Kekasih Bayaran Tuan Muda

Kekasih Bayaran Tuan Muda
Kita Harus Bicara


__ADS_3

"Kamu mau makan apa Ay?" tanya Alga.


"Bingung Kak." jawab Mayu membuat Alga seketika menatap padanya.


"Kenapa bingung? Biasanya kamu paling senang kalau ada banyak makanan."


"Iya Kak, habisnya makanannya banyak banget, mana enak-enak semua lagi. Apalagi itu buahnya, berasa di toko buah paling mahal aku." ujar Mayu begitu melihat deretan buahnya yang dibentuk semenarik mungkin, bahkan ada yang menyerupai pohon juga.


"Harusnya kamu enggak perlu bingung Ay, makan saja semuanya mumpung gratis. Sayang kalau dilawatkan." balas Alga.


"Maunya sih begitu Kak, tapi aku takutnya Kak Alga malu lagi gara-gara aku. Mana aku belum memberikan amplop lagi." ujar Mayu begitu sadar kalau amplopnya masih dia simpan dalam tasnya.


"Urusan amplop kamu tenang saja Ay, aku sudah memberikannya atas nama kamu." ujar laki-laki berparas tampan itu.


"Serius Kak Alga? Kak Alga isi berapa amplopnya?" tanya Mayu penasaran.


"Lima puluh ribu." jawab Alga membuat Mayu seketika melotot.


"Serius Kak? Kenapa kecil sekali?" protes Mayu. Mayu cukup tahu dirilah, kalau dia ke pesta pernikahan teman-teman atau tetangganya, ya wajar isi amplopnya hanya segitu, tapi ini pernikahan Vivi loh. Pernikahan yang sangat mewah, dan Mayu yakin, pasti tidak akan ada yang isi amplopnya hanya 50 ribu.


"Lima puluh ribu kali berapa dulu Ay? Udah ah kamu enggak usah memikirkan masalah amplop, yang penting masalah amplop sudah aman. Sekarang sebaiknya kita makan!"


"Iya Kak, tapi makasih banyak loh Kak sudah mewakili Mayu, jadinya uang Mayu aman deh hehe ...."


"Belum aman Ay, nanti uangnya buat traktir aku saja. Aku rindu ditraktir sama kamu."


"Boleh deh Kak, nanti Mayu teraktir makan cilor." ujar Mayu mantap.


"Apa itu cilor?" bingung Alga dan merasa asing dengan nama yang disebut Mayu.


"Aci telor Kak. Dasar anak kompleks, bisa-bisanya enggak tahu cilor. Cilor itu enak loh Kak. Dijamin Kak Alga bakal nagih."


"Boleh deh Ay dan aku pesan 5 ya!" pinta Alga.


"Siap Kak, gampang kalau soal itu." ujar Mayu semangat. Alga tidak tahu saja kalau harga 5 cilor hanya 5 ribu.


"Semangat banget kamu Ay. Apa cilor seenak itu makanya kamu sesemangat itu?" tanya Alga penasaran.


"Tentu saja. Udah ah ayo kita makan, aku jadi lapar."


"Ok Ay. Kamu mau makan yang mana dulu!"


"Steak salmon deh Kak,"


"Boleh, ayo kita ambil!"


"Ok Kak,"


Setelah selesai mengambil makanan yang mereka inginkan. Alga dan Mayu memilih duduk di meja yang tidak jauh dari tempat makan, supaya kalau ingin nambah, mereka tidak perlu jauh-jauh bolak balik.


"Apa steak salmonnya enak Ay?" tanya Alga melihat isi piring kekasihnya.

__ADS_1


"Sangat enak Kak," jawab Mayu mantap.


"Mau dong!" ujar Alga sambil membuka mulutnya.


"Bilang saja kalau Kak Alga memang ingin disuap." ujar Mayu membat Alga tersenyum.


"Tahu saja kamu Ay."


Mayu tersenyum dan tanpa menunggu berlama-lama dia menyuap makanannya pada Alga dengan senang hati.


"Benar kata kamu Ay, steaknya enak. Apalagi disuap sama kamu, rasanya makin enak lagi." goda Alga.


"Kak Alga bisa saja, tapi enggak ada ya suapan kedua, cukup sekali saja!"


"Kenapa begitu Ay, padahal aku masih mau loh."


