
"Kak!" ujar Mayu sambil melambaikan tangannya begitu Alga masuk kafe tempat Mayu menunggunya.
Setelah selesai menabung uangnya, Mayu memutuskan bertemu dengan Alga untuk membicarakan masalah rumah yang mau dibelinya. Berhubung uangnya sudah ada di tangan Mayu, dia tidak ingin menundanya lagi.
Alga balas melambaikan tangan dan tersenyum manis pada kekasihnya.
Mayu langsung salim dan Alga balas mengacak gemas rambut kekasihnya.
"Kamu sudah lama?" tanya Alga kemudian duduk di samping Mayu.
"Tidak terlalu lama Kak, baru 15 menitan. Kakak Alga sudah makan?" tanya Mayu perhatian.
"Sudah Ay, aku makan bersama Rangga dan Yuda? Kamu sudah makan?"
"Aku juga sudah Kak, tapi kalau Kak alga masih mau makan, pesan lagi saja Kak, Mayu yang bayar."
"Minumnya saja Ay, aku masih kenyang."
"Ok. Kak Alga mau minum apa?"
"Jus jeruk saja."
Mayu mengangguk kemudian memanggil pelayannya.
"Gimana pertemuan kamu dengan daddy Kamu, apa lancar?" tanya Alga setelah pelayannya pergi.
"Ada sedikit masalah Kak, ada gangguan datang, jadi Daddy harus buru-buru pergi. Tapi itu juga sudah lumayan, seenggaknya aku bisa melepas rindu sebentar dengan Daddy. Kami juga sempat makan bersama walau hanya beberapa menit saja." cerita Mayu.
Alga seketika menatap kekasihnya.
"Gangguan apa Ay?" tanya Alga penasaran.
"Istri Daddy datang dan kami hampir saja ketahuan. Enggak kebayang deh Mayu kalau kami sampai ketahuan. Mayu benar-benar belum ada persiapan sama sekali." cerita Mayu lagi apa adanya.
Alga lagi-lagi menatap kekasihnya. Sudah tidak heran dia kalau soal itu. Baik Sindi atau Dira memang suka tiba-tiba menghampiri suami mereka. Makanya suami mereka tidak pernah berani berbuat macam-macam. Apalagi saat jam kerja.
"Suyukurlah kalau kamu tidak ketahuan, tapi aku penasaran bagaimana cara kalian menghindarinya?"
"Daddy buru-buru keluar dari private room Kak, dan dia juga pura-pura sakit perut. Kalau diingat-ingat lucu juga kadang. Padahal hubungan kami ayah dan anak, tapi sudah seperti selingkuhan saja."
Alga mengangguk mengerti, dan Alga baru tahu kalau David cukup pintar berbohong. Ini fakta baru yang Alga ketahui tentang David. Dibalik sikapnya yang selalu sabar ternyanya menyimpan banyak rahasia di dalamnya.
"Sabar ya Ay, setidaknya kamu masih sempat ngobrol dengan Daddy kamu, walau hanya sebentar. Aku yakin suatu saat nanti, kamu bisa menghabiskan waktu lebih banyak lagi dengan daddy kamu. Aku sangat yakin itu." ujar Alga tulus.
"Amin." ujar Mayu mantap.
__ADS_1
Alga tersenyum dan kembali mengacak rambut kekasihnya.
"Ah iya Kak, aku sudah mengatakan pada daddy masalah rumahnya dan Daddy setuju Kak, aku membeli rumah itu. Dia juga sudah memberikanku uang tambahan 800 juta." ujar Mayu.
"Uang cash atau cek Ay?" kepo Alga.
"Yang 300 juta cash dan yang 500 juta cek, Kak." jawab Mayu.
Alga lagi-lagi menatap kekasihnya. Dia cukup penasaran bagaimana cara David mendapatkan uang itu tanpa diketahui istrinya, karena kalau dia mengambil langsung dari tabungan sudah pasti akan ketahuan, walau jumblahnya hanya 10 juta.
