Kekasih Bayaran Tuan Muda

Kekasih Bayaran Tuan Muda
Makrab


__ADS_3

"Assalamualaikum,"


"Waalaikumsalam. Sebentar!" seru Mayu. Mayu langsung meninggalkan pekerjaannya dan menghampiri tamunya.


"Kak Rangga!" seru Mayu lagi begitu melihat Rangga berdiri depan pintu rumahnya bersama seorang ibu paruh baya yang berpenampilan sederhana.


"Iya Mayu. Kenalkan Mayu ini ibu saya. Dia yang akan menemani nenek kamu selama kita pergi." ujar Rangga memperkenalkan ibunya.


Hari ini mereka akan berangkat ke puncak Bogor, oleh karena ini Rangga dan ibunya mendatangi rumah Mayu, sesuai janji Alga padanya.


"Iya Kak," ujar Mayu dan langsung tersenyum juga mengulurkan tangannya pada Tuti.


Tuti menyambutnya dengan senang hati. Dia tersenyum saat Mayu salim padanya.


"Hallo Ibu, saya Mayu. Maaf Ibu sudah merepotkan Ibu." ujar Mayu merasa tidak enak.


"Iya Nak Mayu tidak apa-apa. Saya malah senang disuruh ke sini sama tuan muda." ujarnya apa adanya. Dia sama sekali tidak keberatan disuruh menemani nenek Iroh, selain kerjanya lebih santai, dia juga dapat bonus tambahan.


"Iya Ibu terima kasih Ibu. Ayo masuk ibu, saya kenalkan pada nenek saya."


"Iya Nak Mayu." ujarnya kemudian ikut masuk bersama Mayu.


"Nenek, Ibu Tutinya sudah datang Nenek." ujar Mayu. Sebelumnya Mayu memang sudah cerita tentang orang yang akan menemaninya selama Mayu pergi.


Awalnya nenek Iroh menolak, dia tidak apa-apa ditinggal sendirian, dia cukup dekat dengan para tetangga mereka, dia bisa minta bantuan pada tetangganya selama Mayu pergi. Sayangnya Mayu tetap mamaksa. Mayu tahu para tetangganya memang pasti akan mau bantu, tapi mereka tidak mungkin mengawasi nenek Iroh 24 jam karena mereka juga punya kesibukan masing-masing.


"Iya Nak," ujar nenek Iroh melangkah perlahan keluar dari kamarnya dan Mayu.


"Assalamualikum Ibu," ujar Tuti tersenyum ramah.


"Waalaikumsalam Nak, maaf ya Nak saya merepotkan kamu. Padahal saya tidak apa-apa di rumah sendiri, tapi Mayu terus memaksa." ujar Nenek Iroh.


"Iya Ibu, tidak apa-apa. Wajar kalau nak Mayu memaksa, dia pasti khawatir sama Ibu."


"Tuh Nenek, Ibu Tuti saja sangat mengerti. Ah iya Ibu sudah makan belum? Kebetulan pagi ini Mayu masak nasi goreng lumayan banyak, kita bisa sarapan bersama." ujar Mayu.


"Dan kebetulan juga kami bawa nasi uduk yang lumayan banyak, niatnya juga mau sarapan bareng dengan Nak Mayu juga Ibu."


"Wah bisa sehati gitu ya. Kita kompak berarti. Tos dulu Ibu!" ujar Mayu dengan cerianya.


Tuti memyambut tos Mayu dan tersenyum pada Mayu. Benar kata anaknya kalau kalau Mayu adalah gadis yang baik juga ceria. Senang dia bisa mengenal gadis seperti Mayu. Dia jadi berpikir untuk menjodohkan Mayu dengan anaknya. Pasti akan menyenangkan rasanya punya menantu seperti Mayu.


Tanpa sadar Tuti menggelengkan kepalanya, apa yang sudah dipikirkannya. Jelas-jelas Mayu adalah kekasih tuan mudanya. Bisa terjadi pertengkaran nanti antara asisten dan majikan. Walau Tuti sudah tahu kalau Mayu hanya kekasih bayaran. Rangga sudah cerita semua padanya .


"Mayu bantu saya angkat ini dong!" seru Rangga.


