
"Ay!" panggil Alga sambil mengendarai motor Mayu.
"Kenapa Kak?" tanya Mayu sambil memeluk pinggang Alga.
"Perhiasannya sudah kuberikan pada Rangga, dan hari ini juga Rangga akan menemui teman yang lebih berpengalaman untuk menjual barang itu. Jadi kemungkinan kalau tidak malam ini, besok baru kamu akan menerima uang hasil penjualannya." jawab Rangga.
"Iya Kak, tidak masalah, dan enggak perlu terburu-buru juga. Uangnya juga belum dipakai ini." ujar Mayu apa adanya.
"Harus diburu-buru Ay, takutnya mami melihat perhiasan itu, bisa jadi panjang masalahnya nanti. Soalnya, mami juga memiliki perhiasan yang mirip dengan perhiasan itu. Bisa-bisa kita dikira maling lagi." jelas Alga.
"Benar juga ya Kak. Tante Dira kan terkadang suka bicara seenak tanpa memikirkan perasaan orang lain." ujar gadis berparas cantik itu.
"Itu dia Ay, makanya aku ingin cepat-cepat menjual perhiasannya. Sayang banget kan kalau perhiasannya diambil mami, rugi besar kamu dan aku juga tidak akan bisa menggantinya. Kamu tahulah keadaanku juga lagi kere sekarang."
"Benar juga. Udah gitu kita juga masih bisa disalahkan lagi dan dituduh yang enggak-enggak. Mami kak Alga kan kadang kelakuannya suka ajaib. Eh maaf ya Kak, aku tidak bermaksud mengatai mami Kak Alga hehe ... Piss Kak Alga." ujar Mayu begitu sadar terlalu asik menggosipkan maminya Alga.
"Tidak apa-apa Ay, apa yang kamu katakan memang benar kok. Aku saja harus sering-sering mengelus dada karena perkataan mami yang terkadang terlalu kelewatan. Ah iya Ay, mumpung kita lagi membicarakan mami, aku ingin menyampaikan satu hal pada kamu." ujar Alga teringat dengan percakapannya semalam bersama maminya.
Alga rasa Mayu harus tahu itu, biar dia tidak salah paham. Alga tidak ingin menyembunyikan apa pun dari kekasihnya, seperti halnya Mayu yang tidak menyembunyikan apa pun darinya kecuali identitas ayah kandungnya.
"Apa itu Kak?" tanya Mayu sambil mendekatkan wajahnya dengan wajah Alga.
"Mami minta aku menghadiri ulang tahun mbak Vivi tanpa kamu, enggak apa-apakan Ay. Kamu enggak marah kan?" ujar Alga menoleh pada Mayu hingga menyebabkan benturan kecil helm mereka.
"Enggak apa-apa kok Kak, aku tidak masalah sama sekali. Justru untuk saat ini menurut Mayu, Mayu lebih baik tidak bertemu dengan keluarga Kak Alga saja. Bertemunya nanti saja kalau Mayu sudah sukses. Terkadang Mayu juga lelah kalau dikatai terus sama mereka." ujar Mayu.
Mayu masih ingat banget terakhir kali bertemu dengan keluarga Alga dia diserang dari berbagai arah. Mayu sampai sakit hati karena mereka. Ditambah lagi saat ini Mayu juga sudah ada komunikasi dengan daddynya. Jadi dia tidak perlu capek-cepek bertemu keluarga keluarga Alga demi bisa bertemu dengan daddynya.
"Iya Ay, memang sebaiknya bertemu nanti saja setelah kamu sukses. Jadi kamu juga bisa membungkam mulut mereka supaya tidak lagi berkata seenaknya." ujar Alga mantap.
"Nah itu dia Kak."
'Semangat untuk kita Ay, kita pasti bisa!" ujar Alga berusaha menyemangati dirinya sendiri juga Mayu.
"Semangat!" seru Mayu semangat.
Mereka kemudian tertawa bersama.
