Kekasih Bayaran Tuan Muda

Kekasih Bayaran Tuan Muda
Ada Apa Dengan Alga


__ADS_3

"Baiklah berhubung aku tidak bisa hidup tanpa ko*or dan bh, jadi aku terima kol*r dan bhnya. Aku mau jadi pacar kamu, Andi." ujar Noni malu-malu.


"Hore."


Bukan Andi yang bersorak girang tapi Mayu dan yang lainnya.


"Cie cie akhirnya Andi enggak jomblo lagi nie." ujar Irpan menggoda temannya.


Andi hanya tersenyum lebar dan mengacungkan jempolnya pada temannya itu. Padahal dia dan Irpan memiliki kesamaan, sama-sama suka memendam cinta. Andi juga tidak tahu, dapat keberanian dari mana dia tiba-tiba nembak Noni, gadis yang dia taksir dari pertama kali masuk kuliah.


"Selamat ya Andi dan Noni dan semoga langgeng sampai pelaminan." seru Mayu dan teman-temannya lagi.


"Terima kasih teman-teman, dan semoga bagi kalian yang masih jomblo juga segera menemukan pasangan, dan bagi yang masih memendam cinta juga secepatnya memiliki keberanian mengungkapkan perasaannya."


"Amin." kompak Mayu dan yang lainnya. Mereka ikut senang melihat kebahagiaan pasangan baru itu.


"Kok lo ikutan bilang amin May, lo kan sudah punya pacar." protes Lora.


"Ah iya, lupa gue hehe ...." ujar Mayu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia kan hanya sekedar pacar bayaran saja, bukan pacar beneran. Jadi Mayu masih terhitung jomblo dong.


"Tega lo May, melupakan kak Alga yang ganteng itu. Awas lo May, kak Alga marah! Kak Alga itu kan baik banget sama lo, dia juga sangat perhatian. Lo beruntung banget tahu May punya pacar yang paket komplit seperti kak Alga." ujar Lora lagi.


"Iya Lora, gue memang beruntung punya pacar seperti kak Alga." ujar Mayu biar cepat karena dia tidak mungkin berkata yang sebenarnya pada Lora.


"Nah itu lo tahu. Eh tapi kok kak Alga enggak kelihatan May? Dia enggak ngajak lo mojok, seperti pasangan yang lain?" tanya Lora sambil menatap sekitar mereka. Hanya tinggal beberapa saja yang tinggal di halaman. Kebanyakan dari mereka sudah membuat acara masing-masing. Bahkan Irpan juga sudah dibawa pergi Andi dan itu karena permintaan Noni, yang tak lain adalah temannya Riana.


Mayu kembali menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Alga enggak mungkin ngajak dia mojok, lagian kalau mojok juga mau ngapain? Mereka tidak mungkin kiss atau pelukan dan sejenisnya. Begitu juga dengan ngobrol, mereka mau ngobrolin apa?


"Kenapa lo garuk kepala May, kak Alga lagi marah ya sama lo?" tanya Shinta.


"Enggak, kak Alga marah kenapa sama gue?" ujar Mayu, dan bagi Mayu tidak ada alasan bagi Alga marah padanya.


"Ya enggak tahu, biasanya kan orang pacaran itu suka marahan gitu hanya karena perkara sepele. Makanya kak Alga enggak ngajak lo mojok, iya kan? Padahal ini suasananya sedang mendukung banget loh May buat pacaran, sayang kalau dilewatkan. Gue juga kalau punya ayang, mau banget gue mojok, tapi jangankan pacar, gebetan saja gue enggak punya." ujar Shinta malah curhat.

__ADS_1


"Sabar ya Shin." ujar Mayu sambil menepuk lengan Shinta.


"Iya lo juga sabar ya May. Punya pacar ganteng itu memang ngeri-ngeri sedap. Selain rawan diselingkuhi, mereka juga suka banget bertingkah. Jadi stok sabar lo harus banyak May! Pokoknya jangan sampai putus saja sama kak Alga. Laki-laki seperti dia itu langka May." ujar gadis berparas ayu itu.


Mayu mau ketawa mendengarnya. Kenapa juga dia harus stok sabar yang banyak. Kalau Alga mau selingkuh ya terserah dia, toh hubungannya dan Mayu juga bukan pacaran, dan kalau pun dia mau bertingkah terserah dia, enggak ada urusannya dengan Mayu. Mayu cukup menjalankan tugas saja.


"Iya Shinta. Ah iya dari pada kita ngobrol tidak jelas di sini, bagaimana kalau kita ke kebun stroberi saja. Katanya di depan situ ada kebun stroberi yang bisa petik sendiri loh. Gue mau beli buat nenek." usul Mayu.


"Boleh juga itu May, gue juga ingin stroberi yang petik sendiri, tapi beneran lo enggak apa-apa pergi sama kita nih May? Takutnya nanti kak Alga nyariin lo lagi. Biasanya kan lo sama kak Alga terus." ujar Lora.


Mayu menarik nafas pelan. Entah bagaimana caranya dia menjelaskan pada kedua temannya ini kalau dia itu perempuan bebas, dan bisa pergi kemana saja tanpa perlu takut ada yang mencari.


"Iya enggak apa-apa Lora. Santai saja dan enggak usah sebut nama Kak Alga terus! Lebih baik kita pergi bersenang-senang saja, jarang-jarang juga kan kita bertiga bisa pergi bersama." ujar Mayu akhirnya.


"Benar juga sih. Kalau begitu ayo kita let's go!" ujar Lora semangat.


