alga sambil bersandar di mobilnya.
Mayu tetap melajutkan langkahnya. Mayu belum sepenuhnya fokus, dia tidak mendengar panggilan Alga.
"Mayu!" panggil Alga lagi lebih keras.
Mayu refleks menoleh.
"Eh Kak Alga, Kak Rangga dan Kak Yudha, kalian juga sholat di sini?" tanya Mayu berusaha tersenyum dan bersikap seperti biasanya.
"Iya kami sholat di sini. Tumben kamu sholat di sini, apa kamu sudah selesai dagang?" tanya Alga yang juga berusaha bersikap seperti biasa.
"Iya Kak, kebetulan Mayu lewat, jadi sholat di sini saja. Kalau begitu Mayu duluan ya Kak. Ini sudah malam, kasihan nenek sendirian di rumah." ujar Mayu dan kembali melangkahkan kakinya.
Mayu ingin cepat-cepat pergi. Saat ini Mayu sedang tidak ingin ngobrol dengan Alga dan yang yang lainnya, Mayu sangat lelah dan dia masih butuh waktu untuk sendiri.
"Eh Mayu tunggu!" ujar Alga cepat menahan Mayu.
Mayu kembali menoleh.
"Iya kenapa Kak?" tanya Mayu biasa.
Alga menggenggam tangannya, dia bingung harus mulai dari mana.
"Apa kamu sudah makan? Bagaimana kalau kita makan dulu sebelum kamu pulang? Kebetulan kami juga belum makan." ujar Alga akhirnya menemukan alasan yang tepat untuk menahan Mayu.
Mayu menatap Alga. Tawaran Alga benar-benar sangat menggiurkan untuk saat ini. Lumayan banget dia dapat makan gratis, jadi dia bisa menghemat pengeluarannya. Hanya saja pikiran Mayu sedang tidak baik-baik saja. Ditambah lagi dia mau lanjut jualan di tiktok. Bagi Mayu selama dia masih diberi kesehatan, jalan mana saja akan dia tempuh untuk tetap bisa jualan.
"Udahlah May enggak usah kebanyakan mikir! Mumpung tuan muda kita lagi baik May. Lumayan May makan gratis, makan enak lagi. Jangan menolak rejeki May, tidak baik menolak rejeki. Sini kunci motor kamu, biar saya saja yang bawa motornya." ujar Rangga ikut turun tangan membantu Alga.
"Tapi Kak," ujar Mayu ragu. Motornya itu berat, kasihan Rangga.
"Tidak ada tapi-tapian Mayu. Saya ini jago bawa motor. Jadi kamu enggak perlu takut. Motor kamu pasti aman. Sini kuncinya!" seru Rangga lagi.
__ADS_1
"Baiklah Kak," putus Mayu akhirnya.