***
Alga dan Mayu, membeli laptop terlebih dulu. Selanjutnya Mayu dan Alga juga membeli handphone pintar untuk nenek Iroh. Mayu cukup sering kesusahan komunikasi dengan neneknya, dan Mayu rasa handphone itu, salah satu barang yang dia butuhkan saat ini.
Selesai berbelanja, Alga dan Mayu pergi ke kios.
Sampai di kios, Mayu langsung menggantikan pekerjaan Irma, sedangkan Alga dia memilih menghantarkan nenek Iroh pulang.
__ADS_1
Jam setengah delapan malam, Irma kembali datang ke kios untuk menggantikan Mayu.
Rumah Irma tidak begitu jauh dari kios, jadi kalau pun harus bolak balik itu bukan suatu masalah bagi Irma. Ditambah lagi Irma juga sangat terbantu, seenggaknya dia punya waktu beberapa jam untuk memasak dan mengurus keperluan suaminya. Sepengartian itu memang Mayu padanya.
"Kami pulang dulu ya Teh, misalkan nanti jam 9 udah sepi pembeli, enggak apa-apa kalau teteh mau tutup kiosnya, yang penting jangan kurang jam sembilan saja." ujar Mayu sambil memakai helmnya.
"Sampai jam sepuluh saja May, tidak apa-apa. Lagian kamu juga sudah memberikan teteh istirahat selama 3 jam. Jadi Teteh juga harus tahu diri. Teteh enggak mau karena kamu baik, Teteh malah ngelunjak." jujur Irma.
Mayu tersenyum mendengarnya. Mayu senang mendapat karyawan yang saling pengertian begini dan seakan tahu apa isi hati Mayu.
"Ya sudah kalau Teteh inginnya begitu. Kalau begitu kami pulang Teh."
"Iya hati-hati May, Alga!" ujarnya.
"Ok, Teteh juga ya." ujar Mayu, sedangkan Alga dia hanya tersenyum tipis pada Irma.
Jam 8 malam Mayu dan Alga baru sampai di rumah kontrakan Mayu.
Alga tidak langsung pulang, dia memilih mengajari Mayu menggunakan laptopnya. Tidak jarang terdengar suara tawa diantara mereka karena gerakan tangan Mayu yang begitu kaku, sangat berbeda dengan Alga yang gerakan tangan begitu lincah.
Plak!
Alga memuk*l gemas tangan Mayu yang lagi-lagi ngetik dengan dua jarinya.
"Kak Alga jangan dipuk*l dong! Sakit!" protes Mayu dan menghentikan sejenak mengetik di laptopnya.
"Habisnya aku lebih cepat dua jari kak, kalau semua jari keseringan typo." ujar Mayu beralasan.
"Untuk awal-awal memang suka begitu Ay, makanya kamu itu harus membiasakannya, biar jari-jari kamu itu terbiasa. Kamu bisa diketawain orang lain kalau ngetik pakai dua jari. Ingat Ay ini laptop bukan ponsel!" seru Alga.
"Iya Kak Alga, lama-lama kak Alga makin cerewet deh." ujar Mayu yang enggak ada takutnya sama sekali.
"Ya gimana aku tidak cerewet, kalau muridnya itu bandel seperti kamu." ujar Alga tidak mau kalah.
"Bandel tapi cinta kan?" bisik Mayu.
Alga menatap gemas pada kekasihnya kemudian mengedarkan pandangannya. Sayang banget nenek Iroh sedang memperhatikan mereka, kalau enggak sudah pasti Alaga kecup pipi kekasihnya sampai memerah.
"Kamu selamat karena ada nenek Iroh, Ay. Awas saja kalau tidak nenek Iroh aku gigit itu pipi." ujar Alga balas berbisik.
Mayu tersenyum malu mendengarnya dan refleks menatap pada neneknya.
Nenek Iroh senyum-senyum saja melihat Alga dan Mayu. Nenek Iroh harus mengakui kalau dia suka gaya pacara Alga dan Mayu. Bagaimana mereka berdua menghabiskan waktu mereka bersama dengan bekerja dan belajar. Ditambah lagi Alga bukan sosok si ramah tangan. Tangan hanya akan menyentuh atau menggenggam tangan Mayu, bukan menyentuh yang lain.