"Ok." kompak Mayu dan Shinta. Mereka bertiga akhirnya saling bergandengan tangan keluar dari villa tempat mereka menginap.


***


Mayu jadi bingung, apa Mayu sebaiknya ikut cuek seperti Alga yang tiba-tiba cuek padanya atau Mayu bersikap ramah seperti biasa seolah tidak terjadi apa-apa?


Mayu sebenarnya bertanya-tanya, kenapa Alga tiba-tiba cuek dan tidak lagi menghampirinya setelah selesai acara? Padahal selama acara makrab, Alga selalu menghampirinya. Apalagi saat Mayu sakit kemarin, Alga selalu berada di sampingnya dan melakukan yang terbaik untuknya. Apa Mayu ada salah padanya?


"Loh May itu kan Kak Alga bersama panitia yang lain. Jadi kak Alga ada di sini. Pantas saja kak Alga enggak ngajak lo." ujar Lora menyadarkan lamunan Mayu.


Mayu refleks menatap Lora, temannya yang satu ini selalu saja tahu keberadaan Alga. Dan alasan apalagi kali ini biar mereka tidak curiga.


Mayu menarik nafas pelan dan lagi-lagi menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Gara-gara Alga, Mayu harus pintar bohong sekarang.


"Iya mungkin mereka ada yang lagi dibahas. Udah ah sebaiknya kita pergi saja, takutnya kita ganggu lagi." ujar Mayu memilih cuek juga pada Alga. Mayu tidak mau pusing-pusing mikirin Alga, Alga saja tidak memikirkannya. Lagian mereka juga tidak ada hubungan apa-apa hanya sekedar kerja sama saja.


"Yakin lo May, kita pergi saja? Lo enggak mau say hallo sebentar pada kak Alga, supaya dia tahu kalau lo juga di sini. Ya biar bagaimana pun lo kan pacarnya May, dia sangat berhak tahu keberadaan lo." ujar Shinta apa adanya.

__ADS_1


Mayu kembali menggaruk kepalanya. Mayu benar-benar bingung harus jawab apa lagi, karena biasa Mayu memang suka laporan pada Alga, dan itu sudah tertulis dalam perjanjian kerja sama mereka.


"Lo kenapa sih May dari tadi garuk-garuk kepala terus, kutuan lo?" protes Lora.


"Ya enggak lah. Mana berani itu kutu nginap di kepala gue. Tangan ajab nenek gue pasti akan memburu itu kutu sampai dapat."


"Terus kenapa lo dari tadi garuk-garuk kepala terus? Udah deh dari pada lo garuk-garuk kepala terus. Lebih baik lo say hallo dulu sama yayang lo, sana! Siapa tahu dia nanti memberikan lo jajan buat beli stroberi, kan lumayan May." usir Lora.


"Kenapa kak Alga harus memberi gue jajan?" bingung Mayu. Alga bukan orang tuanya, lalu kenapa Alga harus memberikan dia jajan, iya kan? Heran Mayu sama jalan pikiran temannya.


"Ya enggak apa-apa dong May. Pacar lo kan banyak duitnya, jadi sangat wajar dong, dia memberi lo uang, tapi jangan minta juga ya, takutnya lo dikira matre lagi. Udah sana say hello dulu, dari tadi enggak jadi jalan-jalan ini kita!" ujar Lora lagi sambil mendorong pelan Mayu.


"Iya Lora," ujar Mayu dan mau tidak mau, Mayu terpaksa menghampiri Alga dan teman-temannya.


"Kak Alga!" ujar Mayu berusaha bersikap seperti biasanya.


Alga hanya melirik sebentar padanya dan kembali makan pop mienya.


Mayu diam-diam menarik nafas pelan. Biasanya sikap Alga memang dingin dan cuek, tapi tidak sedingin dan secuek ini. Jika dulu Mayu merasa biasa saja, tapi entah kenapa sekarang Mayu tidak bisa biasa saja. Mayu merasa kesal melihat Alga yang cuek dan dingin padanya. Mayu lebih suka melihat Alga yang perhatian padanya.


Walau begitu Mayu tidak akan protes, karena dia tidak punya hak juga untuk protes, selain itu Mayu juga sudah janji akan jadi kekasih bayaran yang baik untuk Alga.


"Mayu mau petik stroberi dulu ya Kak." ujar Mayu lagi tanpa ditanya.


"Iya," ujar Alga tanpa menoleh dan memilih fokus pada pop mienya.


Tanpa sadar tangan Mayu terkepal erat. Dia benar-benar tidak suka melihat cara Alga menanggapi perkataannya. Sekali pun dia mau jawab singkat, apa susahnya menatap Mayu sebentar, iya kan? Nyesal Mayu say hello duluan pada Alga. Tahu gini Mayu langsung pergi saja tadi.


Sementara itu Lia dan Rani yang sedari tadi memperhatikan mereka seketika menahan tawanya melihat Mayu dicuekin Alga. Ingin rasanya mereka berkata, emang enak dicuekin?


"Mayu pergi Kak!" ujar Mayu lagi.


"Iya," ujar Alga dan lagi-lagi tanpa menatap Mayu.

__ADS_1


Mayu menatap kesal Alga sebelum dia membalikkan badannya dan pergi meninggalkan Alga. Kesal banget dia pada Alga. Jika saja hanya Alga di sini, Mayu sudah pasti akan protes. Sayangnya ada banyak orang, protes Mayu harus ditahan.


__ADS_2