Alga yakin, David pasti sudah mempersiapkannya dari dulu, sehingga dia bisa mempunyai uang cash sebanyak itu, tanpa ketahuan istrinya. Sepertinya Alga harus belajar banyak dari David. Diam-diam menghanyutkan, yang Alga pikir cupu tapi ternyata suhu.
"Ah iya Kak, sebenarnya Daddy juga menitipkan jam tangan untuk dijual. Kak Alga mau kan bantu Mayu menjual jam tangannya?" ujar Mayu lagi.
"Tentu saja aku mau Ay, kamu ini pertanyaannya ada-ada saja. Mana jam tangannya, aku mau lihat!" ujar Alga menengadahkan tangannya.
"Terima kasih Kak Alga," ujar Mayu sambil membuka tasnya dan mengambil jam tangan yang diberikan daddynya.
"Ini Kak," ujar Mayu.
Alga menatap jam tangannya dan seketika menghela nafas.
Salah satu dari jam tangan itu Alga sangat tahu, dan dia juga mempunyai jam tangan yang sama persis. Jam tangan itu dibeli oleh Pratama sebagai kado ulang tahunnya dan ulang tahun David. Ulang tahun Alga dan David memang hanya beda 3 hari saja, dan kebetulan waktu itu mereka merayakannya bersamaan karena bertepatan dengan David yang berhasil memenangkan tender besar.
Alga lagi-lagi tidak menyangka kalau David mau menjual jam tangan ini demi Mayu. Apa dia tidak takut Sindi akan mengetahuinya? Tapi kemungkinan Sindi bisa tahu juga sangat kecil, karena jam tangan mahal David juga tidak kalah banyaknya, dengan jam tangan milik Pratama. Kecuali kalau Sindi rajin mengecek jam tangan milik suaminya, dan Alga rasa Sindi tidak punya waktu untuk itu. Apa lagi selama ini hidupnya David juga lurus-lurus saja.
"Ah bu-bukan Ay. Tidak ada yang salah sama sekali dengan jam tangannya. Aku hanya sedang menghitung harganya saja dan aku taksir harga dari kedua jam tangan ini bisa sampai 1 milyar." jawab Alga dan berusaha menguasai dirinya kembali.
Alis Mayu terangkat.
"Semahal itu Kak?" tanya Mayu seakan tidak percaya.
"Iya," jawab Alga mantap.
"Berarti kalau uang jam bisa sampai 1 milyar, Mayu bisa sekalian renovasi rumah itu dong Kak? Saat ini uang dalam tabungan Mayu sudah 1,9 milyar lebih sedikit dan ditambah itu, tentu saja jumblahnya sudah lebih dari harga rumah itu." ujar Mayu.
"Iya, memang sebaiknya sekalian renovasi saja, biar terlihat bagus sekalian dan kamu juga enggak perlu kerja dua kali. Uangnya sudah ada ini, kecuali kalau uangnya enggak ada, mau enggak mau ya seadanya saja." jelas Alga.
"Benar sekali Kak, lagian enggak ada yang perlu diburu-buru lagi. Kontrakan Mayu bahkan masih lama habisnya."
"Itu dia. Berarti sudah sah dong ya kamu mau beli rumah itu?"
"Iya Kak." jawab Mayu mantap.
Alga tiba-tiba tersenyum.
__ADS_1
"Selamat ya Ay, akhirnya kamu punya rumah juga."
"Belum Kak Alga, kan belum serah terima. Jamnya juga belum dijual."
"Gampanglah kalau soal itu, tinggal aku telepon temanku, semuanya juga langsung beres. Aku jadi penasaran deh Ay, gimana perasaan kamu mengingat rumah itu sebentar lagi akan jadi milik kamu?" tanya Alga.
Gantian Mayu yang tersenyum.