Zaman sekarang ini jarang sekali bukan laki-laki seperti ini. Terlebih lagi Alga berasal dari keluarga kaya raya.
__ADS_1
***
"Ay, ini cek hasil penjualan perhisan kamu. Cek yang pertama jumblahnya 300 juta sedangkan yang kedua 250 juta." ujar Alga sambil memberikan ceknya.
"Uangnya sangat banyak Kak." ujar Mayu seakan tidak percaya.
"Ya memang segitu pasarannya Ay. Itu termasuk perhiasan yang murah itu. Mami punya yang harganya milyaran." jawab Alga apa adanya.
Mayu refleks melotot pada kekasihnya.
"Milyaran Kak, terbuat dari apa itu?" tanya Mayu seakan tidak percaya.
"Aku tidak tahu, yang aku tahu mami menyebut kalung itu, kalung Lisa BlackPing." ujar Alga. Alga masih ingat jelas bagiamana wajah bahagia maminya, begitu dia berhasil mendapatkan kalung itu.
"Lisa blackping idol K-Pop itu kan Kak, yang belum lama konser di Indonesia?"
"Iya. Eh ini kok kita malah bahas Lisa. Lebih baik itu ceknya kamu simpan baik-baik. Jangan sampai hilang!" ujar Alga mengingatkan.
"Iya Kak, ini langsung aku simpan ceknya. Berarti kita singgah ke bank dulu baru belanja ya Kak?"
"Gimana kalau belanjanya jam 2an saja! Kebetulan temanku sudah merekomendasikan beberapa rumah. Kita bisa melihat rumah itu dulu. Siapa tahu ada yang cocok, jadi kamu juga bisa tahu menyiapkan uangnya. Aku pribadi ada 2 yang aku suka, tapi aku tidak tahu kamu suka atau enggak." jelas Alga.
"Boleh deh Kak, kita lebih baik lihat rumahnya dulu, aku juga penasaran." ujar Mayu. Ditambah lagi uang ditangan Mayu juga jumblahnya sudah 1 milyar lebih. Mayu jadi cukup percaya diri untuk menawar rumah."
"Ok Ay." ujar Alga
Seperti yang sudah mereka rencanakan, Mayu singgah dulu ke bank terlebih dulu. Mayu tahu orang suruhan Dira masih tetap mengikutinya. Hanya saja untuk kali ini Mayu memilih untuk tidak main kucing-kucingan. Lagian sebentar lagi dia juga akan membeli rumah, dan itu tidak akan bisa dia sembunyikan lagi.
"Kak Alga tinggu diparkiran saja ya, biar aku saja yang masuk." ujar Mayu.
"Ok Ay," ujar Alga. Alga juga tidak begitu suka ikut antri di bank.
Mayu tersenyum haru, melihat jumblah tabungannya, Mayu hampir tidak percaya ini. Bahkan bermimpi pun dulu dia tidak berani, tapi siapa sangka jumblah tabungannya kini satu milyar lebih.
Mayu yang tidak ingin Alga menunggu lebih lama akhirnya memutuskan menemui Alga secepatnya. Nanti saja di rumah dia puas-puasi melihat buku tabungannya bersama neneknya.
"Udah Ay?" tanya Alga begitu Mayu mendekat padanya.
"Udah Kak, yuk jalan!" ujar Mayu dengan wajah riangnya.
Sementara itu orang yang mengikuti Mayu memilih masuk bank. Dia cukup penasaran kenapa Mayu lama di dalam sana, padahal banknya juga lagi sepi. Dia ingin tahu Mayu ngapain saja dalam sana.
Setelah bertanya pada satpam dia tersenyum puas begitu mendengar informasi yang baru saja di dengarnya. Informasi itu tentu saja harus dia sampaikan pada bosnya.
"Hallo Jaki, apa kamu dapat informasi penting tentang si Mayu itu." ujar Dira langsung to the poin.
__ADS_1
"Iya Nyonya ada, baru saja dia mencairkan cek sebanyak 550 juta." jawabnya mantap.
"APA?"