"Iya Kak, sebentar Kak. Nenek, Ibu, Mayu bantu kak Rangga dulu. Ibu juga silahkan duduk dan maafkan kami kalau hanya ada kursi plastik yang tersedia." ujar Mayu.

__ADS_1


"Iya Nak Mayu tidak apa-apa." ujarnya mengerti.


Sejak neneknya sakit, Mayu dan neneknya memang sudah jarang sekali duduk di lantai, karena dia kesulitan jika mau duduk dan saat berdiri juga, dia butuh bantuan.


"Loh Kak kenapa ini banyak sekali?" kaget Mayu begitu melihat banyak kebutuhan pokok yang Rangga turunkan dari dalam mobil. Ada 5 karung kecil beras, 5 kg minyak goreng, 5 kg gula, 5 kotak susu, telor, sabun, terigu, sayuran, buah, bumbu dapur dan lain sebagainya. Mayu seperti mau jualan saja.


"Enggak usah banyak tanya Mayu, lebih baik kamu bawa masuk saja barangnya biar cepat!" ujar Rangga.


"Tapi Kak, ibu Tuti hanya 2 hari di sini lalu kenapa barang-barangnya sebanyak ini?" ujar Mayu benar-bebar tidak enak. Dia sudah merepotkan begitu banyak.


"Tidak apa-apa Mayu santai saja. Ingat Mayu, tuan muda itu hartanya sangat banyak jadi kalau hanya membeli barang seperti ini, kecil saja bagi dia. Satu lagi, jangan tolak niatan baik seseorang, karena dengan kamu menerima niatan baiknya, itu sama saja mendatangkan pahala bagi dia. Kamu cukup mendoakan dia saja, itu sudah cukup!" ujar laki-laki berparas tampan itu.


Rangga juga sangat mendukung keputusan Alga, saat Alga mau memberi bantuan pada Mayu. Menurut Rangga, Mayu dan neneknya memang sangat berhak mendapatkan bantuan.


Satu hal lagi yang sangat Rangga syukuri. Alga sudah mulai ada rasa perduli pada sesamanya. Hatinya yang keras sudah mulai sedikit melunak. Alga memang bukan sosok anak yang nakal dan suka menghambur-hamburkan uang. Bisa dibilang dia termasuk anak baik dan tidak banyak tingkah.


Hanya saja selama ini, dia tidak pernah perduli pada orang-orang sekitarnya. Jangankan untuk memberi bantuan, memberi uang pada pangamen jalanan saja tidak pernah.


"Iya Kak, terima kasih banyak ya Kak. Saya juga ikut mendoakan semoga Kak Rangga juga selalu diberikan kesehatan, rejekinya semakin banyak, badannya semakin berisi dan cepat dapat jodoh." ujar Mayu diakhiri dengan bercanda.


Rangga seketika menatap Mayu.


"Doa yang terakhir itu enggak perlu Mayu." ujarnya cepat.


"Kenapa, memangnya Kak Rangga belum mau dapat jodoh ya?"


"Ya Mau tapi nanti setelah saya jadi orang sukses." ujar Rangga mantap.


"Mayu! Jangan bicara sembarangan ya kamu. Apalagi kalau depan Alga!" peringat Rangga.


Rangga enggak mau saja gara-gara Mayu, dia dan Alga jadi berantem. Terkadang Alga itu sikapnya terlalu serius dan tidak bisa membedakan mana yang bercanda dan mana yang tidak.


"Kenapa tidak bisa, Kak rangga takut, Kak Alga cemburu? Jangan bilang Kak Rangga ada perasaan spesial pada Kak Alga?"


"Mayu!" seru Rangga geregetan.


"Hehe ...." Mayu hanya tertawa. Senang dia melihat wajah kesal Rangga.


Sementara itu Alga yang mereka bicarakan sudah sampai di kampus UI. Alga terlihat sibuk bersama para panitia lain untuk mengurus para mahasiswa baru yang akan berangkat mabar.


Sudah ada banyak bus di UI, hanya saja yang akan ikut bersama Alga itu ada 2 bus dan itu untuk jurusan manajemen saja.


"Bagi yang sudah siap langsung masuk bus saja! Sebentar lagi kita akan berangkat." seru Lia.


"Baik Kak," ujar Lora dan yang lainnya.


"Pan, lo dapat bus nomor berapa Pan?" tanya Shinta.