"Malu Kak dilihatin sama orang-orang." ujar Mayu yang mulai sadar kalau ada beberapa pasang mata yang suka menatap pada mereka.


"Kenapa harus malu, santai saja. Kita pasangan kekasih ini dan pasangan selingkuhan atau sejenisnya." ujar Alga.


"Tetap saja Mayu malu Kak dan Mayu juga tidak ingin digosipin yang enggak-enggak sama mereka."


"Ya sudah kalau kamu tidak mau. Aku suap kamu saja Ya, ini satenya sangat enak loh."


"Itu kan sama saja Kak Alga, gimana sih?" protes Mayu.


"Sama ya? Aku pikir enggak." ujar Alga dan lagi-lagi tersenyum.


Mayu juga ikut tersenyum.


"Hehe ...."


Mayu hanya menggelengkan kepalanya. Ada-ada saja memang tingkah kekasihnya yang satu ini.


"Ah iya Ay, setelah selesai makan, kamu mau tidak aku kenalkan pada orang-orang penting pratama group dan beberapa orang lainnya, yang aku kenal?" tanya Alga disela-sela makannya.


Mayu menatap kekasihnya.


"Aku sebenarnya ingin Kak, apalagi aku juga sudah mulai terjun di dunia bisnis, pasti aku butuh kenalan lebih banyak lagi. Hanya saja apa aku tidak akan membuat Kak Alga malu?" ujar Mayu apa adanya.


"Kenapa kamu membuat malu? Ya enggaklah Ay. Kamu bahkan sudah melihat bagaimana respon pak Arya dan pak Ahmad juga istri-istri mereka. Mereka menyambut kamu dengan baik dan mereka juga mendukung kita. Ini adalah kesempatan baik untuk kita Ay. Kita harus memberitahukan pada dunia kalau kita itu saling mencintai. Dan aku juga ingin semua orang tahu, kalau aku sangat bangga dan bahagia memiliki kamu dalam hidupku." jelas Alga.


"Baiklah Kak, aku mau karena aku juga sangat bangga dan bahagia memiliki Kak Alga dalam hidup." ujar Mayu mantap.


"Nah begitu dong Ay kan Ayang kamu ini senang mendengarnya." ujar Alga kemudian mencubit gemas pipi Mayu.


"Lebay,"


"Enggak apa-apa lebay, yang penting cintaku tulus pada kamu." ujar Alga lagi membuat Mayu lagi-lagi tersenyum senang. Memang calon pak CEO satu ini pintar sekali buat Mayu bahagia.


Setelah selasai makan Alga benar-benar menepati janjinya. Alga membawa Mayu menyapa beberapa tamu yang yang dikenalnya dan tentunya selain keluarga terdekatnya karena kalau keluarga terdekatnya, sudah pasti tahu siapa Mayu.

__ADS_1


Alga juga terlihat bangga sekali mengenalkan Mayu, dan respon mereka juga hampir semuanya hangat dan bersahabat. Mayu benar-benar merasa senang, dan rasa senang Mayu diam-diam dirasakan oleh David. Walau David tidak berdekatan dengan mereka tapi dari kejauhan dia bisa melihat apa yang dilakukan Alga dan Mayu.


Dari cara Alga memperlakukan Mayu dengan begitu spesial, David bisa merasakan bagaimana tulusnya cinta Alga pada Mayu, karena itu dia juga tidak menyesal sama sekali dengan apa yang sudah direncanakannya, meski setelah ini dia biasa saja kehilangan jabatannya.


Lain David lain juga dengan Sindi. Sindi benar-benar harus menahan rasa kesalnya melihat apa yang dilakukan Alga dan Mayu, dan sepertinya Alga benar-benar tidak mau menyia-nyiakan kesempatannya karena tidak bisa dipungkiri, semakin banyak yang memberi dukungan pada mereka, maka akan semakin sulit memisahkan Alga dan Mayu.