"Rasanya masih kayak mimpi Kak. Bahkan dulu bermimpi saja aku tidak berani, tapi ternyata semua yang terjadi belakangan ini benar-benar di luar dugaanku. Allah itu ternyata tidak melupakanku dan Dia memberikan semuanya padaku di saat yang tepat. Tentunya disaat aku sudah memiliki Kak Alga. Dan berkat Kak Alga semuanya jadi lebih mudah." ujar Mayu kemudian meraih tangan Alga dan menggenggamnya erat.
"Terima kasih Kak Alga, aku benar-benar beruntung bisa memiliki Kak Alga dalam hidupku. Bisa bertemu dengan Kak Alga yang dulunya aku pikir adalah musibah tapi malah mendatangkan berkah yang berlimpah untukku. Sekali lagi terima kasih Kak Alga sudah memberikan kebahagian yang begitu banyak untukku dan nenek. I love you so much Kak Alga." ujar Mayu tulus dan diakhiri dengan mengungkapkan perasaan cintanya.
Perasaan cinta yang setiap hari semakin besar untuk Alga.
Alga tersenyum manis mendengar kata cinta yang begitu tulus dari bibir kekasihnya. Hati Alga jadi bebunga-bunga karenanya.
"Sama-sama Ay. I love you too Sayang." ujar Alga tidak kalah tulusnya dan balas menggenggam erat tangan Mayu.
Mereka sama-sama saling menatap penuh cinta dan tersenyum manis. Jika saja saat ini mereka tidak di tepat umum, Alga pasti akan sudah memeluk erat kekasihnya dan meninggalkan kecupan di pipi Mayu. Sayangnya tempatnya tidak mendukung. Alga harus bisa menahan diri.
***
Setelah uang rumahnya terkumpul, Mayu dan Alga langsung mengurus proses jual beli rumahnya. Berhubung teman Alga adalah pemilik usaha properti, tentu itu lebih mempermudah Alga dan Mayu. Mereka jadi tidak perlu terlalu repot-repot mengurus ini dan itu.
Masalah kelengkapan berkas rumah serta keasliannya, begitu juga dengan pembayaran pajak, pembuatan akta jual beli dan balik nama, semuanya diurus oleh temanya. Begitu juga dengan tukang untuk merenovasi, dia ada banyak kenalan tukang yang bisa dipercaya tentunya.
Mayu dan Alga menatap tersenyum pada rumah yang kini sudah sah jadi milik Mayu. Bagi Mayu rasanya masih sulit untuk dipercaya, tapi itulah faktanya.
Alga merangkul gadisnya dan menyatukan kepalanya dengan kepalanya Mayu. Mereka berdiri di atas rumah yang baru setengah jadi itu.
"Sekali lagi selamat untuk kamu Ay." ujar Alga.
"Sama-sama Kak. Kak, Mayu bahagia dan bahagia." ujar Mayu senang.
"Aku juga sangat bahagia untuk kamu Ay." ujar Alga tersenyum lebar dan beralih memeluk Mayu.
Alga juga membawa kekasihnya berputar dan mereka tertawa bahagia bersama.
Kebahagiaan itu juga menular pada David. David baru saja membuka email yang masuk dan isinya SAH. MM. David langsung mengerti kalau itu kode email dari Mayu. David yakin kalau Mayu pasti sudah berhasil membeli rumahnya.
"Selamat Mayu, akhirnya kamu memiliki rumah juga. Semoga itu menjadi awal dari kebahagiaan kamu. Daddy sayang kamu." monolog David.
Sementara di tempat yang berbeda dan diwaktu yang sama tampak Dira begitu terkejut setelah mendapat telepon dari orang suruhannya.
"Kenapa Mbak?" tanya Sindi penasaran.
__ADS_1
"Si Mayu, dia baru saja membeli rumah seharga 2,5 miliyar dan itu cash." jawab Dira.
"Apa? Bagaimana bisa?" seru Sindi seakan tidak percaya.