__ADS_1


"Nomor 1."


"Kita sama dong, ayo langsung masuk saja!" ujar Lora.


Irpan menganggukkan kepalanya.


"Kalian duduk depan gue saja!" ujar Ipan begitu mereka masuk bus.


"Iya Pan, coba saja Mayu ikut ya Pan, kita pasti pas ini duduknya. Gue sama Shinta dan Mayu sama lo." ujar Lora lagi menatap kursi kosong di samping Irpan.


Mayu memang belum ada memberitahukan teman-temannya kalau dia jadi ikut makrab.


"Iya," ujar Irpan pelan. Dia juga sedih Mayu tidak bisa ikut. Andai Mayu bisa ikut perjalanannya kali ini, pasti akan lebih berkesan lagi.


"Hai Naura, kamu kebagian naik bus dua, kenapa kamu naik bus satu? Pindah kamu!" tegur Lia.


"Tidak mau, saya maunya di bus satu." ujar Naura kemudian duduk di bangku belakang supir, bangku dimana Alga akan duduk.


"Tidak bisa begitu Naura, di bus satu penghuninya sudah penuh. Kamu sebaiknya pindah bis dua. Tolonglah Naura, jangan sampai karena kamu, kita jadi terlambat berangkatnya." ujar Lia lagi.


"Ya tinggal ditukar saja apa susahnya? Kalian bisa suruh salah satu penghuni bus di sini, pindah ke bus 2. Itu saja kok dibuat repot. Lagian kalian pasti sengaja kan membuat saya ada di bus 2? Jangan kalian pikir saya ini bodoh ya, saya sangat tahu perbuatan licik kalian." ujar Naura bersikukuh.


"Kami tidak berbuat licik Naura, kami menulis nomor bus itu sesuai dengan nomor urut kamu saat mendaftar." ujar Lia ngeles. Dia memang sengaja melakukannya karena dia tahu selain Mayu, saingan beratnya itu adalah Naura.


"Kalau itu sudah pasti saya ada di bus no 1 karena yang pertama kali daftar itu adalah saya dan teman-teman saya. Buktinya Ira dan Yuli ada di bus no 1 lalu kenapa saya bisa nyasar di bus no 2? Bilang saja karena ada permainan orang dalamnya. Saya bukan orang bodoh yang bisa kalian bodoh-bodohi!" tegas Naura.


Lia menarik nafas pelan, sepertinya dia akan sulit menang kalau melawan Naura. Dia lebih baik mengalah saja sebelum masalahnya semakin panjang. Apalagi kalau Alga sampai tahu, dia bisa marah, hanya karena masalah nomor bus, masalah yang seharusnya tidak perlu ada.


"Baiklah kamu bisa naik di bus 1." ujar Lia mengalah.


Naura langsung tersenyum senang, akhirnya dia bisa duduk di samping Alga. Apalagi Mayu tidak ikut, dia bisa bebas berduaan dengan pujaan hatinya itu.


***


"Apa semuanya sudah siap?" tanya Alga begitu dia masuk bus.


"Sudah Kak!" kompak Naura dan yang lainnya. Naura begitu bersemangat, dia benar-benar tidak sabar duduk berduaan dengan Alga.


"Bagus. Baiklah sebelum berangkat, alangkah lebih baiknya kita berdoa terlebih dulu, supaya perjalanan kita lancar, dijauhkan dari kecelakaan serta kita bisa sampai di tempat tujuan dalam keadaan sehat dan tidak kurang suatu apapun. Mari kita berdoa sesuai dengan keyakinan kita masing-masing, doa dimulai!" ujar Alga kemudian mengangkat tangannya dan mengucap doa dalam hatinya.


"Doa selesai. Jalan Pak!" suruh Alga.


"Siap Mas." ujar supirnya mantap.


Alga beralih menatap Naura yang duduk di kursinya.


Naura tersenyum lebar padanya dan mempersilahkan Alga supaya duduk.

__ADS_1


Alga hanya menarik nafas pelan. Mau tidak mau dia kemudian duduk di bangku samping Naura.


Senyum Naura samakin mengembang lagi, sangat berbeda dengan Lia yang mengepalkan kuat tangannya karena tidak suka melihat Alga duduk di samping Naura.


__ADS_2