Sindi meletakkan gelas minumannya kasar. Gara-gara Alga dan Mayu, dia jadi tidak mood menyapa teman-temannya. Padahal ini adalah kesempat bagus untuknya temu kangen dengan teman-temannya. Dan parahnya lagi, Itu Alga dan Mayu selalu bersama. Sindi benar-benar tidak ada kesempatan untuk bisa bicara dengan Mayu. Padahal kan Sindi ingin sekali bicara 4 mata dengan Mayu, ada banyak hal yang ingin dia tanyakan pada Mayu, dan tentu saja itu ada hubungannya dengan David. Sindi ingin bicara dengan Mayu terlebih dulu, sebelum bicara dengan David, ini biar David tidak bisa mengelak lagi dan mau mengakui semuanya.


Sindi refleks menegapkan tubuhnya begitu dia melihat Mayu pergi meninggalkan Alga. Tanpa perlu menunggu lebih lama lagi, Sindi juga bangun dari duduknya dan langsung mengejar Mayu. Ini kesempatan bagus. Sindi tidak boleh menyia-nyiakannya.


David yang diam-diam memperhatikan mereka juga tidak bisa diam saja. David takut Sindi berbuat sesuatu yang membahayakan Mayu tentunya.


"Naura, Daddy ke toilet sebentar ya, kamu tidak apa-apa Kan Daddy tinggal?" ujar David.


"Iya Dad, tidak apa-apa. Santai saja." ujar Naura dengan senang hati. Naura sedang sibuk dengan kenalan barunya dan dia tidak masalah sama sekali kalau ditinggal daddynya.


"Julian, Om titip Naura ya. Om ada perlu sebentar." ujar David lagi pada anak temannya.


"Iya Om, beres." ujarnya.


Davin langsung melangkahkan cepat kakinya. Dia takut kehilangan jejak Mayu dan Sindi.


Alga yang melihatnya dari kejauhan diam-siam menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


'Apa om David ingin menyusul Mayu, haruskah aku ikut menyusul juga atau diam saja?' batin Alga.


Setelah berpikir beberala detik Alga memutuskan menunggu saja. Toh David adalah ayah kandung Mayu ini, jadi enggak ada yang perlu dia khawatirkan.


Sementara itu Mayu sudah sampai di dalam toilet dan Mayu buru-buru masuk ke salah satu bilik toilet yang kosong. Mayu kebanyakan makan dan perutnya langsung tidak bisa dia bekerja sama.


Satu menit kemudian Sindi juga sampai dalam toilet dan dia langsung mencari keberadaan Mayu.


Sindi terlihat kesal karena tidak melihat keberadaan Mayu.


'Kemana Mayu? Aku yakin banget kalau dia masuk toilet ini.' batin Dira.


Sindi melihat ada beberapa bilik yang terisi. Sindi yakin Mayu pasti ada di salah satu bilik itu.


Sembari menunggu Mayu, Sindi memutuskan pura-pura mencuci tangannya dan merapikan penampilannya.


Mayu yang baru saja selesai dengan urusannya dalam toilet tampak terkejut begitu melihat Sindi berdiri sangat dekat dengannya, dan Sindi juga bisa melihatnya dari dalam kaca.


Untuk beberapa detik, Mayu terlihat bingung sedangkan Sindi tampak mengepalkan tangannya dan menatap kesal pada Mayu.


Mayu akhirnya memilih berpura-pura mencuci tangannya dan Mayu juga sengaja bediri di samping salah satu tamu yang kebetulan ada di toilet itu.


Dari tatapan Sindi, Mayu yakin pasti kedatangan Sindi ke toilet ingin mencarinya. Untuk itu Mayu ingin menghindarinya.


Mayu sedikit merasa tenang karena di dalam toilet tidak sepi dan ada saja orang yang keluar masuk. Mayu sangat berharap, ada seseorang yang Sindi kenal masuk toilet, dan mengajak Sindi bicara. Jadi Mayu bisa menggunakan kesempatan itu untuk kabur. Sayangnya hingga menit yang ke tiga belum ada juga yang mengajak Sindi bicara.


Mayu yang tidak punya pilihan lain memutuskan keluar juga dari toilet itu, dan Sindi yang melihatnya langsung mengejarnya dan menahan tangan Mayu.

__ADS_1


"Kita harus bicara. Kamu ikuti saya!" tegas Sindi kemudian melangkah bersama Mayu.


"Baik Tante." nurut Mayu. Mayu benar-benar tidak bisa menghindar lagi. Padahal sebelumnya Mayu sudah cukup berhati-hati, tapi akhirnya kena juga.


__ADS_2